Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Tanda Kepemilikan Naren


__ADS_3

Malam pun mengundang hawa ngantuk kepada makluk hidup untuk mengistirahatkan tubuhnya, sama halnya dengan Inka yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Tak menunggu waktu lama, matanya terpejam dengan lelap sampai. Berbeda dengan Naren yang tidak dapat memejamkan matanya, ia berusaha berbagai cara untuk bisa tertidur, tetapi tetap matanya terlihat segar.


"Kenapa malah aku terlihat gelisa, apa Inka sudah tidur ya?" gumam Naren.


Naren menonton TV, menggulingkan tubuhnya, mendengar musik klasik, berdoa sebelum tidur. Tetapi tidak bisa terpejam. Membuatnya putus asa dan pasrah, karena jam terus bergeser ke arah kanan yang artinya sudah akan berganti pagi.


Karena kelelahan Naren pun mulai terpejamkan matanya, ketika suara azan subuh berkumandang, tak kuasa lagi untuk membuka matanya. Ia pun langsung tertidur lelap.


Inka yang mendengar suara azan langsung terbangun dan menjalankan ibadahnya, ia merasa badannya sangatlah sakit membuatnya kembali merebahkam tubuhnya sambil memainkan ponsel.


'Kira-kira tuan Naren udah bangun belom ya? Nanti jam 7 aku akan mengetuk kamarnya,' batin Inka.


Inka bangkit dari tidurnya dan langsung mandi, selesai merias dengan riasan yang sangat natural membuat Inka tersenyum di depan kaca.


"Kemaren aku pakai riasan, tidak terjadi apapun, tapi aku harus mengurus bayi besar itu. Sekarang aku menggunakan riasan, apakah aku akan sial atau justru aku akan beruntung ya. Tuhan semoga kebaikan berpihak pada ku. Amin," gumam Inka.


Inka keluar dari kamarnya, mengetuk pintu Naren tetapi tidak ada jawaban, membuat Inka mengira jika Naren sedang di kamar mandi. Inka kembali mengetuk pintu itu, tetapi tidak juga mendapat jawaban, membuat Inka mulai panik.


Jam sudah menunjukan hampir jam 8 pagi, artinya Inka sudah berdiri kurang lebih satu jam, ia mencoba mengetuk pintu kembali, dengan pelan dan penuh tekanan tetapi tetapi tidak mendapat jawaban apapun.


"Apa tuan Naren sakit?" gumam Inka langsung memegang gagang pintu kamar Naren.


Pintu itu tidak di kunci membuat Inka masuk ke dalam, dan melihat sekitaran kamar yang sangat berantakan membuat Inka terheran.


'Astaga, ini kamar kayak kapal pecah, seprtinya dia habis putus cinta dan galau makanya membuat kamar ini sangat berantakan,' batin Inka.


Melihat Naren yang masih tertidur pulas, membuat Inka membangunkannya.


"Tuan, bangun," panggil Inka.


Tetap tidak mendapat jawaban dari Naren membuat Inka langsung memeriksa pernapasannya, ia mendekatkan telinganya di dekat dada Naren.

__ADS_1


Terdengar suara napas Naren yang normal membuat Inka langsung bernapas lega, saat ia akan banngun. Tiba-tiba tangan Naren memegang tangan Inka sehingga ia kesulitan untuk berdiri.


"Tuan lepaskan aku, aku kesulitan bergerak," ucap Inka.


"Suruh siapa kau lancang, memeriksa jantung ku," sahut Naren.


"Aku begini ada alasannya tuan, ku mohon lepaskan aku. Aku kesulitan bernapas," rengek Inka.


Naren masih mendekap Inka dengan erat, wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Naren, membuat jantungnya berdetak sangat cepat, entah aliran dari mana munculnya gairah ketika menatap bibir Inka seakan mendorongnya untuk mencium.


Tatapan itu pun menghanyutkan Naren yang akhirnya tergoda dengan bibir Inka yang terpoles lipglos membuat tampilannya semakin menarik.


Bibir itu saling bersentuhan, membuat Inka langsung membuka matanya lebar-lebar, ia sangat terkejut dengan tindakan Naren yang begitu cepat ******* bibirnya. Tak bisa melawan karena dekapan itu sangat kuat, Inka pun menikmati ciuman itu dengan hati yang was-was.


Semakin lama ciuman itu semakin tangan Naren terlihat sangat nakal hampir membuka kancing baju Inka, ia pun tersadarkan saat tangan Naren menyentuh bajunya. Membuat Inka langsung memegang tangan Naren tetapi selalu di tepis olehnya.


Semakin panas ciuman itu membuat Naren semakin menggebu-gebu untuk membuka satu persatu pakaian Inka, Inka yang sangat panik dengan kelakuan bosnya. Langsung mendorong Naren dengan kekuatan supernya.


Cara ini berhasil membuat Naren melepaskan ciuman itu, dan meringis kesakitan karena punggungnya membentur tembok.


Ucap nya sambil menatap Inka yang terlihat sangat seksi dengan 2 kancing bajunya yang terlepas. Membuat pundukan gunungnya terlihat sebagian.


Inka yang menyadari itu langsung membelakangi Naren dan pergi begitu saja dengan rasa kesal.


Inka berjalan menghentakan kakinya keluar dari kamar Naren, dengan wajah yang berantakan dan lipstik yang menempel di bibirnya pun hilang, berantakan dari ke area bibir membuatnya marah.


"Sialan! bos gila. Dia hampir sama memperkosa ku dengan suka rela," marah Inka menatap cermin kamar nya.


"Bibir ini sudah ternodai untuk kesekian kalinya, dan sekarang lihatlah. Payudaraku hampir terjamah olehnya, ini sangat menakutkan tapi ... kenapa ada rasa nikmat yang tersirat di hati ku? Astaga, ini tidak boleh terjadi," gerutu Inka.


Naren yang masih terpaku dengan tindakan yang hampir saja memperkosa Inka, membuatnya mengingat betapa menggodanya Inka dengan pakaian yang sangat elegan, di tambah ia melihat kancing baju Inka yang memperlihatkan sebagian pundukan gunung miliknya yang begitu bersih dan mulus.


Membuat Naren terus mengusap wajahnya berulang kali.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan dengannya ini sudah kelewatan batas, hampir saja aku menikmati tubuhnya. Tapi jika itu terjadi, aku akan menikahinya," ucap Naren.


Naren bangkit dari duduknya dan bangun dengan tertati-tati karena punggungnya yang terasa sangat sakit, membuatnya harus pelan berjalan ke kamar mandi.


Menatap cermin kamar mandi, terlihat di sekitar bibirnya ada sedikit lipstik Inka yang menempel di area bibir Naren, membuatnya tersenyum.


Selesai membersihkan diri, Naren mengenakan pakaian yang rapih dan terlihat sangat tampan, ia keluar dari kamar, melihat pintu kamar Inka yang tertutup membuatnya langsung menelpon Inka.


Tidak menjawab panggilan dari bosnya, Inka dengan wajah yang kesal langsung membuka pintu kamarnya.


"Ada apa tuan?" tanya Inka.


"Kau ... kenapa menggunakan masker dan syal? Memangnya cuaca di luar sangat dingin?" ucap Naren terheran denga tingkah Inka.


Inka menarik tangan Naren masuk ke dalam kamarnya.


"Apa kau ingin memperkosa ku? Apa yang kau lakukan?" tanya Naren.


Inka membuka masker dan syalnya, ia memperlihatkan beberapa tanda kepemilikan yang di tinggalkan Naren cukup membuatnya terkejut, dan di bibirnya sedikit luka karena di gigit oleh Naren.


Dengan wajah yang kesal dan memelas, Inka kembali menutup bibirnya dengan masker dan menutup lehernya dengan syal.


"Astaga, aku melakukan ini semua?" tanya Naren.


"Kau pikir aku berbohong? Jika di dalam kamar tuan ada CCTV mungkin tuan tidak akan bisa mengelak mencari alasan," ucap Inka.


"Lalu aku harus bagai mana?" tanya Naren.


"Apanya yang bagai mana? Sudah terjadi tuan, lupankan saja, aku kesal dengan tuan Narendra," jawab Inka.


"Menyebalkan!" seru Inka keluar dari kamarnya meninggalkan Naren.


Inka berjalan mendahului Naren, tidak seprti biasanya. Ia yang selalu di belakang atau di samping Naren, saat ini ia mendahuluinya.

__ADS_1


'Astaga panas sekali, tapi jika aku buka ini akan berbahaya, semua orang akan menatapku dengan tatapan yang aneh. Aduuh bagai mana ini?'


BERSAMBUNG....


__ADS_2