
Naren yang sangat terkejut ketika masuk ke dalam rumahnya, ia mendapati Bimo sedang berbincang kepada Pak Edo, ayah dari Alexa.
Wajahnya seketika berubah menjadi kesal, ia menatap Bimo dengan tatapan tidak suka.
Bimo yang menyadari jika Naren baru datang, membuatnya langsung berdiri menatap Naren.
"Kau dari mana saja? Maafkan Ayah tidak sempat memberitahumu, tentang perjodohan ini," ucap Bimo.
"Perkenalkan, dia Pak Edo. Temam lama Ayah, dia juga teman bisnis Ayah dan kebetulan sekali. Pak Edo memiliki anak gadis yang belom menikah, dia pun mengenalmu, namanya Alexa. Ayah harap kalian setuju dengan perjodohan ini," jelas Bimo membuat Naret syok.
"Siapa yang mengizinkan Ayah datang kemari tanpa seizinku? Dan seenaknya menjodohkanku dengan anaknya?" tanya Naren dengan nada lirih.
Terlihat, tatapan Naren yang sangat marah dengan Bimo, karena mambawa tamu asing masuk ke dalam mansion pribadinya dengan alasan akan menjodohkannya dengan Alexa, keadaan ini membuat Naren berusaha menahan amarahnya.
Edo memandangi Naren yang sangat syok dan kesal karena perjodohan ini sangat mendadak baginy, Edo seolah memahami apa yang dirasakan Naren.
Tiba-tiba pahlawan kesiangan datang seolah menjadi seseorang yang sangat mengerti posisi Naren, dia adalah Alexa, Alexa mekangkahkan kakinya mendekati Naren dan langsung memegang tangan Naren.
"Biarkan Naren istirahat Om, mungkin dia sangat lelah," ucap Alexa.
Naren berusaha melepaskan tangan Alexa dan pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Pak Edo yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka semua menatap kepergi Naren yang semakin menjauh dari hadapannya.
Bimo merasa tidak enak hati dengan tamunya, tetapi dia juga tidak bisa menahan Naren untuk tetap di sini.
"Maafkan kami ya Pak Edo, mungkin Naren sedikit syok, karena perjodohan ini sangat mendadak," ucap Bimo.
"Aku rasa kami harus pulang, kita bahas semuanya nanti setelah suasana menjadi tenang," ucap Pak Edo.
Edo dan Alexa, segera meninggalkan mansion dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil.
Edo menatap Alexa yang hanya berdiam diri.
"Papa rasa Naren tidak menyukai perjodohan ini, sebaiknya kau urungkan niatmu untuk menikah dengannya," ucap Pak Edo.
"Papa!" panggil Alexa dengan wajah yang mulai kesal.
"Tapi pah, Naren itu suka kok sama Alexa, cuman mungkin dia lagi capek aja, jadi raut wajahnya seperti tadi," bela Alexa.
Edo melihat anaknya yang masih terus berjuang, untuk bisa menikah dengan Naren, membuatnya tak bisa melarangnya, karena Edo sangat menyayangi putri semata wayangnya itu.
....
Bimo langsung mengetuk pintu kamar Naren, ia mengetuk berkali-kali, tetapi tidak mendapat jawaban dari dalam, membuatnya mulai kesal dengan tingkah Naren yang tidak bisa sedikit lebih sopan kepada tamunya.
__ADS_1
"Jika kamu tidak mau membuka pintu kamar ini, Ayah anggap kamu menerima perjodohan ini," ancam Bimo, membuat Naren langsung membuka pintunya.
Bimo melihat Naren dengan rambut basah dan handuk di bahunya, membuatnya merasa salah tingkah.
"Apa kau baru selesai mandi?" tanya Bimo dengan heran.
"Iya," jawab Naren.
"Apa kau mendengar semua yang Ayah katakan?" tanya Bimo.
Naren menganggukan kepalanya.
"Artinya kau menyetujui perjodohan ini?" tanya Bimo.
"Tidak! Ayah tidak berhak mengatur hidupku, untuk calon istriku, hanya aku yang berhak memilih bukan Ayah," tegas Naren.
"Apa salahnya kau coba menjalin hubungam dengan Alexa, dia wanita yang cantik, berprestasi dan dari keluarga terpandang, apa yang kurang dari dirinya," ucap Bimo.
"Jangan bawa-bawa kasta, cinta itu bukan perkara uang dan kedudukan, tetapi tentang hati. Aku harap, Ayah tidak ikut campur," tegas Naren.
"Jika kau memang sudah mempunyai pasangan, kenalkan pada Ayah, jika tidak kau harus menikah dengan Alexa!" ancam Bimo berlalu pergi meninggalkan Naren.
Naren semakin frustasi dengan tekanan dari orang tuanya, belum lagi, ia merasa jika cintanya bertepuk sebelah tangan, membuatnya hampir gila, hanya perkara cinta.
Putra yang melihat Naren bertingkah aneh langsung bertanya.
Naren menoleh ke arah Putra.
"Sudah jangan dibahas, aku sangat muak dengan perjodohan ini," jawab Naren dengan nada kesalnya.
"Jika Kakak menerima perjodohan ini, artinya aku berkesempatan memdekati sekretaris Kakak yang cantik itu," ucap Putra, membuat Naren langsung melemparnya dengan handuk.
Lemparan itu sangat keras, sehingga membuat Putra kaget dan hampir terjatuh.
"Kenapa Kakak melemparku dengan handuk, apa salahku?" tanya Putra.
"Kau masih bertanya apa salahmu! Jangan kau mendekati sekretarisku, dia milikku!" seru Naren.
"Memangnya Kakak siapanya? Pacarnya? Suaminya? Orang tuanya? Beraninya melarangku," tanya Putra.
Naren merasa sangat geram, ia belom bisa mengatakan jika ia adalah kekasihnya, karena ia merasa cintanya di tolak oleh Inka, tetapi ia tidak mengizinkn orang lain dekat dengannya.
Naren bingung mau mengatakan apalagi, akhrinya ia langsung mengancam Putra.
"Jika kau mendekati sekretarisku, tidak akan aku dukung kau sekolah musik," ancam Naren.
__ADS_1
Naren langsung membuka penutup pintu dan menutupnya dengan keras.
"Kenapa dia yang jeolus, aneh sekali," gerutu Putra.
"Dia kan hanya sekretarisnya, bukan pacarnya, tapi tingkahnya kayak seolah dia pacarnya, aneh sekali," sambungnya.
"Apa maksudmu?" tanya Naren yang tiba-tiba membuka pintu kamar, membuat Putra kaget.
"Astaga ... Kakak! Kenapa seperti jailangkung sih, ngagetin aja," jawab Putra.
"Kau tadi bilang apa?" tanya Naren, membuat Putra kebingungan, ada rasa takut melihat wajah Naren yang seolah akan menerkamnya, Putra melirik ke kanan dan ke kiri, membuatnya langsung kabur.
Putra langsung buru-buru lari, menjauh dari tatapan tajam Naren, Naren pun menatap Putra yang sudah menjauh dari hadapannya.
Naren kembali menutup pintu, ia merapatkan giginya merasa sangat kesal dengan semua orang.
"Sial!" teriak Naren.
Teriakan itu seolah membangunkan Inka yang tertidur, matanya langsung terbuka lebar sepertu orang bingung. Ia melihat di sekitar kamarnya, tidak ada orang, membuat Inka langsung memeriksa ponselnya.
Inka melihat menjelang magrib, membuatnya langsung terbangun. Ia duduk termenung memikirkan siapa yang memanggilnya begitu keras, tetapi suaranya tidak asing bagi Inka.
"Siapa yang memanggil ku? Suara itu benar-benar sangat keras, tapi sepertinya aku mengenal suara itu, tapi siapa ya?" gumam Inka.
Terdengar teriakan Rosida memanggil nama Jimin.
"Jimin!" panggil Rosida.
Tidak mendapat jawaban darinya.
"Ya Allah! Ini anak gak mandi-mandi udah sore. Jimin! Apa kau tidak mendengar ibu?" teriak Rosida.
"Kumat lagi, teriakan itu membuatku sakit kepala," gerutu Inka.
Seperti suara lonceng pada waktu tertentu, Rosida selalu berteriak menyuruh adik Inka untuk mandi, karena memang Jimin, anak yang jarang mandi atau bisa di bilang anak yang pemalas.
Inka keluar dari kamarnya, melihat Jimin baru selesai mandi, ia berjalan melewati Inka.
"Mandi lagi sana," ucap Inka.
"Aku udah mandi, ngapain Kakak nyuruh aku mandi lagi?" ujar Jimin.
"Itu busa di kepalamu masih banyak," kata Inka.
Jimin langsung menatap cermin dikamarnya, dan benar yang dikatakan Inka, membuatnya langsung berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
BERSAMBUNG....