Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Minta Izin


__ADS_3

Mobil Naren berhenti di depan rumah Inka, mereka masuk ke dalam di sambut oleh Solihin yang sedang duduk.


"Tuan muda, silahkan duduk," ucap Solihin.


Rosida yang mendengae suaminya menyapa seseorang dengan sebutan tuan muda langsung menoleh ke arah pintu. Ia melihat sangat idolanya masuk bersama Inka membuatnya langsung panik.


"Astaga aku kayak beru, jangan sampek tuan muda melihat ku seperti ini," gumam Rosida.


Rosida terlihat sangat panik, Ia mencari kamar mandi tidak menemukannya, padahal kamar mandi itu berada tepat di sampingnya. Ketika Ia sadar, Ia langsung masuk ke dalam dan mencuci wajahnya yang sedang di poles masker.


Naren yang duduk di ruang tamu, tanpa basa basi langsung meminta izin kepada Solihin untuk mengajak Inka bermalam di rumahnya.


"Maaf pak, berhubung besok keberangkatan kami ke Dubai, malam ini saya ingin mengajak Inka untuk bermalam di mansion saya," ucap Naren.


Solihin terkejut mendengar kata " bermalam di mansion."


"Bermalam bagai mana? Apa kalian akan tidur satu ranjang begitu maksudnya?" tanya Solihin dengan wajah yang bingung.


"Bukan begitu!"


Suara mereka terdengar kompak, Inka menatap tajam Naren dan kembali menatap Ayahnya agar tidak salah faham.


"Maksudnya tuan Naren, aku tidur di kamar tamu, di sana ada beberapa asisten rumah tangga yang memang khusus menjaga rumah tuan Naren yah," jelas Inka.


"O ... jadi begitu, tapi Ayah keberatan kamu bermalam di sana, apa benar ada asisten rumah tangga yang sama-sama perempuan?" tanya Solihin.


Tiba-tiba dengan gaya yang centil, Rosida menawarkan diri untuk menemani Inka beramalam di Naren.


"Bagai mana kalo aku saja yang menemani Inka," ucap Rosida.


Solihin dan Inka menoleh ke arah sumber suara, melihat Rosida yang berpenampilan sangat cantik membuatnya terpesona sampai tidak bisa berkedip.


"Mau kemana kau?" tanya Solihin.


"Aku ... mau menemani Inka minep di rumag tuan muda," jawab Rosida.


Inka hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar, Ia menatap kembali Rosida yang masih berdiri di hadapannya.


"Ibu tidak boleh ikut kak Inka, besok siapa yang akan membuatkan ku sarapan. Pokoknya tidak boleh," sahut Jimin.


"Bagai mana dengan kakak mu? Tunggu ... tapi ada benernya juga, gini aja ... Inka saya ijinkan bermalam, kau jangan macam-macam ya," ucap Solihin.


"Baik pak, saya tidak akan berniat jahat dengan anak bapak," ucap Naren.

__ADS_1


Melewati perdebatan panjang membuat Inka dan Naren akhirnya keluar dari rumah Inka, dengan rasa lega Naren pun menarik napas. Ia menatap Inka yang terdiam duduk di dalam mobil.


"Ternyata keluarga mu sangat unik," ucap Naren.


"Unik? Maksudnya tuan Naren apa ya?" tanya Inka.


"Iya, aku merasakan kehangatan di dalam keluarga mu, apa setiap harinya mereka saling beradu emosi seperti itu?" ucap Naren.


"Itu belom seberapa tuan, biasanya ada saja hal-hal yang membuat kami bertengkar. Tapi akhirnya kami baikan sepertu semula, seolah tidak ada masalah," jawab Inka.


Naren merasakan kehangatan di dalam keluarga Inka, aroma keharmonisan yang tak pernah dirasakan olehnya, membuat Naren ingin lebih mengenal Inka.


"Kenapa malah Ayah memperbolehkan Inka tidur di rumah tuan mudah, Ibu juga kepengen," rengek Rosida.


"Sudah lah, Ayah yakin jika bosnya Inka orang yang baik, semoga dia bisa menjaga ucapannya," ucap Solihin.


Rosida yang sudah dandan maksimal berharap bisa menemani Inka tidur di rumah Naren. Tapi nyatanya sesuai harapannya, rasa kesal yang begitu dalam membuat Rosida menghapus make upnya dan tidur mendahului Solihin.


Solihin yang mengetahui hal itu, hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia terus melirik istrinya yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tak lama Solihin pun mengikuti Rosida dan tertidur.


Sampailah mereka masuk ke dalam mansion, melihat ada mobil mewah parkir di depan pintu.


"Seperti mobil ayah," lirih Naren melangkah cepat memperhatikan siapa yang datang menemuinya.


"Ayah ..." panggil Naren.


"Kau sudah pulang, Ayah membawakan mu sup hangat," ucap Bimo.


Tak ingin mencari keributan, Naren pun melangkah masuk ke dalam bersama Inka. Ini terlihat tuan rumah menjadi tamu dan tamu menjadi tuan rumah.


"Sejak kapan ayah kemari?" tanya Naren.


"Mungkin 10 menit lah, lihat lah Ibu mu membawakan mu sup. Dia sendiri yang memasaknya, dia bilang sangat merindukan mu," jawab Bimo.


Inka yang bingung, hanya bisa diam dan sedikit tersenyum. Rasa hatinya Ia ingin kabur menjauh dari keluarga bosnya, tetapi hal yang tidak mungkin untuk di lakukan.


'Banyak penghalang menuju roma, astaga kenapa harus ada orang tuanya tuan Naren. Padahal aku ingin sekali rebahan, badan ku sangat sakit, kepala ku pun harus di rendam. Kapan ini berakhir, tolong aku,' batin Inka.


Erlin pun melihat Naren membawa Inka membuatnya langsung terkejut.


"Siapa dia?" tanya Erlin.


"Hei, siapa nama mu?" tanya Erlin kepada Inka.

__ADS_1


Inka pun menyapa dengan menundukan kepalanya, saat Ia akan menjawab. Tiba-tiba Naren langsung menyautinya.


"Dia Inka, sekretaris pribadi ku," sahut Naren dengan nada dingin.


"O ... sekretaris pribadi sampai larut malam ya di rumah bos nya, he ... he," ucap Erlin.


Inka pun langsung tersinggung dengan ucapan orang tua Naren, tapi apalah daya nya hanya seorang pekerja tak mampu melawan.


'Dasar nenek lampir, kau pikir aku wanita murahan yang mau di bawa kemana aja, emang dia pikit siapa mengatakan hal seperti itu. Awas kau ya,' batin Inka.


"Kenapa Ayah kemari tidak memberi tahu ku?" tanya Naren.


"Ayah kemari, karena Ibu mu rindu, jadi Ayah mampir," jawab Bimo.


"Ayah dengar kau akan ke Dubai besok, apa kau berangkat bersama wanita itu?" tanya Bimo.


"Iya, memangnya ada apa?" ucap Naren.


"Ayah sudah menjodohkan mu dengan putri dari teman Ayah, apa kau mau?" tanya Bimo.


"Masih jaman perjodohan? Aku tidak mau di jodohkan, biarkan aku mencari jalan ku sendiri," jawab Naren.


"Ayah mu benar, carilah wanita yang bisa membantumu dalam mengolah bisnis," sahut Erlin.


"Jika kalian datang kemari hanya ingin menyeramahi ku, mending pulang saja. Aku tidak mau mendengar pertanyaan yang selalu di bahas terus menerus, tidak ada habisnya," tegas Naren.


Naren melangkah kakinya masuk ke dalam kamar, membuat Bimo yang duduk langsung berdiri.


"Naren!" seru Bimo.


"Sudah sayang, kita harus pulang. Mungkin Naren terlalu lelah," ucap Erlin membawa Bimo keluar dari mansion.


Inka haya terpaku diam, ketika melihat kedua orang tua Naren sudah pergi meninggalkan mansion, Inka menyusul orang tua Naren.


"Tuan besar dan Nyonya, maafkan atas sikap tuan Naren," ucap Inka.


Bimo menoleh ke arah Inka, menatap Inka dengan tatapan yang menilai menampilannya.


"Apa kau sekretaris pribadi Naren? Aku harap kau harus menjaganya dengan baik, karena dia sudah saya jodohkan dengan putri dari teman saya," ucap Bimo.


Inka pun menganggukan kepalanya, dan melihat Bimo dan istrinya pergi menjauh dari hadapannya, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Apa yang Ayah bicarakan sama kamu?" tanya Naren.

__ADS_1


Ketika Inka akan menutup pintu rumah, betapa terkejutnya Ia mendengar suara yang bergema di telinga membuat Inka langsung menoleh ke arah belakang.


BERSAMBUNG....


__ADS_2