
Suara mobil Robi terdengar dari dalam rumahnya, membuat Naren langsung memeriksa lewat jendela, ia membuka pintu, melihat Robi berjalan ke arahnya.
"Tuan sudah bangun?" tanya Robi.
Naren pun bingung, kenapa Robi malah bertanya dengan dirinya.
"Justru aku yang bertanya padamu, dari mana saja kau?" tanya Naren.
Robi pun menatap wajah Naren, dan tangannya menunjuk ke arah jam dinding.
Naren pun langsung mengikuti arah tangan Robi, ia kaget melihat jam pukul 18.30, Naren kembali menatap Robi.
"Apa ini serius? Apa sekarang sudah sore? Itu artinya aku tidur hampir seharian," tanya Naren.
Robi pun menganggukan kepalanya, membuat Naren semakin terkejut.
"Kenapa kau tidak membangunkanku!" ucap Naren.
"Apa Inka berangkat kerja?" tanya Naren.
"Dia tidak masuk kerja Tuan, berkali-kali saya mengubunginya tetap tidak bisa," jawab Robi.
"Kemana dia? Aku harus menemuinya malam ini," ucap Naren bersiap-siap memhambil konci mobilnya.
"Tuan mau kemana?" tanya Robi, membuat langkah Naren terhenti.
"Iya? Kenapa memangnya?" jawab Naren.
"Tuan serius, akan menemui Inka dengan pakaian dan kondisi Tuan yang sangat kacau ini?" tanya Robi memperhatikan penampilan Naren yang sangat berantakan.
Naren langsung menatap cermin yang aja di dekat Robi, ia melihat penampilannya yang sangat kacau langsung meletakan kunci mobil dan kembali duduk.
"Aku tidak membawa baju, aku mandi dulu, pinjam bajumu ya," ujar Naren.
Robi dengan terpaksa mengiyakan apa yang di katakan Naren.
Naren langsung mandi, ia menyempatkan berendam untuk menenangkan pikirannya.
Robi langsung menuju dapur, melihat kompornya nyala, membuat Robi langsung mendekat, melihat panci kecil berisi air yang mendidih, membuatnya langsung mematikan kompor.
"Untung saja tidak meledak, bisa hancur rumahku," oceh Robi.
Selesai mandi, Naren yang masih memakai handu yang melingkar di pingganya, langsung memanggil Robi.
"Mana baju yang harus ku pakai?" tanya Naren.
"Anda ingin menggunakan baju yang mana Tuan," jawab Robi membuka isi lemarinya.
Mata Naren tertuju pada satu kaim yang warnanya sangat unik, membuat Robi yang cepat menyadarinya, langsung menyingkirkan kain kecil itu.
"Apa itu milikmu?" tanya Naren.
"Bukan urusan Tuan, sudah cepat! Tuan mau pilih yang mana," jawab Robi.
Naren langsung tersenyum menatap kain itu.
__ADS_1
"Hayo ... itu kain apa? Seperti milik wanita, apa kau menyimpan wanita di kamar ini?" tanya Naren, memeriksa setiap sudut kamar Robi.
"Tidak Tuan, cepatlah anda pilih baju yang mana, aku ingin mandi, lalu Tuan segera pergi menemui Inka," jawab Robi yang mulai frustasi.
Melihat Robi yang sudah mulai frustasi, membuat Naren langsung memilih kaos dan celana panjang, ia langsung memakai baju itu dan segera keluar untuk menemui Inka.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, tanpa membawa ponsel, ia tidak menyadaei jika ponsel ya sedang di cas.
Setelah sampai di depan rumah Inka, Naren baru menyadari jika dirinya tidak membawa ponsel.
"Sial! Ponselku aku cas, astaga aku bisa lupa," ucap Naren.
Naren melihat rumah Inka, terutama jendela kamar Inka yang lampunya menyala.
.
.
.
Rosida yang menyadari jika ada mobil di depan rumahnya, membuatnya langsung memanggil Inka untuk melihat mobil siapa yang parkir di depan rumahnya.
"Inka!" panggil Rosida, membuat Inka langsung lemas ketika sang ibu memanggilnya dengan begitu lantang.
"Ada apa sih bu?" tanya Pamela.
"Kenapa dengan matamu, apa kau menangis seharian?" tanya balik Rosida.
"Aku habis nonton drama korea, ceritanya sangat sedih, membuatku menangis seharian," jawab Inka.
"Sudah sana periksa di depan itu mobil siapa," perinta Rosida.
Inka dengan membuka pintu rumahnya, ia tidak memperhatikan jika itu mobil Naren, ia langsung menghampiri Naren yang masih duduk di dalam mobil.
Naren yang masih memikirkan bagaimana cara menemui Inka, tidak menyadari jika Inka berada di luar mobilnya.
Inka memperhatikan siapa yang berapa di dalam mobil, sebab kaca mobil milik Naren berwarna hitam, membuatnya kesulitan untuk memastikan siapa yang ada didalam.
Naren mengumpulkan niatnnya untuk menemui Inka, saat matanya menoleh ke arah jendela mobilnya, betapa terkejutnya ia melihat ada seorang wanita yang melotot menatap Naren.
"Astagfirulloh!" kaget Naren membuatnya sangat terkejut.
Inka mengetuk kaca mobil Naren, membuat Naren akhirnya membuka kaca mobilnya dengan perlahan.
Begitu kaca mobil terbuka lebar, mereka berdua terkejut saling menatap satu sama lain. Inka yang akan memarahi pria yang berani parkir di depan rumahnya, saat melihat kaca mobil terbuka, niatnya untuk marah pun langsung diurungkan.
"Kamu!"
Suara mereka sangat kompak, membuat Inka langsung mundur.
Naren langsung membuka pintu mobilnya, Naren menatap wajah Naren yang terlihat sangat kusut dan terlihat pucat.
"Apa kau sakit? Matamu terlihat sangat bengkak, ku dengar kau tidak masuk kerja," tanya Naren.
"Bukan urusan Tuan," jawab Inka dengan nada dingin.
__ADS_1
"Apa kau masih marah denganku?" tanya Naren.
Inka menggelengkan kepalanya.
"Inka! Maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi aku tidak menyetujui perjodohan itu, percayalah denganku," jelas Naren dengan begitu tulus.
"Stop!" seru Inka.
"Aku tidak mau mendengar penjelasan Tuan," ucap Inka.
"Ada apa?" tanya Naren.
Inka mulai mundur dari hadapan Naren dengan menutup kedua matanya menggunakan tangan.
'Dia melihatku tanpa riasan, mana tampilanku seperti gembel,' batin Inka.
"Apa kau memaafkanku? Apa kau masih marah denganku? Jika aku boleh jujur, aku sangat mencintaimu," jelas Naren.
Inka langsung terdiam, ia menatap Naren dengan tatapan bingung dan kaget.
"Tuan ..." ucap Inka.
"Aku sangat mencintaimu, percayalah aku sudah membatalkan perjodohan ini," jelas Naren.
"Apa aku tidak salah dengar," tanya Inka.
Suasana malam yang sangat sunyi dan hening, hembusan angin membuat keadaan semakin serius. Tiba-tiba suara keras terdengar dari dalam, membuat Inka langsung menyauti panggilan itu.
"Iya! Di depan ada Tuan Naren!" teriak Inka.
Suasana yang sunyi dan hening berubah menjadi ramai karena suara Rosida yang terus berbicara.
"Duh, ganggu aja sih," gerutu Inka.
"Apa itu Ibu?" tanya Naren.
Inka menganggukan kepalanya, Naren langsung membalikan tubuhnya tersenyum kepada Rosida.
Rosida pun ikut tersenyum, ia cukup terkejut melihat pria tampan tersenyum kepadanya.
"Loh, ada Tuan muda datang," ucap Rosida.
"Kenapa tidak di suruh masuk, mari Tuan masuk ke dalam, di luar dingin," sambung Rosida.
Inka langsung mendekati Naren dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
"Masuklah, kalo sudah ketauan Ibu pasti berabe urusannya," bisik Inka.
Naren langsung mengerti apa yang dikatakan Inka, mereka pu akhirnya masuk ke dalam rumah Inka.
Naren justru malah ngobrol dengan kedua orang tua Inka, ia terus bercerita seprti bercerita dengan teman lamanya, membuat Inka yang mendengarnya pun sangat muak, ingin kabur menjauh, tapi apalah daya, mereka adalah orang tua yang harus di hormati.
Inka hanya tersenyum melirik Naren yang masih mendengarkan cerita orang tuanya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1