Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Gugup


__ADS_3

"Hallo Tuan, apa anda baik-baik saja," ucap Robi.


"Tuan."


"Tuan, buketnya sudah di antar oleh abang kurirnya."


Ucapan Robi tidak menyadarkan Naren dari lamunanya.


"Aku rasa dia kesambet setab sebelah," ucap Robi.


Robi memperhatikan Naren yang tersenyum sendiri menatap langit, ia pun sempat bertanya-tanya di dalam hati, apa yang sedang di pikirkan Naren, sehingga membuatnya terlihat seperti orang gila.


Bayangan itu masih berlanjut, saat Naren berjalan dia mendekati Inka yang sedang duduk manja, tiba-tiba kakinya tersandung dan ia pun terjatuh.


"BRUK...!"


Akhirnya lamunan itu pun terbuyarkan, membuat Naren pun bingung, saat melihat Robi sudah membawa seikat bunga mawar berwarna merah.


"Bunga siapa itu?" tanya Naren.


"Punya Tuan, tadi abang kurirnya datang tapi saya melihat Tuan sedang berhayal, jadi ya tak terima saja bunga ini," jawab Robi.


"Siapa yang sedang berhayal, aku hanya kelelahan saja, maka dari itu tidak fokus," bela Naren.


"Baik tuan, saya memaklumi jika anda sedang jatuh cinta," goda Robi.


"Kau ini bicara apa, sudah bawa sini bunganya," kesal Naren.


Naren langsung pergi pulang, dengan membawa bunga mawar, masuk ke dalam mobilnya.


Naren melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Berbeda dengan Inka yang bingung akan menggunakan baju apa saat menemani makan malam Tuan Naren.


"Apa yang harus aku pakai? Ini terasa sangat canggung, apa aku harus menggunakan gaun, atau baju kerja, atau ... astaga aku sangat pusing," ucap Inka di depan cermin.


Inka sangat bingung, baju mana yang akan dia kenakan, suasana malam ini sangat berbeda dari suasana malam sebelumnya, karena malam ini tidak ada unsur pekerjaan untuk makan malam melainkan di luar jam kerja, membuat Inka merasa sangat gugup.


"Kenapa aku sangat gugup, ini hanya makan malam biasa, tapi ... tatapan Tuan Naren saat meminta ku untuk memboking restoran steak sangat berbeda, membuatku merasa canggung. Situasi apa ini?" gumam Inka.


Inka pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, selesai mandi, Inka langsung masuk ke kamarnya dan merias wajahnya.


Setiap polesan menempel di pipinya yang mulus dan tak lupa ia mencatok rambutnya yang panjang.


Setelah selesai, Inka menatap wajahnya di depan cermin. Ia sangat kagum dengan wajahnya sendiri.


Berbeda dengan Naren yang sibuk sedang merangkai kata untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Sulit sekali, ternyata benar apa kata orang. Cinta bisa membuat kita terlihat sangat bodoh," ucap Naren, di depan cermin.


Naren langsung masuk ke kamar mandi, ia sudah menyerah, otaknya sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


Selesai mandi ia langsung menggunakan kaos dan jas santai, terlihat sangat tampan dengan gaya rambut yang modern.


Saat Naren keluar dari kamarnya, Putra sangat terkejut melihat Kakaknya sangat rapih dan wangi, membuatnya penasaran.


"Kakak mau ke mana?" tanya Putra.


"Bukan urusanmu," jawab Naren.


"Kakak mau kencan ya sama perempuan yang datang bersama orang tuanya kemarin," tanya Putra, membuat mood Naen langsung berubah menjadi buruk.


"Jangan bahas wanita itu, dia bukan siapa-siapa," jawab tegas Naren.


"Lalu Kakak akan kencan dengan siapa?" tanya Putra yang terlihat sangat penasaran dengan Naren.


Naren langsung menatap wajah Putra.


"Dengarkan aku, ini semua bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur urusan Kakak," jawab naren, langsung pergi meninggalkan Putra.


"Galak sekali dia, apa salahnya berbicara dengan manis, aku juga kan punya perasaan, kata-katanya sangat menyakitkan," gerutu Putra.


Naren langsung melajukan mobilnya dan menjemput Inka. Di dalam perjalanan Naren terlihat sangat gugup, tetapi ia berusaha untuk tenang.


Terdengar bunyi klakson mobil Naren, membuat Inka yang masih berada di kamar langsung melihat dari jendela.


"Dia sudah datang," ucap Inka.


"Siapa yang datang," sahur Jimin masuk ke dalam kamar Inka karena penasaran.


"Galak sekali Kakak ini, eh ... Kakak mau kemana?" tanya Jimin.


"Kenapa memangnya? Aku mau kemana ya urusanku, hu ... kepo!" jawab Inka.


"Aku adukan ibu," ucap Jimin.


Jimin berlalu pergi meninggalkan Inka, dan ia berjalan untuk menghampiri ibunya. Saat ia akan mengadu tentang Kakaknya yang akan pergi, Jimin melihat Naren sedang berpamitan dengan Sholihin dan Rosida.


Rosida melihat Jimin berdiri di dekat ruang tamu, langsung memanggilnya.


"Panggilkan Kakakmu, bilang ada Tuan muda Naren," perintah Rosida.


'Yaelah, ternyata Kakak mau pergi bersama pria itu,' batin Jimin.


"Kakak! Kemari, disuruh ibu. Bosmu sudah menunggu," ucap Jimin.


Inka pun keluar dan menemui Naren, berata terkejutnya Naren melihat penampilan Inka yang tidak biasa, ia terlihat sangat cantik dengan rambut yang sengaja di bentuk bergelombang, membuat penampilan Inka terlihat sangat menawan.


Naren tersenyum, membuat Inka justru malah salting. Akhirnya Naren berpamitan dan meninggalkan kedua orang tua Inka.


Saat mereka berdua memasuk mobil, jantung Inka pun berdetak sangat cepat, begitu pula Naren. Keduanya sedang di landa rasa cinta yang memang sudah tumbuh sejak lama.


Terasa sangat panas, entah apa yang membuat hawa di dalam mobil, berubah menjadi gerah.

__ADS_1


"Apa ACnya mati Tuan?" tanya Inka.


Naren langsung memeriksa AC di dalam mobilnya, ternyata AC itu udah nyala.


"AC nya sudah nyala, mungkin kamu belom mandi," jawab Naren.


Inka langsung menatap Naren.


"Enak saja, apa Tuan tidak bisa melihat penampilanku yang sangat memukau ini," ucap Inka dengan penuh percaya diri.


"Aku tidak melihatnya," goda Naren.


"Aku rasa mata Tuan sedang bermasalah," ucap Inka memperhatikan Naren.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Inka


"Aku hanya memperhatikan mata Tuan saja, ada makhluk gaibnya atau tidak," jawab Inka.


Perbincangan mereka membuat perjalanan tak terasa sudah sampai di parkiran resto elit.


Mereka berdua keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam resto, ia berjalan dan di sambut oleh pelayan resto.


"Permisi Nona, apa anda susah memesan tempat duduk?" tanya Pelayan itu.


"Iya, atas nama Narendra," jawab Ink.


Pelayan itu langsung mengantar mereka berdua, pas kebetulan di dalam resto itu sedang ada acara, suasana di dalamnya terlihat sangat mewah terdapat bunga di setiap meja.


Inka yang melihat keindahan resto itu, sangat mengaguminya.


"Wah ... indah sekali, siapa yang berani membuat acara di resto semewah ini?" kagum Inka menatap setiap dekorasi ruangan.


"Apa kau menyukai kemewahan?" tanya Naren.


Inka menatap Naren.


"Aku tidak terlalu suka kemewahan, aku hanya menyukai susana yang romantis," jawab Inka.


Inka langsung terdiam, tak lama ia menatap Naren.


"Kenapa Tuan bertanya seperti itu?" tanya Inka.


Tidak menjawab pertanyaan Inka, dengan penuh keberanian, Naren memegang tangan Inka dengan erat.


Inka sangat terkejut dengan tingkah Naren, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, membuat seluruh tubuhnya terasa dingin karena gugup.


'Gugupnya aku melebihi ujian nasional.'


BERSAMBUNG....


Readers ku yang budiman, dukung karyaku terus ya, mohon kritik dan sarannya. jangan lupa tinggalkam jejak 💗

__ADS_1


__ADS_2