
Naren mendengar cibiran dari banyak orang yang lewat, karena Inka yang menangis sangat keras. Membuatnya langsung berkata dengan lantangnya.
"Cukup!"
Teriakan itu membuat Inka berhenti menangis, ia langsung melepaskan pelukan itu.
"Ada apa Tuan? Apa aku salah berbicara?" tanya Inka dengan wajah bingung.
Naren pun ikut bingung karena ia pun tak tahu harus marah dengan siapa, karena orang mencibirnya sudaj berjalan menjauh dari hadapan Naren.
Naren berusaha membuat hatinya lebih tenang.
"Aku hanya tidak terima karena perlakuan mereka terhadapmu, sudah jangan menangis," ucap Naren berbohong.
Terdengar suara cacing yang sedang demo, ingin meminta haknya.
"Apa kau lapar?" tanya Naren memperhatikan perut Inka yang berbunyi.
Inka langsung memegang perutnya dan tersenyum pepsodent.
"Iya Tuan, makanan steak di resto elit itu tidak membuatku kenyang," ucap Inka membuat pipinya merah karena tersipu malu.
"Kita cari makan," ajak Naren.
"Tapi Tuan ... ini sudah malam, kita pulang saja," ucap Inka.
"Aku ingin masak mie ramen, sepertinya enak," sambung Inka.
"Mie, kalo begitu ayok ke rumahku," ucap Naren.
Mereka akhirnya membeli beberapa mie dan sosis, dan banyak makanan siap saji.
Sampai di rumah Naren, Inka langsung masuk ke dapur untuk segera memasak mie yang barusan dia beli.
"Rumah Tuan sepi sekali, adik Tuan kemana? Bibi kemana?" tanya Inka sembari menghidupkan kompor.
"Kau ini cerewet sekali," jawab Naren mendekat ke arah Inka.
Tiba-tiba jantung Inka berdetak sangat cepat, membuatnya langsung bergeser untuk menghindari tatapan Naren.
Naren seperti mendapat keberanian, untuk mengungkapkan isi hatinya.
'Kali ini tidak boleh gagal, sebelum dia di rebut oleh yang lainnya,' batin Naren.
Inka sedikit takut dengan Naren yang terus mendekat, membuatnya perlahan-lahan mundur.
Naren memegang tangan Inka, membuatnya semakin takut.
__ADS_1
"Tuan ada apa?" tanya Inka.
"Aku melarangmu dekat siapapun!" seru Naren membuat suasana malam itu yang awalnya menegangkan berubah menjadi senyap.
"Apa? Tuan melarangku? Memangnya kenapa jika aku dekat dengan yang lain? Aku juga butuh orang yang benar-benar menyukaiku," tanya Inka.
Tidak bisa mengantakan apapun Naren langsung memegang dagu Inka dan mencium bibirnya, tindakan Naren membuat Inka berusaha untuk menolak, tetapi ia tak bisa melawan.
Ciuman itu terjeda, Inka memdengar Naren mengatakan sesuatu yang di luar dugaan.
"Aku mencintaimu," ucap Naren kembali mencium bibir Inka dengan begitu lembut.
Ciuman itu semakin menjadi, karena suasana malam yang syahdu membuat dua insan ini hampir saja terbuai, entah apa yang membuat Inka mau menerima ciuman dari Naren.
Kata-kata yang barusan di dengar oleh Inka membuatnya merasa senang dan takut, hatinya seperti sedang di ambang kebimbangan. Tetapi pikirannya telah dikuasai oleh nama Naren, sehingga membuat Inka sangat menikmati ciuman itu.
Terlalu menikmati ciuman yang sangat panas itu, membuat mereka berdua tidak menyadari jika air yang di masak sudah mendidih.
Putra yang baru saja keluar dari main, ia masuk ke dalam rumah Naren, melihat lampu dapur menyala membuatnya masuk ke dalam, ia melihat kakaknya sedang berciuman dengan Inka dan Putra mendengar suara air mendidih, ia melirik kompor itu menyala.
Putra langsung mematikan kompor, ia menyaksikan Kakaknya sedang asik berciuman.
Suara mereka berdua membuat hati Putra semakin panas di bakar cemburu, ponsel Putra tiba-tiba berdering membuat Naren langsung memghentikan ciuman itu.
"Apa ponselmu berdering?" tanya Naren.
Inka menggelengkan kepalanya, membuat Naren langsung mencari sumber suara. Ketika Naren menoleh ke belakang, ia melihat Putra sedang berdiri menatap Naren.
"Apa yang Kakak lakukan di dapur bersama wanita?" tanya Putra.
"Bukan urusanmu," jawab Naren.
"Tentu saja akan menjadi urusanku, Kakak yang sebentar lagi akan menikah, kenapa membawa sekretaris Kakak kemari dan kalian berciuman di sembarang tempat, ini sangat memalukan," ucap Putra.
Ucapan Putra membuat hati Inka terasa sangat sakit, saat ia mendengar jika Naren akan menikah dengan wanita lain. Hatinya langsung hancur begitu saja.
"Tuan ..." lirih Inka mulai menahan sesak di dadanya.
Naren pun bingung harus menjelaskan kepada Inka dengan cara apa, karena ia tidak mencintai Alexa, tapi Inka sudah salah paham dengan Naren. Ia merasa hatinya di permainkan oleh Naren.
"Aki bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kamu dengar, percayalah. Aku hanya mencintaimu," ujar Naren.
Inka merasa sedih, ia berlari meninggalkan Naren dan Putra. Inka berjalan keluar dari rumah Naren, ia terus berjalan sampai akhirnya berhenti di halte.
Tatapannya yang begitu sedih membuatnya tidak menyadari jika bus sudah tidak lewat lagi, hanya ada taksi yang melintas malam hari.
"Hatiku sangat sakit," ucap Inka sendirian di halte.
__ADS_1
Di rumah Naren.
"Kenapa kau mengatakan semua itu di depan Inka! Apa kau tidak tahu aku mencintainya!" geram Naren.
"Tapi kau harus selesaikan dulu, urusanmu dengan Alexa," sahut Putra.
"Kau tidak usah ikut campur tentang urusanku dengan Alexa, dia hanya teman saja, jangan pernah ungkit lagi," tekan Naren.
"Tapi, Kakak tidak bisa mempermainkan hati Inka, dia juga wanita yang pantas di perjuangkan. Jangan sementang Kakak Bosnya lalu dengan gampang melukai hatinya, itu tidak adil kak," kata Putra.
"Sudah ku katakan jangan ikut campur urusanku!" seru Naren menahan amarahnya.
Naren berusaha untuk tidak berkelahi dengan adiknya, ia langsung pergi meninggalkan Putra yang masih berdiri di ruang dapur.
Putra menatap kepergian Naren yang langsung menghidupkan mobilnya.
Di tampat lain.
Inka akhirnya mendapat taksi dan ia pergi meninggalkan halte. Saat ia akan masuk ke dalam, ia mendengar suara teriakan memanggil namanya dari kejauhan, membuat Inka menoleh ke arah sumber suara.
"Inka berhenti!" teriak Naren.
Naren langsung menepikan mobilnya dan segera keluar dari dalam mobil.
"Inka berhenti! Dengarkan aku ku mohon," ucap sendu Naren.
Inka tidak mendengarkan ucapan Naren, ia tetap masuk ke dalam mobil.
"Jalan pak," perintah Inka.
Naren langsung berlari mengejar taksi yang di tumpangi Inka, tetapi taksi itu sudah melaju lebih cepat dari kejaran Naren.
Inka tidak menoleh sedikitpun kebelakang untuk melihat Naren. Taksi itu terus melaju dengan kecepatan tinggi.
Taksi langsung berhenti saat berada di lampu merah, membuat Inka kaget karena supir taksi mengerem mendadak.
Naren yang masuk berada di halte merasa sangat kesal dengan kejadian yang barusan di alaminya. Naren tidak mengejar Inka tetapi ia langsung mrmemui Alexa untuk mengklarifikasi hubungannya yang secara sepihak.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi membuat Naren tidak perduli lagi, pikirannya sangat kacau, hatinya pun tidak tenang.
Sampailah Naren di depan rumah Alexa, ia langsung mengetuk pintu rumah Alexa, betapa terkejutnya Alexa ketika melihat tamunya adalah Naren.
"Naren!" panggil Alexa.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Naren.
Alexa terlihat sangat senang, dan langsung mengiyakan ajakan Naren.
__ADS_1
"Apa! Tapi aku mencintaimu Naren! Bahkan ayahmu sangat setuju dengan hubungan kita, lalu apa yang membuatmu seperti ini. Apa karena perempuan murahan itu?"
BERSAMBUNG....