Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Ungkapan yang salah


__ADS_3

Naren langsung mencari bad No.16. Saat ia berjalan menuju bad itu, ada rasa khawatir di dalam hatinya, terlihat kaki yang memakai celana jeans, celana itu koyak sehingga mengeluarkan banyak darah, dengan rasa penasaran. Naren langsung membuka tirai itu, dan ia melihat wanita yang di kira Inka, wajahnya di balut oleh kain kasa karena mengalami kerusakan akibat ledakan yang sangat hebat.


Rasa penuh penyesalan terlintas di dalam hati Naren, ia begitu menyesali perkataannya yang menyuruh Inka pulang, karena ia kesal dengan adiknya.


Naren memegang tangan wanita itu dan berkata, "Maafkan aku, bangunlah, kamu harus sembuh. Aku tidak bisa hidup tanpamu," suara lirih itu membuat membuat Naren menoleh ke arah belakang.


Naren merasa ada yang memegang tangannya, membuat menoleh ke arah belakang.


Ia melihat seorang wanita dengan goresan di wajah dan kakinya, terlihat sangat pucat.


"Tuan," panggil Inka.


Naren terbengong melihat Inka berada di hadapannya, ada rasa senang didala hatinya. Dengan sepontan Naren langsung memeluk Inka dengan erat.


"Maafkan aku," ucap Naren.


Pelukan itu terlihat begitu tulus, membuat Inka tidak bisa menolaknya, ia sangat terharu melihat kekhawatiran Naren yang rela datang menemuinya di rumah sakit.


"Bagaimana Tuan tahu jika saya ada di ruma sakit?" tanya Inka.


Naren pun melepaskan pelukannya dan menatap Inka dengan tatapan yang penuh penyesalan.


"Aku mendengar kabar ledakan bus, langsung teringat kamu, yang pulang di waktu yang sama, ada seseoang yang memberitahuku, jika sebagian korban di larikan ke rumah sakit," jelas Naren.


"Terima kasih sudah menemuiku," ucap Inka tersenyum manis.


"Apa ada yang luka, selain di wajahmu dan kaki?" tanya Naren.


Inka menatap Naren yang terlihat sangat cemas dengan kondisinya, senyuman itu tersungging di bibir Inka, membuat Naren terdiam dan menatap Inka.


"Ada apa?" tanya Naren.


"Baru pertama kalinya, aku melihat Tuan sebegitu paniknya denganku," jawab Inka.


"Karena kau sekretarisku, bagaimana jika kau sakit, aku bahkan tidak bisa membayangkan," ucap Naren.


Naren berusaha menepis perasaanya yang sangat mengkhawatirkan Inka.


"Baiklah jika begitu," ucap Inka, berlalu pergi dengan kaki yang sedikit pincang.


"Hei! Kau mau kemana?" tanya Naren, membuat Inka terus berjalan.


Naren melihat Inka menemui seorang pria paruh baya.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi Bapak?" tanya Inka.


"Saya sudah membaik Nona, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, karena Nona sudah menolong saya," jawab pak supir bus.


"Sama-sama pak, kita sesama harus saling membantu. Apa Bapak sudah menghubungi keluarga di rumah untuk menjenguk Bapak?" tanya Inka.


"Sudah Nona, mereka sedang dalam perjalanan kemari," jawab pak supir bus.


Naren memperhatikan percakapan Inka dengan pria paruh baya itu, terlihat kebaikan hatinya membuat Naren mulai jatuh hati.


Naren baru menyadari jika Inka sudah berjalan meninggalkan Naren yang masih duduk di bad tempat Inka sempat dirawat.


"Inka! Tunggu!" panggil Naren.


Naren berlari kecil menyusul Inka, yang berjalam pincang, tanpa meminta ijin dengan Inka. Naren langsung menggendongnya, membuat Inka kaget dan hampir bingung dengan tingkah Naren.


Mereka menjadi pusat perhatian, karena Naren menggendong Inka, membuat Inka merasa malu dan ia berusaha menutup wajahnya.


"Tuan, turunkan aku, lihat semua orang memperhatikan kita," bisik Inka.


"Aku tidak perduli," sahut Naren.


"Kau ini Bos yang keras kepala," ucap Inka.


"Sontoloyo, bisa-bisanya dia melakukan semua ini tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepadaku, ini namanya pelecehan," gerutu Inka.


"Jika itu yang ada dipikiranmu, maka aku siap menikahimu," sahut Naren, membuat Inka sangat terkejut.


"Astaga Tuan, kau mengagetkan ku saja," ucap Inka memegang dadanya.


Naren hanya tersenyum sambil memutar mobilnya untuk keluar dari parkiran, mobil melaju dengan pelan.


Inka langsung teringat saat Naren mengatakan siap untuk menikahinya, matanya langsung menatap wajah tampan Naren.


Naren yang merasa di perhatikan Inka langsung berkata, "jangan menatapku terus, nanti kau bisa jatuh hati," goda Naren.


Inka langsung memutar bola matanya ke arah atas dan bawah, agar seolah tidak memperhatikannya.


"Geer sekali anda," celetuk Inka.


"Kau besok libur, aku beri waktu 3 hari untuk memulihkan kesehatanmu," ucap Naren.


"Tapi ini hanya terkilir saja, satu hari sudah cukup Tuan," ujar Inka.

__ADS_1


"Jangan membantah," ucap Naren.


"Terlalu lama libur, nanti Tuan memotong gajiku," ucap inka.


Seketika Naren tertanya, melihat Inka yang sangat menggemaskan dimatanya.


"Kenapa tuan tertawa?" tanya Inka.


"Kau sangat lucu dan menggemaskan," ucap Naren sambil tersenyum manis.


Inka sangat terheran dengan Naren yang sifatnya berubah 180 derajat, membuatnya justru malah takut, jika seketika Naren memecatnya.


"Tuan!' panggil Inka.


Inka terus menatap Naren yang masih menyetir.


"Hem ..." jawab Naren.


"Tuan baik-baik saja kan?" tanya Inka.


Naren melirik Inka sekilas dan kembali fokus menyetir.


"Ada apa?" jawab Naren, tiba-tiba menghentikan mobilnya ditampat yang cukup sepi dari keramaian.


Inka langsung menunduk, ia tidak berani menatap wajah Naren. Naren pun memandangi Inka.


"Tatap mataku," ucap Naren.


Inka masih menundukan kepalanya, ia tak sanggup menatap wajah Naren. Tidak mendapat respon dari Inka, membuat Naren memegang dagu Inka agar Inka mau menatapnya.


Dengan rasa takut, Inka pun mengangkat wajahnya, menbuat Nareng langsung mencium bibirnya. Tindakan ini membuat Inka langsung menatap tajam Naren, ia sangat terkejut melihat tingkah Naren yang secara tiba-tiba menciumnya.


Tidak bisa melawan, inka hanya terdiam saat Naren berusaha membuka bibirnya, Inka tidak ada respon apapun membuat Naren langsung menghentikan ciuman itu.


Ada rasa malu dan kesal di dalam hatinya, ia langsung melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Inka ketakutan. Ia menatap Naren, terlihat wajahnya yang kesal.


'Dia menciumku untuk kesekian kalinya, tapi kenapa kali ini aku justru malah merasa sedih, ada apa dengan perasaanku, aku takut jika aku jatuh hati dengannya, itu hanya akan menyakiti hatiku,' batin Inka.


Perasaan Inka sangat kacau, ia merasa senang dan sedih, membuatnya justru malah sangat bingung dengan perasaannya sendiri, tapi ... ia berusaha melawan perasaan itu, untuk tidak berharap lebih dengan Naren.


Berbeda dengan Naren yang merasa cintanya tak terbalas dengan ciuman barusan, ia mengira jika Inka menganggapnya sebagai Bos dan sekretaris, tidak ada hubungan lebih yang diinginkan Inka. Naren merasa perasaannya bertepuk sebelah tangan.


Di dalam mobil, terasa sangat hening, tidak ada suara apapun, musik yang biasanya memutar sendiri di dalam mobil, ini tidak ada sama sekali, membuat perjalanan menuju rumah Inka semakin tegang dan menyeramkan. Membuat mereka hanya saling lirik melirik.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2