Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Ketakukan Naren.


__ADS_3

Mobil berhenti di depan pintu masuk kantornya, Inka membukakan pintu mobil bagian belakang, Naren yang keluar dari dalam mobil langsung berjalan di ikuti Inka dari belakang, Mereka mendengar beberapa kariyawannya sedang memperbincangkan bosnya.


Hal itu membuat Naren berhenti sejenak menatap layar monitor besar yang ada di aula, berita pesta semalam menyebar dengan cepat. Membuat Naren sangat kesal dengan berita yang tidak benar.


Naren langsung berjalan menuju ruangannya, Ia melirik Inka.


"Aku ingin kau menghentikan semuanya, berita itu sangat meresahkan," ucap Naren.


"Baiklah, saya akan urus semuanya tuan," sahut Inka.


Naren kembali berjalan dengan cepat, sampai masuk ke dalam ruangannya. Inka langsung mengecek berita yang beredar dan menghubungi pihak station untuk tidak menyebar luaskan berita yang tidak benar. Dengan cepat semua berita itu langsung hilang di telan bumi.


Sebagian station TV tengah mengalami kerugian besar karena menyebarkan berita yang faktanya tidak benar. Inka kembali ke dalam ruangan Naren, dan seperti biasa Ia langsung memberi tahu jika ada rapat di luar kantor.


Mereka pun keluar kantor menuju sebuah hotel mewah, untuk menemui kliennya.


"Persiapkan dirimu, karena klien ku hanya bisa berbahasa Inggris," ucap Naren.


"Baik tuan," sahut Inka.


Naren masih meragukan kemampuan Inka dalam berbahasa Inggris, Ia tidak pernah tahu, kerasnya perjuangan Inka untuk bisa mahir dalam berbicara bahasa Inggris. Ia rela untuk tidur larut malam dan mengingat setiap vocabulary .


Masuk ke dalam hotel mewah, Naren merasa sangat gugup, karena Ia merasa sangat khawatir dengan Inka yang terlihat santai-santai saja.


Saat mereka bertemu dengan klien Naren, dengan ramah Inka menyapa kliennya membuat Mr. Zei sangat kagum dengan kecantikam yang di miliki Inka.


Mereka pun berbincang seperti seorang yang sudah akrab, tidak ada ketegangan yang terjadi di dalam rapat. Naren pun sangat heran, dengan tingkah Inka yang terlihat seperti wanita pembisnis. Ia terlihat sangat keren di mata Naren.


Rapat pun telah selesai, sampai akhirnya Inka dan Naren pamit dan meninggalkan hotel itu, dengan rasa lega Inka menghembuskan napasnya.


'Akhirnya semua berjalan lancar, Mr. Zei sangat tampan, dia pria idaman ku,' batin.


Di dalam mobil, Naren merasa kagum dengan cara bicara Inka kepada kliennya. Ia terus menatap dari kursi belakang. Mereka pun kembali ke kantor.

__ADS_1


"Kau belajar dari mana bahasa Inggris," tanya Naren sambil jalan menuju lift.


"Aku mengikuti privat bahasa Inggris tuan," jawab Naren.


"Kerja bagus," ucap Naren tersenyum.


Inka yang mendapat senyuman dari Naren merasa bingung karena ini pertama kalinya pekerjaannya mendapat apresiasi walau hanya sebatas senyuman.


'Apa dia sedang bahagia hari ini? Tingkahmya sangat aneh,' batin Inka.


Jam sudah menunjukan pukul 09.00 malam, di mana Inka masih stay di atas leptopnya. Setelah melihat Naren akan keluar dari ruangannya, Inka pun ikut keluar mengikuti dari belakang.


Melihat kondisi ruangan kantor itu sangat lah sunyi dan gelap, membuat Naren mempercepat langkahnya. Inka yang berusaha mengikuti langkah kakinya merasa kualahan, dan akhirnya Ia pun menyerah dan duduk di kursi dekat ruang tunggu.


"Astaga, dia ternyata bos yang sangat gila. Baru saja dia memberi ku apresiasi senyuman, tiba-tiba dia menyiksaku lagi, kaki dan tangan ku terasa mau patah," gumam Inka.


Naren yang terus berjalan tidak menghiraukan suara apapun, karena Ia merasa takut ketika melewati departemen penelitian milik kantornya. Ruangannya yang sangat sepi, membuat Naren lebih mempercepat langkahnya, sampai akhirnya terdengar suara pintu terbuka. Membuat Naren menghentikan langkahnya.


Jantungnya mulai berdetak sangat cepat, membuatnya tak berani menoleh. Ia hanya mampu berdiri ditempat, seketika badannya terasa kaku.


"Tuan, apa terjadi sesuatu?" tanya Inka berusaha memegang pundak Naren.


Naren yang merasakan sentuhan itu langsung menggerakan tangannya dan memeluk Inka dengan erat, Inka yang mendapat perlakuan itu merasa sangat bingung.


"Tolong, aku sangat ketakukan," ucap Naren membuat Inka terpaksa menerima pelukan itu.


"Memangnya ada apa tuan? Apa ada hantu?" tanya Inka.


"Coba kau lihat ruangan departemen penelitian itu, ada suara pintu terbuka berulang kali. Aku yakin itu adalah hantu," kata Naren.


Ketakutan Naren sangat mirip dengan sang adiknya, Inka dengan keberaniannya langsung menoleh ruangan departemen penelitian. Terlihat pintu itu terbuka berulang kali seperti ada orang yang memainkan nya.


Inka melepaskan pelukan Naren dan berjalan menuju ruang departemen penerlitian. Dengan rasa penasaran Ia berjalan membawa tasnya untuk memukul jika ada seseorang yang sengaja memain kan pintu.

__ADS_1


Inka pun melihat tidak ada seorang pun ada di dalam ruangan itu, tetapi rasa penasarannya masih membuat nyali Inka semakin membara. ternyata Inka melihat seekor kucing rumahan yang sangat lucu membuat Inka langsung tersenyum senang.


"Hei ... kenapa kau ada di sini?" tanya Inka.


Naren yang melihat Inka berbicara sendiri merasa sangat bingung Ia mengira bahwa Inka adalah wanita yang mampu berbicara dengan makhluk halus.


'Apa dia seorang anak dukun? Lihatnya ... wajahnya terlihat sangat lucu saat menatap di balik pintu? Ini sangat aneh,' batin Naren.


Naren terus memperhatikan Inka yang semakin masuk ke dalam pintu itu, seperti sedang mengambil sesuatu. Saat Inka belom juga keluar dari balik pintu itu, Naren merasa panik. Ia sudah tidak ada pilihan lagi terpaksa akan menelpon petugas keamanan yang berjaga malam di kantornya.


Inka pun keluar dari balik pintu membawa kucing yang sangat lucu, Naren yang baru saja menelpon petugas keamaan. Melihat Inka membawa seekor kucing membuatnya semakin bingung.


"Apa suara tadi itu kelakukan kucing?" tanya Naren.


Inka menganggukan kepalanya menandakan iya, Naren merasa malu dengan tingkahnya yang sempat memeluk Inka dengan begitu erat karena rasa takutnya yang berlebihan.


Untuk menghilangkan rasa malunya, Ia langsung bersikap seolah pria yang pemberani.


Naren berjalan meninggalkan Inka yang langkahnya sangat mungil karena Ia sambil mengelus kunci yang sangat imut itu.


Sampai di depan kantor, Inka langsung memberi kucing itu kepada pak Dodi.


"Pak Dodi, saya menemukan kucing lucu ini. Saya titip di sini ya, siapa tahu besok ada yang mengambil kucing ini," pesan Inka.


"Baiklah Inka, kau sangat baik sekali. Aku menjaga dengan baik," sahut Dodi.


Inka pun menyerahkan kucing itu dan berjalan keluar dari kantor, Naren yang masih melihat dari kejauhan langsung memanggil Inka.


"Inka ...!" panggil Naren.


Inka pun menoleh dan menunjuk dirinya, Naren menganggukan kepalanya, membuat Inka langsung mendekati Naren.


"Biar aku antar, masuk lah ke dalam," ucap Naren.

__ADS_1


Membuat Inka masih terpaku diam, menatap Naren, Ia langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar suara klakson mobil Naren.


BERSAMBUNG.


__ADS_2