
"Tuan!" panggil Inka.
"Iya," jawab Naren.
"Apa kegiatan kita hari ini?" tanya Inka.
"Tidak ada, kau pulanglah," jawab Naren, langsung pergi meninggalkan Inka seorang diri.
Inka merasa di permainkan oleh Naren, Naren mengganggu waktu liburnya, ia rela bangun pagi hanya demi datang kemari karena perintah. Tapi nyatanya, dia diabaikan begitu saja, Inka mulai merapatkan giginya, seakan menyerang musuh.
'Bos sialan! Kau tidak menghargai perjuanganku bangun pagi, hanya demi menemuimu, tapi kau malah menyuruh pulang dengan mudah. Jika kau bukan bos, ingin rasanya aku merobek mulutmu! Haaah!' gumam Inka dalam hati.
Tanpa berpamitan, Inka langsung keluar dari rumah Naren, ia berjalan dengan raut wajah yang menyeramkan.
"Hai!" panggil Putra.
Langkah kaki Inka terhenti, saat ada yang memanggil dengan sapaan.
"Kau pasti sedang marah dengan Kakakku kan, aku hanya bertanya siapa namamu, itu saja. Kau jangan ikutan memarahiku," ucap Putra.
"O ... jadi kau adiknya Tuan gila itu!" seru Inka.
"Aku tahu kau kesal, tapi tenang, aku tidak seperti kakakku yang menyebalkan," ucap Putra.
Naren yang sedang memakai kaos, tak sengaja matanya menatap arah jendela, ia melihat Inka dan Putra sedang berbincang di depan rumah, membuat Naren penasaran apa yang mereka obrolkan.
Naren langsung keluar kamarnya, ia berjalan mendekati Putra yang sedang menjelekan dirinya di depan Inka. Inka hanya menjadi pendengar, saat Putra dengan puas meluapkan kekesalannya, sampai akhirnya, ia tidak menyadari jika Naren berada di belakangnya.
Penuh semangat Putra bercerita, Inka hanya menganggukan kepalanya, ia sudah mengetahui jika Naren berada di belakang adiknya.
"Kau tahu, aku sering sekali menjadi tukang supirnya, kemana-mana aku yang mengantarnya dan lebih parahnya lagi, acara di batalkan dan kami kembali lagi pulang ke rumah, perkara mood nya berantakan, memang keterlaluan," ocehan Putra.
"Benarkah?" sahut Naren.
"Benar sekali," ucap Putra, ia langsung terdiam sejenak, mengamati sautan suara yang seprtinya tak asing baginya. Ia menoleh ke arah belakang, wajahnya tersenyum melihat Naren berdiri menatapnya.
__ADS_1
"Kak Naren, sehat kak, he ... he," ucap Putra.
Inka hanya bisa menganggukan kepalanya, ia mencari aman, ketika melihat wajah Naren berubah menjadi monster. Inka pun langsung pamit meninggalkan mereka berdua.
"Aku pulang ya, dadah," ucap Inka berlalu pergi meninggalkan dua pria tampan itu.
"Bagus sekali, membicarakan Kakakmu sendiri didepan orang lain," ucap Naren.
"Kakak hanya salah dengar saja, aku keceplosan, maafkan aku kak, demi mengetahui namanya, aku rela melakukan apapun, ayo lah kak ampuni aku sekali ini saja," bela Putra.
"Kau harus dihukum," kata Naren.
"Kakak selalu saja memberi hukuman untukku, sekali ini saja ya kak aku terbebas daei hukuman, kan kakak baik," rengek Putra.
Tidak menjawab apapun, Naren langsung pergi meninggalkan Putra.
"Kakak jangan menghukumku ya!" teriak Putra.
"Aku janji, ini yang terakhir kalinya," ucap Putra.
Inka yang sudan berada di halte, menunggu bus datang, sambil memdengarkan musik. Bus pun datang, Inka menunggu giliran dengan orang lain yang ada di depannya.
Bus pun mulai melaju dengan kecepatan sedang, melewati kemacetan disiang hari, membuat semua orang yang ada di dalam mobil, merasa kepanasan, akibat Ac di dalam bus mati.
Entah dari mana Alexa mendapat alamat rumah Inka, ia pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah Inka.
Bus terasa sangat panas, membuat semua orang berkeringat, begitu juga dengan Inka yang mulai mengeluarkan keringat di keningnya.
"Panas sekali ya."
Suara banyak orang mengeluh kepanasan.
Cukup lama di dalam mobil yang sangat panas itu, akhirnya Inka sampai di halte.
Semua orang berdesak-desakan untuk keluar dari dalam bus, sampai ada beberapa penumpang yang terjatuh, ada yang sampai berantem karena saling senggol. Inka yang melihat semua itu hanya tediam, ia menunggu semua orang turun, walaupun ia merasa sangat kepanasan.
__ADS_1
Akhirnya Inka pun keluar dari dalam bu, yang membuatnya hampir kehabisan cairan, saat ia melangkah keluar, ia melihat supir bus yang akan pingsan menahan panas, dengan cepat Inka langsung berjalan menuju kursi supir, iya menyuruh pak supir untuk keluar terlebih dahulu.
Inka membantu pak supir untuk keluar dari dalam mobil dan ternyata mobil pun meledak seketika, membuat semua penumpang yang sudah keluar, ikut terpental, termasuk Inka dan pak supir.
Ledakan itu sangat dahsyat akibat suhu yang terlalu panas membuat beberapa mesin mudah terbakar dan akhirnya meledak.
Untung saja, saat ledakan itu terjadi, tidak ada korban jiwa, hanya luka-luka ringan yang di alami para penumpang.
Berita itu langsung menyebar diseluruh stasiun televisi, mereka menyiarkan terjadinya ledakan bus saat melintasi halte Yongyo. Naren yang sedang duduk sambil membaca buku, tidak sengaja ia mendengar berita. Matanya langsung menatap televisi, ketika pembawa acara menyebut halte Yongyo, Naren langsung terdiam dan memeriksa ponselnya.
Tanpa basa-basi ia langsung keluar rumah dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mencoba menghubungi Inka, tetapi tidak mendapat jawaban darinya, membuat Naren semakin panik.
Naren hampir sampai di lokasi kejadian, ia langsung turun dari mobil, melihat kondisi ledakan yang super dahsyat, membuat Naren langsung melewati garis polisi, banyak pembawa acara dari berbagai stasium televisi.
Naren memperhatikan setiap korban yang mengalami luka ringan masih berada di pinggiran jalan, Naren mencari keberadaan Inka, tetapi ia tidak menemukannya.
"Katanya ada seorang wanita muda yang menggunakan kaos putih dan celana jeans, dia di bawa kerumah sakit, katanya lukanya lumayan serius."
Ucapan orang yang ada disekitar Naren, membuat Naren langsung mengingat jika Inka mengenakan pakaian yang sama, Naren langsung mendekati orang itu dan bertanya secara detail.
Orang yang ia temui itu, menceritakan ciri-ciri wanita muda yang mengalami luka serius, dan ciri-ciri itu menuju kepada Inka.
Perasaan yang campur aduk, membuat Naren langsung melajukan mobiknya menuju rumah sakit terdekat, ia tidak memperdulikan setiap kendaraan yang ada di jalan raya, ia terus menyalip agar segera sampai rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Naren langsung bertanya kepada perawat yang berjaga, tentang korban ledakan bus Yongyo. Perawat itu langsung menunjuk ke arah bad no.16.
Perlahan Naren melangkahkan kakinya, terlihat celana jeans wanita muda yang di kira Inka itu, terlihat koyak dan di penuhi luka lecet, membuat Naren langsung membuka tirai no.16. Saat tirai itu terbuka, betapa terkejutnya Naren melihat wajah wanita itu, tatapannya kosong dan seketika badannya lemas. Naren seolah menyesali ucapannya yang menyuruh Inka pulang.
Ada rasa bersalah didalam hatinya, ia langsung memegang tangan wanita itu, menatap dengan tatapan sendu.
"Kau harus selamat, ku mohon aku hampir tidak bisa hidup tanpamu," lirih Naren.
Tiba-tiba ada yang memegang pundaknya....
BERSAMBUNG....
__ADS_1