
" Silahkan diminum om. " Ucap Anita sambil meletak kan secangkir teh hangat dan tiga toples kecil kue kering.
" Terimakasih, maaf ya om jadi ngrepotin kamu. " Sahut Ferdy.
" Nggak kok om, cuma teh aja. " Jawab Anita.
" Duduk sini nak, temani om ngobrol. " Ucap Ferdy.
Anita pun menaruh nampan nya dikolong meja lalu duduk berhadapan dengan Ferdy.
" Om mewakili anak om Vera ingin memintamaaf padamu atas kejadian beberapa waktu lalu. Itu semua salah om karena selalu memanjakan Vera dan tidak bisa mendidik nya dengan baik. Kamu mau kan memaafkan om dan Vera ? " Tanya Ferdy.
" Anita udah maafin kok om. Tapi Anita harap Vera juga menyesalinya dan tidak akan berbuat seperti itu lagi kedepan nya. " Jawab Anita.
" Tentu saja, om akan pastikan kalau Vera tidak akan berbuat macam - macam lagi sama kamu. Terimakasih ya kamu sudah bersedia memaafkan om dan Vera, kamu memang gadis yang baik. Om harap seterusnya kamu dan Vera bisa berteman baik. " Sahut Ferdy.
" Bagaimana mungkin berteman baik kalau dia selalu menganggapku musuh dan cari gara - gara terrus dengan ku. " Batin Anita.
Namun dia hanya tersenyum paksa menanggapi permintaan papa Vera itu.
Beberapa saat kemudian Rahmi kembali dengan mengendarai motir matic nya.
" Assalaamu'alaikum ... " Salam Rahmi saat masuk ke rumah.
" Wa'alaikum salaam ... " Jawab Anita dan Ferdy bersamaan.
" Ibu sudah pulang. Dimana belanjaan nya ? " Tanya Anita.
" Ibu tadi belanja banyak, jadi nanti siang baru diantar mobil pick up. " Jawab Rahmi.
" Oh ... " Sahut Anita singkat.
" Ferdy ... Sudah lama ? " Tanya Rahmi pada Ferdy.
" Belum kok, tadi habis ngobrol sebentar dengan Anita. " Sahut Ferdy.
" Om ... Ibu ... Anita tinggal jaga toko dulu ya. " Pamit Anita.
Rahmi dan Ferdy pun mengangguk. Anita berjalan keluar untuk menjaga toko lagi.
*** 50 menit kemudian ***
" Om Ferdy itu mencurigakan, tatapan dan senyuman nya pada ibu aneh sekali. Jangan - jangan Om Ferdy punya maksud lain lagi sama ibu. Lagian katanya CEO jam segini dah keluar kantor aja, emang ga ada kerjaan. Eh tapi kan perusahaan sendiri, ditinggal juga ga ada yang marahin kali. Udah ah, kenapa jadi mikirin orang sih. " Pikir Anita menduga - duga.
Sebuah mobil masuk ke halaman rumah Rahmi. Pemilik mobil keluar dari kursi pengemudi. Seorang pria paruh baya berkemeja biru yang tak lain adalah Hendra ayah Anita.
" Mobil siapa ini ... " Batin Hendra sambil memperhatikan mobil disamping nya.
Hendra berjalan menuju toko dan menghampiri putri nya.
__ADS_1
" Anita ... " Panggil Hendra.
" Ayah ... " Anita menyalimi dan memeluk sang ayah, Hendra membalas pelukan nya dan memberikan kecupan di pucuk kepala nya.
" Kok kamu yang jaga toko sayang, ibu kamu mana ? " Tanya Hendra.
" Ibu tadi habis belanja, sekarang ada di dalam ayah. " Jawab Anita.
" Lalu itu mobil siapa ? Ada tamu ya di dalam ? " Tanya Hendra lagi.
" Itu yah, ayah inget kan soal Vera temen Anita yang ngunciin Anita dikamar mandi ? " Tanya Anita.
" Iya, ayah ingat. Kenapa ? Apa dia bikin masalah lagi dengan mu ? " Tanya Hendra.
" Tidak yah. Jadi tadi ada orang yang datang mencari ibu. Setelah berkenalan ternyata dia papa nya Vera. Terus dia juga bilang kalau dulu dia bersahabat dengan ayah dan ibu. " Jawab Anita.
" Oya, siapa nama nya ? " Tanya Hendra lagi.
" Nama nya Om Ferdy. " Jawab Anita.
" Ferdy ... Mau apa dia kesini ? " Pikir Hendra.
" Om Ferdy itu siapa ayah ? Beneran sahabat ayah ya ? Tapi sepertinya ada yang aneh deh. " Ucap Anita.
" Aneh bagaimana ? " Tanya Hendra.
" Heemm ... Ayah, ibu dan Om Ferdy dulu memang bersahabat. Sebelum menikah dengan ayah, ibu mu sempat berhubungan dengan om Ferdy. Tapi jangan khawatir dan tidak usah dipikirkan. Ayah akan menjaga ibu mu. " Ucap Hendra yang diangguki Anita.
" Ya sudah, ayah masuk dulu ya. " Pamit Hendra.
" Iya ayah. " Jawab Anita.
Hendra pun berjalan menuju rumah.
" Assalaamu'alaikum ... " Hendra mengucap salam.
" Wa'alaikum salam ... " Jawab Ferdy.
" Ferdy ... Kamu disini. " Ucap Hendra pura - pura kaget.
" Iya, apa kabar ? " Sapa Ferdy sambil menyodorkan tangan nya.
" Aku baik - baik saja, lama tidak bertemu. " Ucap Hendra sambil menjabat tangan Ferdy.
Mereka pun lalu berpelukan singkat. Kemudian Hendra duduk didepan Ferdy.
" Kenapa kau di sini ? " Tanya Ferdy.
" Memang ada yang salah kalau aku mengunjungi anak ku dan ibu nya ? " Tanya Hendra.
__ADS_1
" Tidak, tidak salah kok. Hanya saja Rahmi pernah bercerita kalau sudah 9 tahun ini kalian tidak pernah bertemu. Jadi aku kaget saja kau tiba - tiba disini. " Jawab Ferdy.
" Karena beberapa hal jadi aku tidak bisa mengunjungi putriku beberapa tahun ini. Tapi sekarang aku sudah disini, dan kami akan bersama selamanya. Kau sendiri, ada perlu apa kesini ? " Tanya Hendra.
" Aku ... Aku hanya ada sedikit urusan dengan Rahmi. Oya, kebetulan putriku Vera dan putrimu Anita berteman. Jadi ... Kami hanya sedikit membahas tentang mereka. " Jawab Ferdy ragu.
" Oya ... ? " Ucap Hendra singkat.
" Begitulah ... Oya, apa pekerjaan mu sekarang ? Sepertinya kau sudah sukses. " Tanya Ferdy sambil memperhatikan penampilan Hendra yang memakai outfit serba branded seperti dirinya.
" Aku hanya pengusaha kuliner kecil - kecilan. Oya, Kudengar kau jadi CEO sekarang ? " Tanya Hendra.
" Begitulah ... Sejak papaku meninggal, aku yang meneruskan perusahaan keluarga. " Jawab Ferdy.
Rahmi yang kebetulan mendengarkan obrolan mereka pun keluar.
" Hendra ... Kau datang. " Ucap Rahmi.
" Iya, aku hanya berkunjung sebentar. " Sahut Hendra.
Rahmi pun kemudian ikut duduk di sebelah Hendra.
Suasana pun menjadi canggung, hening karena tidak ada yang membuka obrolan.
" Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu karena harus kembali ke kantor. " Pamit Ferdy kemudian.
" Baiklah ... Hati - hati dijalan. " Ucap Rahmi.
Ferdy pun pergi setelah bersalaman dengan Hendra dan Rahmi.
" Apa dia sering datang kesini ? " Tanya Hendra pada Rahmi.
" Tidak ... Baru dua kali ini kami bertemu. Beberapa waktu lalu katanya juga habis kesini, tapi kami tidak bertemu karena aku menjaga Anita di rumah sakit. " Jawab Rahmi.
" Lalu ... Apa saja yang dibicarakan nya ? " Tanya Hendra lagi.
" Tidak banyak. Tadi dia hanya berterimakasih karena Anita tidak membawa kasus Vera ke jalur hukum. " Jawab Rahmi.
" Benar, itu saja ? " Selidik Hendra.
" Sebenar nya apa yang ingin kau tahu ? " Tanya Rahmi.
" Bukan apa - apa, hanya saja tadi Anita bilang kalau Ferdy hampir satu jam disini. Jadi ... Kupikir kalian sudah mengobrol banyak. " Ucap Hendra.
" Sebenar nya ... " Rahmi menggantung kalimat nya.
" Sebenarnya apa ? Kenapa menggantung kalimat mu ? Apa dia mengganggu mu ? " Tanya Hendra.
" Tidak ... Bukan begitu. Hanya saja ... Dia mulai membahas hal - hal pribadi yang membuatku risih. Jadi tadi aku sengaja meninggalkan nya untuk ke toilet, padahal aku menyibukkan diriku di belakang. " Jawab Rahmi.
__ADS_1