
"Ya sudah, yang penting kuliah," ucap Inka asal jawab.
Keesokan harinya.
Inka yang sudah memakai pakaian formal untuk mendaftarkan dirinya ke University Griya, di mana Kenzo yang menjadi direktur utama kampus itu.
Sepertinya mereka akan sering bertemu, karena Kenzo pun mengajar kelas platinum, semua orang yang memilih kelas platinum ini, orang-orang yang sudah bekerja, termasuk Geri dan Inka.
Geri sudah menunggu Inka, Rosida yang melihat Geri ada di luar, langsung memanggilnya.
"Nak Geri! Masuklah, Inka sedang ada di kamarnya," panggil Rosida.
Geri pun akhirnya masuk ke dalam, dan menunggu Inka. Setelah Inka keluar dari kamar, ia melihat Geri sedang duduk sambil main game.
"Ayok berangkat," ajak Inka.
"Kalian gak sarapan dulu?" tanya Rosida.
"Nanti sarapan di kampus aja," jawab Inka.
"Ya sudah hati-hati," ucap Rosida.
Setelah cium tangan kedua orang tuanya, Inka langsung berangkat dengan sepeda motor milik Geri.
"Sudah?" tanya Geri.
"Sudah dong, lets go!" jawab Inka dengan penuh semangat.
Motor yang di kendarai Geri, melaju dengan kecepatan sedang, mereka berdua sangat menikmati perjalanan yang sangat ramai, Geri mampu menembus kemacetan ibu kota dengan motornya. Sehingga mereka sampai ke kampus lebih cepat.
Saat melihat kampus pun sudah banyak yang berdatangan, Inka dan Geri langsung masuk ke dalam ruang administrasi dan bertemu dengan Pak malik.
"Kalian yang kemarin ke sini kan?" tanya Pak Malik.
"Benar Pak, akhirnya kami memutuskan untuk kuliah disini," jawab Inka.
"Baiklah, ikut keruangan saya," ajak Pak Malik.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Pak Malik, dan Pak Malik memberi tahu semua peraturan selama masuk kuliah, dan memberi tahu kapan mereka akan masuk secara aktif.
"Minggu depan kalian mulai perkenalan semua dosen dan seluruh jajaran pengurus kampus, termasuk direktrmur utama, kelas yang kalian ikuti sangat berbeda dengan reguler, maka dari itu kelas platinum yang kalian pilih akan di mulai jauh lebih awal dari kelas reguler," jelas Pak Malik.
"Baiklah pak," sahut Inka.
Pak Malik memberi lembaran kertas sebagai jadwal sementara untuk pertemuan minggu depan.
Inka menerima lembaran kertas itu, dan segera pergi meninggalkan kampus University Griya.
"Enak juga ya jadi anak kuliahan, eh Geri! Nanti kalo aku gak bisa apa-apa, kamu bantuin aku ya," ucap Inka.
"Aku pun bodoh, jadi kita nanti cari teman yang pintar, agar nilai kita tertolong," kata Geri.
"Kau benar juga, aku juga menyesal berteman denganmu," ucap Inka.
"Kenapa menyesal?" tanya Geri.
__ADS_1
"Karena kau bodoh, ha ... ha ... ha," jawab Inka, ia berjalan mendahuli Geri tapi ... langkahnya terhenti saat melihat seseorang di hadapannya.
Geri pun kaget dengan tingkah Inka, yang ceria langsung terdiam membisu, membuatnya bertanya-tanya.
"Ada apa?" tanya Geri.
Inka langsung menghadap Geri, ia memejamkan matanya, saat Kenzo berjalan mendekati Inka, ia tidak melihat nya, ia berjalan terus tanoa menoleh ke kana dan ke kiri.
"Kau kenapa?" tanya Geri dengan nada suara yang sangat kecil.
"Apa pria itu sudah pergi?" jawab Inka.
"Pria yang mana?" tanya Geri.
"Pria tampan yang menggunakan jas berwarna abu-abu tadi, apa sudah lewat," jawab Inka.
Geri yang telmi tidak paham apa yang di katakan Inka, membuat Inka kesal sendiri dengannya.
Inka akhirnya melirik ke belakang, ia melihat Kenzo sudah memasuki ruang kampu, membuatnya bernapas lega.
"Akhirnya, aku bisa bernapas," ucap Inka langsung mencari tempat duduk.
"Kau ini sangat aneh," ucap Geri.
Inka menatap Geri dengan tatapan kesal.
"Kau itu yang aneh, kau tidak nyambungan! Menyebalkan! Sudah ayok pulang," kesal Inka.
Akhirnya mereka berdua pulang, meninggalkan kampus University Griya, dan langsung menuju kantor.
Inka berjalan dengan penuh percaya diri, ia meninggalkab Geri yang sudah membuatnya sangat kesal.
Semua karyawan yang mengenal Inka, menatao dengan tatapan yang aneh, membuat Inka merasa risih. Tetapi tetap, ia tidak menyadari apapun.
Sampainya diruangannya, Inka langsung duduk di mejanya, ia langsung menghidupkan komputernya.
Inka melihat Robi yang baru saja datang, seketika kaget melihat Inka.
"Nona Inka! Apa kau sehat?" tanya Robi.
"Sehat Pak, memangnya ada apa?" jawab Inka dengan wajah yang bingung.
Robi menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu kembali menatap Inka, tingkah Robi membuat Inka merasa bingung.
"Ada apa Pak?" tanya Inka sekali lagi.
"Apa di dalam kantor ada polisi?" jawab Robi.
"Polisi? Mana ada pak, yang ada Bapak skuriti," ucap Inka.
"Tapi, kenapa kau memakai helm?" tanya Robi.
Inka langsung menatap tajam Pak Robi, tangannya langsung meraba kepalanya, ia merasa kepalanya terasa sangat besar.
Inka langsung mengambil cermin kecil ditasnya, saat ia menatap cermin, tiba-tiba ia langsung senyum pepsodent di depan Robi.
__ADS_1
"He ... he ... he, aku lupa melepas helm ini pak," ucap Inka, langsung melepas helmnya.
Tak lama Geri dengan napas yang tersengal-sengal, datang menghampiri Inka.
"Kenapa kau meninggalkanku," tanya Geri dengan nada suara yang sangat cepat.
"memangnya kenapa?" jawab Inka.
"Kau belom melepaskan helm mu, tapi kau nyelonong aja masuk, aku sangat kualahan mengikutimu, yang jalannya seperti avenger," jawab Geri.
"Ini helmmu, ku kembalikan," ucap Inka.
Robi yang melihat perdebatan antara Inka dan Geri, membuatnya langsung masuk ke dalam ruangan, ia tidak mau ikut campur urusan mereka yang sangat rumit.
"Ada ada saja," ucap Robi, masuk ke dalam ruangannya.
Inka langsung ke kamar mandi, untuk merapikan rambutnya, tiba-tiba perutnya berbunyi, membuat Inka langsung turun ke bawah, membeli roti.
Saat Inka melewati koridor kantor, ia melihat Naren berjalan dengan gagahnya, membuatnya langsung mencari tempat untuk bersembunyi.
Inka tidak mau bertemu dengan Naren yang menurutnya memiliki otak yang mesum, ia selalu menghindari dari Naren, karena tidak ingin di mangsa.
'Hari ini aku sangat apes, ada apa sih dengan hari ini?' gumam Inka dalam hati.
Melirik Naren yang sudah mulai tidak terlihat lagi, membuat Inka langsung berjalan menuju ruangannya. Tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"Inka!" panggil Ocha.
Inka pun menghentika langkahnya.
'Astaga, siapa lagi ini, ini masih pagi semua orang menyebalkan,' batin Inka.
Inka menoleh dengan senyuman, ia melihat Ocha.
"Iya, ada apa?" tanya Inka.
"Aku ingi mengembalikan ini, terima kasih ya," jawab Ocha.
Inka menerimanya dengan wajah yang bingung, ia langsung berjalan keruangannya.
Inka langsung duduk, sambil meletakan makannya di atas meja.
"Inka," bisik Geri.
Inka menoleh ke arah Geri.
"Ada apa?" tanya Inka.
"Kau tadi di cari oleh Pak Bos," ucap Geri.
"Sudah biarkan saja, aku sedang banyak kerjaan," sahut Inka.
"Jadi kau terlihat sangat sibuk sekali ya."
"Astagfirulloh, jantungku hampir mau copot."
__ADS_1
BERSAMBUNG...