
Ludin merasa sedih karena aksinya tidak bisa di lihat Inka secara langsung, dengan penuh rasa sedih, ia menatap pintu rumah Inka yang tertutup, dengan tatapan sendunya ia mangatakan.
"Inka sayang, maafkan abang Ludin yang belom bisa mengungkapkan cinta ini lebih romantis lagi, abang basah kuyub gara-gara di siram oleh tetangga kamu yang gak punya akhlak itu, abang pulang dulu ya sayang, abang takut sakit jika terus-terusan berdiri disini, dadah sayang," ucap Ludin melambangkan tangannya.
Ludin melangkah pergi meninggalkan rumah Inka, tak sanggup menahan kekecewaannya, tangisnha pun pecah begitu saja. Terdengar seperti anak kecil yang merengek meminta dibelikan mainan, saat ia menyadari banyak yang lewat dan melihatnya seperti orang aneh, Ludin langsung berdiri dengan gayanya yang cool.
Setelah Ludin benar-benar pergi menjauh, saat itu juga, Inka, Nina dan Rosida yang mengintip di balik hordeng sudah tidak bisa menahan tawanya, akhirnya tawa mereka bertiga pun lepas begitu saja, sampai tidak bisa bersuara lagi.
Merasa lelah karena tertawa terus menerus, membuat Rosida melambaikan tangannya karena sudah tidak sanggup tertawa, perutnya terasa kram.
◇◇◇
Naren yang sedang sibuk melatih kekuatan ototnya, karena sejak dia sakit, sempat tidak sadarkan diri waktu itu, membuat Naren jarang sekali berolaraga. Ia terlihat sangat menikmati olaraganya, sampai keringat keluar seperti air hujan membasahi tubuhnya, sehingga membuatnya terlihat sangat seksi.
Ponselnya berdering, membuatnya langsung meletakan barble yang dipegangnya, ia mengambil ponsel dan mengangkat telpon dari Alexa.
Alexa: "Apa kabarmu Ren? Dimana sekarang? Bisa kita bertemu?"
Naren: "Aku berada di rumah, malam ini tidak bisa, aku harus menemui orang tuaku, lain kali saja."
Alexa: "Baiklah, salam buat Om dan Tante."
Sambungan telponpun terputus, membuat Alexa merasa kesal dan kecewa dengan Naren yang sangat dingin dengan dirinya.
"Aku rasa sikap Naren berubah menjadi dingin, ulah Inka yang sudah mencuci otaknya, awas kau ya! Perempuan sialan!" kesal Alexa.
Naren langsung meletakan ponselnya dan mengambil handuk, untuk membasuh keringat yang membasahi tubuhnya. Ia langsung turun ke lantai bawah, melihat asisten rumah tangganya akan menyiapkan makan malam, membuat Naren langsung menghampirinya.
"Jangan masak untuk ku, aku akan pergi kerumah ayah, bibi masak untuk diri sendiri saja ya," ucap Naren.
"Baik Tuan muda," sahut asisten rumah tangga.
Naren langsung masuk ke dalam kamarnya, ia segera membersihkan diri dan memakai koas hitam dan celana pendek, auranya terlihat sangat mahal. Naren pergi meninggalkan mansion, ia berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Mobil melaju keluar dari mansion, dan melaju dengan kecepatan sedang, perjalananya menuju rumah orang tuanya cukup macet, membuatnya langsung menyalakan music klasik untuk menemani kesendiriannya.
Cukup lama menembus kemacetan di jalan raya, akhirnya Naren masuk ke dalam kawasan perumahan elit, sampailah Naren tepat di garasi rumah orang tuanya.
__ADS_1
Naren langsung keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam mansion mewah, terlihat lampu hias yang begitu besar menyala terang diruang tamu. Naren melihat ayahnya sedang duduk di sofa, membuatnya langsung menghampiri Bimo.
"Bagimana kabar Ayah?" tanya Naren
"Kabar Ayah baik, Ayah sempat dengar rumor tentang kau dengan Putri, apa itu benar?" jawab Bimo.
"Itu tidak benar, mereka hanya salah paham," ucap Naren.
"Kapan rencanamu menikah? Ayah semakin tua, kau harus segera mencari calon istri," kata Bimo.
Naren hanya terdiam, ia tidak menjawab satu katapun.
"Lupakan ibumu, kau harus hidup bahagia, atau carilah wanita yang sama seperti mendiang ibumu," ucap Bimo, seketika Naren langsung menatap tajam Bimo.
"Apa maksud Ayah berkata seperti itu?" tanya Naren.
"Ayah hanya tidak ingin kau terus bersedih mengingat ibumu, sampai kau lupa mencari pendamping hidup," jawab Bimo.
"Ayah salah, justru aku akan terus mengingat ibu sampai kapanpun, tidak sepertimu yang mudah melupakannya," ucap Naren bangkit dari duduknya dan pergi menjauh dari hadapan ayahnya.
Naren berjalan menuju taman untuk menenangkan pikirannya, terasa sangat sejuk hembusan angin menjelang malam, mampu mendamaikan pikiran yang sangat kacau ini.
Naren pun kembali ke dalam mansion, ia masuk melewati pintu belakang.
"Kau dari mana? Kenapa lewat pintu belakang?" tanya Erlin.
Naren tidak menjawab, ia langsung duduk dan menyantap sepotong sosis yang sudah di bakar.
"Apa bibi yang membakar sosis ini?" tanya Naren.
"Iya Tuan, tapi bumbunya dari Nyonya besar, enak toh rasanya?" jawab Bi Iyem.
Naren menikmati makanannya, tanpa memperdulikan Bimo dan Erlin.
"Aku pulang!" teriak Putra.
Erlin menoleh ke arah sumber suara, ia melihat anak semata wayangnya dari pernikahannya dengan Bimo.
__ADS_1
"Anak mama udah pulang, sini ikut makan malam bersama, kakakmu juga datang," ucap Erlin.
"Apa kabarmu kak, kau terlihat gemukan sekarang," sapa Putra.
"Kabarku sangat baik, bagaimana kuliahmu? Apa ada kendala?" tanya Naren.
Mereka berbincang satu sama lain, terlihat Naren sangat ramah dengan adik tirinya. Hal ini membuat Bimo merasa senang, karena Naren bisa menerima Putra dengan baik.
"Siapa wanita yang bersamamu di kamar hotel kak?" tanya Putra.
Bimo dan Erlin langsung menatap Naren, suasana menjadi hening. Putra langsung mencairkan suasana itu kembali.
"Aku melihat Kak Naren bersama perempuan cantik keluar dari hotel berbintang 5 yang ada di Dubai," jelas Putra.
"Dia sekretarisku, kita memesan dua kamar hotel," jawab Naren dengan santai.
"Apa ada kendala saat kau berada di Dubai?" tanya Bimo.
"Tidak ada, semua berjalan dengan baik, perusahaan kita masuk dalam kategori perusahaan bergengsi di seluruh dunia," jawab Narendra.
"Wah ... Kakak sangat hebat sekali, aku ingin menjadi seperti Kakak, sukses dalam karirnya," kagum Putra.
Naren tersenyum.
"Kau harus menjadi dirimu sendiri, jangan ingin menjadi seperti orang yang sukses diluar sana, tapi ... jadilah apa yang membuatmu menguntungkan, gali terus potensimu, jangan biarkan bakatmu terpendam karena menuruti keinginan seseorang," ucap Naren.
"Kata-katamu sangat indah kak, aku akan menjadi diriku sendiri," sahut Putra dengan penuh semangat.
Suasana menjadi hening kembali, karena Naren sangat tahu jika Erlin memaksa Putra untuk menjadi seperti Naren yang pintar dalam mrnjalankan bisnisnya, Naren selalu dibanggakan oleh Klien Bimo, membuat Erlin berkecil hati dan mendesak Putra untuk menjadi apa yang dia inginkan.
◇◇◇
"Sayang Inka," goda Nina.
"Nina! Jangan begitu, ini semua gara-gara Ludin," kesal Inka.
"Sumpah jangan marah, sekali-kali kau harus membalas kebaikan Ludin," goda Rosida.
__ADS_1
"Ibu! Kenapa mengikuti Nina sih! Kalian menyebalkan," kesal Inka keluar rumah untuk memghirup udara malam.
Saat ia membuka pintu rumahnya, Inka langsung berjalan menuju taman kecil yang ada di depan halaman rumahnya. Inka mencoba menghirup udara yang sangat sejuk, kesejukannya mampu menenangkan pikirannya.