Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Terpukau


__ADS_3

Nina terus menggoda Inka, setelah kehadiran Ludin malam itu, membuat seisi rumah Inka menggodanya terus menerus.


Suara alarm membangunkan Inka yang masih terlelap dalam tidurnya, perlahan tangannya mencari jam beker yang terus mengganggu telingannya.


Inka pun langsung membuka matanya, ia sangat kesal karena tidak menemukan jam beker yang teris berbunyi, ternyata jam itu terjatuh di lantai.


"Kupingku terasa mau meledak, gara-gara jam ini!" kesal Inka.


Inka bangkit dari tempat tidurnya, ia duduk termenuk menatap pintu kamarnya, terlihat seperti orang yang bingung.


Rosida yang sedang masak didapur merasa terkejut, karena Inka sudah bangun.


"Sayang Inka, sudah bangun?" goda Rosida.


Langkah kaki Inka terhenti, ketika mendenga suara ibunya, ia menoleh dengan tatapan tajam.


"Apa ibu bilang?" tanya Inka.


"Ibu hanya mengatakan sayang Inka," jawab Rosida.


Inka seketika melototkan matanya, ia merasa kesal dengan Ibunya yang tak henti menggodanya terus-menerus.


Inka langsung masuk ke kamar mandi.


"Sudah, jangan digoda terus menerus, sayang, kasian Inkanya," sahut Solihin.


"Iya iya," ucap Rosida.


Setelah selesai mandi, Inka langsung mengganti pakaian dan merias wajahnya secara natural.


Inka melewati Rosida dan Solihin yang duduk di meja makan, ia tak menyapa ataupun berpamitan dengan orang tuanya, karena masih kesal dengan Ibunya yang terus menggodanya. Solihin hanya terdiam menatap kepergian Inka.


"Dia marah," ucap Solihin.


"Nanti juga luluh lagi, kamu tenang saja," sahut Rosida.


Inka pergi ke rumah Naren, saat sampai di haltez ia berjalan menuju komplek elit yang tidak jauh dari halte. Terlalu fokus berjalan, sampai ia tidak menyadari jika Kenzo berjalan di sampingnya.


Inka masih teringat jelas kejadian semalem, saat Ludin bernyanyi untuknya, kejadian itu membuat Inka di ejek oleh Nina dan Ibunya. Rasa kesal yang sudah di ujung tanduk membuatnya tanpa sadar mengeluarkan kata kasar, membuat Kenzo yang berjalan di sampingnya meras kaget.


"Kurang aja! Dasar lelaki aneh!" gerutu Inka membuat Kenzo menoleh ke arahnya.


"Apa kau bilang? Aku?" tanya Kenzo.


"Dasar lelaki aneh, udik, kumel, kribo! Awas kau ya," gerutu Inka.


Kenzo semakin bingung dengan wanita yang ada di sampingnya, ia tidak melihat ada headset atau benda apapun yang menempel ditelinganya. Kenzo yang menatap Inka yang sedari tadi berbicara sendiri.

__ADS_1


"Apa kau ini gila? Bicara sendiri?" tanya Kenzo.


Inka menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah sumbee suara.


"Kau yang gila!" seru Inka kembali berjalan.


Kenzo sangat terkejut ketika ditunjuk oleh Inka, ia terus menatap Inka yang semakin menjauh.


Inka mengingat lelaki yang sempat ia tunjuk karena kesal dengan Ludin, Inka terus mengingatnya sampai akhirnya ia melihat jelas wajah tampan itu adalah Kenzo, perlahan ia menoleh ke arah belakang, ia melihat Kenzo sedang mendengarkan musik menggunakan headset.


"Ya ampun, dia Kenzo sungguhan," ucap Inka.


"Kenapa hari sialku harus melibatkannya sih, aku harus segera kabur," ucap Inka.


Dengan cepat Inka berjalan menuju rumah Naren, ia langsung masuk ke dalam rumahnya. Seperti biasa, ketika Inka datang, ia langsung masuk ke kamar Naren, mematikan lampu, menyiapkan pakaiannya dan membuatkan sarapan.


'Hari minggu masih saja kerja, aku rasa ini kerja romusa,' batin Inka.


Saat Inka masuk ke dalam kamar Naren, ia tidak melihat Naren ditempat tidur.


"Mungkin dia sudah bangun, sudahlah aku tidak mau memikirnya, otak ku sudah lelah saat ini," oceh Inka.


Selesai menyiapkan pakaian, Inka menuju dapur ia melihat ada asisten rumah tangga yang sedang masak.


"Siapa dia? Apa dia ibunya tuan Naren? Tapi mana mungkin," gumam Inka.


Inka mendekati dapur, ia ingin menyapa asistem rumah tangga itu, tetapi asisten rumah tangga itu kaget duluan karena percikan minyak, membuat Inka langsung membalikan tubuhnya, membelakangi asisten rumah tangga.


"Siapa itu?" tanya Bi Sumi.


"Dia memanggilku, harus bagaimana ini?" gumam Inka mulai panik.


"Nona! Apa kau sekretaris Tuan muda?" tanya Bi Sumi.


Inka langsung membalikan tubuhnya, ia tersenyum manis sambil melambaikan tangan.


"Hai ..." sapa Inka sambil melambaikan tangannya.


"Jangan sungkan, tuan Naren sudah menceritakan semuanya, duduklah Nona," sahut Bi Sumi.


"Memangnya ibu siapanya Tuan Naren?" tanya Inka.


"Aku Bi Sumi, aku bekerja dengan Tuan Besar sudah lama, sejak Tuan muda masih kecil, dan sekarang sudah dewasa. Beberapa bulan Bibi meminta cuti kepada tuan Naren, karena Bibi lagi ngurus suami Bibi dan sekarang dia sudah tidak lagi merasakan sakit," jelas Bi Sumi.


Inka merasa ibah mendengar cerita Bi Sumi, ia langsung mengusap pundak Bi Sumi, agar membuatnya lebih baik.


"Allah lebih sayang Bi, yang ikhlas ya," ucap Inka.

__ADS_1


"Tuan Naren, banyak menceritakan tentang Non Inka," ucap Bi Sumi.


"Apa itu Bi?" tanya Inka.


Saat Bi Sumi akan mengatakan semua yang diceritakan oleh Naren, tiba-tiba Naren turun dari lantai dua, membuat Bi Sumi lamgsung terdiam.


Inka pun ikut terdiam, dan bingunng dengan wajah Bi Sumi uang terlihay gugup.


"Apa Bi Sumi baik-baik saja?" tanya Inka.


Bi Sumi hanya menganggukan kepalanya, membuat Inka kembali memainkan ponselnya.


"Apa makanan sudah siap?" tanya Naren.


Inka menoleh ketik mendengar suara Naren, tatapan tertuju kepada pria yang ada di samping Naren, ia mengira itu asisten Robi, tapi nyatanya bukan.


Wajah cantik Inka mampu membuat adik Naren terpukau, ia tak berkedip saat memandangi wajahnya, senyum manis tersungging di bibirnya, membuat Naren merasa ada yang aneh dengan Putra.


Berkali-kali Naren memanggil namanya, tetapi tidak mendapat respon dari Putra, wajah Inka mampu mengalihkan dunianya.


'Dia gadis idamanku, tubuhnya lansing, putih, tinggi, rambutnya terurai seperti gadis korea, aku harus mendekarinya.


"Putra!" teriak Naren, yang mulai kesal sedari tadi tidak menjawab panggilan kakaknya.


Teriakan Naren membat lamunan Putra buyar seketika, ia langsung merasa bingung dengan Naren yang mulai menahan amarahnya.


"Ada apa kak?" tanya Putra.


"Kau bilang, ada apa? Apa kau tidak mendengar aku berbicara denganmu, memanggil namamu sampai berbusa, kau ini kenapa?" jawab Naren.


Inka yang sedang duduk, hanya terdiam menatap dua pria tampan sedang beedebat.


"Maafkan aku lah Kak, aku terpukau melihat wanita cantik yang sedang duduk itu, kalo boleh tau siapa namanya?" lirih Putra.


"Tidak mau, jangan macam-macam, Kakak gak akan mengirimki ke Amerika kalo gitu," ancam Naren.


"Kakak selalu saja mengancam ku, menyebalkan," kesal Putra berlalu pergi meninggalkan Naren.


"Tuan!" panggil Inka.


"Iya," jawab Naren.


"Acara hari ini, kita akan kemana?" tanya Inka.


"Tidak jadi, kau pulang saja," jawab Naren langsung pergi ke kamarnya.


Inka merasa di permainkan oleh Naren, tapi ia tidak sanggup untuk marah, ia hanya mampu menarik napasnya agar hatinya lebih tenang.

__ADS_1


"Kurang aja!"


BERSAMBUNG.


__ADS_2