
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Naren.
Inka yang tak mendengar Naren berbicara, Ia tetap melanjutkan aktivitasnya menutup pintu dan menguncinya. Mendengar suara teriakan yang menggema di telinga Inka membuatnya langsung menoleh ke belakang.
Melihat Naren yang naik di atas sofa, membuat Inka bingung dengan tingkah bosnya.
"Ada apa tuan?" tanya Inka yang akan melangkah ke arah Naren.
"Stop! Jangan mendekat, lihat lah ada kecoa," ucap Naren.
Inka melihat lantai yang terdapat 3 kecoa yang berjalan mendekati Naren dan ada yang masuk ke dalam kamarnya.
"O ... jadi tuan dari tadi teriak karena ada kecoa," sahut Inka.
"Mau apa kamu? Itu sangat berbahaya, cepatlah menjauh," ucap Naren.
Melihat Naren yang sangat panik dan ketakutan, membuat Inka tersenyum gemas.
'Selain dia takut kecoa, dia juga takut jika ada hantu, ha, ha, ha. Sangat menggemaskan,' batin Inka.
"Hei ... kenapa kau diam saja, cepat mendekatlah nanti kau di gigit dengan kecoa sialan itu," kata Naren.
"Tuan, kecoa ini tidak berbahaya, jadi apa yang di takutkan. Lihatlah mereka lebih kecil dari kita, tinggal semprot pembunuh serangga pun akan mati," jelas Inka.
Inka melihat sekitaran ruangan itu, matanya tertuju pada dapur dan Inka berjalan melangkah ke arah dapur untuk mengambil semprotan pembunuh serangga dan sapu.
Inka pun menyemprotkan kecoa itu hingga mati, dan mempersihkan baiak kecoa lalu membuangnya ke kotam sampah.
"Sudah selesai tuan, sekarang anda bisa duduk di sofa dengan tenang," ucap Inka membersihkan tangannya.
"Bagai mana di kamar ku?" tanya Naren.
"Memangnya ada berapa kecoa? Bukankah semuanya sudah mati?" ucap Inka.
"Ada satu lagi, masuk ke kamar saya," ucap Naren.
Inka pun melangkah menuju kamar Naren tetapi di cegah olehnya.
"Hei ... mau kemana kau? Kau ini tidak ada takutnya sama sekali, bagai mana jika nanti mereka menyerang mu? Aku pula yang di salahkan," ocehan Naren tidak di dengar oleh Inka.
Inka terus berjalan mencari keberadaan kecoa itu, sampai akhirnya Ia benemenukan kecoa itu sedang menggoyangkan sungutnya, dengan cepat Inka menyemprotkan pembunuh serangga sampai kecoa itu tewas.
__ADS_1
"Rasakan ini, mati juga akhirnya," gumam Inka.
Naren yang melihat Inka keluar kamarnya dengan santai pun terheran.
"Apa kau sudah membunuhnya?" tanya Naren.
Inka hanya menganggukan kepalanya.
"Tuan, anda sudah bisa istirahat di kamar," ucap Inka.
Naren terdiam di sofa, membuat Inka yang dari dapur langsung mendekati bosnya.
"Ada apa tuan, apa anda memikirkan sesuatu?" tanya Inka.
Naren menatap Inka yang duduk di sofa.
"Apa kau yakin sudah membuang kecoa itu?" tanya Naren.
Inka yang mulai kesal dengan Naren berusaha mengatur napasnya untuk bisa mengontrol emosinya.
"Sudah saya habisi tuan semua kecoa yang berani masuk ke dalam kamar tuan muda, jadi sekarang waktunya anda istirahat tuan. Coba lah tengok sekarang sudah pukul 01.00 malam," ucap Inka.
'Lalu aku tidur di mana? Tidak sopan jika tamu tidur di kamar tamu dan tuan rumah tidur di sofa, astaga ini lelaki lama-lama menyebalkan, jika dia bukan bos ku, sudah ku habiskan,' batin Inka.
Akhirnya mereka tertidur di sofa masing-masing, Inka yang sangat ngantuk tidak perduli lagi apakah Naren sudah tertidur atau belom. Rasa lelah dan kantuknya membuatnya tertidur pulas, sampai akhirnya sinar mentari menyilaukan ruangan membuat Inka pun terbangun.
Melihat Naren yang masih tertidur, membuat Inka pun memeriksa ponselnya. Begitu terkejuitnya Ia melihat ada panggilan tak terjawab sebanyak 30 kali dari Robit. Seketika mata Inka pun terbuka lebar.
"Astaga, aku kesiangan. Bagai mana ini," gumam Inka.
"Tuan bangun, kita ketinggalan pesawat. Tuan bangun," panggil Inka menggoyangkan tangan Naren.
Naren yang merasa tangannya bergerak sendiri membuatnya langsung terbangun.
"Hem ... ada apa?" tanya Naren dengan suara seraknya.
"Kita kesiangan tuan, maafkan saya yang tidak membangunkan tuan. Pak Robi menelpon sebanyak 30 kali, dan kita tertinggal pesawat tuan. Dan akhirnya pak Robi telah mempersiapkan jet pribadi untuk kita berangkat ke Dubai," ucap Inka.
"Kenapa bisa kau tidak membangunkan ku, astaga ... ini gara-gara kecoa sialan itu," sahut Naren.
Inka pun bersiap-siap untuk berangkat ke Dubai, dengan cepat Ia menyiapkan semua keprluan Naren sampai akhirnya mereka sudah siap untuk berangkat ke bandara. Tidak sempat sarapan, Inka mengambil roti yang ada di atas meja makan bersama selai kacang.
__ADS_1
"Tuan mau makan ini," ucap Inka menunjukan 2 potong roti.
Naren hanya melirik dan kembali melihat ponselnya, Ia tidak menjawab Inka.
Tidak ada jawaban dari Naren, Inka pun memakan sepotong roti dan potongan satunya Ia langsung berikan kepada Naren.
"Apa ini?" tanya Naren.
"Makan lah,aku takut tuan tidak sempat makan," jawab Inka.
Karena merasa lapar, Naren pun akhirnya mau makan roti yang di berikan Inka.
Sampai di bandara, Robi sudah menunggu Naren yang sedang berjalan mendekatinya.
"Apa terjadi sesuatu tuan?" tanya Robi menatap Inka dan Naren.
Mereka sangat kompak menggelengkan kepalanya, Robi yang melihat kekompakan itu langsung menganggukan kepalanya seolah mengerti apa yang sedang terjadi. Terlihat mata mereka yang sama-sama sembab seperti orang yang menahan ngantuk, membuat Robi hanha terdiam.
"Kau handle semua selama aku dan Inka berada di dubai, nanti kita bicarakan lagi melalui video," ucap Naren.
"Baik tuan, aku dengar Alexa akan mengadakan acara pesta ulang tahun, apa anda akan menghadirinya atau akan mengirim kado untuknya?" tanya Robi.
"Pesta Alexa saat aku berangkat di Dubai, aku rasa kau kirimkan dia kado yang terbaik. Salam maaf dari ku untuknya, karena kepergian ku ke Dubai tidak ada yang tahu," ucap Naren.
"Baik tuan," ucap Robi.
Mereka pun terpisah, Naren dan Inka mulai menaiki awak pesawat dan tak lama pesawat pun terbang meninggalkan Robi.
Robi kembali ke kantor untuk menghandle semua pekerjaan Naren. Inka yang terlihat gugup dan bingung karena pertama kalinya Ia naik pesawat dan ini jet pribadi. Membuatnya merasa senang dan khawatir.
'Jadi begini rasanya naik pesawat cuman beberapa orang, haduh ... kursinya pun emput, sejenang menjadi orang kaya,' batin Inka.
Perjalanan yang cukup panjang, membuat Inka mengambil kesempatan untuk tidur, Ia menarik selimut dan langsung memejamkan matanya. Sama dengan Naren yang masih sangat ngantuk, dan Ia pun ikut tertidur. Entah apa yang membuatnya sangat ingin tidur, padahal Naren terkenal orang yang gila dengan pekerjaan dan sangat kuat untuk tidak tidur.
Sejak kenal dengan Inka, Ia merasa sering tidur dan lebih banyak beristirahat, membuat Naren merasa kegelisahan yang sering di alaminya mulai berkurang.
"Apa!"
"Kenapa dia tidak memberitahu ku, jika dia pergi ke Dubai, dan dia pergi bersama wanita sialan itu. Apapun yang terjadi aku harus menyusulnya."
BERSAMBUNG....
__ADS_1