
Mereka berdua asik chatingan di tengah malam, mambuat Inka bingung harus berkata jujur atau tidak kapada Nina, jika dirinya sedang jatuh cinta dengan atasnnya.
Terlalu keras berfikir, membuat Inka mulai terpijam, sehingga lupa jika harus membalas pesan dari Nina.
Nina pun mengira jika Inka sudah tertidur, Nina pun meletakan ponselnya dan ikut tertidur.
Malam yang sangat sunyi, melihat semua makhluk bumi sedang terlelap dalam tidurnya, mereka saling menikmati mimpi yang selalu menghampirinya setiap malam.
Sedang asik bermimpi indah, tiba-tiba suara teriak yang sudah menjadi khas keluarga Sholihin, menghancurkan mimpi yang sedang di nikmati Inka. Ia terpaksa membuka matanya karena sang ibu setiap pagi teriak memanggil nama Jimin.
"Jimin! Bangunlah! Ini sudah siang!" teriak Rosida sambil memasak di dapur.
Inka langsung terbangun, ia terdiam seperti orang bingung.
"Astaga, kepalaku sakit sekali, aku malas untuk berangkat kerja," ucap Inka kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal.
Inka terdiam sejenak, ketika melihag jam sudah menunjukan pukul 06:00, membuat Inka langsung bergegas mandi.
Inka keluar dari kamar, melihat Jimin yang baru saja bangun, membuatnya mempercepat langkahnya. Jimin yang menyadari kakaknya akan mandi, ia pun langsung mengikuti langkah kakaknya.
Mereka balapan untuk sampai di kamar mandi, tanpa melihat-lihat Jimin kepalanya membentur tembuk, membuat Inka yang menyaksikan, tertawa keras.
"Ha ... ha ... ha, aku yang menang," ucap Inka menjulurkan lindahnya.
"Kau sangat curang Kak," kesal Jimin, melihat Rosida menggoreng naget kesukaannya, membuat Jimin mendekati meja makan.
Jimin berniat ingin mencicipi naget itu, ia mengira Rosida tidak melihatnya, nyatanya saat Jimin mengulurkan tangannya ke arah sepiring naget. Dengan keras pukulan itu mendarat ditangan Jimin, membuat Jimin meringis kesakitan.
"Takut Bu! Kenapa pelit sekali, aku hanya ingin mencicipinya, lihatlah naget itu meledekku," ucap Jimin.
"Gosok gigimu terlebih dahulu, kau ini sangat jorok. Mana ada naget itu ngelewek di depanmu, alasan saja," oceh Rosida.
Jimin tak mau berdebat dengan ibunya, ia melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup.
"Kak! Cepag sedikit! Nanti aku terlambat!" teriak Jimin.
Jimin langsung menggedor kamar mandi, membuat Inka yang masih di dalam langsung menyautinya.
"Sebentar lagi, perut kakak mules!" sahut Inka.
"Alamak, kalo Kakak udah BAB pasti lama, sudah pasti telat aku," gerutu Jimin, di dengar oleh Rosida.
"Makanya, kalo Ibu ngebangunin kamu, langsung bangun! Itulah kalo gak denger ucapan Ibu," sahiut Rosida.
Pintu kamar mandi pun terbuka, membuat Jimin langsung masuk, ia merasa bau kotoran manusia, membuatnya langsung keluar lagi.
"Kakak! Kau abis mengeluarkan apa! Bau sekali kamar mandinya!" seru Jimin.
Inka menahan tawanya, membuatnya menoleh kearah Jimin yang terlihat sangat kesal dengannya.
__ADS_1
Inka langsung tersenyum dan langsung masuk kedalam kamarnya.
"Dasar sialan!" kesal Jimin.
Lab kotor melayang mengenai wajah Jimin, membuatnya langsung mengambil lab itu.
"Siapa yang berani melempar lab kotor ini! Mana bau!" seru Jimin.
"Ibu! Memangnya kenapa?" tantang Rosida sambil melotot ke arah Jimin.
Jimin langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Bukannya mandi malah leha-leha," gerutu Rosida.
.
.
.
Alexa terbangun, dan langsung mandi. Setelah mandi ia keluar dari kamarnya, melihat ayahnya sudah duduk untuk sarapan.
"Morning sayang," sapa Edo menatap wajah Alexa yang sembab.
"Apa kau menangis?" tanya Edo.
"Matamu tidak bisa di bohongi, ada apa? Katakam pada ayah," ucap Edo.
Alexa menatap sang ayah dengan tatapan yang seolah ingin menanyakan apakah Naren membatalkan perjodohannya atau tidak, tetapi niatnya untuk mengatakan semua itu tidak mampu terucap.
"Apa kau sedang bimbang? Kemarin Ayah bertemu Naren," ucap Edo.
Alexa langsung menatap tajam ayahnya.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Alexa.
"Dia mengatakan jika tidak mencintaimu, dan tidak menyetujui perjodohan ini," jawab Edo.
"Tapi aku mencintainya, hidupku hampa tanpanya," ucap Alexa.
"Lupakan dia, lanjutkan S2 mu di Nw York," perintah Edo.
Alexa menatap ayahnya dengan wajah yang kesal, ia mengira ayahnya tidak menyayanginya.
"Aku tidak akan berhenti untuk mengejar cinta Naren," ucap Alexa, langsung pergi meninggalkan Edo yang sedang mekan.
Edo tidak mencegah Alexa pergi, karena ia sangat memahami sifat putrinya yang sangat ambisi.
Alexa langsung keluar rumah dan berjalan menuju mobilnya yang sedang di lab oleh pelayannya.
__ADS_1
"Mau pergi Non?" tanya Ujang.
"Iya," jawab Alexa.
Ujang langsung menyingkirkan semua alat untuk membersihkan mobil Alexa.
Alexa langsung menyalakan mobilnya, ia langsung melajukan mobilnya keluar rumah.
"Sial! Apa aku harus pergi ke rumah orang tua Naren?" ucap Alexa sambil menyetir mobilnya.
Inka yang baru saja turun dari bus, membuatnya langsung ke rumah Naren, Inka tidak mengetahui jika Naren sudah dua hari tidak pulang ke rumahnya.
Dengan girang Inka, berjalan di pikir trotoar jalan komplek dan masuk ke dalam rumah Naren.
Penjaga gerbang pun tidak memneri tahu Inka jika Naren tidak ada di rumahnya.
Seperti biasa, Inka masuk ke dalam rumah Naren dan langsung ke ruang ganti, untuk menyiapkan pakaian untuk Naren. Tetapi, Inka merasa ruangan ini sangat berbeda, membuat Inka langsung keluar dan mencari asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Naren.
Rumah itu terlihat sangat kotor, tidak ada asisten rumah tanggan yang Inka liat, rumah itu sangat sepi dan bau asap rokok yang menyengat, membuat Inka terus memperhatikan setiap rumah Naren.
"Rumah ini seperti tidak terurus, kemana perginya asisten rumah tangga? Apa Naren memecatnya?" ucap Inka, masuk ke dalam kamar Naren.
Saat ia membuka pintu kamar itu, betapa terkejutnya ia melihat ada sepatu wanita yang menghalangi pintu itu itu terbuka.
Persaaan Inka sudah tidak karuan, ia merasa penasaran dengan wanita yang ada di kamar Naren.
Pintu pun berhasil terbuka, Inka langsung masuk ke dalam kamar Naren, ia melihat baju dan daleman bertebaran di sembarang tempat, membuat Inka langsung melonggo karena terkejut.
Inka menoleh ke arah ranjang Naren, ia melihat wanita cantik di baluti selimut sedang tertidur sambil memeluk Putra.
Inka yang awalnya kaget, ketika ia memperhatikan pria yang tidur bersama wanita itu, ternyata bukan Naren, karena warna rambut pria itu berwarna kuning.
'Dia adiknya Naren? Apa mereka abis melakukan hubungan terlarang? Astaga pagi-pagi mataku ternodai oleh hal begituan, lalu kemana perginya Naren,' batin Inka.
Inka perlahan keluar dari kamar Naren, tanpa membangunkan mereka berdua.
"Kemana perginya Naren?" ucap lirih Inka.
Inka langsung memeriksa ponselnya, ia langsung menghubungi Naren, tetapi tidak ada jawaban darinya.
Inka berulang kali menelpon sampai ia merasa kesal dengan Naren, tanpa menunggu kabar dari Naren, Inka langsung keluar dari rumah Naren.
"Jika kau tetap tidak mengangkat telponku, akan ku makan sampai habis, awas kau ya," geram Inka.
Inka akhirnya memesan taksi agar lebih cepat sampai di kantor.
"Ya ampun Jeng Inka!"
BERSAMBUNG....
__ADS_1