Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Kecewa


__ADS_3

Alexa yang merasa kesal dengan Inka, karena ia tidak mengetahui apapun tentang Naren, ia langsung menutup buku menu itu dan menatap tajam Inka.


Inka yang merasa tidak bersalah, merasa tertantang dengan tatapan tajam dari Alexa.


Mereka saling menatap satu sama lain, terlihat tatapan yang penuh dengan dendam, seperti sedang dalam perlombaan.


Suasana berubah menjadi meriah, penuh dengan teriakan dan tepuk tangan, memanggil nama mereka berdua.


"Alexa!"


"Inka!"


Suara teriakan itu terdengar nyaring, membuat perlombaan di dalam aula terasa sangat menegangkan, melihat kostum yang di gunukan seperti wonder women.


"Mari kita saksikan, pertujukan yang spektakuler ini, perlombaan gulat ini akan sangat menegangkan dengan pesertanya yang cantik-cantik dan seksi, kita mulai saja pertandingan ini ya, siap! Satu ... dua ... tiga!" teriak pembawa acara.


Tiba-tiba gedung itu runtuh, membuat lamunan Alexa dan Inka tersadarkan karena sentugmhan tangan Naren yang terus menggenggamnya dan memanggil nama Inka.


"Eh iya, ada apa yang," ucap Inka tersadar dari lamunannya.


Semua orang menatap Inka yang memanggil nama Naren dengan sebutan sayang.


Inka langsung terdiam menatap mereka semua, iya langsung menatap Naren.


"Maaf aku keceplosan," lirih Inka di dekat Naren.


Naren tersenyum manis, Bimo yang mendengar ucapan Inka merasa tidak enak dengan Pak Edo yang akan menjadi besan.


"Jangan di dengar ya Pak, mungkin dia salah sebut," ucap Bimo menatap Pak Edo.


Pak Edo hanya terdiam, ia sedari tadi memperhatikan Naren dan Inka yang terus menggandeng tangannya, terlihat cinta di mata Naren yang begitu besar kepada Inka.


Alexa merasa kesal, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, melihat Naren dan Inka memesan makanan sambil tertawa bersama, seolah dunia miliki mereka berdua.


"Ini sudah keterlaluan," gumam Bimo.


Pak Edo langsung memegang tangan sahabatnya, ia seolah memberi isyarat untuk tidak membuat keributan di dalam resto.


Saat makanan sudah di pesan, Bimo mulai membuka percakapan agar suasana meja yang mereka pesan tidak hening.


"Ku dengar kau menjadi sekretaris pribadi anak saya dari seleksi reguler ya, yang artinya hanya dari lulusan sekolah menengah atas, apa otu benar?" tanya Bimo.


Inka langsung menganggukan kepalanya, tidak ada rasa malu di dalam hatinya, iya menjawab dengan bangga.


"Anda benar Pak, alhamdulilahnya saya terpilih diantara mereka yang memiliki gelar di belakang namanya, saya sangat bersyukur," jawab Inka.


Bimo hanya terdiam, niatnya ingin mempermalukan Inka tetanya gagal, dengan jawaban yang tepat membuat Pak Edo tersenyum.


"Kau harus melanjutkan jenjang karirmu, karena itu untuk masa depanmu," sahut Pak Edo.

__ADS_1


"Ku dengar kau akan melanjutkan pendidikanmu di New York?" tanya Bimo kepada Alexa


Alexa tersenyum. "Baru rencana," ucapnya sambil menatap Naren.


"Atau setelah menikah dengan Naren, kau baru melanjutkan pendidikanmu lagi?" tanya Bimo.


Naren dan Inka langsung menatap Bimo, begitu juga dengan Pak Edo dan Alexa.


"Siapa yang akan menikah denganku?" tanya Naren.


"Kami di sini akan memutuskan pertunanganmu dengan Alexa, kebetulan sekali kamu datang, jadi sekalian saja," jawab bimo.


Inka hanya bisa terdiam, ia tidak bisa berkata apapun, merasa tidak nyaman dengan obrolan kedua keluarga besar itu, Inka pun pamit pergi.


"Sepertinya kalian sedang membahas urusan pribadi, maafkan saya jika saya mengganggu, sebaik saya pamit, terima kasih atas jamuannya," pamit Inka.


"Tunggu!" seru Naren, tetapi tidak membuat Inka berhenti melangkah.


Naren langsung menatap kesal ayahnya.


"Ku pertegas, aku tidak akan menikah dengan Alexa, aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai, permisi," ucap Naren berlalu pergi meninggalkan mereka semua.


Alexa merasa sangat sakit hati dengan ucapan Naren, yang di dengar langsung oleh keluarganya.


"Maafkan Naren, dia terlalu labil saat sedang marah," ucap Bimo.


Edo dan Alexa pun pergi meninggalkan Bimo seorang diri, semuanya gagal tidak sesuai dengan rencana Bimo. Ia terlihat sangat marah dan murkah.


"Ini gara-gara ulah perempuam sialan itu! Awas kau ya," geram Bimo.


....


Inka berjalan secepat mungkin, ia berusaha tidak mendengar panggilan Naren yang semakin mendekat. Naren langsung meraih tangannya.


"Berhenti! Tunggu! kamu harus mendengarkan penjelasanku," ucap Naren.


Inka akhirnya berhenti, terlihat air mata yang membasahi pipi mulusnya, membuat Naren langsung memeluknya, tetapi semua itu di tepis oleh Inka.


"Jangan sentuh aku!" teriak Inka.


"Biarkan aku pergi, aku butuh waktu untuk sendiri," ujar Inka.


Naren langsung menjauh perlahan daru hadapan Inka, ia memberu jalan untuk Inka berjalan.


Naren terus memandanginya sampai Inka menaiki taksi.


Di belakang ada Edo dan Alexa, ia menunjuk Inka yang sudah menaiki taksi.


"Kau lihat wanita itu, dia wanita yang sangat di cintai oleh Naren. Jadi lupakan Naren dan berangkatlah ke luar negri, temukan jati dirimu di sana, lupakan semua yang membuatmu tidak bahagia, jangan egois nak, Naren hanya mencintai Inka," jelas Edo, membuaf Alexa menatap dengan sendu.

__ADS_1


Kali ini dia sudah merasakan sakit yang kesekian kalinya dan cintanya bertepuk sebelah tangan. Hantinya hancur berkeping-keping, tapi kejadian ini tidak membuat hatinya luluh dan melupakan Naren, justru dia berniat untuk merebut secara paksa.


Alexa seperti orang yang sedang kesurupan, terlintas dendam yang membara, ia berfikir untuk menyingkirkan Inka dari genggaman Naren.


....


Inka yang sudah menjauh dari hadapan Naren, hingga tak terlihat lagi, membuat Naren langsung masuk ke dalam mobil.


Naren melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia bukan mengejar Inka, melainkan pulang ke manstion.


Di tengah perjalanan, Naren menghubungi Robi.


Robi: "Hallo, ada apa Tuan?"


Naren: "Carikan aku apartement, besok aku kan menjual mansionku."


Robi sangat kaget dengan apa yang di ucapkan Naren, ia tidak menanyakan apapun, hanya mengiyakan semua yang di perintahkan Naren. Telpon pun terputus.


Sampai di mansionnya, Naren langsung masuk ke dalam, ia sangat terkejut melihat mansion yang sangat kotor dan penuh dengan asap rokok. Membuat Naren merasa sangat geram, ia langsung mencari Putra.


"Putra!"


"Putra!"


"Putra!"


Panggilan itu tidak mendapat sautan dari Putra, terlalu sibuk bercumbu dengan pasangannya, ia melupakan jika Naren terus memanggilnya.


Naren langsung masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Putra sedang bercumbu dengan kekasihnya, membuat Naren semakin marah.


"Dasar bajingan! Beraninya kau mengotori rumahku!" teriak Naren menarik tubuh Putra dan dengan ringan ia langsung memukul dengan sangat keras, membuat Putra tersungkur di lantai.


Wanita yang digaulinya itu menjerit ketakutan, melihat perkelahian sengit yang di lakukan Naren.


Naren menatap tajam wanita itu, dan menyuruhya keluar.


"Keluar kau, sekarang! Cepat!" teriak Naren.


Wanita itu ketakutan, ia langsung memunguti pakaiannya dan pergi meninggalkan kamar Naren.


Naren menatap Putra, tangannya menggepal seperti akan memukulnya lagi.


Suara pukulan itu terdengar sangat sadis membuat tangan Naren berdarah.


"Teganya kau mengotori rumahku!"


Suara itu terdengar bergetar seperti mengalami pucak kekesalan yang tinggi, dan selebihnya suara pukulan itu terdengar begitu keras.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2