Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
tiba-tiba anmesia


__ADS_3

Inka yang masih tertidur pulas, tak menyadari jika hari sudah pagi menjelang siang, sama halnya dengaa Naren yang sama-sama masih tertidur karena semalaman ia mabuk berat.


Mereka berdua tertidur di tempat yang berbeda.


Alexa langsung pergi meninggalkan ruangan Naren, ia langsung berjalan menuju parkiran mobil dengan perasaan yang sangat kesal.


"Sial! Kenapa mereka bisa bersamaan tidak datang, atau jangan-jangan mereka memang segaja menghindar dariku," kesal Alexa.


Alexa langsung malajukan mobilnya menuju rumah Naren, sampai di gerbang pintu masuk, ia di berhadang oleh satpam yang berjaga.


"Permisi Nona, boleh saya tahu, ada keperluan apa anda kemari?" sapa satpam yang berjaga.


"Aku ingin menemui calon suamiku, apa boleh aku masuk?" jawab Alexa.


Satpam itu langsung membukakan gerbang, dan membiarkan mobil Alexa masuk ke dalam.


Saat keluar dari dalam mobil, Alexa melihat Putra sedang memainkan leptopnya di halamam rumah Naren.


"Putra! Boleh aku bertanya?" tanya Alexa.


Putra pun menoleh ke arah sumber suara.


"Sia ..." ucap Putra langsung terdiam menatap wanita cantik yang ada di hadapannya.


"Boleh aku bertanya?" tanya Alexa sekali lagi.


"Oh ... kau pasti calon Kakak ipar, ada apa?" jawab Putra.


"Apa Naren ada di dalam?" tanya Inka.


"Kak Naren tidak di rumah, bahkan semalaman dia tidak pulang. Memangnya ada apa?" jawab Putra.


Alexa langsung terdiam, mengingat terakhir ia bertengkae dengan Naren. Dan kini Naren tidak pulang.


'Kemana perginya Naren? Apa dia bermalam bersama Inka? Rasanya tidak mungkin, aku harus mencari keberadaanya?' gumam Alexa di dalam hati.


"Hallo kak, apa kau baik-baik saja?" tanya Putra, melambaikan tangannya di hadapan Alexa.


Alexa langsung tersadar dari lamunannya, ia bersenyum kepada Putra dan pamit pergi meninggalkan rumah Naren.


Di dalam mobil, Alexa langsung menelpon asistennya untuk mencari keberadaan Naren.


Mobil melaju meninggalkan rumah Naren, Putra terlihat sangat bingung dengan semua orang yang hari ini sedang sibuk mencari keberadaan Naren.


"Apa saat ini Kakak bersama Inka?" ucap Putra, langsung berlari menunu garasi dan pulang untuk memastikan Naren ada di sana atau tidak.


Semua orang mencari Naren, bahkan ponselnya pun tidak aktif, membuat semua orang sangat bingung, untuk melacak keberadaan Naren.


Alexa pun tidak dapat mengakses di mana Naren berada, membuatnya langsung berlari menuju rumah orang tuan Naren.

__ADS_1


"Aku harap dia ada di rumah orang tuanya," ucap Alexa menambah kecepatan mobilnya.


Inka pun terbangun saat hari sudah sore, kepalanya terasa sangat sakit, matanya bengkak dan bibirnya penuh dengan air liur atau bisa di bilang iler, rambutnya sangat acak-acakan seperti parabola yang merekah ke depan.


Inka tak bisa membuka matanya lebar, karena bengkak membuatnya kesulitan membuka mata, sayup-sayup, ia mencari ponselnya.


Betapa terkejutnya Inka, ketika membuka ponselnya ada 50 kali panggilan tak terjawab dari Robi, membuatnya langsung tersadar.


"Astaga, apa aku mati suri? Pukul berapa ini?" ucap Inka langsung memeriksa jam di ponselnya.


"Jam 17.00," ucap Inka.


Inka langsung membayangkan, jika dirinya kemarin pergi bersama Naren sore hari dan pulang malam hari, tiba-tiba mulutnya terbuka lebar karena ia tidur sangat lama membuatnya hampir lupa jika ini sudah sore.


"Kenapa tidak ada yang membangunkanku? Aku tidur begitu lama, untuk saja aku masih bisa bangun, astaga ..." gerutu Inka.


Inka menatap cermin, betapa kagetnya ia melihat dirinya sendiri seperti mak lampir.


"Astagfirulloh, kenapa tampilanku sangat menakutkan, bagaimana aku keluar nanti, Jimin pasti akan mengodaku," gerutu Inka.


Inka menarik napasnya dengan kasar, ia membuka pintu kamarnya, merasa tidak ada orang sama sekali, membuat Inka langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Saat kakinya melangkah keluar, ia merasa masih aman, ketika tangannya membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba Jimin teriak melihat Inka yang mengendap-endap seperti maling dengan rambut yang seperti tersengat listrik.


"A ...! Siapa kamu!" teriak Jimin.


Inka dengan hati-hati menoleh ke arah sumber suara, dan melihat Jimin berteriak sekeras mungkin, membuatnya langsung menghampiri Jimin dan menutup mulutnya.


Jimin langsung terdiam, dan menatap wanita yang menutup mulutnya.


"Kakak! Kenapa penampilanmu seperti nenek lampir?" tanya Jimin.


"Kecilkan suaramu! Orang secantik ini kamu bilang seperti nenek lampir, aneh sekali," jawab Inka.


"Kakak yang aneh," ucap Jimin, langsung kabur meninggalkan Inka.


Inka yang melihat Jimin kabur membuatnya langsung mengumpat.


"Sialan! Dasar bocah tengil," umpat Inka.


Inka langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Di rumah Robi.


Berbeda dengan Inka yang bangun dalam keadaan seperti nenek lampir.


Naren yang merasa kepalanya sangat pusing, membuatnya langsung terbangun, sayup-sayup ia membuka matanya berada di tempat yamg berbeda, membuat Naren langsung membuka matanya lebar-lebar.


"Ada di mana aku?" ucap Naren, merasa kebingungan.

__ADS_1


Naren memperhatikan tempat sekitar, dan ia melihat foto Robi bersama orang tuanya.


"Jadi aku di rumah Robi?" ucap Naren.


Naren mengingat semua yang teelah terjadi, tetapi kepalanya kembali sakit saat ia mengingat kejadian semalam.


Naren bangkit dari tidurnya di atas lantai, membuat badannya terasa sangat sakit, ia berjalan ke dapur untuk minum.


Glek ...


Naren masih belom menyadari ponselnya, dan sudah pukul berapa ini, ia mencari makanan yang ada di dapur.


Melihat ada mie ramen, membuat Naren teringat jika dia sempat akan makan mie ramen dan gagal karena datangan Putra yang memberitahu semua perjodohannya dengan Inka.


Ingatan itu tiba-tiba datang, membuat Naren langsung mengingat semuanya.


"Jadi semalam aku bertemu Inka, dan menemui Alexa dan aku mabuk berat, aku harus menghubungi Inka," ucap Naren.


Naren langsung kembali berjalan mencari ponselnya, ia melihat ponselnya mati membuatnya sempat bingung. Dan akhirnya Naren mengisi daya batrei ponselnya.


Naren masih belom menyadari wajahnya yang tidur hampir seharian, ia masih mengira jika ini pagi petang.


"Terpaksa aku harus mandi di rumah Robi, tapi ... kemana perginya Robi? Apa dia sedang berkencan dengan pacarnya?" ucap Naren.


Naren menunggu ponselnya hidup sambil membuat mie ramen yang ada di dapur, rasa lapar itu sudah tidak tertahan lagi.


Suara azan berkumandang, membuat Naren mengira jika ini azan subuh.


"Ternyata baru subuh, tapi kenapa aku sangat lapar," gumam Naren.


Saat ponsel Naren sudah hidup, banyak sekali notifikasi masuk ke dalam ponselnya, sehingga membuat suara itu seperti tak ada jeda untuk berhenti.


Naren pun yang mendengar suara ponselnya, langsung menghampiri.


"Siapa yang mencariku pagi-pagi," ucap Naren.


Ketika Naren melihat notifikasi itu, ada 107 panggilan tak terjawab, 25 pesan singkat, dan 20 vidio call . Mata Naren terbuka lebar, melihat banyak sekali notifikasi yang masuk.


"Ada apa ini? Seperti seharian aku tidak ada kabar," ucap Naren, merasa sangat bingung dan terkejut.


Naren masih belom menyadari jika ini sudah masuk azan magrib.


Suara mobil terdengar dari luar, membuat Naren langsung menoleh dan membuka pintu.


"Tuan sudah bangun?" tanya Robi.


"Kau dari mana?" tanya balik Naren dengan wajah yang sangat bingung.


"Aku ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2