Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Keegoisan seseorang


__ADS_3

Naren menjelaskan semuanya, membuat Bimo merasa tersinggung dengan penuturan Naren. Ia langsung mengepalkan tangannya, menahan amarah untuk tidak memukul anaknya sendiri.


"Beraninya kau menyalahkan Ayahmu sendiri!" seru Bimo merapatkan giginya.


Naren manatap Bimo dengan tatapan yang tidak biasa, ia hanya ingin mengubah pola pikir orang tuanya yang beranggapan, jika menikah dengan orang yang dari keluarga terpandang akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, tetapi ... itu semua hanya kesilauan mata manusia yang beranggapan seperti itu.


Sesungguhnya, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah, mereka yang bisa membuat setiap pasangan saling melengkapi satu sama lain, bukan perihal harta tetapi hati dan ketulusan.


"Apa aku salah berbicara? Bukankah itu benar?" tanya Naren tersenyum.


Bimo yang sudah kesal dengan Naren, langsung keluar dari ruangan Naren, ia berjalan di ikuti asistennya. Naren yang melihat Ayahnya pergi menjauh hadapannya, hanya bisa tersenyum.


Bimo berjalan terus sampai keluar dari kantor Adewe Group, ia langsung masuk ke dalam mobilnya.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan gedung Adewe Group.


Bimo mengingat semua yang di katakan Naren, membuatnya mengepalkan tangannya.


'Sial! Dia membuatku terpojok, tapi aku tidak akan membatalkan perjodohan ini,' batin Bimo.


Inka yang berada di kamar mandi, ia langsung merapihkan rambut dan riasan di matanya yang sempat luntur karena nangis.


Inka keluar dari kamar mandi, melihat Naren sudah menunggu, membuatnya berusaha untuk menghindari Naren.


'Kenapa ada dia sih? Aku harus lewat mana ini?' gumam Inka di dalam hati.


Inka berusaha untuk pelan-pelan keluar dari kamar mandi, tanpa di ketahui Naren. Tapi ... aksinya ternyata gagal, salah satu karyawan di bagian departemen penelitian, tiba-tiba memanggil namanya.


"Inka! Hei ..." panggil Ocha.


Naren pun menoleh ke arah belakang, ia melihat Inka yang menatap ke arah samping, membuatnya mendekat.


"Kau sudah keluar, kita harus bicara," ucap Naren memegang tangan Inka.


Inka tidak bisa melawan, sebab genggaman itu sangat erat, membuat Ocha yang memperhatikan Bosnya, merasa ada sesuatu yang di sembukan oleh Inka.


"Kenapa Bos Naren memegang tangan Inka, seperti orang yang sedang marah dengan pacarnya? Apa mereka berpacaran? Jika benar, itu akan menjadi hari patah hati sedunia," ucap Ocha.


Ocha kembai ke ruangannya, dan melanjutkan pekerjaanya.


Naren terus menaris tangan Inka, sampai membuat Inka kualahan mengikuti langkahnya, ia masuk ke dalam suatu ruangan yang terlihat sangat asing, ternyata ruangan itu mengarah ke ruangan Naren.


"Tuan lepaskan aku!" seru Inka.


Naren tidak memperdulikannya, ia terus berjalan terus.

__ADS_1


"Sudah lah Tuan, aku tidak apa-apa jika Tuan menikah dengan teman lama Tuan, aku hanya ingin menenagkan hati ini. Jika itu terjadi, maka kita jangan lanjutkan hubungan ini, aku tidak mau rasa ini begitu dalam dan akan sulit melepaskanmu," ucap lirih Inka membuat langkah Naren terhenti.


"Kau ingin kita pisah? Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Naren.


"Bukan begitu, justru aku takut kehilanganmu, lihatlah Ayahmu tampaknya khawatir jika kau menjalin hubungan denganku, aku bukan wanita pilihan hatinya, jadi aku merasa minder," jawab Inka menundukan kepalanya.


Naren langsung memeluknya, ia memeluk dengan penuh rasa yang begitu tulus.


"Mereka tidak tahu, sakit aneh yang ku derita, kau selalu menjagaku di saat aku sakit dan hanya kau yang mampu menyembuhkan, sentuhanmulah yang membuat irama jantungku berdetak normal, jadi jangan pergi," jelas Naren.


"Jadi kau menganggapku pacar, karena aku membantumu dalam penyembuhan? Kau tidak tulus mencintaiku? Kau lebih jahat dari orang tuamu," ucap Inka, berusaha melepaskan pelukan itu, tetapi dekapan Naren sangat kuat.


"Lepaskan aku! Kau sangat jahat," teriak Inka.


"Sedetikpun aku tidak akan melepaskanmu, dengarkan aku, tidak semua orang bisa menerima kekuranganku, apa kau tahu. Banyak orang yang menyukaiku karena ada yang ingin mereka ambil dariku, mereka tidak ada yang tulus denganku, apalagi jika mereka tahu tentang penaykitku, hanya kau yang masih menerima semua kekuranganku, ku mohon, percayalah," jelas Naren.


Inka pu akhirnya luluh, ia menganggukan kepalanya. Merekapun akhirnya berciuman satu sama lain.


.


.


.


.


Alexa langsung membawa tempat bekel yamg sudah di masukan ke dalam paperbag, membuatnya langsung berjalan keluar dari kantornya. Dengan perasaan yang sangat senang, Alexa berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Didalam perjalan, Alexa mendengarkan musik kesukaannya, sehingga perjalanan menuju kantor Naren terasa sangat menyenangkan.


Sampai di kantor Naren, Alexa keluar dari mobilnya, ia langsung masuk ke dalam dan berjalan menuju ruangan Naren. Ia tidak mengetahui jika Inka dan Naren sedang bercumbu di dalam ruangan Naren.


Pintu pun terbuka, membuat Naren tidak menyadarinya, Alexa masuk kedalam, ia tidak melihat ada Naren di ruangannya. Ia terus berjalan masuk ke dalam ruangan khusus tempat Naren istirahat.


Betapa terkejutnya, ia melihat Naren dan Inka sedang berciuman, mereka terlihat sangat menikmatinya, membuat Alexa langsung menjatuhkan paperbag itu.


Suara itu terdengar sampai ketelinga Naren, membuatnya langsung menghentikan ciuaman itu, Naren langsung menolah ke arah sumber suara.


"Alexa!" panggil Naren, ia langsung menjauh dari Inka.


"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian berpacaran? Apa wanita itu dia," tanya Alexa.


Naren pun menganggukan kepalanya.


Inka yang melihat Alexa mulai berkaca-kaca hanya bisa menatapnya.

__ADS_1


"jadi karena dia kau menolak perjodohan ini?" tanya kembali Alexa.


"Aku memang tidak mencintaimu, kita hanya teman sewaktu masih sekolah, aku sudah mencintai orang lain, jadi mengertilah," jawab Naren.


"Kau jahat! Aku tidak terima dengan semua ini, dan lihat kau ya, dasar wanita murahan! Kau harus tahu akibatnya, kalian jahat!" seru Alexa pergi meninggalkan Naren dan Inka.


"Dia keliatan sangat marah, aku rasa dia sangat mencintaimu," ucap Inka.


Naren langsung memejamkan matanya, ia merasa dunia percintaan sangatlah rumit, membuat kepalanya mulai sakit.


"Tinggalkan aku sendiri," perintah Naren.


Inka langsung menatap Naren yang mulai tidak terkendali.


"Biarkan aku berfikir, keadaan ini sangat sulit, semua orang sangat egois, mereka memaksa ku untuk menuruti kemauan mereka, tanpa mereka bisa menghargai keputusanku," jelas Naren.


Penuturan Naren, membuat hati Inka ikut bersedih, Inka langsung memeluk Naren.


"Tenangkan dirimu, mereka terlalu mencintaimu, sehingga mereka semua tidak memperdulikan hatimu," ucap Inka.


"Apa kau akan meninggalkanku, jika aku tidak meninggalkan semua ini?" tanya Naren.


"Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu?" jawab Inka.


Ponsel Inka berdering, membuat Inka langsung memeriksa ponselnya.


"Sudah waktunya makan siang, makanlah, lepas makan siang, kita ada rapat dengan Klien," ucap Inka.


Naren pun berusaha untuk tenang, ia mengusap wajahnya berulang kali dan menarik napasnya secara kasar.


Inka pun keluar dari ruangan Naren, membuat Geri merasa heran, dari mana Inka masuknya.


"Kenapa kau keluar dari ruangan Bos? Aku tidak melihatmu masuk ke dalam?" tanya Geri.


"Kau sedang jatuh cinta, jadi mana mungkin mempehatikanku masuk ke dalam," jawab Inka.


Geri pun tertawa.


"Kau benar juga, mau makan apa kita hari ini?" tanya Geri.


"Aku masih kenyang, kau saja yang makan," jawab Inka, masih memperhatikan ruangan Naren.


"Baiklah, jika ingi sesuatu hubungi aku, nanti akan ku bawakan, oiya besok kita harus survei ke kampus baru," kata Geri.


"Benarkah?"

__ADS_1


BERSMABUNG....


__ADS_2