Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Makan malam.


__ADS_3

Naren berjalan, diikuti Inka dari belakang. Tidak sengaja mata Inka mrlihat Kenzo dengan ngobrol bersama adiknya Mociana.


"Kak, foto kan aku di sini ya," pinta Mociana.


Kenzo pun menuruti kemauannya, Inka merasa sangat panik, karena sebelum berangkat ke air mancur yang ada di dubai, ia sempat salah masuk mobil. Dan mobil yang di masukinya adalah mobil Kenzo yang sedang menunggu adiknya.


"Matilah riwayat ku, bagai mana jika pria itu tau aku ada di sini? Apa dia akan menghukumku?" gumam lirih Inka.


"Kau ini bicara dengan siapa?" tanya Naren.


"Tidak tuan, hanya perasaan tuan saja," jawab Inka.


"Kau mau foto?" tanya Naren.


Inka hanya melebarkan senyumanny, ia masih memantau Kenzo yang mulai berjalan melewati Naren, dengan cepat Inka langsung memegang tangan Naren. Membuat Naren yang merasa tangannya di pegang dengan erat oleh Inka merasa terkejut.


"Lepaskan tangan ku," ucap Naren.


Inka terlihat seperti sedang menghindari seseorang, membuat Naren semakin kesal karena ucapannya tidak didengar sama sekali oleh Inka.


Saat melihat Kenzo seperti melihatnya, pegangan erat tangan nya ke pada Naren semakin erat membuat Naren langsung menarik tangan Inka dan memegang pundaknya seperti akan mencium Inka.


Inka yang mendapat perlawanan dari Naren langsung memejamkan matanya, ia tidak berani menatap Naren. Naren terus menatapnya dengan lekat.


'Kenapa jantungku berdetak sangat cepat? Kenapa saat menatap wanita ini rasanya ingin ku menciumnya, astaga ... apa yang terjadi dengan diriku?' batin Naren.


Tidak kuasa melihat wajah Inka, Dengan cepat Naren menjauh darinya.


'Apa yag ingin tuan Naren lakukan? Apa dia ingin melindungiku dari Kenzo? Tapi apapun alasannya dia telah menolongku, aku harus mengucapkan terima kasih,' batin Inka.


Inka yang memperhatikan Kenzo dan adiknya tidak terlihat lagi, membuatnya merasa lega. Ia baru menyadari jika kehilangan jejak Naren, dengan cepat Inka berlari ke sana kemari tetapi tidak melihat Naren. Merasa sangat lelah akhirnya ia duduk di kursi.


"Kemana perginya tuan Naren, membuatku kelelahan jika terus berlari," gumam Inka.


Inka melihat toko escream membuatnya ingin masuk ke dalam, dengan penuh percaya diri. Inka memesan escream yang rasa vanila dan strowberi. Saat ia menunjuk escream itu, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


"Kakak cantik!" panggil Mociana.

__ADS_1


Inka tidak menyadari jika dirinya panggil oleh seseorang, tetapi ia melihat di sekitaran toko itu tidak ada pengunjung selain dirinya. Membuat Inka menoleh ke arah sumber suara.


Betapa terkejutnya Inka melihat Mociana sedang melambaikan tangannya, membuat Inka tidak bisa berbuat-buat apa-apa.


'Kenapa aku harus bertemu dengan dia, ya ampun rasanya aku ingin pulang saja kerumah,' batin Inka.


Naren yang menunggu Inka di salah satu cafe, tidak melihat Inka. Hampir satu jam ia menunggu tetapi Inka tak kunjung datang. Naren mulai panik, dan meninggalkan temannya yang sedang mengobrol dengannya.


"Aku tinggal dulu ya, sepertinya asistennya nyasar," pamit Naren.


Naren mencari keberadaan Inka, semua toko yang ada di air mancur pun ia masuki satu persatu, sampai akhirnya toko escream yang belom ia masuki.


Naren langsung masuk ke dalam, melihat Inka yang sedang berdiri di depan kasir untuk membayar escream yang dia pesan. Dengan cepat Naren langsung menyodorkan ATMnya, membuat Inka langsung menoleh.


"Tuan," panggil Inka.


Naren langsung membayar semuanya, dan menarik Inka untuk keluar dari toko itu.


Kenzo memperhatikan Inka yang datang ke dubai dengan seorang pria, ia berfikir itu adalah kekasihnya. Mociana yang melihat Inka di tarik oleh seorang pria tampan, membuatnya bersedih. Ia berharap kakak cantik yang selalu keluar dari mulutnya saat memanggil Inka menjadi kekasih kakaknya.


"Dia ke sini bersama seorang lelaki, pasti itu kekasihnya. Mereka terlihat sangat serasi, cantik dan tampan," ucap Mociana.


Mociana menatap kesal kakaknya, "aku ingin menjodohkan kakak dengan kak Inka, dia wanita yang baik dan sangat cantik," ucap Mociana.


"Aku tidak mau!" tolak Kenzo.


"Kenapa kak? Kan dia juga wanita idaman kakak, rambut panjang, badan putih, langsung, tinggi dan pintar bahasa inggrisnya, atau jangan-jangan kakak cemburu melihatnya dengan pria lain, hayo ngaku," goda Mociana.


"Sudah jangan berisik, habiskan escream mu dan kita kembali ke hotel," ucap Kenzo.


"Kakak ini memang dari dulu menyebalkan, andai masih ada mama sama papa pasti akan aku adukan semuanya pada mereka," gerutu Mociana memakan escreamnya.


"Tuan, tuan dari mana saja? Aku mencari tuan setiap tempat tapi tidak menemukan tuan," ucap Inka.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa ada di toko itu?" tanya Naren.


"Aku hampir putus asa mencari tuan, terus aku melihat toko escream, ya sudah aku masuk ke dalam untuk mendinginkan otak ku," alasan Inka.

__ADS_1


"Eh, tapi ... tuan datang membayar escream ku, terima kasih tuan," sambungnya.


Naren terus berjalan, kembali ke dalam mobil. Dengan cepat Inka langsung mengikuti langkah Naren yang super cepat.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membuat Inka menyesali kunjungannya ke ari mancur, ia berniat ingin mengabadikan momet di air mancur, malah terjadi hal yang tidak diinginkan.


Akhirnya Inka memfoto escream yang ia pegang lalu memposting unggahannya. Melihat Inka memposting foto escream di tempat yang berbeda membuat Nina langsung mengomentari unggahannya.


"Apa kau sedang berada di dubai?"


"Pantas saja susah di hubungi, apa kabar mu?"


Comenan itu langsung masuk ke dalam notic ponsel Inka, membuat ponselnya bergetar.


Inka tidak memperdulikan getaran ponselnya, ia sedang menikmati escream yang sangat enak. Sampai di hotel, Inka langsung masuk ke dalam bersama Naren.


"Nanti malam kita akan makan malam bersama para pengusaha Dubai, jadi jaga sikapmu," ucap Naren.


"Baik tuan," ucap Inka masuk ke dalam kamarnya.


Inka langsung memeriksa ponselnya, melihat Nina yang mengomentari unggahannya, membuatnya langsung mengirim pesan.


"Nanti setelah ku pulang dari Dubai, kita bertemu. Banyak yang ingin aku ceritakan," pesan Inka melalui aplikasi Whatsapp.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik."


Nina membalas pesan yang di kirim oleh Inka.


Inka menatap cermin, melepaskan ikatan rambutnya. Ia membiarkan rambutnya terurai dengan indah.


Selesai membersihkan diri, ia lamgsung merias diri. Membiarkan rambutnya terurai dengan indah, membuat Inka langsung meletakan ponselnya ke tas. Ia langsung keluar dan melihat Naren yang sudah menunggu di depan.


"Ayok berangkat," ajak Naren.


Inka berjalan mengikuti Naren dari belakang.


'Kenapa malam ini dia terlihat sangat cantik dengan rambut yang di urai. Semakin aku terus menatapnya semakin aku ingin memilikinya, sepertinya ini hanya omong kosong diriku, mana mungkin aku menyukai wanita yang menyebalkan seperti dia,' batin Naren.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2