
Alexa melakukan kebohongan publik, agar bisa mendapatkan informasi tentang Inka, ia rela berbohong demi mendapatkan masalalu yang pernah di alami Inla di salah satu resto tempatnya bekerja dulu.
Pelayan yang sedang berbicara dengan Alexa pun merasa kasian, terlihat rau wajah Alexa yang sangat menyedihkan, seolah dia wanita yang tersakiti.
Pelayan itu pun merasa kesal dengan Inka yang ternyata wanita jahat yang merebut calon suami orang lain, ia dengan mudahnya menceritakan alasan Inka di pecat dari resto itu.
Merasa puas dengan informasi yanh didapat, Alexa pun tersenyum sini, lalu ia berkata didalam hati.
'Rupanya, masalalu yang dimiliki seorang Inka cukup menarik, sekarang kartu matimu sudah ada di tanganku, akan dengan mudah aku menyingkirkanmu dari Narendra,' batin Alexa.
"Terimakasih ya Mbak, atas informasi yang saya dapat, semoga pasangan saja segera sadar," ucap Alexa.
"Iya Mbak, saya doakan yang terbaik," ucap pelayan itu.
Alexa keluar dari resto itu dengan rasa gembira, karena ia sangat senang telah mendapat informasi penting, untuk menjatuhkan Inka.
Alexa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya pesawat yang bertujuan dari Dubai ke Indonesia pun sudah landing di bandara Soekarno Hatta, Inka terlihat sangat segar, seharian ia tidur memanjakan dirinya.
Inka yang sedang menguap, tidak menyadari jikia disamping tempay duduknya ada Kenzo yang sedang membaca buku.
Ketika Inka menoleh kearah kanan, ia melihat Kenzo yang sesang fokua membaca buku, membuatnya langsung menutup mulutnya.
'Astaga aku lupa jika disamping ku ada lelaki ini, dia pasti sedang mengumpatku di dalam hatinya, awas saja jika itu benar terjadi,' batin Inka.
Kenzo pun melirik Inka yang tadi sempat menguap, membuatnya merasa sangat kesal dengan tingkah seorang wanita yang tidak ada anggun-anggunnya sama seklai.
'Wanita macam apa dia? Apa dia titisan kudanil? Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali sebagai wanita,' batin Kenzo.
Semua penumpang sudah diperbolehkan keluar dari dalam pesawat, membuat Inka dengan cepat keluar terlenih dahulu.
Inka akhirnya berhasil keluar dari dalam pesawat, ia merasa sangat lega bisa menghirup udara di Indonesia yang sempat ia tinggal beberapa hari.
"Sangat sejuk, aku sangat merindukan negara ku," ucap Inka.
"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Naren.
"Astaga Tuan! Kau mengagetkanku saja, jantungku hampir mau copot," jawab Inka.
"Benarkah?" tanya Naren.
Inka tidak menjawab lagi, ia langsung mengikuti Naren dari belakang, saat masuk ke dalam aula bandara, mereka melihat Robi sudah menunggu kedatangan Naren dan Inka.
Akhirnya mereka bertemu dan langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Berbeda dengan Kenzo yang baru saja keluar dari pesawat bersama adiknya, ia berjalan masuk ke dalam aula bandara.
"Kau tadi duduk bersama siapa?" tanya Mociana.
"Bersama perempuan," jawab Kenzo.
"Siapa namanya, ada dia cantik seperti kakak itu? Yang pernah kakak tolong saat dia pingsan di halte?" tanya Mociana.
"Kau terlihat sangat agresif, aku tidak memperhatikannya, jadi lupakan saja. Ayok kita pulang," jawab Kenzo.
Kenzo berjalan lebih cepat dari adiknya, membuat Mociana pun kualahan mengikuti langkahnya.
Di dalam mobil.
"Kita akan kemana Tuan?" tanya Robi.
"Antarkan Inka ke rumahnya," jawab Naren.
"Tuan! Apa aku mendapat libu seprti kemarin?" tanya Inka.
"Tidak ada libur untukmu mulai sekarang, besok kau datang ke mansionku," jawab Naren membuat Inka merasa menyesal telah bertanya hal itu kepadanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mulai memasuki wilayah komplek tempat Inka tinggal, mobil berhenti tepat di depan kedainya, ia langsung turun dan menurunkan barangnya sendiri.
Tanpa basa-basi, mobil melaju meninggalkan Inka yang berdiri menatap kepergian mobil Naren. Ia langsung masuk ke dalam tanpa diketahui oleh orang tuanya.
Jimin yang sedang nonton televisi, langsung menoleh ke arah sumber suara, melihat kakaknya sudah pulang dari Dubai, ia pun langsung menyambut dengan senyuman. Berharap dibelikan hadian dari Dubai.
"Ibu! Kakak pulang!" teriak Jimin.
"Kakak pulang, pasti capek. Sini aku bawain kopernya,' ucap Jimin.
Inka yang bingung dengan sikap adiknya yang sangat berbeda dari biasanya, membuatnya merasa ada sesuatu yang janggal.
'Aku rasa anak ini berharap aku membelikan oleh-oleh untuknya, akan aku kerjain kau ya,' batin Inka sambil tersenyum licik.
"Kau memang adik yang sangat baik, bawakan barang kakak, siapkan air hangat untuk kakak mandi ya jim," ucap Inka.
"Aku memang adik yang sangat baik, buktinya saja, aku sangat pengertian membantu kakak," sahut Jimin.
"Ya, ya, ya lanjutkan!" seru Inka masuk ke dalam kamar.
Jimim yang sedari tadi tidak melihat orang tuanya, merasa penasaran, kemana perginya ayah dan ibunya. Jimin mencari setiap tempat, tetapi tidak menemukan keberadaan Rosida dan Solihin.
"Kemana perginya mereka? Aku sangat malas mengangkat koper Kak Inka yang berat itu, tapi ... bagaimana jika isinya adalah oleh-oleh, ini tidak bisa di biarkan," gumam Jimin kembali memganggkar koper Inka masuk ke dalam kamar Inka.
__ADS_1
"Wah, kau kuat sekali, sudah kau siapkan air hangat untukku?" tanya Inka.
"Oiya ... aku hampir lupa kak, tunggun 5 menit lagi ya," jawab Jimin langsung ke dapur untuk memasak air.
Rosida dan Solihin yang barusa pulang dari pasar swalayan langsung duduk terkapar di ruang tengah, karena kelelahan.
"Ibu! Ayah!" panggil Jimin yang terkejut melihat kedua orang tuanya seperti kelelahan.
"Ada apa?" tanya Solihin dengan nada lemah.
"Kak Inka sudah pulang, aku sedang memasak air untuknya mandi," ucap Jimin.
Rosida yang mendengar kata Inka, langsung membuka sebelah matanya menatap Jimin.
"Di mana kakakmu sekarang?" tanya Rosida.
"Ada di kamar," jawab Jimin.
"Inka!" panggil Rosida.
Inka yang baru saja akan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, setelah mendengar teriakan sang ibu, membuatnya langsung menatap sumber suara.
"Astaga, tidak di sini, tidak bersama Tuan Naren. Tetap saja diriku tidak bisa hidup tenang, bisa tidak sejenak saja aku menikmati hidupku," gerutu Inka.
"Inka! Kemari lah!" teriak Rosida.
Dengan rasa kesal, Inka membuka pintu kamarnya, dan menatap kedua orang tuanya sedang duduk di atas sofa.
"Ada apa bu?" tanya Inka.
"Apa kau tidak rindu dengan kami? Atau sudah lupa dengan kami, setelah beberapa hari bekerja di luar negri," Jawab Rosida.
"Kenapa jadi aku yang di marah? Aku hanya ingin beristirahat, bagaimana kabar ibu dan ayah?" tanya Inka.
Rosida yang merasa kesal dengan Inka, tiba-tiba hilang begitu saja, saat ia ingat jika ada seseorang yang mencari Inka saat Inka pergi ke Dubai.
"Kau tahu lelaki bernama Ludin?" tanya Rosida.
"Ludin? Astaga aku ingat! Dia anak dari juragan sawit itu kan, memangnya ... ada apa dengan lelaki aneh itu?" jawab Inka.
Rosida menarik napasnya dengan sangat berat, ia menatap wajah Inka dan akhirnya Rosida menceritakan semuanya yang terjadi, betapa terkejutnya saat ....
"Apa!"
Teriak Inka.
__ADS_1
BERSAMBUNG....