Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Pertahanan dan Kekuatan


__ADS_3

Saat semua orang berbubar dari ruang loby, Inka yang langsung duduk di kursi tunggu mahasiswa, ia mendengar sautan kekaguman para mahasiswa baru, mengikuti langkah Kenzo.


Inka hanya memandanginya dari kajuahan, berbeda dengan Geri yang heboh seperti mleihat idolanya.


"Kau ini norak," ucap Inka mencubit lengan Geri.


"Au, sakit Inka!" ucap Geri.


"Dia itu tipe idamanku, lihatlah cara dia berjalan dengan raut wajahnya yang dingin, duuh membeku deh hati ini," kata Geri.


Ucapan Geri membuat Inka merasa geli.


"Lebay, kau lelaki dia lelaki, apa kalian akan adu pedang?" tanya Inka.


"Heh mulutmu," jawab Geri.


Tiba-tiba ada yang mendekati Inka.


"Hai," sapa Icha.


Inka langsung menoleh ke arah wanita seksi yang duduk di sampinya.


"Kau siapa?" tanya Inka.


"Kenalin, aku Icha, aku mahasiswa baru juga disini, salam kenal," jawab Icha mengulurkan tangannya.


Inka dengan terpaksa membalas uluran tangan Icha.


"Aku Inka, dia Geri," ucap Inka.


"Kenapa kalian mengikuti kelas platinum?" tanya Icha.


"Kami bekerja di prusahaan Adwe Group," jawan Geri dengan lantang, ia tidak menyukai Icha yang terlihat sangat akrab.


"Wah, Adewe Group, astaga itu perusahaan terbesar se asia tenggara, dan ku dengar CEOnya sangat tampan, apa itu benar," tanya Icha.


"Kau tahu dari mana?" tanya Geri.


Inka hanya terdiam, ia tak mengatakan apapun.


"Aku dengar dari berita yang beredar," jawab Icha.


"Kapan kita mulai belajar?" tanya Inka.


"Lusa, nih jadwalnya," jawab Icha.


Inka langsung mencatat jadwal kegitan belajar, setelah itu, ia keluar dari kampus dengan Geri.


"Sudah tidak ada kegiatan lagi ya, aku mau balik," ucap Inka.


"Kenapa balik? Kita belom makan bersama," tanya Icha.


"Lusa kita masih bisa ketemu," jawab Inka.


Akhirnya Inka pun berjalan meninggalkan Icha, ia mulai memasuk area taman, tak di sadari saat ia berjalan dengan Geri, tiba-tiba ada yang memanggilnya.

__ADS_1


"Kakak cantik!" panggilan itu membuat Inka langsung menoleh ke arah sumber suara.


Inka langsung menghentikan langkahnya ia sangat terkejut melihat di dapannya ada Mociana, berjalan mendaktinya.


"Wagat!" seru Inka.


Geri pun ikut bingung dengan Inka yang terlihat dari wajahanya sangat panik.


"Apanya yang gawat?" tanya Geri.


Belom sempat menjawab, Mociana sudah didekat Inka.


"Kakak! Apa kabar," sapa Mociana.


Inka sudah tidak bisa menghindar lagi, ia langsung melambaikan tangannya dengan wajah yang datar.


"Kenapa Kakak disini? Apa Kakak kuliah juga?" tanya Mociana.


"Aku ... di sini kuliah, kamu apa kabar?" jawab Inka.


"Kabar ku baik Kak, oiya, Kakak satu ini siapa? Apa dia pacar Kakam?" tanya Mociana.


"Bukan! Enak saja, aku teman alias bestinya Inka," jawab Geri.


"Jadi Kakak cantik ini namanya Inka, okay baik lah," ucap Mociana.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Inka.


"Main Kak, aku jenuh di rumah, jadi Kak kenzo mengajakku kemari," jawab Mociana.


"Baiklah kalo begitu, kamu bisa menikmati dan berjalan-jalan di kampus ini, aku mau pulang ada pekerjaan lain," ucap Inka.


"Eh tidak usah, aku buru-buru," ucap Inka langsung berlari menjauh dari hadapan Mociana.


Mociana kehilangan jejak Inka yang sudah menjauh darinya. Inka berlari kecil sampai di parkiran, ia langsung naik motor milik Geri dan meninggalkan kampus.


Sampailah dikantor Adewe Group.


Inka langsung masuk ke dalam, tanpa memunggu Geri, Inka hampir saja melakukan hal yang sama.


"Inka!" teriak Geri.


Langkah Inka pun terhenti, ia langsung menoleh ke arah Geri.


"Ada apa?" tanya Inka.


"Lepas dulu helmnya," jawab Geri.


Inka langsung melihat ke atas, ternyata helm itu masih menempel di kepala Inka.


Inka langsung melepaskan helm itu san memberikannya kepada Geri.


"Nih helmnya," ucap Inka, langsung berjalan meninggalkan Geri.


Inka berjalan masuk ke dalam kantor, ia langsung duduk di mejanya, meletakan beberapa buku yang Inka bawa.

__ADS_1


Dengan hati yang senang, Inka masuk ke dalam ruangan Naren tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Saat pintu itu terbuka, Inka yang akan menyapa dengan senang, tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi datar, saat melihat Alexa memeluk Naren.


Suara pintu itu membuat Naren menoleh ke arah pintu yang terbuka, Naren sangat terkejut melihat Inka sudah kembali ke kantor tanpa memberi tahu Naren.


Naren langsung melepaskan pelukan Alexa, ia langsung mendekati Inka yang masih berdiri di depan pintu, memandangi mereka berdua.


Hatinya seperti tergunjang becana, Inka sangat terkejut melihat Naren yang seperti menenangkan Alexa yang menangis sendu.


"Maaf mengganggu," ucap Inka langsung menutup pintu itu.


Inka berjalan menuju mejanya, tanpa ekspresi apapun, ia hanya diam dan langsung melihat jadwal meeting yang akan dilakukan siang nanti.


Naren yang merasa Inka salah paham langsung menghampiri Inka.


Alexa yang menggunakan air mata palsunya langsung tersenyum bahagia, melihat Inka yang cemburu dengannya.


"Inka! Tunggu!" seru Naren.


Inka langsung menoleh ke arah Naren. "Ada apa?" tanyanya dengan datar.


"Kamu salah paham, aku gak ada niatan apapun dengan Alexa, dia hanya bersedih dan aku berusaha menenagkannya, apa aku salah," jelas Naren.


Inka tidak memperdulikan semuanya, ia langsung menata berkas yang akan dia kasihkan kepada Pak Robi.


"Inka, tolong dengarkan penjelasanku dulu," rengek Naren.


Inka langsung menatap Naren. "Penjalasan apa? Bukankah Tuan sudah menjelaskan semuanya, jadi saya rasa cukup. Kalo begitu saya mau mengantar berkas ini pada Pak Robi, permisi," ucap Inka.


Naren melihat Inka yang berjalan begitu saja masuk ke dalam ruangan Robi, ia sejenak mengatur napas.


"Ada apa?" tanya Robi.


"Saya memberikan berkas ini untuk Bapak, nanti jam 2 akan ada rapat dengan Klien dari Singapur Pak," jawab Inka.


"Baiklah," ucap Robi.


Inka langsung meletakan berkas itu dan kembali ke mejanya, saat ia akan membuka pintu ruangan Robi, ia melihat Naren masih ada di meja Inka.


"Kenapa dia tidak pergi sih," lirik Inka.


Inka masih ngintip dari dalam ruangan Robi.


Cukup lama Inka berada di ruangan Robi, membuat Naren yang lama menunggu langsung masuk ke dalam ruangan Robi, karena ia merasa curiga Inka masuk ke dalam dan belum juga keluar.


Saat Naren membuka pintu, tepat sekali Inka menahan pintu itu, mereka pun saling membuka dan menahan pintu ruangan Robi.


Robi yang melihat tingkah Inka yang menahan pintu ruangannya merasa heran.


"Apa yang kamu lakukan? Apa pintunya susah untuk di buka," tanya Robi.


"Enggak Pak, pintunya enak. Cuman ada monster aja di depan ruangan Pak Robi," jawab Inka.


"Hah monster?" tanya Robi dengan wajah yang bingung.

__ADS_1


Naren yang berusaha akan masuk ke dalam ruangan Robi, sedangkan Inka berusaha untuk menahan pintu itu, mereka saling mengerahkan tenaga untuk bisa masuk ke dalam.


"BERSAMBUNG....


__ADS_2