Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Pencitraan


__ADS_3

Inka masuk ke dalam ruanagannya, saat ia masuk ke dalam, tangan Geri melambai ke arahnya, membuat Inka langsung mendekat.


"Inka, tadi kau di cari pak Bos," ucap Geri dengan nada lirih


"Biarkan saja, aku sedang banyak kerjaan," ucap Inka dengan singkat.


"Jadi kau sedang banyak kerjaan ya?" tanya Naren membuat Inkan kaget.


"Tuan Naren! Astaga, jantungku hampir mau copot," ucap Inka.


"Masuk ke ruanganku," perintah Naren.


Inka yang males bertemu dengan Naren, ia langsung menatap Geri, Inka memberi isyarat untuk menoleh masuk ke dalam ruangannya, tapi ... perintah Bos tidak boleh di langgar.


"Sudah sana ikuti turuti saja," bisik Geri.


Inka pun dengan berat hati langsung berjalan mengkuti langkah Naren.


"Dari mana tadi?" tanya Naren, saat sudah sampai di dalam ruangannya.


"Apanya? Aku? Memangnya kemena?" jawaban Inka yang sangat membingungkan.


"Kenapa kamu yang bingung, tinggal jawab saja, kamu dari mana? Tadi pagi aku melihatmu di kantin bawah, apa kamu membeli makan?" tanya Naren.


Inka langsung duduk tanpa menjawab apapun dari Naren, ia merasa kepalanya mau pecah.


"Ada apa?" tanya Naren.


Naren mendekati Inka.


"Aku pusing dan mual," jawab Inka.


"Kamu sakit?" tanya Naren langsung memegang kening Inka.


Saat Naren memegang tangan Inka, Alexa datang tanpa mengetuk pintu, ia melihat pemandangan yang sangat menyakiti hatinya.


Alexa berdehem, membuat Naren langsung menoleh ke sumber suara.


"Alexa!" panggil Naren.


"Kalian sedang bermesraan, aku takut mengganggu, aku permisi," ucap Alexa.


"Tidak, aku hanya memeriksa kondisi Inka, ada apa kemari?" tanya Naren.


Alexa yang akan melangkahkan kakinya keluar, seketika langsung mengurungkan niatnya dan kembali menatap Naren.


"Aku hanya ingin berbicara empat mata denganmu, tapi kau masih bersama kekasihmu," jawab Alexa.


Inka yang merasa mengganggu kedatangan Alexa, ia langsung keluar dari ruangan Naren.


Inka langsung duduk di mejanya, ia memantau Alexa yang sedang berbicara di dalam bersama Naren, membuat Alexa merasa penasaran.


Tapi tiba-tiba Inka teringat saat itu pernah meletakan kamera penyadap suara mini di diselipan sofa yang ada di ruangan Naren, ia langsung memeriksa untuk memastikan apakah penyadap suara itu berfungsi atau tidak.

__ADS_1


Inka sedang mengaktifkan penyadap suara itu, ternyata masih berfungsi dengan baik, akhirnya ia langsung memantau Alexa yang sesang duduk berhadapan dengan Naren.


"Ada apa? Katakan saja sekarang, sebelum aku menghadiri rapat," ucap Naren.


"Aku ingin meminta maaf, atas kejatahan dan kegoisan yang sudah pernah ku perbuat, aku menyesali semuanya," jelas Alexa dengan raut wajah yang penuh penyesalan.


Naren yang melihat ketulusan Alexa, hanya bisa menganggukan kepalanya.


"Sudah tidak usah di bahas, Inka pun tidak mempermasalahkam semuanya, jika kamu memang berubah, itu jauh lebih baik, aku memaafkanmu," ucap Naren.


Inka yang memantau percakapan mereka, merasa jika Alexa itu hanya menipunya, Inka yang mendengarkan percakapan mereka dengan hadseat.


"Dasar kau, berhati busuk!" ucap Inka yang sedang fokus pada layar komputernya.


"Heh, kau bicaranya dengan siapa?" tanya Robi.


"Kurang ajar," ucap Inka, membuat Robi yang akan menanyakan tugas prestasi kepada Inka, justru malah bingung dengan sikap Inka.


Robi langsung memukul meja Inka, sehingga membuat Inka merasa kaget dan melepaskan hadseatnya.


"Oh Pak Robi, ada apa Pak?" tanya Inka.


"Jadi kamu sedang memakain headseat, " jawab Robi.


Inka menganggukan kepalanya.


"Saya hanya meminta tugas presentasi untuk rapat nanti jam 10.00 pagi, apa sudah di siapkan?" tanya Robi.


"Sudah Pak," jawab Inka, memberikan beberapa berkas kepada Robi.


"Kemana perginya wanita itu?" tanya Pamela dengan nada suara yang sangat lirih.


Alexa sudah pergi, tanpa di ketahui Inka. Membuat Inka merasa kesal tidak bisa mendengar apa yang di katakan Alexa.


"Sialan, gara-gara Pak Robi, aku jadi kehilangan jejaknya, huh! Menyebalkan," kesal Inka.


Menghadiri beberapa rapat, akhirnya jam pulang kerja pun tiba, Inka langsung mengemasi barangnya dan akan pergi untuk pulang.


"Kita balik bareng ya Ka," ajak Geri.


"Kamu lagi," ucap Inka.


"Kenapa? Kamu gak mau?" tanya Geri.


"Ya sudah ayok kita on the way," jawab Inka.


Naren yang melihat meja Inka kosong tanpa dirinya, membuat Naren langsung menelponnya.


"Tunggu coy, ponselku berbunyi," ucap Inka.


Naren: "Di mana?"


Inka: "Di jalan pulang, memangnya ada apa?"

__ADS_1


Naren: "Apa kau marah, tunggu aku."


Naren langsung mematikan sambungan telponnya, ia langsung berlari menyusuli Inka yang sudah berada di luar kantor.


Geri yang menunggu Inka langsung bertanya.


"Ada apa? Jadi pulang bareng gak?" tanya Geri.


"Enggak, aku mau pulang sama Pak Bos," jawab Inka.


"Ya sudah, kalo gitu, aku mau jemput ayang aku," ucap Geri, langsung melajuka motornya, meninggalkan Inka seorang diri.


Naren pun keluar dari kantornya, ia menemui Inka.


"Ayok masuk ke dalam mobil," ajak Naren.


Inka pun diam saja tidak menjawab, seperti sedang marah dengan Naren.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil, di dalam perjalanan, Inka terdiam tanpa mengatakan apapun.


"Apa kau cemburu, dengan kedatangan Alexa?" tanya Naren.


Inka langsung menoleh ke arah Naren.


"Tidak, aku hanya merasa pusing," jawab Inka.


'Ya, aku cemburu, aku kesal denganmu dan Alexa,' batin Inka.


"Dia kemari untuk meminta maaf," ucap Naren belom sempat melanjutkan ucapannya sudah di potong oleh Inka.


"Aku sudah tahu," sahut Inka.


"Hah? Kamu tahu darimana?" tanya Naren.


"Eh, maksudnya aku sudah menduganya, memangnya mau apalagi yang dia katakan kepadamu," jawab Inka.


"Sudah lupakan saja, aku dengar kamu kuliah di University Griya? Kapan mulai masuk kuliah?" tanya Naren.


"Minggu depan, aku tidak mungkin bertahan di tempat ini dengan lulusan SMA saja, apa kata mereka?" jawab Inka.


"Aku tidak mempermasalahkan itu, jadi jangan mrmaksakan diri," ucap Naren.


"Kamu memang tidak memaksakan diri tapi ... ayahmu, para Klienmu, itu bisa menurunkan popularitasmu sebagai seorang CEO, aku memahami itu, jadi aku akhirnya melanjut kuliah," jelas Inka.


Naren menatap Inka.


"Aku bahkan tidak akan mengira jika kau berfikir sejauh ini, biaya kuliahmu akan di tanggung perusahaan 50% jadi kamu tidak usah khawatir," ucap Naren.


Inka langsung tersenyum, tiba-tiba terdenga suara yang tidak asing di dengar setiap ornag merasakan lapar.


Suara perut itu membuat Inka langsung memegang perutnya dan tersenyum menatap Naren. Naren pun sudah terbiasa dengan suara bunyi perut Inka, mereka langsung mampir ke salah satu resto terdekat.


Saat Inka dan Naren masuk ke dalam, ia memesan makanan, dan tak di sengaja, Inka melihat Kenzo bersama sang adik pun makan di resto ini. Mata Inka langsung menatap lebar, ia pun takut di kenali oleh adik Kenzo yang sangat mengagumi Inka.

__ADS_1


'Kenapa harus ada dua orang itu, astaga, bagaimana ini,' batin Inka.


BERSAMBUNG....


__ADS_2