
"Hei, Inka! Jika kau tidak mau mengatakan apapun, sebaiknya kita akhiri hubungan ini, aku sudah sangat lelah," ucap Nina dengan raut wajah yang menyedihkan.
Inka yang mendengar penuturan dari Nina pun langsung terkejut, dan menatap Nina dengan wajah yang heran.
"Mengakhiri hubungan ini? Apa itu pacaran?" tanya Inka.
Tiba-tiba Nina langsung memukul kepala Inka denga tangannya, ia sangat kesal dengan Inka yang sedari tadi tidak mau bercerita.
"Sudahlah aku lelah, aku tidak mau mendesarmu lagi untuk bercerita!" marah Nina.
"Sebeneranya ..." ucap Inka membuat Nina langsung mendengar dengam seksama.
"Aku ... Sudah ber ..." ucap Inka yang belom sempat melanjutkan percakapannya, tetapi Rosida sudah memanggilnya untuk makan bersama.
"Inka! Nina! Turunlah, kita makan dulu!" teriak Rosida.
Teriakan itu membuat Inka langsung menatap bawah, sedangkan Nina mulai mengepalkan tangannya karena kesal dengan Inka.
"Kita turun dulu, nanti aku ceritakan," ucap Inka.
"Terserah kau saja, kesabaraku sudah habis," sahut Nina turun dari atas loteng.
"Yah, marah dia ... Nina! Tunggu!" teriak Inka yang ditinggal Nina turun.
Nina mencium aroma wangi masakan Rosida yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Wangi sekali masakan ibu, membuat perutku langsung lapar," ucap Nina.
"Ibu memasak ini khusus untukmu," ucap Rosida.
"Jahat sekali, hanya untuk Nina. Apa ibu tidak memikirkan aku?" sahut Inka.
"Sudah jangan saling iri," ucap Rosida.
Mereka sedang menikmati makan malam, sampai menghabiskan semua makanan yang dimasak Rosida, membuat mereka kekenyangan.
"Astaga, kenyang sekali," ucap Nina sambil bersendawa.
"Kak Nina! Mulutmu bau cabe," seru Jimin.
Nina hanya tertawa kecil, kemudian, Inka pun bersendawa di sambung Rosida pun menyauti sendawa Inka. Jimin yang mendengar keluarganya pada sendawa, merasa akan memuntahkan makanan yang ia kunyah, ia sangat jijik dengan orang yang bersendawa di depannya.
"Kalian semua jorok!" seru Jimin membawa mangkuknya ke arah televisi.
__ADS_1
"Dia tidak merasakan nikmatnya bersendawa," kata Rosida.
"Benar sekali bu," sahut Nina.
Inka dan Nina membereskan semua makanan dan mencuci piring, selesai mencuci piring. Nina menagih janji kepada Inka.
"Selesai makan, kau harus bercerita, jika tidak aku akan marah!" ancam Nina.
Inka hanya menghembuskan napasnya.
Mereka masuk ke dalam kamar, Nina langsung duduk didepan meja rias, ia mencoba lisptik yang sering di gunakan Inka.
Inka memberanikan diri untuk bercerita dengan Nina.
"Jadi ... aku dan Tuan Naren sudaj berciuman tapi ..." ucap Inka belom sempat melanjutkan ucapannya sudah di potong oleh Nina.
"Apa! Kau sudah berciuman!" seru Nina merasa dangat terkejut.
"Hust ... jangan berisik, aku tidak mau di dengar dari luar," bisik Inka.
Inka langsung membungkam mulut Nina yang sangat lantang dalam berbicara apapun, Nina langsung melepaskan bungkaman itu.
"Bagaimana bisa kalian berciuman?" tanya Nina dengan nada suara yang lirih.
"Panjang ceritanya, tapi aku tidak boleh menceritakan semuanya kepada orang lain, tapi ada alasan khusus kenapa kami berciuman," jelas Inka.
"Syukurlah jika kau mengerti," kata Inka.
Nina langsung memperhatikan wajah Inka dan memperhatikan setiap bagian tubuh Inka, membuat Inka merasa bingung dengan tingkah sahabatnya itu.
"Kau ini kenapa?" tanya Inka.
"Apa lehermu pun di cium olehnya, aku hanya takut kau di perkosa olehnya dan kau merasa keenakan, itu sangat bahaya," jawab Nina.
Inka langsung mengingat kejadian di mana dia dicium oleh Naren sampai meninggalkan bekas tanda kepemilikan Naren. Ingatan itu membuat Inka langsung memegang lehernya.
"Ada apa dengan lehermu? Apa dia macam-macam denganmu?" tanya Nina.
Inka menggelekan kepalanya, membuat Nina merasa sangat lega.
'Tidak mungkin aku menceritakan semuanya kepada Nina, bisa habis aku di marahi olehnya. tapi ... kejadian waktu itu hanya tidak di sengaja saja, sudahlah aku tidak mau memikirkan itu lagi,' batin Inka.
Dari luar rumah Inka, terlihat seorang pemuda yang berpenampilan sangat nyentrik, menggenakan kemeja berwarna biju elektrik dipadu dengan celana cutbray, membuat penampilanya semakin memukau. pria itu bernama Ludin.
__ADS_1
Ludin tidak lupa membawa mic dan salon kecil, tepat di depan jendela kamar Inka, ia mulai menyalakan music dangdut yang sangat keras membuat semua orang merasa terganggu.
Ludin menyebut nama Inka dengan begitu lantang, Inka yang merasa ada kebisingan diluar rumahnya langsung menatap jendela kamarnya, ia mengintip dibalik hordeng, betapa terkejutnya ia melihat Ludin dengan gayanya yang sangat menawan bernyayi di depan rumahnya. Nina pun ikut penasaran dengan kebisingan yang terjadi diluar rumah.
"Astaga kenapa pria itu ada di sini," ucap Inka langsug keluar dari kamarnya.
Saat Inka keluar dari kamarnya, ia melihat Rosida berjalan menghampirinya.
"Inka! Kau sudah melihat kebisingan diluar? Fia ternyata Ludin," tanya Rosida.
"Aduh bagaimana ini bu, ibu lihat tidak? Dia menggunakan baju andalannya," jawab Inka.
"Kemeja biru dan celana cutbray kan," kata Rosida.
Di luar rumah.
Musik dangdut pun menggemparkan komplek tempat Inka tinggal, sambil bergoyang Ludin mengeluarkan suara emasnya. Ia bernyanyi lagu danggut yang berjudul Maya, tapi liriknya diganti menjadi Inka.
"Inka ... dimana ... kau berada, hatiku sudah rindu kepadamu," Ludin bernyanyi diiringi musik.
Suara yang seperti kaleng rombeng itu membuat Inka yang berada di dalam rumah merasa bingung dan takut. Ia berfikir keras, bagaimana caranya Ludin bisa pergi dari rumahnya.
Tetangga yang bersebelahan dengan Inka pun merasa sangat kesal dengan Ludin, suaranya membuat orang yang mendengarkannya merasa risih dan tidak nyaman.
"Suaranya sangat jelek, membuat gendang telingaku akan jebol," gerutu tetangga.
Semakin di biarkan suara itu semakin keras, membuat tetangga Inka kehilangan kesabaran, ia langsung mrngambil ember berisikan air untuk menyiram Ludin.
Ludin terus bergoyang di depan rumah Inka, sambil memanggil namanya berulangnkali. Tiba-tiba ... datang percikan air yang langsung membasahi baju Lusdin, malam itu tidak ada hujan tetapi bajunya basah begitu saja. Musiknya pun mati seketika, membuat musik pun berhenti.
Rambut Ludin yang lurus pun langsung menjadi ikal, seketika terkena percikan air.
"Air apa ini," ucap Ludin.
"Air dari emberku! Berhentilah bernyayi! Kepalaku rasanya mau meledak! Jika mendengar kau bernyanyi," seru tetangga.
"Jahat sekali kau berkata seperti itu, apa kau tidak melihat perjuanganku meluruskan rambut di salon hanya demi bertemu sang pujaan hati, tapi ... kau malah merusaknya, bagaimana jika Inka melihat penampilanku yang sangat buruk ini," ucap Ludin mulai berkaca-kaca.
"Bukan urusan ku!" seru tetangga langsung menutup pintu rumahnya.
Ludin pun merasa sedih, ia menatap pintu rumah Inka yang masih tertutup dengan tatapan sendu.
"Sayang, maafkan abang Ludin, yang tidak bisa berprilaku romantis, abang Ludin pulang dulu ya, mau ganti baju dulu, dadah ..." ucap Ludin sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Inka, Rosida dan Nina yang mengintip di balik jendelan pun menahan tawa, selepas Ludin menjauh dari rumah Inka. Tak bisa ditahan lagi, tawa mereka pum pecah begitu saja.
BERSAMBUNG....