Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Kegelian Robi


__ADS_3

Inka datang menemui Robi, ia menanyakan tentang keluarga Bimo, Robi menceritakan yang dia tahu, membuat Inka merasa kesal dengannya.


"Memang ya, pria. Jika mempunyai uang banyak pasti memiliki wanita simpanan, dasar pria kurang ajar!" geram Inka.


"Apa kau menganggap semua pria seperti itu? Aku pria dan aku tersinggung dengan ucapanmu?" tanya Robi.


"Jika kau tersinggung, itu artinya kaulah pelakunya," jawab Inka.


Perdebatan mereka berhenti karena waktu yang sudah sangat larut, Inka pun kembali ke kamarnya, ia langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Inka menikmati sentuhan lembut kasur itu, membuatnya mulai terhanyut dalam mimpi.


Malam yang panjang, gelap gulita. Tercipta kesunyian dibalik kedamaian, hembusan angin, membuat rembulan malam mengayunkan harapan, setiap tumbuhan untuk mendapatkan sinarnya, tapi ... sinar itu hanyalah angan yang tak bisa dipastikan kapan datang.


Mata yang masih melekat, sayup-sayup terbuka secara perlahan. Memperhatikan sudut setiap ruangan, ia berfikir tempat apa ini.


"Aku dimana?" tanya Naren.


Saat Naren bangun, tiba-tiba rasa mual itu datang tanpa di undang, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Huek ... huek."


Suara itu terdengar dari dalam kamar mandi.


Setelah menghabiskan semua isi yang ada di dalam perutnya, Naren langsung kembali ke ranjangnya. Ia terlihat sangat lemas, dengan cepat Naren langsung merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur.


Naren kembali tertidur pulas, ia tidak memperdulikan kondisinya yang tidak menggunakan celana panjang. Ia melepasnya karena sempat ingin buang air besar.


Inka pun terbangun karena alarm ponselnya bukan lagi alarm suara ibunya, ia mengerjapkan matanya berulang kali, dan akhirnya ia terbangun.


Posisi duduk lah yang sangat enak untuk melamun terlebih dahulu sebelum mandi, itulah kebiasaan Inka saat bangun tidur.


Ia membuka jendela, mulai terlihat sinar sunrise, membuat Inka menikmati pemandangan itu.


"Wah ... Sunrisenya terlihat sangat indah," ucap Inka.


Berbeda dengan Robi yang semalam pun ia akhirnya mabuk dan berdansa dengan karyawan perusahaan Adewe lainnya. Ia pun tidak masuk ke dalam kamarnya, ia tertidur di ruangan VIP yang sempat di gunakan untuk pesta semalam.


Semua orang terkapar di dalam ruangan itu, terlihat bagaikan terkena bencana alam.


Geri yang tidur di dekat Robi, tanpa menyadari di sampingnya adalah Robi, dengan erat ia memeluknya. Begitu pula Robi yang membayangkan wanita impiannya memeluk tangannya, dengan penuh kehangatan. Robi menyambut pelukan itu dan mereka saling berpelukan.


Mereka berpelukan seperti teletabis, ada salah satu karyawan yang bangun dari tidurnya karena mabuk, saat melihat Robi, ia langsung menutup mulutnya, ia tidak menyaka jika Pak Robi, tangan kanannya Bos Naren ternyata menyukai sesama jenis.


Tanpa mengatakan apapun, ia langsung membangunkan mereka yang masih tertidur, untuk segera keluar dari ruangan VIP ini.


Saat semua orang terbangun, mereka pun melihat Robi dan Geri saling berpelukan begitu mesra, membuat mereka pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja.


"Astaga, ini sangat mustahil. Aku tidak menyangka jika Pak Robi ternyata hom ..."

__ADS_1


Ucap salah satu karyawan yang pertama kali melihatnya.


Menjadi perbincangan hangat di pagi hari, Inka yang keluar dari kamarnya, langsung mendekati kerumunan yang ternyata mereka adalah teman kerjanya.


"Ada apa? Apa kalian tidak pulang?" tanya Inka.


"Ini kami mau pulang," jawab karyawan itu.


Inka melihat pintu ruangan VIP itu tertutup rapat, membuatnya untuk memastikan apakah masih ada orang atau tidak.


"Inka! Jangan masuk!" cegah karyawan itu.


Inka menoleh ke arahnya, dengan wajah bingung dan penasaran.


"Ada apa? Apa ternjadi sesuatu?" tanya Inka.


Karyawan itu menganggukan kepalanya, membuat Inka semakin penasaran.


Inka membuka pintu ruang VIP itu, ia sempat di cegah oleh teman kerjanya, tetapi rasa penasaran yang begitu dalam, akhirnya pintu itu terbuka dan Inka menatap dengan tatapan yang sangat terkejut melihat Robi dan Geri berpelukan.


"Astagfirulloh! Apa yang kalian lakukan?" tanya Inka memukul tangan Geri.


Geri tidak merspon apapun, karena mereka sedang di landa rasa asmara dalam mimpinya.


Geri dengan malas menepis tangan Inka kembali memeluk Robi. Pamela akhirnya membangunkan mereka, dengan cara menggoyangkan kakinya.


Saat matanya menoleh ke arah meja yang masih berantakan sisa semalam, Inka melihat segelas air putih, entah milik siapa. Membuat Inka langsung tersenyum.


Inka langsung mengambil air putih itu dan mencipratkan ke arah Robi dan Geri. Merasa ada sesuatau yang menetes di wajahnya, perlahan Robi membuka matanya, sayup-sayup. Ia melihat tangan Inka meneteskan air di wajahnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Robi dengan suarah seraknya.


Robi merasa ada yang berat menimpa perutnya, ia melirik terdapat tangan seseorang tetapi bukan tangannya.


"Tangan siapa ini?" tanya Robi, melihat tangan keseluruhan tangan yang menimpa perutnya.


Robi sangat terkejut melihat Geri yang memeluk tubuhnya, ia merasa sangat geli dan langsung menghempaskan yang Geri, tetapi Geri masih memeluknya, membuat Robi bangkit dan menjauh daei Geri.


"Apa kalian pacaran?" tanya Inka.


"Enak saja, aku masih suka dengan wanita tulen," jawab Robi.


"Tapi ... aku sempat melihat kalian berpelukan erat, seolah pasangan ke kasih yang lama tak bertemu," goda Inka.


Robi menatap tajam Inka.


"Aku tadi sempat bermimpi bertemu wanita idamanku, kenapa saat aku membuka mata malah Geri, sepertinya ini salah server," jelas Robi.


Inka tertawa sampai sebagian karyawan yang belom pulang pun ikut tertawa, membuat Robi semakin kesal dan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Inka hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia menatap kepergian Robi yang semakin jauh.


Sudah waktunya untuk sarapan, Inka mengetuk pintu kamar Naren tetapi tidak mendapat jawaban dari dalam membuat Inka langsung masuk ke dalam.


Tetapi langkahnya terhenti, saat ia teringat kejadian di Dubai waktu itu, ia justru malah di cium oleh Naren. Ingatan itu membuat Inka mengurungkan niatnya untuk membangunkan Naren.


Karena hari libur, Inka memanfaatkan waktu selama di hotel. Ia berjalan mengelilingi taman yang khusus untuk mereka tamu yang memesan kamar VIP.


Inka menggunakan syal, karena udara diluar cukup dingin.


Inka terlihat sangat menikmati udara yang sejuk itu, ia memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya sangat kaget, ia melemparkan ponselnya sendiri hinggga jatuh ketanah.


Ponsel itu terjatuh dengan suara nada dering yang sangat keras, Inka langsung menyadari jila itu suara ponselnya.


Inka langsung mengankat telpon itu, belom sempat berkata apapun. Terdengae suara celotehan seseorang yang tak asing adalah Naren. Inka langsung menjauhkan ponselnya dari telinga, ia takut telinganya rusak.


"Bisa tidak, dia menggangguku sehari saja," kesal Inka, langsung kembali ke kamar Naren.


Naren yang sudah rapi menggunakan kaos berwarna hitam dan celana jeans. Naren sedang duduk di kursi sambil menatap jendela.


Inka masuk ke dalam kamar Naren, ia melihat Naren sudah rapih dan gagah.


"Maaf Tuan ada apa?" tanya Inka.


Naren menoleh.


"Coba ulangi lagi," pinta Naren.


Inka langsung teringat, jika ini bukan di tempat kerja dan bukan jam kerja.


"Sayang, kau sedang apa? Apa kau sudah makan?" tanya Inka dengan tingkah yang centil.


"Kau pandai merayu seseorang," jawab Naren, menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Tentu, itulah kenapa aku diberi nama Inka pioni," ucap Inka.


"Benarkah begitu? " tanya Naren.


"Aku hanya ngarang, jangan terlalu serius," jawab Inka.


Naren tersenyum manis, Inka langsung teringat kejadian semalam yang dirinya di sebut sebagai ibu peri oleh Naren, Inka seketika tertawa ngakak.


"Ha ... ha ... ha."


"Kenapa tertawa?"


"Apa ada yang aneh?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2