
Naren yang kelelahan langsung memejamkan matanya dengan lelap, ia tidak menyadari jika ponselnya mendapat notifikasi daei Alexa.
Alexa: "Kamu sibuk ya sobatku?"
Alexa: "Kita ke club yok."
Alexa: "Maaf ya ganggu."
Beberapa menit lagi, Alexa mengirim pesan.
Alexa: "P."
Alexa: "P."
Beberapa Alexa mengirim pesan kepada Naren, tetapi tida di perdulikan oleh Naren, karena ia sedang teehanyut di dalam mimpinya yang sangat menyenangkan.
Di dalam mimpi Naren, ia berlari seperti orang india yang swdnag syuting film, Naren bermimpi menjadi rahul sedang Inka bermimpi menjadi anjeli, mereka sedang berjoget bersama.
Musik yang mengiringi langkahnya, membuat Naren kelabasan berlari akhirnya ia terjebur sungai, seketika Naren terbangun dari mimpimya, ia merasa kaget dan seperti orang bingung.
Naren langsung memegang tubuhnya, dan ia merasa tubuhnya tidak basah, Naren merasa lega.
"Untung hanya mimpi," ucap Naren.
Naren kembali memejamkan matanya, ia hanya berpindah posisi tidur.
Sedangkan Alexa yang sudah berada di dalam diskotik, ia terlihat sedang menikmati musik yang sangat kencang menusuk gendang telinganya, sambil menunggu Naren membalas pesannya.
Alexa memesan satu botol minuman alkohol, sedikit demi sedikit, Alexa meneguk minuman itu, teyapi tidak membuat Naren datang dan menbalas pesannya, membuat Alexa semakin frustasi.
Tanpa di sadari, Alexa menghabiskan beberapa botol di depannya, ia merasa pandanganya pun mulai tidak fokus, dan Alexa ambruk di atas meja bar.
Ada seseorang yang memantaunya dari kejauhan, ia mendakati Alexa saat Alexa sudah tidak sadarkan diri, karena banyak minum.
Malam itu menjadi malam yang sangat indah bagi Alexa dan pria yang tak dikenalnya, pria itu mencoba akan memperkosa Alexa yang sedang mabuk, tetapi niatnya gagal karena ajudan Alexa telah mengetahui niat buruknya kepada majikannya.
Mereka akhirnya berkelahi, dan Alexa berhasil di amankan, ajudannya membawa Alexa pulang ke rumah orang tuanya dalam ke adaan mabuk.
Edo yang mengetahui tingkah laku anaknya, langsung menyuruh asisten rumah tangga, untuk membawa Alexa ke kamarnya.
"Kerja yang bagus," ucap Pak Edo.
Ajudan itu menganggukan kepalanya.
.
.
.
.
Satu minggu kemudian.
Setelah Inka melewati masa penyembuhannya, mulutnya kini kembali sepertu semula, tidak ada bekas lecet dan bengkak. Ia merasa sangat senang karena kembali cantik.
Pagi ini Inka bersiap untuk orientasi di kampusnya yang baru, di mana mereka semua memperkenalkan satu sama lain, dan pagi ini juga Inka akan bertemu dengan Kenzo yang menjabat sebagi direktur kampus.
Menggunakan kemeja putih dan celana dasar berwarna hitam, itulah outfit Inka hari ini. Ia memilih menggunakan celana dari pada rok karena Inka merasa lebih nyaman dengan celana.
__ADS_1
Selesai merapihkan bajunya, Inka keluar dari kamarnya, ia melihat Rosida masak makanan kesukaanya, membuat Inka ngiler.
"Wah, sudah lama aku tidak makan enak," ucap Inka.
"Alasan aja, Kakak ini," sahut Jimin.
"Memangnya kenapa? Salah?" tanya Inka.
"Dari kemaren juga Kakak makannya enak, aku nyicip saja tidak boleh, dasar pelit," jawab Jimin dengan kesal.
"Heh! Kamu dapet komisi dari Bosku saja, tidak membelikanku barang atau makan, jadi mana yang pelit?" tanya Inka.
"Aku membeli ponsel baru Kak, jadi uangnya habis," jawab Jimin.
Seketika Rosida langsung memukul kepala Jimin, karena membuang uang dengan membeli ponsel baru.
"Kau membeli ponsel seharga motor scopy? Dasar anak tidak tahu diri," kesal Rosida.
"Kenapa aku yang di pukul, ini kan uangku, memangnya aku salah," sahut Jimin.
"Kau tidak salah, hanya saja salah memutuskan," sahut Inka.
"Aku memang menginginkan ponsel ini, harusnya ibu bangga denganku, mempu meracik parfum yang sangat perfect," kata Jimin.
"Ya sudah, ibu tidak akan memberimu uang jajan selama setahu," ucap Rosida.
Ucapan Rosida membuat Jimin, Inka dan Sholihin langsung terkejut dan menghentikan aktivitasnya yang sedang mengunyah.
"Apa! Uang jajan mogok!" seru Jimin.
"Hua...."
"Hua...."
"Sudah jangan berisik, habiskan makanan kalian, jangan dengarkan ibumu, dia hanya bercanda," kata Sholihin.
Inka langsung menghabiskan makananya, dan langsung pamit untuk berangkat kuliah sedangkan Jimin sedang merengek uang saku tetapi tidak di kasih oleh Rosida, membuatnya langsung mengejar Inka.
"Kakak!" panggil Jimin.
Inka yang berjalan akan keluar dari rumahnya, langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Jimim berlari mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Inka.
"Minta uang jajan," jawab Jimin.
"Apa! Minta! Apa aku tidak salah dengar?" tanya Inka.
"Ayolah Kak, ibu tidak memberiku uang saku, bagaimana aku brangkat sekolah jika tidak ada uang," jawab Jimin.
"Adeh, dasar kau ini," ucap Inka, ia mengeluarkan dompetnya.
Jimin terlihat sanga senang, saat Inka sedang mengitung uang yang ada di berikan untuk Jimin.
Lembaran uang itu keluar dari dompet Inka, dua ribuan ada lima lembar, di berikan kepada Jimin, Jimin yang awalnya senang, langsung cemberut.
"Mana cukup Kak, ini untuk ongkos aja gak cukup, ayolah tambahi," rengek Jimin.
"Kok kamu ngatur, nih lah. Malam kali aku melihat wajah jelekmu itu," ucap Inka, ia memberikan 50ribu kepada Jimin, membuat Jimin sangat senang dan langsung bernyanyi.
__ADS_1
"Nah gitu dong Kak, omamae, omamae yes," ucap Jimin langsung pergi menuju halte.
Inka hanya bisa menggelengkan kepalanya,tak lama mobil Naren pun datang, ia langsung mengantarkan Inka ke kampus.
"Sudah makan?" tanya Naren.
"Sudah, ibu membawakan ini untukmu," jawab Inka.
"Apa itu?" tanya Naren.
"Nasi dengan sambel ikan teri dan ada juga sayuran hijaunya," jawab Inka.
"Kau harus makan, jika tidak. Ibu akan marah," ancam Inka.
Naren pun tertawa, melihat Inka yang sangat menggemaskan.
Sampai di kampus University Griya, Inka langsung turun dari mobil Naren, ia melambaikan tangannya, saat mobil itu melaju meninggalkan Inka, tiba-tiba suara Geri menggema di telinga Inka.
"Inkaaaaa!" panggil Geri.
Inka dengan malas langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Iyaaaaa!" sahut Inka.
"Eh cucok deh jawabannya, ada kolkolahnya," ucap Geri.
"Sudah lama tidak melihatmu, memangnya kau sakit apa? Sampai aku tidak boleh menjengukmu," tanya Geri.
Mereka sambil menaiki tangga untuk kumpul di loby.
"Panjang ceritanya, tapi sudah lama jangan bahas itu, aku tidak mau meceritakan kekonyolan yang membuatku kesal sendiri," jawab Inka.
Semua mahasiswa platinum sudah berkumpul di loby, semua orang sedang membicarakan direktur kampu Griya yang masih muda dan terlihat sangat tampan.
"Kudengar, direktur kampus ini sangat tampan," bisik Geri.
"Benarkah," ucap Inka.
Geri langsung menunjukan wajah Kenzo yang teelihat sangat beribawa di salah satu poster yang dipegangnya.
Mata Inka seketika langsung melotot saat melihat poster itu.
'Dia beneran menjadi direktur kampus ini, tamatlah riwayatku,' gumam Inka.
Perkenalan seluru staf telah di mulai, saat pembawa acara itu menyebut setiap staf di setiap bidang, di sitiulah. Kenzo dengan penuh pesona, datang memasuki loby.
Semua orang menatap kagum padanya, termasuk seluruh staf dan dosen perempuan pun merasa terhiptonis dengan kegagahan Kenzo.
Mereka semua kagum dengan Kenzo, tidak dengan Inka yang justru malah takut jika dirinya ketahuan menjadi mahasiswa di kampus milik Kenzo.
Inka berusaha menutupi wajahnya dengan kertas agar tidak di kenali Kenzo.
Mata jeli Kenzo, ia memperhatikan satu wanita yang sering membuatnya kesal selama pertemuan sebelumnyaz wanita itu tidak asing baginya, tapi Kenzo berusaha untuk profesional.
Kenzo berpidato untuk menyambut mahasiswa baru dengan kelas platinum, panjang lebae Kenzo berbicara akhirnya acara itu selesai juga.
Semua orang bubar dari dalam loby, Inka pun keluar dari ruangan itu, ia berjalan duduk di ruang tunggu mahasiswa.
BERSAMBUNG....
__ADS_1