Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Kedinginan


__ADS_3

Ketika Inka naik panggung untuk memperkenalkan perusahaan Adewe Group, membuat Naren sangat gugup karena ini pertama kalinya sekretarisnya yang naik panggung, semua harapan Naren bergantung pada acara ini. Ia berharap Inka bisa memperkenalkan perusahaannya dengan baik.


Inka berjalan dengan anggun, senyumannya membuat tamu undangan ikut tersenyum. Dengan penuh percaya diri dan tutur bahasa yang sangat indah di dengar, Inka memperkenalkan keunikan perusahaan Adewe Group. Semua tamu undangan menatapnya dan ingin segera bertemu dengan pemilik Adewe Group untuk melakukan kerja sama.


Presentasi pun selesai, tepuk tangan sangat meriah membuat Inka mengundurkan diri dan kembali duduk di samping Naren. Naren tak hentinya menatap Inka yang terlihat sangat berbeda dari biasanya, Ia terlihat seperti wanita yang sangat berkelas. Membuatnya hanyut dalam pandangan.


"Apa kau Inka sungguhan?" tanya Naren.


"Apa maksud tuan? Nama ku Inka pioni, bukan kah tuan sudah mengetahuinya," jawab Inka.


"Kau sangat keren," ucap lirih Naren membuat Inka tersenyum menatapnya.


'Dia mengatakan penampilan ku keren, aku jadi malu dan gugup saat menatap bos ku sendiri,' batin Inka.


Setelah acara inti selesai, saatnya para tamu undangan menikmati hidangan yang sudah di sediakan, termasuk Inka yang berjalan mengambil makanan.


"Penampilan mu sangat memukau," ucap Amar.


Inka pun menoleh ke arah Amar dan tersenyum.


"Terima kasih atas pujiannya tuan," kata Inka menundukan kepalanya.


Naren yang melihat Inka sedang mengobrol dengan Amar membuatnya penasaran dan berjalan mendekati mereka berdua.


Naren berdehem membuat mereka menghentikan obrolannya dan menatap Naren.


"Kau mau makan dengan kamu, mari gabung, aku pikir kau tidak menyukai makanan sini," ucap Amar.


"Kalian terlihat sangat akrab," tanya Naren.


Inka teesenyum, "perasaan tuan Naren saja, obrolan kami satu sirkle jadi terlihat akrab," sahut Inka.


"Sekretaris mu benar juga, dan kau tahu jika Inka memiliki kebiasaan yang hampir sama dengan ku, itu sangat cocok," ucap Amar.


Ucapan Amar membuat Naren sangat kesal, ia memotong daging panggang dengan begitu sadis membuat Inka yang memperhatikan Naren langsung memegang tangannya.


"Tuan, kau harus hati-hati. Pisau ini bisa melukai tanganmu," sahut Inka.


Naren pun melihat perhatian Inka langsung terdiam dan meletakan garpunya.

__ADS_1


"Cuacanya cukup panas, aku harus cari angin segar," ucap Naren langsung bangkit dari tempat duduk nya.


"Di luar hujan tuan, nanti anda bisa terkena flu," kata Inka.


Naren tidak mendengarkan semua yang di katakan Inka, dengan penuh percaya diri. Ia berjalan keluar gedung dan menikmati ujan lebat yang membawa hawa dingin.


Naren merasa dingin, membuatnya tak mau kembali ke dalam karena malu jika bertemu dengan Inka dan Amar.


Cukup lama Naren di luar sampai membuat tangannya dingin dan mulai menggigil, Inka pun malah asik mengobrol dengan Amar dan klien lainnya. Sambil tertawa terbahak-bahak, ia tidak menyadari jika bosnya hampir mati kedinginan.


Naren masih tetap berada di luar, karena gengsi jika ia kembali masuk ke dalam ia akan di buli oleh Amar, maka dari itu ia bertahan berada di luar gedung.


Akhirnya Inka menyadari jika ia tidak melihat bosnya dari tadi membuat Inka pamit kepada kliennya dan mencari Naren.


Setiap tempat sudah ia kunjungi tetapi tetap tidak melihat Naren. Sampai akhirnya ia teringat jika Naren sempat mengatakan dengannya untuk menghirup udara segar, Inka langsung berjalan keluar gedung.


Inka melihat setiap sudut tidak ada Naren, tanpa di sadari Naren terduduk di sampingnya. Ia berusaha menarik gaun Inka, membuat Inka yang gaunnya merasa ada yang menarik langsung menoleh ke bawah.


"Tuan!" seru Inka.


Naren memberi isyarat untuk tidak berisik, membuat Inka langsung ikut berjongkok.


"Ngapain tuan di sini?" tanya Inka.


Inka yang panik, langsung membawa Naren pergi meninggalkan gedung itu dan masuk ke dalam mobil untuk kembali ke hotelnya.


Terlihat sangat pucat, akhirnya Naren di selimuti oleh cardikan milik Inka.


"Tuan apa yang terjadi?" tanya Inka.


"Sudah ku katakan di luar hujan, kenapa tuan malah ngeyel," ucap Inka.


"Hei, kau ini sangat cerewet seperti wartawan, sudah diam saja. Kepalaku sakit karena nahan dingin," kata Naren.


Inka berusaha menahan untuk tidak marah dengan Naren yang membuatnya sangat kesal.


'Bos satu ini sangat menyebalkan,' batin Inka.


Sampai di hotel Naren langsung masuk ke dalam kamarnya, di ikuti Inka yang memang masih berjalan.

__ADS_1


"Kau masuk ke kamar ku," ucap Naren.


"Aku!" kata Inka.


Inka pun masuk ke dalam, menyiapkan baju hangat untuk Naren. Ia pun menyiapkan minuman hangat yang memang sudah di sediakan di kamar hotel.


Sambil menunggu Naren selesai membersihkan diri, Inka memainkan ponselnya sambil tertawa terbahak-bahak, ia tidak menyadari jika Naren sedari tadi memperhatikannya.


Inka langsung terdiam saat ada yang memperhatikannya, ia melihat Naren yang hanya mengenakan handuk melingkar di pinggangnya, membuat Inka langsung menutup matanya.


"Kenapa tuan tidak memberitahuku terlebih dahulu jika sudah selesai," ucap Inka.


"Kau yang terlalu sibuk memainkan ponsel mu, sana keluar," kata Naren.


Inka langsung keluar dengan mata terpejam dan apesnya lagi kepalanya membentur pintu yang tertutup. Suara benturan itu terdengar cukup keras membuat Naren seketika tertawa.


"Aduuh, kenapa pintu ini tidak bilang jika masih tertutup," gerutu Inka menoleh ke arah Naren yang masih tertawa.


Jidadnya yang memerah membuatnya cepat-cepat keluar daru kamar Naren.


"Ini semua kesalahan tuan Naren, kenapa tidak bilang jika sudah selesai mandi. Kan begini lah akibatnya," gerutu Inka.


Naren yang melihat Inka menjauh dari kamarnya, masih tertawa ngakak, sampai ia tidak menyadari jika handuk nya terlepas kebawah. Ia merasakan ada yang aneh, saat matanya melihat bawah, betapa terkejutnya ia melihat burungnya keluar dari sarang.


Dengan cepat Naren langsung mengambil handuk itu dan berlari menutup pintu kamar nya.


"Sial! Untuk saja burung ku tidak terbang jau," seru Naren.


Inka membersihkan dirinya, saat akan meyisir rambutnya, ia melihat di depan cermin bekas benturan di jidadnya masih memerah.


"Astaga ini sakit sekali," ucap Inka.


"Bos sialan! Kenapa dia tidak memberitahu ku, awas saja, akan aku balas kau ya," gumam Inka.


Mereka memutuskan untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukan pukul 23.00 malam, karena lelah Inka langsung tertidur lelap, ia tidak menghiraukan suara apapun.


Berbeda dengan Naren yang tidak bisa tidur karena terus memikirkan Inka, entah apa yang sedang terjadi dengan otaknya. Membuatnya tidak bisa memejamkan matanya.


"Kenapa mata ini sulit untuk di pejamkan," gumam Naren.

__ADS_1


Berbagai cara telah Naren lakukan, tetapi tetap saja tidak bisa tidur, jarum jam pun semakin berputar ke kanan. Membuat matanya masih terjaga, tak lama matanya pun terasa lelah dan Naren pun mulai tertidur. Tetapi ....


BERSAMBUNG.


__ADS_2