Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Patah hati Ludin


__ADS_3

Melihat seceriaan Sholihin dan Rosida yang menceritakan masa mudanya, membuat Inka langsung memotong pembicaraan mereka.


"Ayah! Ibu! Sudah sana tidur, Tuan Naren kemari ada yang mau di bicarakan perihal pekerjaan, bukan untuk mendengarkan cerita kalian," ucap Inka.


"Ayah hampir lupa, ya sudah kalian lanjutlah," ujar Sholihin.


Melihat Naren yang hanya bisa tersenyum, membuat Sholihin akhirnya pamit, karena merasa tidak enak hati, sudah menghabiskan waktu Naren.


"Ayah tinggal dulu ya Nak Naren, silahkan ngobrol dulu sama Inka," pamit Sholinin.


Kedua orang tua Inka pun masuk ke dalam untuk istirahat, tinggal tersisah Inka dan Naren, suasa terlihat mulai canggung, membuat Inka pum terlihat gugup.


"Tuan ... bisa ulangi ucapan Tuan yang tadi saat kita berada di luar rumah," ucap Inka.


"Apa tidak sebaiknya kita bicarakan di luar, aku tidak mau di dengar oleh orang tuamu," sahut Naren.


Saat mereka berdua akan keluar dari rumah, mulai terdengar suara bising yang membuat Naren dan Inka sempat terdiam saling pandang.


"Siapa lagi itu?" ucap Inka mulai kesal.


Suara genrengan gitar dari luar mulai terdengar, suara itu tidak asing bagi Inka, membuat Inka langsung menepuk jidadnya.


Naren merasa bingung dengan tingkah Inka.


"Ada apa?" tanya Naren.


Rosida yang mendengar suara yang sangat merdu itu, seperti suara kaleng rombeng, membuatnya langsung keluar menemui Inka.


"Siapa dia, apa dia Ludin?" tanya Rosida.


Naren pun bingung.


"Siapa Ludin?" tanya Naren kembali.


"Dia anak tetangga sebelah, yang memang suka dengan Inka, tapi Inka tidak menyukainya," jawab Rosida.


"Kenapa dia harus datang sih, mengacaukan suasana saja," oceh Inka membuka pintu rumahnya.


Saat pintu rumah Inka terbuka, betapa terkejutnya ia melihat hiasan dan taburan bunga yang mengotori halaman rumahnya, membuat Inka sangat geram.


Ludin terus bernyanyi lagu Roma Irama, artis top yang sangat iya kagumi, dengan style yang sama persis membuatnya penuh percaya diri.


Ludin menganggap Inka sangat menyukai penampilannya.


"Stop!" teriak Inka, membuat musik yang meringi Ludin bernyanyi langsung berhenti.


"Eh ayang aku kok malah nyuruh aku berhenti bernyanyi? Ada apa?" tanya Ludin.


"Aku bukan ayangmu! Ada apa lagi datang kemari?" jawab Inka dengan nada yang sangat kesal.


"Aku membawa mereka semua untuk melamarmu, setidaknya aku ingin memberitahumu terlebih dahulu, lewat lagu ini. Apakah kau tahu ... oh isi hatiku ..." jawab Ludin sambil bernyanyi sepotong lagi, tiba-tiba Naren keluar dan berdiri di belakang Inka.


Naren menatap Ludin dengan tatapan yang dingin, membuat Ludin langsung berhenti bernyanyi.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Ludin menunjuk ke arah Naren.


Inka langsung menoleh ke belakangnya, ia melihat Naren yang mulai menggegam tangan Inka, membuat Inka pun kaget.


"Aku kekasihnya," jawab Naren dengan lantang.


Semua orang terkejut dengan penuturan Naren, Rosida yang mendengar pun ikut kaget, matanya melotot dan mulutnya terbuka, sama dengan Inka yang sangat terkejut dengan jawaban dari mulut Naren.


Naren menggenggam tangan Inka dengan erat, membuat Ludi yang melihatnya langsung syok.


Hatinya bagai tersambar petir, matanya terus berkedip merasa ini semua adalah mimpi.


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Ludin.


"Coba kau cubit aku, aku rasa aki bermimpi," sambungnya.


Para temannya yang membantu Ludin, langsung mencubit dengan keras, sampai berulang kali. Membuat Ludin merasa kesakitan dan menangis di depan Inka.


Tangisan itu membuat keluarga Sholihin sudah tidak heran dengan tingkah aneh Ludin.


"Aduh kumat lagi, kalo udah nangis, urusannya panjang," ucap Rosida.


"Suruh dia pergi saja," perintah Rosida.


"Hua ... hua ... dindaku, kau begitu tega berpaling dariku, kurang apa aku padamu, seluruh cintaku, nyawaku, ragaku, ku berikan padamu, tapi kau memilih dia, hancur hatiku berkeping-keping sampai terbang di bawa angin, kau sungguh tega dindaku," oceh Ludin, membuat Inka dan Naren saling pandang.


Dengan tangisan yang sangat menyakitkan, Ludin pun sampai terduduk di tanah, ia mulai menggelosorkan badannya dan berguling-guling, membuat Inka langsung bertindak.


"Ludin! Sudah sana pulang, kau di cari ayahmu!" teriak Inka membuat Ludin langsung berhenti menangis.


"Kau membawa semua barang ini, apa sudah meminta ijin ayahmu? Bagaimana jika dia tahu, kau akan di pukul dan di buang ke laut, apa kamu mau?" ancam Inka yang berbohong kepada Ludin.


Ludin terdiam dan berfikir sejenak, ia langsung berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor karena terkena tanah.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Ludin.


Inka menahan amarahnya dengan menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Ya pulang! Sana pulang! Sebelum ayahmu tahu!" seru Inka.


"Tapi urusan kita belom selesai, aku akan kembali setelah urusanku dengan ayahku selesai, dada bebyku," ujar Ludin yang berkemas pulang meninggalkan Inka.


Melihat Ludin sudah pergi menjauh dari hadapan Inka, Inka merasa sangat lega. Ia melihat genggaman tangan Naren sangat erat, membuatnya sudah untuk lepas.


Inka terus memperhatikan genggaman itu dan menatap Naren.


"Apa ucapanmu benar?' tanya Inka.


Naren pun tersenyum, dan menganggukan kepalanya.


"Benarkah? Aku ingin mendengar sekali lagi," pinta Inka.


"Baiklah," sahut Naren.

__ADS_1


"Aku mencintaiku, maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Naren mengangkat tangan Inka dan menciumnya.


Inka sangat kaget, melihat perlakuan romantis sang Bos, yang terkenal sangat menyebalkan.


Inka tersenyum, membuat Naren langsung memeluknya.


Tiba-tiba Rosida yang menyaksikan dengan matanya langsung. Membuatnya langsung berdehem.


Ehem!


Suara itu langsung membuat Naren melepaskan pelukannya dan menjauh dari Inka.


"Beraninya kalian berpelukan di depanku, anak-anak yang tidak sopan," ucap Rosida.


Nare langsung menatap Rosida.


"Maafkan saya bu, apa boleh saya berpacaran dengan Inka? Saya mohon izin Ibu," tanya Naren.


Rosida terdiam, melihat sisi dari tubuh Naren yang tidak terlihat kurang sedikitpun, membuat Rosida langsung mengiyakan.


"Dengan satu syarat, kau harus membelikanku hadiah, karena besok Ibu ulang tahun," jawab Rosida.


"Siap bu, saya akan membawa Ibu belanja. Besok kita berangkat," ucap Naren.


Inka langsung menatap tajam ke arah Rosida.


"Ibu!" panggil Inka.


"Ada apa? Dia calon mantuku," ucap Rosidam


Inka langsung menatap Naren dengan rasa yang tidak enak.


"Maafkan Ibuku, kau pulang saja, kita bisa bicarakan di telpon saja," ujar Inka.


Naren tersenyum manis.


"Tenang saja, aku memang ingin mengajak kalian jalan-jalan, sampai jumpa besok ya bu," kata Naren.


Rosida yang langsung kegirangan dengan penuturan Naren yang mengiyakan keinginanya.


Inka sudah pasrah, karena ia merasa ucapannya tidak di dengar. Melihat Naren dan Ibunya tertawa bersama, membuatnya ikut tertawa tetapi terasa hambar.


"Sudah malam, Tuan pulang saja, besok kita bertemu di kantor," ucap Inka.


"Apa? Tuan? Aku tidak salah dengar?" tanya Naren, membuat Inka pun mulai garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sayang, sana pulang. Kita bertemu besok," ucap Inka langsung tersnyum manis.


Naren tersenyum senang.


Di rumah Robi.


"Di mana Naren?"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2