
Dengan penuh semangat Anita masuk ke ruangan Andy sembari mengucap salam.
" Assalaamu'alaikum ..... " Ucap Anita.
Anita terkejut dan menghentikan langkah nya saat mendapati sosok asing yang belum pernah dia lihat sebelum nya sedang mengobrol dengan Andy dengan posisi masih berdiri. Seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dengan setelan jas berwarna hitam, kemeja putih dan dasi abu bergaris putih.
Lelaki itu menoleh kearah Anita, dengan kikuk Anita mengangguk sambil tersenyum.
" Maaf kalau saya mengganggu. Silahkan lanjutkan mengobrol, saya permisi keluar dulu. " Ucap Anita kemudian.
" Tunggu sayang, masuklah ! " Cegah Andy ketika Anita hendak keluar.
Lelaki itu hanya diam sambil terus memandang Anita. Dengan ragu - ragu Anita berjalan kearah ranjang Andy, menaruh makanan nya di meja lalu mengeluarkan air mineral, teh botol dingin dan minuman kesehatan dalam kantong belanjaan yang dibelinya tadi dan menaruhnya diatas meja sedangkan kantong belanjaan nya ditaruh dibawah nakas.
" Silahkan diminum Pak. " Ucap Anita mempersilahkan.
" Terimakasih. " Sahut lelaki itu.
" Anita, perkenalkan ini papaku. Pah ... Ini Anita, putri pertama Om Hendra dan juga ... kekasih Andy. " Ucap Andy memperkenalkan mereka berdua.
Anita terbelalak, terkejut karena Andy memperkenalkan nya sebagai kekasih. Meski kenyataan nya itu benar, namun Anita belum siap diperkenalkan sebagai kekasih dengan Papa Andy apalagi secara tiba - tiba seperti ini. Anita takut kalau - kalau Papa Andy akan menentang jika mengetahui hubungan mereka berdua. Karena tidak seperti Mama Merry yang sudah kenal dekat dan akrab dengan nya, Anita sama sekali belum mengenal sosok Papa Andy dan seperti apa karakternya.
Karena tiap kali Anita kerumah Andy, Papanya selalu tidak ada dirumah. Anita takut jika Papa Andy ternyata sama seperti kebanyakan orang kaya pada umum nya yang menjalin hubungan hanya berdasarkan bibit, bebet dan bobot.
Apalah keluarga Anita dibandingkan keluarga Bramasta Wiratmaja, Keluarga terpandang dan pengusaha paling kaya dikotanya bahkan termasuk dalam urutan 10 pengusaha tersukses di Indonesia. Bagaikan butiran debu dan mutiara, sangat jauh berbeda. Meski sekarang Ayah Anita juga sudah cukup sukses sebagai pengusaha, Namun masih jauh dibandingkan dengan Papa Andy.
Dengan tangan gemetar Anita menyalami tangan Papa Andy dan mencium punggung tangan nya.
" Saya Anita Pak. " Ucap Anita kemudian.
" Panggil saja Om Bram. " Sahut Papa Andy setelah sebelumnya mengangguk pelan.
__ADS_1
" Baik Pak, maaf maksud saya Om. " Ucap Anita grogi.
Papa Bram pun hanya tersenyum sekilas lalu mengalihkan pandangan nya pada Andy.
" Bagaimana kelanjutan kasus nya ? Papa akan meminta pengacara kepercayaan Papa untuk mengurusnya. " Ucap Papa Bram.
" Jangan khawatir pah, Kasusnya sudah ditangani oleh pengacara Om Hendra. Andy hanya tinggal mengikuti sidang beberapa kali saat sudah sembuh nanti, setelah itu tinggal nunggu keputusan hakim saja. " Sahut Andy.
" Syukurlah kalau begitu. " Ucap Bram.
" Oh iya pah, Andy bisa minta tolong urusin mobil Andy yang masih berada dikantor polisi ga pah ? " Tanya Andy.
" Bisa, nanti biar orang suruhan papa yang urusin sekalian bawa mobil mu ke bengkel. " Jawab Papa Bram.
" Anita ... Tolong sampaikan terimakasih Om pada ayahmu, terimakasih juga untukmu karena sudah merawat Andy. " Ucap Papa Bram sambil mengalihkan pandangan nya pada Anita.
" Tidak perlu berterimakasih Om, Bagaimanapun kami juga ikut bertanggungjawab karena Andy pergi bersama Anita. "
" Meski begitu, Om tetap berterimakasih pada kalian. " Sambung Bram lagi.
Sedangkan Bram hanya mengangguk pelan.
***
Suasana hening cukup lama, tak ada seorangpun yang memulai pembicaraan. Bram duduk di sofa sambil mengetikkan sesuatu dilaptopnya. Andy asyik memainkan ponselnya, membalas pesan dari teman - teman nya satu persatu. Sedangkan Anita duduk setia disamping ranjang Andy sambil memegangi perutnya.
Kruuueekk ... kruuk ... kruuk ... ( perut Anita berbunyi ).
" Aduh ... lapar sekali. Mau makan, tapi makanan nya dimeja depan Om Bram. Kan ga enak kalo tiba - tiba duduk didekat nya lalu makan sendirian.
Oh iya, aku kan beli dua bungkus. Apa aku tawarin ke Om Bram satu ya ? Tapi ... Apa mau Om Bram makan nasi bungkus kayak gitu, mana nasinya udah dingin lagi. Aduh .... " Gerutu Anita dalam hati.
__ADS_1
Andy diam - diam memperhatikan gerak - gerik Anita sedari tadi, dia menduga kalau Anita pasti belum makan.
" Kamu lapar ya sayang ? Bukan nya tadi kamu bilang habis dari minimarket mampir ke warung cari makan ? " Ucap Andy agak keras yang mungkin bisa didengar Om Bram.
Bram pun hanya melirik sekilas lalu memandangi layar laptop nya lagi.
" Syuutttt .... Jangan keras - keras ! Ngomongnya pelan - pelan aja ! " Ucap Anita setengah berbisik sambil mendekati Andy.
" Memangnya kenapa harus pelan - pelan ? " Sahut Andy sambil berbisik juga ditelinga Anita hingga membuat Anita kegelian.
" Ya ga bisik - bisik juga kali Ndy, ga sopan kan ada Papa kamu. Maksudku ngomong nya pelan - pelan jangan kenceng - kenceng, ntar ganggu Om Bram yang lagi kerja. " Sahut Anita yang berhasil menemukan alasan yang tepat.
Sebenarnya Anita hanya malu kalau Bram tahu dia sedang kelaparan.
" Ya udah, sekarang aku tanya. Memangnya kamu belum makan ? " Tanya Andy sedikit pelan.
" Belum, tadi take a way ga makan ditempat. Takut kamu kelamaan nunggu. " Jawab Anita.
" Terus kenapa dari tadi ga dimakan ? Apa karena nasinya udah dingin ? Apa mau beli lagi yang baru ? " Tanya Andy lagi.
" Ga usah beli lagi, nanti yang tadi jadi mubadzir. Aku oke aja kok makan nasi dingin. " Jawab Anita.
" Lalu kenapa masih belum kamu makan ? " Tanya Andy.
" Aku ... Aku malu sama papa kamu ? " Jawab Anita.
" Ha ha ha ... Cuma makan doang ngapain harus malu ? " Tawa renyah Andy berhasil membuatnya menerima pukulan ringan dari Anita sekaligus berhasil membuat Papa Bram menoleh, namun tak berapa lama Papa Bram kembali asyik dengan laptopnya.
Yaa ... Sebenarnya pekerjaan Bram di New Zealand memang belum selesai. Setelah memperbaharui proposal kerjasama, Bram dijadwalkan untuk mempresentasikan nya. Memang tugas itu bisa diambil alih oleh asisten pribadinya, namun karena klien kali ini sangat penting dan menyangkut kemajuan perusahaan nya. Bram memutuskan untuk menanganinya sendiri.
Rencana pun batal sepihak saat tiba - tiba satu jam sebelum jadwal pertemuan itu, Catherine menelpon Bram dan mengatakan bahwa Andy mengalami kecelakaan dan sedang kritis di rumahsakit. Tanpa berpikir panjang, Bram membatalkan janjinya dan segera terbang dengan jet pribadinya untuk melihat kondisi Andy.
__ADS_1
Memang dari dulu, sesibuk apapun Bram selalu memprioritaskan keluarga nya diatas pekerjaan nya.
Saat dalam perjalanan kerumahsakit tadi, Bram sempat menelpon klien nya untuk meminta maaf dan mengemukakan alasan nya kenapa tiba - tiba membatalkan meeting. Untung saja klien nya bersedia memaklumi dan menjadwal ulang pertemuan mereka, dengan pertimbangan kredibilitas seorang Bramasta Wiratmaja hingga membuat klien itu menaruh kepercayaan penuh pada Bram.