
Rapat berjalan dengan lancar, Naren kembali bersikal dingin. Hal ini di tunjukan ketika ia sedang menatap tajam salah satu karyawatinya yang melakukan hal yang ceroboh, membuat Naren marah.
Wajahnya yang menyeramkan terlihat sangat jelas, membuat Inka langsung menghampiri karyawati itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Inka.
"Di sini harusnya aku yang bertanggung jawab atas Tuan Naren, biarkan saya yang mendapat hukuman ini," ucap Inka kepada Naren.
Naren pun langsung berjalan, ia tidak memperdulikan ucapan Inka.
"Aku rasa dia sudah berubah?" gumam Inka.
"Siapa yang berubah?" tanya Ocha.
"Rupanya kau, aku pikir siapa?" jawab Inka.
"Bos Naren kenapa? Sepertinya moodnya sedang berantakan," tanya Ocha.
"Kenapa malah bertanya padaku, tanya saja pada Tuan Naren, jawab Inka.
Inka langsung pergi meninggalkan Ocha seorang diri, ia tidak mau jika Ocha bertanya detail tentang kedekatannya dengan Naren, karena Inka merasa jika Ocha mulai mencurainya.
Inka kembali ke mejanya, ia mrmbereskan semua berkas yang sudah di gunakan saat meeting tadi.
Geri datang menghampiri Inka.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Geri.
Inka seketika menatap ruangan Naren, dan kembali merapihakn berkas yang dipegangnya.
"Aku pulang sendiri, memangnya ada apa?" jawab Inka.
"Kita mampir ke kampus yok, besokkan hari minggu mana mungkin kita ke sana, kampus tutup," ajak Geri.
Inka berfikir sejenak, kemudian mengiyakan ajakan Geri.
"Baiklah, apa kau membawa helm dua?" tanya Inka.
Geri menganggukan kepalanya, ia selalu membawa motor ketika berangkat dan pulang kerja, karena menghindari kemacetan setiap pagi.
Naik motor juga lebih hemat dan lebih cepat, bia nyalip sana sini, membuat Geri lebih memilih membawa motor ketimbang membawa mobil.
Inka dan Geri pergi bersama, tanpa di ketahui oleh Naren, di dalam ruangan Naren terlihat sangat fokus dengan pekerjaanya, ia tidak menyadari jika waktu hampir sore.
Tak sengaja Naren menatap jendela belakang kursinya, terlihat dari bawah. Inka dan Geri sedang berjalan menuju parkiran, Inka terlihat memakai helm dan membonceng Geri.
Pemandangan itu membuat Naren langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Pergi ke mana dia?" gumamNaren.
Motor yang di tumpangi Geri dan Inka mulai melaju dengan pelan, melewati satpam yang berjaga dan mulai masuk ke area jalan raya.
Rasa penasaran yang tumbuh di hati Naren, membuatnya langsung keluar dari ruangannya.
Naren melihat Robi yang bergegas akan pulang ke rumah.
"Kau mau ke mana?" tanya Naren.
Robi pun bingung dengan pertanyaan Naren.
"Pulang Tuan, ini sudah jam pulang, memangnya ada apa?" jawab Robi.
"Astagfirulloh, aku tidak menyadari jika ini sudah sore," ucap Naren.
"Memangnya ada apa, Tuan, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Robi.
Belom sempat menjawab pertanyaan dari Robi, Naren berjalan keluar kantor begitu saja, membuat Robi semangat merasa aneh.
"Aneh sekali dia hari ini," gumam Robi, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Naren masuk ke dalam mobil, ia segera melajukan mobilnya mengikuti Inka dan Geri.
Motor yang di lajukan Geri cukup cepat, membuat Inka terpaksa memegang jakutnya agar tidak terjatuh.
"Hei! Jika mau mati! Jangan membawaku!" teriak Inka.
"Jangan kebut! Bajuku hampir robek!" teriak Inka.
Geri pun tak mendengar apa yang di ucapkan oleh Inka, ia hanya berkata apa terus sejak tadi, membuat Inka merasa kesal dan memilih diam.
Sampailah sepeda motor Geri masuk ke kawasan University Griya, ia langsung memarkirkan sepedanya ke arah parkiran.
"Wah ini kampusnya sangat keren, apa aku akan kuliah di sini?" tanya Inka.
"Kau akan nguli di sini," jawab Geri.
"Kau ini ada-ada saja, mana mungkin nguli, eh ... itu artinya aku akam punya banyak teman yang kece-kece kan," ucap Inka.
"Jangan bertemen sungguhan dengan anak kuliahan, nanti kau akan merasa sakit hati karena tidak bisa mengikuti gaya mereka," jelas Geri.
"Kau benar juga," ucap Inka.
Geri dan Inka masuk ke dalam kampus, ia langsung di sambut oleh pengurus bagian administrasi.
Sempat berbincang sebentar, akhirnya mereka masuk ke dalam, ia melihat-lihat setiap ruangan yang ada di dalam kampus itu.
__ADS_1
Naren yang memarkirkan mobilnya di ujung jalan, merasa penasaran, dengan Inka dan Geri.
Naren akhirnya hanya bisa menunggu sampai Geri keluar dari dalam.
"Kita menyediakan banyak jurusan, jika ada mahasiswa yanv bekerja seperti kakak-kakak ini, maka itu akan masuk kuliah ekslusif, karena kuliahnya hanya di waktu tertentu, berbeda dengan mereka yang mengikuti kuliah reguler, untuk pembayarannya juga berbeda," jelas Pak Malik.
"Jadi kapan perkuliahannya akan di mulai pak, atau kita harus mengikuti ajaran baru?" tanya Inka.
"Minggu depan kita buka pendaftaran jakur ekslusif, jadi kakak-kakak bisa mendaftar," jawab Pak Malik.
"Sekarang saja, kita daftarnya," ucap Inka.
"Apa bisa sekarang langsung mendaftar?" tanya Geri.
"Sayangnya kampus sudah tutup, mungkin senin akan kembali beroprasi, jadi nanti kakak-kakak langsung daftar online saja, semua persyaratan ada di daftarnya," jelas Pak Malik.
Dengan penuh pesona, Kenzo yang mengenakan stelan jas dan tas seperti seorang direktur, ia berjalan melewati Pak Malik, dengan penuh hormat, Pak Malik langsung menyapa Kenzo.
"Sore Pak, apa Pak Kenzo mau pulang," sapa Pak Malik.
Inka menoleh ke arah Kenzo, betapa terkejutnya ia melihat Kenzo ada di depan matanya, seketika Inka langsung menutup matanya, tanpa memberi hormat kepada Kenzo.
Kenzo menata Inka cukup lama, ia langsung berjalan meninggalkan mereka, Inka yang masih menutup matanya, langsung melirik sedikit untuk melihat Kenzo. Ternyata Kenzo sudah menjauh dari hadapannya.
"Maaf Pak, pria tadi siapa?" tanya Inka.
"Dia direktur kampus ini, dia mengurus kampus ini setelah kepergian Pimpinan Doyan atau pemilik kampus ini," jawab Pak Malik.
Mendengar penjelasan dari Pak Malik, Inka hanya terdiam, ia merasa ingin pindah mencari kampus lain.
'Alamak sempit sekali dunia ini, kenapa harus dia yang menjadi direktur kampus ini, astaga,' batin Inka.
Selesai berbincang, Inka dan Geri akhirnya keluar dari kampus, dengan cepat Inka menarik tangan Geri, membuatnya hampir tersandung.
"Ada apa menarikku?" tanya Geri.
"Aku rasa, kita harus mencari kampus lain," jawab Inka.
Geri langsung bingung, melihat kepanikan Inka.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin mencari kampus yang lain, apa ini kurang bagus?" tanya Geri.
Naren melihat perbincangan Geri dengan Inka yang terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang debat, membuat Naren ingin keluar dari dalam mobil, tetapi niatnya terhenti, melihat I ka dan Geri mulai melajuka motornya.
"Mau kemana lagi dia?" gumam Naren.
Naren merasa Inka selingkuh dengan Geri, tetapi ia belom mendapatkan bukti yang kuat, maka dari itu Naren terus mengikuti kemana perginya mereka.
__ADS_1
"Awas kau ya, akan aku pantau," gumam Naren.
BERSAMBUNG.