Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Tiba-tiba di jodohkan


__ADS_3

Perasaan mereka berdua saling berargumen sesuai pemikiran yang ada di benak mereka, sehingga meninggalkan salah paham diantara keduanya, ada yang berfikir takut kehilangan jika menaruh hati, ada pula yang merasa cintanya bertepuk sebelah tangan karena penolakan yang halus.


Hal ini membuat mereka terdiam tanpa mengobrol satu sama lain, mobil pun melaju dengan kecepatan yang sangat cepat, membuat Inka sangat ketakutan, tetapi ia hanya bisa terdiam.


Sampai lah di depan rumah Inka, dengan hati-hati Inka pun membuka pintu mobil dan sebelum ia keluar dari mobil. Inka menatap Naren dengan tatapan yang begitu penuh arti.


"Tuan, terima kasih sudah mengantarkanku. Dan maaf, untuk ciuman tadi ..." ucap Inka belum sempat melajutkan ucapannya langsung di potong oleh Naren.


"Lupakan saja," sahut Naren.


Inka tidak berani membantah, ia hanya teridam dan keluar dari dalam mobil. Perlahan Inka menutup pintu mobil Naren, Naren langsung melajukan mobilnya tanpa basa-basi.


Inka menatap kepergian Naren yang sudah menjauh dari hadapannya, ia langsung masuk ke dalam dan di dalam rumah ia tidak melihat ada orang satu pun, membuat Inka langsung masuk ke dalam kamar dan beristirahat.


Saat tubuhnya terbaring di atas ranjang, Inka terlintas memikirkan Naren yang menciumnya secara tiba-tiba. Inka langsung memegang bibirnya.


'Apa yang membuatnya menciumku? Rasanya tidak mungkin jika dia memang menyukaiku, ini mustahil, hubungan kita dekat karena pekerjaan dan tidak lebih dari itu. Sudahlah, memikirkan dia terus menerus membuatku sakit kepala,' gumam Inka.


Inka pun mulai perlahan melupakan kekacauan yang terjadi, saat matanya mulai terpejam, kebisingan datang dari luar rumah. Rosida yang mendengar berita ledakan bus itu langsung menghubungi Inka tetapi tidak mendapat jawaban, membuatnya sangat panik dan pulang ke rumah.


Pintu terbuka dengan paksa, membuat suara yang cukup keras, Inka yang baru saja akan tertidur, ketika mendegar suara keras itu, membuatnya langsung membuka matanya.


Inka memperhatikan suara itu, tidak terdengar lagi, ia mulai akan tertidur kembali, tetapi suara susulan pun datang, ternyata Solihin yang baru saja pulang dengan terburu-buru, karena berita ledakan bus itu, membuatnya sangat khawatir dengan kedua anaknya.


Mata Inka langsung kembali terbuka, membuatnya sangat sulit untuk memejamkan matanya.


"Astaga, suara apalagi itu! Ya Allah!" geram Inka bangun dari tidurnya.


Terdengar suara Rosida yang sangat keras membuat Inka sangat kesal dengan orang tuanya.


"Kau sudah menghubungi Inka? Nomornya tidal aktif, aku takut dia jadi korban ledakan bus itu," tanya Rosida.


"Berkali-kali aku menghubunginya, tertapi ... tidak ada jawaban dari Inka," jawab Solihin.


"Aduh! Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rosida yang terlihat sangat panik.


Inka terpaksa berjalan keliar dari kamarnya, berjalan pincang.


"Memangnya apa yang mau ibu lakukan?" tanya Inka mrmbuat kedua orang tuanya langsung menoleh.


"Inka!"


Panggilan kompak itu membuat Inka perlahan mendekat, Rosida memperhatikan penampilan Inka yang penuh luka lecet.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja? Kenapa dengan wajah dan kakimu?" tanya Rosida.


"Jangan di pegang! Ini sakit, aku terkena ledakan bus itu, tapi untungnya hanya lecet-lecet, aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku," jawab Inka.


Sholihin merasa sedih melihat anak kesayangannya terluka, membuat hatinya hancur, ia menangis di depan Inka, membuat Inka semakin bingung.


"Ayah! Ada apa? Apa Ayah juga terluka?" tanya Inka.


Sholihin menggelengkan kepalany, membuat Inka semakin bingung.


"Lalu kenapa? Jangan membuatku panik, Ayah," tanya Inka.


"Melihatmu terluka seperti ini, membuat hati Ayah hancur," ujar Sholihin semakin keras menangis.


Inka langsung menenangkan Sholihin yang terlihat seperti anak kecil menangis.


"Sudah Ayah, Inka baik-baik saja. Sudah ya jangan menangis, kepala Inka sangat sakit jika mendengar Ayah menangis," ucap Inka.


"Baiklah, Ayah akan diam mulai sekarang, agar kepalamu tidak sakit," sahut Sholihin.


Inka langsung memeluk Ayahnya dan kembali ke kamarnya.


Sholihin menatap Inka sampai masuk ke dalam kamarnya, ia langsung memeluk rosida karena sangat sedih melihat Inka jalan dengan kaki yang pincang.


Sholihin langsung melepas pelukannya dan menatap tajam Rosida.


"Jaga mulutmu, bicaramu sangat kasar sekali," ucap Sholihin.


"Sudahlah, aku mau nonton drama kesukaanku," kata Rosida.


Rosida langsung duduk di atas sofa, sedangkan Sholihin masuk ke dalam kamarnya, ia memilih untuk istirahat.


Di mansion.


Mobil Naren masuk ke dalam garasi mobil, Putra yang melihat kakakmya sudah pulang, ia langsung menghampirinya.


Naren langsung keluar dari dalam mobil, ia baru menyadari jika ada mobil orang tuanya datang.


"Kakak!" panggil Putra.


Naren menoleh ke arah sumber suara, ia melihat di belakang Putra ada Alexa.


"Alexa," lirih Naren.

__ADS_1


Naren kembali menatap Putra.


"Ada apa ini?" tanya Naren.


"Kakak baru saja di jodohkan dengan Kak Alexa," jawab Putra.


"Apa!"seru Naren, ia sangat langsung berjalan masuk ke dalam, tanpa menghiraukan Alexa yang baru saja akan menyapanya.


Alexa melihat wajah Naren yang terlihat sangat kesal, membuatnya tidak berani untuk menyusulnya ke dalam, ia justru melihat Putra yang masih berdiri di parkiran.


Naren langsung masuk ke dalam rumahnya, ia melihat orang tuanya Alexa dan orang tua Naren sedang berbincang hangat sambil tertawa.


Bimo melihat Naren yang melangkah mendekati dirinya.


"Kau dari mana saja, Ayah mencarimu," tanya Bimo.


"Apa maksud Ayah?" lirih Naren membuat orang Alexa langsung menatap Naren.


"Maafkan Ayah tidak memberitahumu terlebih dahulu, dia adalah Pak Edo terman bisnis Ayah, ternyata beliau memiliki anak gadis, yang ternyata kenal denganmu, kebetulan sekali bukan. Jadi kami memutuskan untuk menjodohkan kalian, Ayah harap kalian setuju. Apalagi kalian sudah saling kenal," jelas Bimo.


Naren terlihat sangat marah, tetapi ia tahan karena tidak mungkin Naren marah di depan tamu.


"Aku ingin istirahat," ucap Naren.


"Apa kau sakit, Alexa menunggumu di luar, coba kau temui dulu," ujar Bimo.


"Aku di sini Om," sahut Alexa, ia berjalan mendekati Naren.


"Kebetulan sekali, kemari Nak," ucap Bimo.


Alexa berjalan memdekati Naren, dengan sengaja ia memegang tangan Naren, seolah sangat akrab dengannya, membuat Bimo yamg melihatnya, langsung mengira jika Naren dan Alexa saling menyukai satu sama lain.


"Aku rasa, Naren memang harus istirahat, beristirahatlah, sampai bertemu lain waktu," ucap Alexa membuat Bimo semakin suka dengam calon menantunya yang terlihat sangat perhatian dan pengertian.


"Dia memang menatu idaman, sangat mengertia Naren," ucap Bimo membuat orang tua Alexa sangat senang.


'Akhirnya aku berhasil menaklukan orang tua Naren dengan mudah, aku harap sebentar lagi aku akan menyingkirkan sekretarisnya itu, ha ... ha ... ha,' batin Alexa.


Naren, tanpa basa-basi, langsung berjalan meninggalkan tamu orang tuanya dan masuk ke dalam kamar, ia terlihat sangat marah karena ada orang asing mengetahui mansionnya.


Alexa terus menatap Naren menjauh darinya...


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2