Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Penuh Percaya diri.


__ADS_3

Inka memanfaatkan waktu di dalam pesawat dengan tidur, karena perjalanan yang cukup lama membuatnya langsung menarik selimut. Sama halnya dengan Naren yang sekarang sering mengantuk, tak sanggup lagi membuka matanya dengan lebar, akhirnya Ia pun ikut tertidur di dalam pesawat.


"Apa! Naren terbang ke Dubai bersama sekretaris sialan itu! Dasar cewek kurang ajar, ******."


Umpat Alexa dengan amarah yang membara, Ia terus mengumpat tak henti-hentinya. Alexa memikirkan bagai mana caranya Ia bisa menyusul Naren ke Duhai.


"Kenapa kepergiannya sangat privasi, apa memang mereka menjalin hubungan khusus, ini tidak bisa si biarkan. Aku harus cari tahu kemana perginya Naren," gumam Alexa.


Inka yang sangat puas karena selama di dalam perjalanan menuju Dubai, Ia habiskan untuk tidur. Sampai akhirnya salah satu pramugari membangunkannya untuk makan siang, dengan berat hati Ia pun langsung terbangun dan menatap Naren pun sedang tertidur.


Inka tersenyum melihat Naren tidur dengan gaya yang sangat cool.


'Ternyata bos ku sangat tampan, lihatlah tidurnya saja begitu tampan. Tapi ... kalo dah bangun, jangan di tanya. Kayak singa,' batin Inka.


Melihat pramugari melayani Inka dengan baik, menyiapkan makanan membuat Inka terus tersenyum.


'Ternyata enak juga, kalo punya banyak uang ... apalagi kalo kita terkenal, wah ... kehidupan yang sangat sempurna,' batin Inka.


Inka sangat menginginkan profesi seorang model, karena badannya yang sangat mendukung dan parasnya yanh sangay cantik natural membuatnya sangat mudah untuk mendaftar menjadi seorang model majalah tetapi keberuntungan tidak berpihak kepadanya.


Berkali-kali dia melamar menjadi model selalu di tolak karena kekonyolannya yang membuat dirinya gagal. Ia merasa jika dia tampil cantik merias diri, dia akan gagal ketika bekerja atau melamar pekerjaan. Inka menganggap semua ini adalah kutukan.


Ketika Ia sedang menikmati makanan western food . Wajahnya menoleh kearah sumber suara, melihat Naren memberi isyarat dengan jari tangannya.


"Ada apa tuan?" tanya Inka.


Naren menunjukan selembar kerta, dan memberikannya kepada Inka.


"Apa ini," gumamnya.


Inka membaca kertas itu, ternyata itu adalah rangkaian rapat yang ada di hadiri mereka ketika sudah sampai Dubai.


Inka pun melajutkan makannya.


Melewati perjalanan yang sangat panjang membuat kaki Inka kram karena terus-terusan duduk dan rebahan.


"Astaga kaki ku kram tuan," ucap Inka.


"Ada apa?" tanya Naren yang menyentuh kaki Inka.


"Aw ...! Aduuh tuan, kaki ku kram!" seru Inka.

__ADS_1


"Kenapa kau malah memarahi ku? Mana ku tahu jika kaki mu kram, bukan urusan ku," ucap Naren melangkah meninggalkan Inka.


"Dasar bos gila, aku sudah mengatakan jika kaki kram, malah dia sendiri yang pura-pura tidak mendengar. Aku rasa telinganya bermasalah," gerutu Inka.


Inka keluar dari dalam pesawat saat kakinya sudah membaik, Ia berjalan mencari keberadaan Naren yang sudah tidak ada batang hidungnya. Inka mulai panik melihat ke sana ke mari, tidak menemukan Naren.


"Aduh, kemana perginya tuan Naren?" gumamnya.


Cukup lama Inka di buat panik oleh Naren sampai akhirnya Ia berjalan menuju ruang tunggu.


"Kenapa masih diam saja, kita harus segera ke hotel," ucap Naren membuat Inka menoleh ke arah nya sambil menarik napas lega.


""Taun, anda kemana saja," ucap Inka.


"Aku di sini sedari tadi, kau saja yang lelet," kata Naren.


Seketika Inka mengepalkan tangannya karena kesal dengan Naren. Ia mencoba untuk mengatur napasnya dan berjalan mengikuti langkah kaki Naren.


Sampai di hotel mereka memasuki kamarnya masing-masing.


"Astaga, hari ini aku di kerjai oleh tuan Naren. Lihat saja, nanti akan aku bakal kau ya," gumam Inka.


Inka bersiap-siap untuk menghadiri acara bersama Naren di salah satu hotel mewah, dengan menggunakan pakaian yang sangat sopan. Inka mengenakan gaun panjang yang menutupi kaki jenjanya.


"Ais ... aku rasa tidak perlu merias diri tapi aku tidak percaya diri jika menghadiri acara rapat tanpa merias diri, apalagi akan bertemu dengan para pemuda yang sangat tampan, apa aku akan sial jika merias diri," ucap Inka.


Merasa bimbang antara merias diri atau tidak membuat Inka takut jika dia akan mengalami kesialan yang selalu terjadi. Tapi tekatnya sangat bulat Ia akhirnya merias dengan tipis dan terlihat sangat natural.


"Riasan ku terlihat sangat natural, jika memang sial. Setidaknya kesialan ku setipis riasanku, okay sudah cantik, mari kita menemui tuan muda Narendra," kata Inka.


Inka keluar dari kamarnya, melihat Narendra sudah menunggunya di depan.


"Tuan, sejak kapan di situ?" tanya Inka.


Narendra menoleh ke arah Inka, menatap Inka yang menggunakan riasan meski pun natural tetapi sangat berbeda dari biasanya, Naren hampir terpanah dengan senyumannya, tetapi Ia langsung tersadarkan karena ponselnya berbunyi.


Naren : "Iya hallo."


Robi : "Nona Alexa, mencari tahu alasan anda berangkat ke Dubai tuan, ini sangat berbahaya jika pimpinan Bimo tahu jika anda pergi le Dubai karena urusan pribadi."


Naren : "Kau katakan padanya aku ada urusan bisnis jadi tidak sempat menghubungi nya."

__ADS_1


Robi : "Tapi tuan, nona Alexa ingin menyusul anda ke Dubai."


Naren : "Katakan saja aku tidak di temui siapapun, ini rapat yang sangat penting. Baiklah nanti kita sambung lagi."


Telpon pun terputus, membuat Robi kebingungan harus mengatakan apa dengan Alexa yang ternyata menunggunya di belakang Robi.


"Bagai mana? Apa yang Naren katakan?" tanya Alexa.


"Beliau mengatakan tidak bisa di ganggu untuk beberapa hari, karena ini rapat sangat penting," jelas Robi.


"Hem ... baiklah jika begitu," sahut Alexa.


Naren pun berangkat ke hotel untuk menemui kliennya, sampai di hotel. Terlihat acara yang di gelar sangat meriah, Naren berjalan di ikuti Inka dari belakang.


"Wah, kenapa pria di sini sangat tampan, ini cuci mata uang sesungguhnya," gumam Inka.


"Jaga matamu, kau hanya fokus ke rapatnya bukan orangnya," sahut Naren.


"Sesekali tidak apa-apa tuan, agar lebih semangat," ucap Inka.


Naren dengan wajah yang kesal berjalan mempercepat langsungnya, Ia di sambut oleh Mr. Amar.


Mereka berbincang terlihat sangat akrab, Amar menatap kagum dengan Inka yang berdiri di samping Naren.


"Siapa wanita yang bersamamu?" tanya Amar.


"Dia sekretaris ku, kenalkan dia Inka," ucap Naren.


"Hai ... Nona Inka, senang bertemu denganmu, saya Amar Kabhi," sapa Amar.


Inka tersenyum manis, "senang bertemu denganmu tuan Amar," sapa Inka.


Acara pun di mulai dengan presentasi dari perusahan minyak terbesar di Dubai, acara rapat terlihat seperti pesta karena ini di gelar setiap 5 tahun sekali, tidak semua orang bisa menghadiri rapat ini.


Perusahaan Naren termasuk perusahaan yang sangat beruntung masuk ke dalam kategori perusahaan yang bergengsi di seluruh dunia.


Mereka saling berinteraksi satu sama lain, dengan kemahiran yang di miliki Inka. Ia maju ke panggung untuk memperkenalkan perusahaan tempatnya bekerja, dengan bahasa yang sangat rapi dalam penyampaiannya membuat banyak orang kagum dan ingin menjalin hubungan kerja dengan Adewe Group.


Naren terkesimak melihat Inka dengan penuh percaya diri berdiri di panggung, membuatnya langsung melebarkan senyuman, tanpa Ia sadari.


"Au, sakit tuan."

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2