
Rasa kesal Rosida kepada Inka hilang begitu saja, saat ia mengingat ada seorang lelaki yang mencari Inka.
"Apa kau tahu lelaki yang bernama Ludin? Rambutnya ikal dan sedikit panjang?" tanya Rosida.
"Ludin? Astaga ... aku mengingatnya! Badannya kurus, kulitnya hitam dan kalo pake kemerja selalu menggunakan dasi pita," jawab Inka.
"Benar sekali," ucap Rosida.
"Memangnya, ada apa dengan lelaki aneh itu?" tanya Inka.
"Dia selalu menyebutnya sebagai pria dewasa, bukan lelaki tetapi pria dewasa," jawab Rosida.
"Aneh-aneh saja itu orang," ucap Inka.
"Dia datang mencarimu, dia ingin melamarmu," ucap Rosida.
Inka yang mendengar lansung kaget.
"Apa!"
Seru Inka membuat seisi rumah pun ikut terkejut, termasuk Jimin yang sedari tadi mendengarkan percakapan, antara ibu dan kakaknya.
"Wah sebentar lagi kakak akan menikah bu?" tanya Jimin.
Inka menatap tajam Jimin.
"Hei ... jaga bicaramu! Kau ingin tahu akibatnya jika mengatakan hal itu lagi," tekan Inka.
"Kakak sangat menyeramkan sekali, aku jadi takut," ucap Jimin.
Tiba-tiba, Inka mendengar suara nyaring seperti air yang mendidih diatas kompor, membuat Inka samar-samar memperhatikan suara itu.
"Kenapa kau seperti itu? Ada apa?" tanya Rosida.
"Coba ibu dengarkan itu suapa apa? Seperti suara air yang mendidih," jawab Inka.
"Astaga, Jimin memasak air hangat untuk kau mandi, kenapa kau malah lupa, aneh sekali kau ini," sahut Rosida memukul pahu Inka.
"Aku hampir lupa bu, sini aku matikan aja," ucap Inka berjalan ke dapur untuk matikan kompor.
"Bagimana?" tanya Rosida.
"Apanya bu?" jawab Inka.
"Apa kau mau menikah dengan Ludin? Dia terlihat sangat mencintaimu, bahkan dia rela melakukan apapun untuk me dapat restu dari ibu," jelas Rosida.
"Jangan mudah terbuai, dia memang begitu orangnya, apalagi melihat wanita cantik sedikit saja, langsung jatuh hati, pria macam dia?" gerutu Inka.
"Pria dewasa," sahut Solihin membuat Inka dan Rosida menatap satu sama lain dan akhirnya tidak bisa menahan tawa, mereka pun langsung tertawa bersama.
Solihin sangat kebingungan dengan tingkah anak dan istrinya yang tiba-tiba tertawa.
"Ada apa? Apa ucapan Ayah ada yang salah?" tanya Solihin dengan wajah bingung.
"Ayah tidak salah, Ayah selalu benar. Aku hampir tidak terfikirkan," ucap Inka menahan tawanya.
__ADS_1
"Sudah lah bu jangan bahan pria aneh itu," ucap Inka.
"Bagaimana jika malam ini dia datang lagi?" tanya Rosida.
"Ya bilang saja jika Inka sedang kencan dengan kekasihnya," sahut Solihin.
Rosida menatap suaminya dengan penuh senyuman.
"Kau benar sekali, biar pria dewasa tidak datang lagi kemari," ucap Rosida.
"Atur-atur kalian saja lah, aku ingin menemui Nina malam ini," ucap Inka.
"Bagaimana kabar Nina, sudah lama tidak pernah kemari?" tanya Rosida.
"Dia sedang sibuk, ku dengar usahanya akan International, jadi dia susah untuk di temui saat ini," jawab Inka.
"Wah ... hebat sekali dia, kau juga harus seperti dia," kata Rosida.
"Jangan membandingkan anak kita dengan orang lain, melihat Inka sudah bekerja saja sudah Alhamdulilah," sahut Solihin.
"Ayah!" panggil Inka.
Mereka semua menghabiskan waktu hanya untuk bercerita semua yang sudah terjadi, sampai akhirnya hari sudah sore, mereka semua sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing.
"Jimin! Mandilah, sebelum magrib!" teriak Rosida.
Inka yang sudah siap untuk pergi menemui Nina, ia berjalan menemui ibunya yang sedang menyiapkan makan malam.
"Bu! Aku pergi dulu," pamit Inka.
Inka langsung keluar dari rumah, dengan berjalanan kaki menuju halte yang memang tidak jauh dari rumahnya.
Inka merasa ada yang mengikutinya dari belakang, membuatnya langsung menoleh kebelakang, tetapi ia tidak melihat ada siapapun, membuat Inka mempercepat langkahnya.
Rasa takut, menyelimuti hati Inka, sampai akhirnya ada yang menyentuh pundaknya, membuat Inka langsung berteriak.
"Tolong! Ampun, tolong!" teriak Inka sambil meronta-ronta.
"Kau ini kenapa?" tanya Nina.
Mendengar suara perempuan, Inka pun langsung terdiam dan menoleh ke belakang, ketika ia melihat kebelakang, ternyata Nina yang memegang pundaknya. Inka langsung menghembuskan napasnya, karena sangat lega dengan yang dia lihat.
"Jantungku hampir mau copot," ucap Inka.
"Benarkah? Kalo begitu aku yang memungutnya," goda Nina.
"Nina!" Kesal Inka.
Nina tertawa, membutanya langsung merangkaul Inka.
"Aku rindu dengan ibumu, jadi aku kemari tanpa bilang dulu," kata Nina.
"Dia sedang masak ramen, sepertinya dia tahu kau akan datang," kata Inka.
"Benarkah? Ayok segera pulang," ajak Nina.
__ADS_1
Inka kembali membawa Nina yang memggandeng tangannya, mereka terlihat tertawa bersama, entah apa yang mengundang mereka tertawa.
Sampai di depan rumah Inka, dengan lantang Nina berteriak memanggil nama Rosida.
"Ibu!" panggil Nina.
Rosida yang sedang memotong daging langsung menoleh.
"Nina!" sahut Rosida.
Nina langsung menghampiri Rosida dan mereka saling berpelukan satu sama lain, Rosida memperhatikan tubuh Nina yang semakin kurus membuatnya bertanya.
"Apa pekerjaanmu sangat melelahkan? Kau terlihat sangat kurus dan tidak terawat," tanya Rosida.
"Iya bu, aku sering lupa makan dan mandi," jawab Nina.
"Kasiannya anakku, sana istirahat di kamar Inka, biar ibu masakan makanan lezat untuk kalian," ucap Rosida.
Nina dan Inka pun berjalan ke atas loteng, untuk menghirup udara yang segar. Terlihat dari atas loteng, bangunan terlihat seperti miniatur yang tersusun berantakan, hanya di hiasi lampu yang mulai menyala.
"Sejuk sekali di atas sini," kata Nina.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa bosmu galak?" tanya Nina.
"Dia tidak galak sebenernya, tapi dia pria yang tidak punya hati dan perasaan," jawab Inka.
"Apa maksudmu? Tapi mereka tidak berbuat yang aneh-aneh kan?" tanya Nina.
Inka menggelengkan kepalanya, sambil menekuk wajahnya, membuat Nina merasa ada yang di sembunyikan oleh sahabatnya itu.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Nina.
Inka tidak mampu menjawab, ia hanys terdiam sambil menundukan kepalanya, membuat Nina semakin bingung dan panik.
"Katakan padaku, apa yang terjadi Inka? Kau jangan membuatku panik seperti ini!" ucap Nina.
Inka mengangkat kepalanya menatap Nina, ia ingin mengatakan kepada Nina tentang dirinya telah berciuman dengan Naren, tetapi mulutnya terasa kaku untuk mengatakan semuanya.
"Ayo katakan sekarang! Jangan membuatku penasaran, Inka!" teriak Nina.
Rosida yang mendengar Nina berteriak langsung menyauti dari lantai bawah, membuat Nina langsung menoleh ke arah bawah dan berkata.
"Tidak ada apa-apa bu!" teriak Nina.
"Hampir saja, ibumu kemari karena mendengae aku berteriak," ucap Nina menatap Inka.
Nina yang menahan rasa kesal kepada Inka, membuatnya langsung berdiri menatap hamparan bangunan yang dihiasi oleh lampu.
"Inka! Jika kau tidak mau mengatakan semuanya, hubungan kita putus!" seru Nina yang sudah sangat kesal dengan Inka.
"Putus? Memangnya kita pacaran?" tanya Inka.
Nina yang hampir frustasi menghadapi sikap Inka pun, langsung mencoba menarik napasnya sepanjang mungkin.
....
__ADS_1
BERSAMBUNG....