Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Kecelakaan kecil


__ADS_3

Melewati malam yang begitu rumit, terbitlah sang mentari yang senantiasa menyinari bumi dengan kehangatan.


Suara teriakan yang menjadi ciri khas keluar Inka, membuatnya langsung terbangun. Suara itu terdengar seperti alarm yang berbunyi setiap pagi, membuatnya sudab terbiasa.


Inka langsung keluar kamarnya, ia menoleh ke arah kamar mandi yang kosong, dengan cepat Inka langsung berjalan menuju kamar mandi.


Ternyata Jimin pun melakukan hal yang sama, ia melihat kamar mandi yang kosong, membuatnya langsung berjalan cepat.


Belom sempat sampai ke kamar mandi, tubuhnya menabrak Inka yang berjalan menuju kamar mandi.


Bruk!


Suara itu terdengar keras, membuat Rosida langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Tu kan! Astahfirulloh! Sudah ibu bilang, untuk bangun lebih awal, tapi kalian tidak mendengar, akhirnya tabrakan kan," ocehan Rosida di pagi hari.


"Kakak harusnya aku duluan, kita jadi di marahin ibu," bisik Jimin.


"Harusnya aku duluan lah, aku mau pergi keluar kota, jadi Kakak dulu ya," ucap Inka langsung bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.


Jimin pun lagi-lagi kalah dengannya, ia akhirnya menunggu Inka yang sudah masuk duluan ke kamar mandi.


Selesai persoalan tentang kamar mandi, mereka pun sarapan bersama.


"Bu ... aku akan keluar kota, mungkin akan minep sampai 2 hari kedepan, jadi aku mohon izin," ucap Inka.


"Ya sudah, jaga dirimu baik-baik," ucap Rosida.


Setelah mendapat izin dari ibunya, Inka pun mulai menjahili adiknya yang sedang makan terlu gulung.


"Jimin, itu ada apa di makananmu?" tanya Inka.


Jimin yang akan memakan telur itu merasa bingung, ia memperhatikan telurnya.


"Tidak ada apa-apa? Memangnya ada apa?" jawab Jimin dengan wajah yang polos.


"Stop! Jangan dimakan, itu ada sesuatunya," ucap Inka terlihat sangat serius, membuat Jimin menghentikan niatnya untuk memakan telur itu.


"Ada apa sih kak?" tanya Jimin dengan nada kesalnya.


"Coba angkat telur mu keatas," perintah Inka.


Jimin pun menuruti apa yang di katakan Inka, melihat Telur itu sudah di dekatnya, dengan cepat Inka melahap telur milik Jimin.


Jimin pun terkejut melihat kenakalan Kakaknya, membuatnya sangat marah.


"Kakak!" teriak Jimin.


Inka tertawa terbahak-bahak.


"Sudah jangan berisik, apa yang kalian ributkan?" tanya Rosida.

__ADS_1


"Tapi Kakak, mengambil telur ku," kesal Jimin.


"Kakak ini merindukanmu, jadi Kakak membayangkan seolah kamu menyuapi Kakak, ambil lagi itu telurnya masih banyak," ucap Inka.


"Yah, Bu, Inka pamit ya," pamit Inka.


Inka menatap Jimin, dan menjulurkan lidah ke arahnya.


Jimin langsung memukulnya tetapi Inka sudah duluan pergi menjauh.


Mobil mewah sudah menunggu di depan rumah Inka, membuat Inka langsung menoleh untuk memastikan itu orang suruhan Naren.


Saat Inka masuk ke dalam, mobil melaju dengan cepat, ia masih belom menyadari jika supir yang ada di dalam mobil itu ternyata bukan orang suruhan Naren, melainkan Alexa yang sengaja menyamar jadi ajudannya Naren.


Inka baru menyadari jika jalur yang di ambil bukan ke arah kanan, tetapi ke arah kiri. Membuat Inka pun bingung.


"Kita mau kemana Pak?" tanya Inka.


Supir itu tidak menjawab, membuat Inka merasa curiga dengannya.


Dengan rasa penasaran, Inka langsung memastikan supir itu, ternyata supir itu memakai masker, membuat Inka kesulitan untuk memastikan siapa sebenernya yang membawa dirinya.


Inka memeriksa pintu tempatnya duduk, mencari sela melihat supir itu sedikit lengah, Inka langsung membuka pintu belakang dan keluar begitu saja, tubuhnya langsung jatu di atas tanah.


Pamela berguling-guling di atas tahan itu, untungnya dirinya tidak membentur batu atau yang lainnya. Dengan sekuat tenaga, Inka langsung mencari persembunyian agar supir itu tidak menemukan dirinya.


Ponselnya berdering.


Robi langsung menyuruh Inka memesan taksi onilne. Inka pun memesan taksi itu dan tak lama taksi itu datang.


Mengikuti arahan dari Robi, Inka menggunakan syalnya dan mengganti pakaiannya dengan kaos, agar tidak mudah di temukan oleh supir yang sangat mencurigakan itu.


Inka pun naik ke dalam mobil itu dan mobil melaju dengan kecepatan tinggi sampainya di pertigaan yang menuju klinik Luis, di sini Inka berhenti dan berjalan menuju mobil Rubicon berwarna hitam.


"Masuk!" perintah Robi.


Inka langsung masuk ke dalam mobil itu, dengan cepat mobil itu langsung melaju masuk ke arah jalur ke kiri.


Di dalam perjalanan, Robi melihat wajah Inka yang tergores sedikit, membuatnya langsung bertanya untuk memastikan keadaanya.


"Apa kau baik-baik saja? Sepertinya terjunmu kurang ahli," tanya Robi.


"Untuk saja Pak, saya ada inisiatif untuk turun dari mobil itu, karena supirnya sangat mencurigakan," jawab Inka.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Pak Robi.


"Bagaimana saya bisa mengenalnya Pak, wajahnya di tutup dengan masker dan supir itu menggunakan topi. Membuatku kesulitan," jawab Inka.


.


.

__ADS_1


.


.


Mobil mewah itu langsung kembali ketempat Inka terjatuh, tetapi ia tidak menemukan siapapun di situ.


"Sial! Dasar wanita, sialan!" teriak Alexa.


Alexa berencana untuk mencelakakan Inka, tetapi gagal, ia berusaha menjadi menjadi supir pribadi Naren tetapi Inka segera menyadarinya, akhirnya Inka lolos dari niat buruknya.


Alexa mengepalkan tangannya, dan kembali masuk ke dalam mobilnya, ia terlihat sangat marah dan kesal tetapi Alexa tidak akan diam begitu saja, ia aka terus mencoba mencari cara untuk menyingkirkan Inka.


Mobil itu melaju dengan cepat menuju kantornya, perasaaan yang sangat kacau membuat Alexa hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya berhenti karena lampu merah.


Seketika dirinya langsung ngerem mendadak, membuatnya langsung memukul stir mobil ya.


"Sial! Hari ini sangat sial!' geram Alexa.


.


.


.


Inka dan Robi sudah sampai di klinik milik Luis, ia langsung masuk ke dalam.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Luis.


"Ada kecelakaan kecil Dok, jadi aku terluka karena kurang berhati-hati," jawab Inka.


Inka pun langsung di obati oleh perawat yang berjaga.


Luis langsung mendekati Robi yang masih berdiri.


"Dia kenapa?" tanya Luis.


"Kecelakaan kecil menimpa dirinya, memangnya ada apa? Kau terlihat sangat khawatir?" jawab Robi.


"Benar juga sih, okay lah lupakan semuanya," ucap Luis.


Luis langsung mengajak Robi untuk masuk ke dalam ruangan khusus tempat Naren di rawat.


"Tadi dirinya sempat sadarkan diri, tetapi tertidur lagi karena efek dari obat yang ku suntikan mungkin nanti malam dia akan siuman sepenuhnya," jelas Luis.


"Apa dia baik-baik saja, maksudku tidak terjadi sesuatu yang lain, yang membahayakan dirinya?" tanya Robi.


"Setelah di periksa secara keseluruhan, Naren ini hanya mengalami tingkat stres yang sangat tinggu akhir-akhir ini, ini yang membuat hormon di dalam dirinya tidak seimbang, karena efeknya ke simstem yang mengontrol dan mengingat masalah yang dia hadapi, ini memang langkah tetapi sering terjadi pada orang," jelas Luis.


"Apa dia bisa sembuh?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2