
Naden yang meras Inka tidak keluae dari ruangan Robi, membuatnya merasa gelisah, akhirnya Naren langsung membuka pintu ruangan Robi.
Saat Naren akan membuka pintu itu, ia sangat terkejut melihat pintu ruangan Robi seperti ada tahanan. Ia berusaha mendorong lagi tetap saja ada yang menahan dari dalam.
Inka yang berusaha menahan pintu itu, membuat Robi bingung.
"Ada apa?" tanya Robi.
Inka sambil menahan kuatnya tenaga Naren yang mendorong dari luar.
"Ada monster masuk Pak, jadi saya harus melindungi Bapak," jawab Inka.
"Hah Monster, kamu pikir kita hidup di dunia dogeng?" tanya Robi yang berusaha mendekati Inka.
"Stop!" teriak Inka.
Robi langsung berhenti, ia merasa bingung dengan Inka.
"Bapak cukup duduk di kursi saja," Perintah Inka.
Alexa yang melihat Naren membuka pintu ruangan Robi dengan paksa membuatnya merasa heran, apa sebenarnya yang terjadi.
"Ada apa sih, kenapa tingkah Naren seperti itu," gumam Alexa.
Alexa masih memantau Naren dari dalam ruangan Naren.
"Ini pasti gara-gara Inka sialan itu," ucap Alexa.
Naren berusaha mengempulkan tenaganya, dengan kekuatan super ia berhasil membuka pintu ruangan Robi.
Saat ia membuka pintu itu, Naren langsung masuk ke dalam, ia tidak melihat ada Inka di dalamnya, Robi yang pura-pura sedang mengetik, langsung menoleh ke arah pintu.
"Tuan!" panggil Robi langsung berdiri.
"Ada apa?" tanya Robi.
Naren berusaha mengatur napasnya terlebih dahulu, ia langsung melihat ruangan Robi yang kosong.
"Apa kau melihat Inka?" tanya Naren.
"Inka, bukanya dia sudah keluar," tanya Robi.
"Aku belom sempat melihatnya keluar dari ruanganmu," jawab Naren.
"Tapi aku tidak melihatnya Tuan, mungkin dia menghilang," ucap Robi.
"Kau pikir dia hantu," sahut Naren.
Merasa putus asa ia langsung keluar dari ruangan Robi dan kembali ke dalam ruangannya.
"Kemana Inka," lirik Naren, berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Kamu sedang mencari apa?" tanya Alexa.
"Ah, itu tidak penting," jawab Naren.
Naren langsung duduk di kursinya, ia tidak memperdulikan Alexa yang masih ada di ruangannya.
Naren berusaha menelpon Inka, membuat Inka yang masih ngumpet merasa kaget, mendengar ponselnya bergetar.
Inka langsung melihat ponselnya.
__ADS_1
"Waduh Naren nelpon," lirih Inka.
Inka membiarkan ponselnya terus berdering, sampai akhirnya Robi keluar dari ruangannya dan akan rapat dengan Naren.
"Apa kau masih akan di dalam meja?" tanya Robi.
Tidak mendapat jawaban dari Inka, ia pun langsung memeriksa bawah mejanya. Ia melihat Inka malah tertidur membuatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ada-ada saja tingkahnya," ucap Robi.
Robi langsung keluar dari ruangannya, ia melihat Naren pun keluar dari ruangannya, mereka berjalan bersama menuju ruang rapat.
"Apa kau menyembunyikan Inka?" tanya Naren.
"Tidak," jawab singkat Robi.
"Lalu kemana perginya Inka," tanya Naren.
"Aku tidak tahu, mungkin dia sedang bersembunyi," jawab Robi.
Naren seperti mendapat hilal, ia langsung ke dalam ruang rapat.
Inka yang masih di bawah meja, ia langsung terbangun saat mendengar suara ponselnya jatuh ke lantai.
Inka langsung keluar dari persembunyiaanya.
"Dimana Pak Robi? Apa dia menghadiri rapat?" tanya Inka.
Tidak mendapat jawaban dari siapapun, Inka langsung keluar dari ruangan Robi, ia duduk di mejanya.
Inka mengeliak, ia merasa badannya sangat melelahkan.
Melihat jam dinding menunjukan pukul 16.00 sore, waktunya semua karyawan pulang kerja, berbeda denga mereka yang memang sesang menghadiri meting bersama Naren.
Saat bus itu datang, ia langsung masuk dan duduk di kursi, Inka melihat pemandangan sore hari yang terlihat sangat ramai di penuhi kendaraan membuat jalanan macet.
Sampai dirumah, Inka melihat Rosida sedang bersiap-siap untuk berjualan ayam goreng spesial.
Inka langsung membantu Sholihin menatap kursi dan mengelap meja.
"Tumben kau pulang lebih awal?" tanya Rosida.
"Aku hanya ingin membantu Ibu menyiapkan dagangan," jawab Inka.
"Alah, pasti ada maunya," ucap Rosida.
"Tidak Ibu, aku membantu dengan ketulusan hati, he ... he ... he," sahut Inka.
.
.
.
.
Alexa yang berada di salah satu cafe yang sangat femiliar, ia sedang berbicara dengan seseorang untuk melancarkan aksinya tanpa memberirahu Putra.
Alexa bersifat curang, niatnya memang ingin menghabisi Inka dan menyingkirkannya menjauh dari Naren, tetapi Putra tidak mengetahui niat buruknya itu.
"Kau siap, malam ini kalian harus segera bertindak, jangan sisakan dari mereka, karena aku ingin ada kabar duka dari keluarga itu, ucap Alexa langsung menyerahkan foto dan alamat rumah Inka.
__ADS_1
Preman itu langsung tersenyum sengit, ia terlihat sangat senang mendapat pekerjaan baru dari Alexa dan akan mendapat imbalan yang sangat besar.
Malam itu.
Inka membantu kedua orang tuanya berjualan, ia melayani setiap pembeli dengan ramah, malam itu sangat ramai orang yang membeli ayam goreng racikan Rosida yang sangat lezat.
Dari kejauhan ada yang memantau kedai milik Inka, mereka langsung mengangguka kepalanya satu sama lain, seolah memberi syarat jika mereka akan bertindak saat kedai akan tutup.
"Ramai sekali kedau malam ini, aku sangat kualaha," keluh Inka.
"Sudah layani saya, orang yang membeli ayam," ucap Rosida.
Inka dengan malas langsung melayani semua pelanggan, sampai akhirnya kedai mereka akan tutup.
Semua pelanggan sudah pergi meninggalkan kedai, hanya tersisa Inka dan kedua orang tuanya.
Inak berusaha duduk di lantai, karena ia merasa kakinya sangat pegal dan mau patah.
"Hadeh ... aku sangat lelah," ucap Inka.
"Sama, Ibu juga," sabut Rosida yang duduk di samping Inka.
"Ayah juga lelah," sahut Sholihin.
"Kita sama-sama lelah," ucap Inka.
Tiba-tiba Inka dan kedua orang tuanya di kagetkan dengan kedatangan 3 preman beebadan besar, menggunakan sarung untuk menutupi kepalanya.
"Kerahkan uang kalian untuk kami, atau kalian akan mati," ancam Premen.
Inka terkejut, karena selama mereka membuka kedai di rumahnya, tidak ada preman yang datang, tiba-tiba menyerang dan meminta uang.
"Siapa kamu?" tanya Inka.
"Aku preman, kenapa? Apa kamu takut?" jawab Preman.
"Oh preman, ku pikir kalian spiderman," ucap Inka.
Preman itu menyerang Inka, preman itu sangat terkejut melihat ketiga orang yang akan di habisinya itu pinter berkelahi, terlihat dari gaya Sholihin yang seperti orang yang akan silat.
Rosida terlihat seperti pelatih tekwondo, dan Inka terlihat seperti avenger yang akan melawan musuhnya.
Preman itu merasa ketar-ketir, tetapi demi bayaran yang besar, ia langsung menyerang begitu saja.
Mereka pun akhirnya berkelahi dengan versinya masing-masing. Jimin yang berada di dalam rumah, ia melihat keributan di luar rumah, membuatnya langsung menoleh ke arah sumber suara.
Jimin sangat terkejut melihat Kakak dan kedua ornag tuanya tengah berkelahi dengan sangar, membuat Jimin langsung menelpon Naren dan menelpon polisi untuk menyelamatkan kedua orang tuanya.
Naren yang baru saja selesai mandi, ia merasa ponselnya berbunyi membuatnya langsung menoleh ke arah ponsel.
Saat Naren mengangkat telpon dari Jimin, ia sangat terkejut saat mendengar jika kedainya di serang oleh segerombol preman.
Naren langsung melajukan mobilnya menuju rumah Inka, perasaan yang tidak karuan, membuat Naren langsung melajukan dengan kecepatan tinggi.
Sampai di rumah Inka, ia melihat kedai yang berantakan, membuat Naren langsung mencari keberadaan Inka.
"Inka!" teriak Naren, mulai panik.
Inka langsung menoleh kearah sumbee suara, ia melihat Naren yang mencarinya.
"Aku di sini!" seru Inka.
__ADS_1
Mendengar suara Inka, Naren langsung menoleh ke arah belakang, ia melihat Inka yang penampilannya sangat kacau, membuat Naren langsung memeluknya dengan erat, terlihat di matanya sangat mengkhawatirkan Inka.
BERSAMBUNG...