Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Bau-bau jatuh cinta


__ADS_3

Ketika Inka sedang asyik bergosip dengan Geri sampai tertawa lepas, Naren dan timnya keluar dari ruang rapat. Setelah Naren hendak masuk ke dalam ruangannya, ia mendengar suara tawa renyah Inka yang membuatnya langsung mencari sumber suara. Setelah melihat meja Inka kosong, Naren mulai mencari keberadaannya dan menemukannya sedang duduk di ruang tunggu dekat ruangan Robi. Inka sedang tertawa sambil menatap Geri yang terlihat sangat lucu. Tak sengaja Inka melirik ke arah ruangan Naren dan ia melihat Naren sedang berdiri tegas menatapnya.


Inka langsung terdiam dan meletakkan kopi yang ia pegang. Sementara itu, Geri beralasan ke kamar mandi. "Tuan!" panggil Inka. "Jadi begini kerjaanmu, berleha-leha, mana laporan yang kusuruh tadi?" tanya Naren. "Pekerjaanku sudah selesai Tuan, sebentar saja," jawab Inka. Lalu, Inka masuk ke dalam ruangan Robi, membawa setumpuk berkas yang sudah ia kerjakan dan memberikannya kepada Naren.


Saat Inka akan memberikan berkas tersebut, Naren menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangannya. "Ini Tuan, berkas yang disuruh Pak Robi. Sudah saya kerjakan sebagian," ucap Inka. "Kenapa tidak kau kerjakan semuanya?" tanya Naren. "Ini sangat banyak Tuan, aku lelah. Jadi aku beristirahat sejenak, untuk menghibur penatku," jawab Inka. Naren menatap wajah Inka, dan ia melihat matanya yang terlihat sangat lelah dan seperti menahan ngantuk, sehingga Naren tidak bisa marah. Namun, Naren merasa sedikit cemburu dengan dekatnya Inka dengan Geri.


"Aku melihat akhir-akhir ini kau sangat dekat dengan karyawan Geri. Apa kalian pacaran?" tanya Naren. Pertanyaan tersebut membuat Inka terkejut, dan ia segera mengelak. "Tidak, Tuan! Aku hanya berteman dengannya karena dia sangat lucu dan bisa membuatku tertawa," jawab Inka. Naren menyimak semua yang dikatakan Inka, dan di dalam hatinya ia berkata, "Apa aku harus menjadi lucu agar kau menyukaiku?"


"Besok kau bekerja seperti biasa. Sebelum berangkat kerja, kau harus datang ke rumahku untuk menyiapkan semua keperluanku dan kita berangkat bersama," perintah Naren. "Baiklah Tuan, saya pikir sejak ada asisten rumah tangga di rumah Taun, Tuan tidak lagi membutuhkan saya," kata Inka. "Tidak semua orang boleh masuk ke kamarku, terutama ke ruang gantiku. Enak saja kau pikir aku lelaki apa," gerutu Naren. Inka hanya terdiam.


Cukup lama Inka berada di dalam ruangan Naren, membuat Geri yang duduk dekat meja Inka merasa panik. Ia takut jika Inka akan dimarahi oleh bosnya. Naren menatap wajah Inka, dan ia melihat tidak ada noda bekas luka tempo lalu. Wajahnya kembali menjadi seperti semula, mulus dan putih, membuat Naren langsung bertanya, "Apa lukamu sudah sembuh?" "Sudah Tuan. Saya membeli salep yang sangat ampuh, sehingga bekas luka di wajah dan kaki cepat memudar," jawab Inka. "Baguslah kalau begitu," ucap Naren.


"Apa aku memiliki jadwal malam ini bersama klien?" tanya Naren. "Sebentar Tuan, saya cek dulu," jawab Inka. "Tidak ada Tuan. Hari ini Tuan bisa beristirahat di rumah," ucap Inka. "Kalau begitu, kamu yang harus menemaniku makan malam," ucap Naren. Inka langsung terdiam dan ia cukup terkejut dengan perkataan yang baru saja ia dengar dari bibir Naren. "Tapi, Tuan..." ucap Inka. "Aku tidak suka ada penolakan," ucap Naren. "Baiklah Tuan," ucap Inka.

__ADS_1


Ketika waktu sudah sore, Inka beres-beres dan akan pulang terlebih dahulu. Namun, Naren langsung menelponnya, dan Inka segera pergi ke dalam ruangan Naren. "Iya, halo, Tuan," ucap Inka. "Masuk ke ruangan saya," kata Naren. Inka pun masuk ke dalam ruangan Naren. "Apa kau sudah memilih restoran untuk kita makan malam?" tanya Naren. Inka bingung harus memilih restoran seperti apa. "Jadi, saya yang harus memilih restoran untuk makan malam?" tanya Inka.


Naren hanya menganggukkan kepalanya, dan membuat Inka semakin bingung. "Tuan, malam ini ingin makan apa?" tanya Inka. "Aku ingin makan steak," jawab Naren. "Baiklah," ucap Inka. Dengan cepat, Inka langsung memboking restoran elit yang terkenal dengan steaknya yang sangat enak. "Jam berapa kita akan berangkat, Tuan?" tanya Inka. "Jam 7 malam," jawab Naren. "Baiklah, saya pamit pulang dulu ya Tuan," pamit Inka.


Melihat Inka sudah menjauh, Naren langsung menelepon Robi untuk masuk ke dalam ruangannya. "Apa bunga sudah kau siapkan?" tanya Naren. "Sudah, Tuan. Nanti akan diantar langsung oleh kurirnya," jawab Robi. Robi melihat Naren yang gugup dan mulai curiga. "Apa Tuan menyukai Inka?" tanya Robi. Naren langsung menatap Robi. "Apa maksudmu? Aku hanya ingin mengajaknya makan malam," jawab Naren dengan gugup.


Robi tersenyum, dan melihat cinta dalam mata Naren. "Bau-bau orang sedang jatuh cinta," goda Robi. Naren salah tingkah, dan untuk menutupinya, ia langsung memarahi Robi. "Mana mungkin? Jangan sok tahu tentang perasaanku padanya. Aku hanya ingin memanjakan karyawanku, itu saja," jelas Naren.


Robi hanya tersenyum.


"Kau cukup siapkan bunga, nanti biar aku yang menjemput Inka," jawab Naren.


"Jadi bunga ini untuk Inka? Berarti Tuan akan makan malam dengan Inka? Dan Tuan membawa seikat bunga mawar berwarna merah, wah... itu terlihat sangat romantis," ucap Robi.

__ADS_1


Naren hanya tersenyum sumringah.


"Tentu saja, wanita pasti menyukainya, apalagi jika pasangannya langsung mengungkapkan perasaannya. Saya yakin, si perempuan pasti langsung jatuh hati pada Tuan," kata Robi.


"Benarkah?" tanya Naren.


Naren langsung membayangkan kejadian yang belum terjadi.


Dia membayangkan dirinya berada di salah satu restoran elit dengan mengenakan jas mewah. Restoran itu dihiasi dengan bunga dan lilin sehingga tampilannya sangat romantis. Inka berjalan anggun menuju meja yang sudah mereka pesan. Dia terlihat sangat cantik dan anggun.


Inka langsung duduk di meja itu. Naren berjalan mendekatinya sambil tersenyum lebar.


"Ingin kah kau menikah denganku?" kata Naren dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2