
Saat Inka masuk ke dalam mansion milik Naren, Ia melakukan aktifitasnya seperti biasa. Menyiapkan pakaian, dan sarapan untuk tuannya.
Melihat jam sudah hampir menunjukan pukul 07.00 pagi, Inka membangunkan Naren melalu monitor yang sudah di sediakan. Tetapi Ia tidak kunjung bangun, membuat Inka terpaksa masuk ke dalam kamarnya.
Inka melihat Naren yang sedang tertidur pulas, terlihat sangat lelah di raut wajahnya. Inka berusaha menyentuh kakinya, dan menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.
" Tuan, kau harus bangun. Ini sudah hampir pukul 07.00 pagi," ucap Inka.
Beberapa kali Inka tidak mendapatkan respon apapun dari Naren, membuat Inka terpaksa membuka hordeng. Saat kakinya melangkah, tiba-tiba langkahnya terhenti, membuatnya terdiam dan menatap Naren yang memegang tangannya dan menariknya sehingga Ia pun jatuh ke dalam pelukan Naren.
Inka yang mengalami hal ini, sangat terkejut dan berusaha untuk bangun, Ia berusaha merapihkan ramputnya dan segera keluar dari kamar Naren.
Dengan terburu-buru Inka langsung keluar dari mansion dengan perasaan yang sangat kacau, Ia meninggalkan Naren seorang diri di dalam kamar, dan pergi menaiki taksi.
Saat di perjalan ke kantor, Inka membayangkan saat Ia terjatuh di dalama pelukan Naren, jantunfnya seketika berdetak sangat kencang. Ia pun berusaha untuk menengkan perasaannya.
'Kenapa konyol sekali, dasar aku memang sangat ceroboh, bagaimana jika nanti aku berhadapan dengan tuan Naren. Mengingat kejadian ini pun aku hampir tidak bisa bernapas,' batin Inka.
Sampai lah Inka di kantor, dan langsung masuk. Melihat suasan kantor seperti ada yang berbeda, terutama ruangan Naren yang pintunya terbula. Dengan cepat Inka memeriksa ruangan itu, terlihat seorang wanita cantik bergaun hitam sedang duduk di sofa.
Inka yang tidak mengetahui siapa dia, langsung masuk dan bertanya, "maaf Nona, apa anda tamu tuan Naren?" tanyaku kepada wanita cantik yang sedang duduk itu.
Wanita itu menoleh dengan manis, menatap Inka secara detail dari ujung kaki hingga ujung rambut. Membuat Inka merasa risih di liat seperti itu.
"Ku dengat kau adalah sekretaris pribadinya, apa itu benar?" tanya Alexa.
Iya Alexa adalah temannya Naren, tetapi Ia menganggap lebih dari teman. Karena perlakuan Naren yang begitu hanya kepadanya, membuat Alexa jatuh hati. Alexa baru pulang dari singapure setelah menyelesaikan pekerjaannya di sana dan pulang ke Indonesia untuk menemui Naren.
"Anda benar Nona," sahut Inka.
"Artinya kau mengetahui semua yang di lakukan Naren, apa kau ingin membantu ku?" tanya nya.
Inka pun bingung harus menjawab apa, karena keseharian tuan Naren adalah hal privasi yang harus Inka jaga.
Belom sempat Inka menjaga, tiba-tiba Naren datang bersama Robi, Alexa yang melihat Naren masuk ke dalam ruangannya langsung tersenyum.
__ADS_1
"Alexa," panggil Naren.
"Kau masih mengenal ku dengan baik," sahut Alexa mendekati Naren dan memeluknya.
Pelukan itu di sambut hangat oleh Naren, membuat Inka yang ada di dalam ruangan merasa canggung dan memutuskan untuk keluar.
"Berhenti! Jangan keluar!" seru Naren membuat Inka berhenti melangkah.
Alexa langsung melepaskan pelukan itu dan menatap Inka, "dia terlihat sangat istimewa di mata mu," ucap Alexa.
"Dia adalah sekretaris ku, jadi kemana pun aku berada dia harus berada di samping ku," sahut Naren.
Inka hanya terdiam tak mampu menjawab sepatah kata pun. Alexa menatapnya dengan tatapan sengit, tapi Ia mencoba mencairkan suasana mengajak ngobrol Naren.
Naren menatap Inka yang masih berdiri di dekatnya, "kenapa masih berdiri, kembali ke ruangan mu," ucap Naren.
"Baik tuan," jawab Inka.
Inka melihat di dalam ruangannya, ada meja yang sudah di siapkan khusus untuk sekretasi pribadinya. Inka yang baru mengetahui meja itu cukup terkejut.
Inka duduk di meja yang sudah di sediakan di dalam ruangan itu, terlihat sangat elegan. Ia tidak menyangka mendapat ruangan yang menyatu dengan ruangan bosnya, ini membuatnya malah tersiksa karena Ia tidak bisa bergosip, bersantai, ngemil dan tertawa lepas. Hayalan itu hilang begitu saja, di terpa kenyataan.
Alexa sempat melirik Inka yang sudah duduk di mejanya, terlihat tembus pandang karena hanya di beri batas dengan kaca.
Merasa terus di peehatikan membuat Inka salah tingkah dan tidak nyaman berada di dalam ruangan Naren, terasa sesak seperti orang yang kesulitan bernapas. Inka berusaha untuk fokus dengan pekerjaanya, namun tetap saja tidak bisa.
Inka terus berfikir bagai mana caranya keluar dari ruangan itu, melihat jam pukul 10.00 pagi waktunya Naren minum teh dan cemilan. Inka keluar ruangan itu dan langsung menarik napasnya lega.
"Akhirnya keluar juga, serasa sedang menghadapi ujian nasional," gumam Inka berjalan ke dapur kantor.
Robi yang melihat Inka berjalan ke dapur membuatnya hanya melirik saja, Inka kembali lagi ke ruangan Naren membawa 2 cangkir teh beraroma jasmin.
Inka meletakan teh itu, dan tidak sengaja kakinya tersandung oleh kaki Alexa. Membuat teh yang cukup panas tumpah di gaun Alexa, dengan penuh amarah Alexa berdiri dan menampar Inka.
Mendapat tamparan yang cukup keras membuat Inka hanya bisa menundukan kepalanya dan meminta maaf.
__ADS_1
"Apa kau tidak di latih untuk hati-hati," ucap Alexa.
"Cukup! Kau tidak perlu menamparnya, dia sudah katakan jika tidam sengaja," sahut Naren.
Alexa dengan napas yang menggebu-menggebu merasa kesal, karena Naren justru malah membela Inka.
"Aku antar kau pulang," ucap Naren menarik tangan Alexa sampai membuatnya berlarian kecil mengikuti langkah Naren.
Inka masih terdiam di ruangan itu, menatap kepergian Naren bersama Alexa yang semakin menjauh.
"Sudah ku katakan aku tidak sengaja, kalo ku ladeni abis itu wanita, hanya saja aku berpura-pura lemah karena takut kehilangan pekerjaan lagi, hidup ini sangat tidak adil," gerutu Inka.
Inka membereskan teh itu, dan melihat Robi sedang ada di ruangannya.
Ingin rasanya ia bertanya kepada Robi tentang Alexa tetapi rasanya berat untuk melangkah ke sana.
Inka kembali melakukan aktivitasnya, ada banyak klien yang meminta untuk bertemu dengan Naren di jam kerja, membuat Inka harus membuat jadwal agar semua kliennya bisa du temui dengan adil.
Di dalam perjalanan, Alexa dengan kesal dan merasa puasa karena sudah menampar wanita yang ada di dalam ruangn Naren. Ia merasa wanita itu ancaman untuknya, karena meja kerjanya berada di dalam ruangan Naren.
"Seharusnya kau tidak bersikap kasar dengan sekretaris ku," ucap Naren.
'Kenapa sekang dia berubah? Dia bukan Naren yang ku kenal?,' batin Alexa.
"Maafkan aku, aku merasa kaget dan merasa panas. Karena teh itu menempel kulit ku," kata.
Alexa berpura-pura menyesali perbuatannya, di dalam hatinya Ia sangat puasa telah menampar Inka. Naren hanya mengantarkan Alexa ke apartemen nya, kemudian Ia langsung melajukan mobilnya kembali ke kantor.
Melihat Inka yang sibuk dengan leptop dan tabnya, membuatnya langsung mendekat.
"Di mana teh ku?" tanya Naren.
"Tuan, tehnya sudah saya tarok ke dapur. Saya buatkan lagi ya," ucap Inka.
BERSAMBUNG....
__ADS_1