Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Prepare


__ADS_3

Inka teringat sesuatu saat Naren tersenyum kepadanya, ingatan itu seketika memutar kejadian semalam, di mana ekspresi Naren saat memanggilnya dengan sebutan ibu peri.


Inka langsung tertawa ngakak, membuat Naren menatapnya dengan wajah yang bingung.


"Apa ada yang lucu?" tanya Naren.


"Ada," jawab Inka masih dalam tawanya.


"Beri tahu aku, biar aku ikut tertawa juga," ucap Naren.


"Kamu yakin, gak papa aku kasih tahu?" tanya Inka.


Naren hanya bisa menganggukan kepalanya, ia sangat penasaran.


"Tapi janji jangan marah ya, nanti aku kasih tahu. Ini limited edition," kata Inka.


Inka langsung meraih ponselnya, ia ingin memperlihatkan tingkah Naren yang malam itu dalam kondisi mabuk.


"Tapi seriusan gakpapa," ucap Inka, meyakinkam Naren.


"Sudah cepat beritahu aku! Kenapa lama sekali," kesal Naren.


Inka langsung menunjukan ponselnya ke arah Naren, ia melihat dirinya sendiri sedang berbicara dan tangannya melambai-lambai, seperti anak TK yang sudah kolot.


Setelah melihat video itu, Naren dengan tatapn tajam, ia menatap Inka. Inka merasa ada sesuatu yang tidak beres, saat melihat tatapan Naren yang seakan marah.


"Siapa yang melakukan kejahatan itu?" tanya Naren dengan penuh amarah.


"Kejahatan apa? Aku tidak melakukan apapun, aku hanya merekam momen yang sangat menggemaskan, melihatmu yang terlalu sempurna, ternyata bisa semenggemaskan," jawab Inka mencubit pipi Naren.


Naren langsung memegang tangannya, membuat Inka langsung diam, dan berusaha untuk menghindari, tetapi pegangan tangan Naren sangat erat.


"Jadi kau coba-coba membuat lelucon itu? Baiklah," ucap Naren, semakin mendekatkan wajahnya menatap Inka.


Inka yang kebingungan karena takut dengan tatapan Naren, hanya bisa pasrah, karena kedua tangannya di pegang erat oleh Naren.


Naren yang akan memberi hukuman kepada Inka, agar tidak jail dengan. Tetapi hukuman itu berupa ciuman hangat, yang sudah lama tidak silahturahmi bibir dengan Inka.


Inka yang mulai tahu, niat licik Naren. Membuatnya langsung berfikir keras, agar lolos dari ciuman itu.


Inka langsung menatap dinding tembok, yang ternyata ada cical yang melintas, seketika Inka langsung menunjuk cicak itu dengan lantang.


"Apa itu!" seru Inka.


Naren tidak memperdulikan Inka yang mulai mengalihkan pandangannya.


"Ada monster! Kita harus berlindung," ucap Inka.


Inka dengan polosnya mengelabui Naren yang sebenernya ia sudah tahu jika Inka hanya berbohong.


"Gawat! Ayok berlindung," ajak Inka.


"Sudah, hentikan leluconmu," ucap Naren.

__ADS_1


Setiap Naren maju mendekat, Inka berusaha untuk mundur, sampai akhirnya tubuh Inka menyentuh tembok, itu artinya, ia sudak tidak bisa lagi menghindar.


Tangan Naren masih memegang kedua tangan Inka, akhirnya ciuman itu mendarat di bibir seksi Inka. Perlahan-lahan, Naren ******* bibir Inka dengan penuh kelembutan, membuat Inka mulai terbuai oleh sentuhan itu.


Naren melepaskan tangannya, dan seketika tangan Inka merangkul Naren.


Ciuman mesra itu terjadi begitu panas, membuat keduanya hampir tidak terkontrol, mereka hampir melepaskan semua pakaiannya tetapi, ponsel Naren berbunyi.


Aktifitas itu berhenti begitu saja, karena ponsel Naren yang terus-terusan berbunyi.


Naren meraih ponselnya. Ia melihat jika yang menelpon adalah Robi, Naren langsung mengangkatnya.


Saat Naren sedang berbicara dengan Robi melalui telpon, kesempatan Inka untuk kabur dari Naren.


Inka mengendap-endap keluar kamar Naren, saat ia sudah berhasil keluar, Naren langsung menutup pintu. Ketika Inka membalikan tubuhnya, ia melihat Robi yang ternyata berada di luar kamar Naren.


'Astaga, kenapa harus ada Pak Robi sih,' batin Inka.


Inka yang akan menghindar dari Robi, tetapi Robi sudah mengetahuinya.


Naren yang sedang terus berbicara di lama telpon, seketika berhenti. Saat Robi memanggil Nama Inka.


"Nona Inka!" panggil Robi.


Inka berusaha menghindari Robi, tetapi niatnya sudah ketahuan, membuatnya menoleh ke arah Robi dan melambaikan tangan.


Inka langsung masuk ke dalam kamarnya, setelah Naren membuka pintu kamarnya.


"Di mana Inka?" tanya Naren.


"Sialan, dia lari dariku?" ucap Naren.


"Ada apa Tuan?" tanya Robi.


Naren langsung menoleh ke arah Robi.


"Tidak ada apa-apa," jawab Naren.


Naren dan Robi langsung berjalan menuju ruang meeting yang sudah di sediakan oleh hotel itu,


"Semalam, Nona Inka melihat Pimpinan Bimo memasuki hotel ini dengan wanita lain," ucap Robi.


"Lalu apa responnya?" tanya Naren.


"Saya rasa dia mengira, wanita itu adalah istrinya," jawab Robi.


"Baguslah," kata Naren.


Mereka mulai membahas tentang pengalihan perusahaan miliknya yang akan di minta oleh Bimo untuk Putra, tetapi Naren tidak memberi jawaban apapun, karena ia sangat takut jika Putra merencanakan sesuatu diluar dugaannya.


Naren sudah mengenal sang adik sejak dulu, dia anak yang baik, tapi karena hasutan pamannya yang bernama Hasino, Putra berubah 180 derajat, hal ini membuat Naren semakin waspada.


.

__ADS_1


.


.


Alexa menyewa preman untuk menghancurkan kedai milik keluarga Inka, preman itu di minta untuk merusak segalanya sampai tidak tersisa, dengan bayaran yang cukup mahal, preman itu menerima tawaran dari Alexa.


Senyum senang terlihat di wajah Alexa.


"Perlahan aku akan membuatmu hancur, aku akan membuat orang tuamu merasakan apa yang aku rasakan, bersiaplah untuk menanti serangan dariku," ucap Alexa.


Inka yang merasa aman, ia keluar dari kamarnya, ia turun ke bawah untuk memesan makanan, karena ia mulai lapar.


Saat Inka makan, tiba-tiba Geri datang menghampirinya.


"Kau makan apa?" tanya Geri.


"Udang," jawab Inka.


"Aku tidak melihat ada udang?" tanya Geri dengan wajah yang bingung.


"Coba pakai mata batin, pasti kau lihat," jawab Inka.


Geri memanggil pelayan untuk membawakan buku menu.


"Tinggalkan kami dulu ya mba, kami mu liat-liat dulu," ucap Geri.


Pelayan itu akhirnya pergi meninggalkan mereka.


Saat Geri membuka buku menu, ia sangat kaget melihat harga dari setiap menu itu hampir setara dengan harga kos-kosannya tiap bulan. Geri langsung menutup buku menu itu, membuat Inka langsung bertanya.


"Ada apa? Apa makanannya mahal-mahal?" tanya Inka.


Geri menganggukan kepalanya, ia tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya terlihat masih syok.


Inka pun penasaran dengan isi di dalam menu itu, saat ia melihat daftar harganya, Inka hanya bisa menelan luda dengan kasar.


Inka dan Geri saling menatap satu sama lain, seolah mengerti apa yang ada di pikiran dan di dalam dompet.


"Ku menangis! Membayangkan, betapa mahalnya menu makanan ini ...."


Suara mereka mengikuti nada suara penyanyi Rossa yang berjudul hati yang tersakiti, tapi di rubah liriknya.


"Lalu kau beli mie berapa harganya?" tanya Geri.


"Aku membeli mie instan, harganya 35ribu, hanya itu yang murah, karena aku lapar. Jadi aku terpaksa membelinya," jawab Inka.


Geri langsung menghembuskan napasnya secara kasar, ia berusaha untuk baik-baik saja. Padahal dia sangat lapar.


"Besok kita mulai pendaftaran ke kampus baru," ucap Geri.


"Baiklah, akhirnya aku akan menjadi mahasiswa, eh jurusan apa ya kemarin aku milihnya?" tanya Inka.


"Lah ... malah tanya denganku, kau sendiru yang milih, aku saja tidak ingat. Ha ... ha ... ha," jawab Geri.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2