
Naren memasuki kamarnya, saat dirinya masuk kedalam ia sangat terkejut dnegam prilaku Putra yang mengotori kamarnya dengan melakukan hubungan intim tanpa menikah.
Dengan geram, Naren mengepalkan tangannya, ia mendekati Putra dan menariknya hingga terseret di menjauh.
Wanita yang digaulinya, menjerit histeris, ia ketakutan melihat amarah di wajah Naren.
"Keluar!" teriak Naren.
Tanpa aba-aba, wanita itu langsung memunguti pakaiannya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa maksudmu berbuat seperti itu di kamar ku! Hah!" marah Naren tersorot di matanya yang merah.
Putra hanya bisa diam, ia tidak mengatakan apapun, tetapi ia seperti ada dendam dengan Kakaknya.
Terlalu geram, Naren pun memukul tanganya ke arah tembok, ia tidak akan memukul adiknya meskipun telah membuatnya marah besar.
Tangannya mengeluarkan darah, karena telah memukul tembok dengan keras. Naren tidak memperdulikan itu semua, ia melampiaskan amarahnya dengan memukul tembok.
Putra pun sangat heran dengan tingkah Kakaknya yang seperti itu, ia berusaha memanggil nama Naren untuk berhenti.
Tidak mendapat sautan dari Naren, akhirnya Putra menelpon asistennya.
Tak lama Robi datang dengan cepat, ia masuk ke dalam kamar Naren, melihat Naren masih memukul tembok.
Robi langsung menarik baju Naren agar Naren berhenti memukul tembok, cara ini akhirnya berhasil di lakukan Robi.
"Tuan, Hentikan! Kau terluka parah!" teriak Robi.
Naren sudah lepas kendali, Robi berusaha menyuruh Putra untuk menunggu diluar, ia tidak ingin jika Putra mengetahui penyakit Naren.
"Kau tunggu di luar, atau kau pulang saja. Tapi jangan ceritakan kejadian ini kepada orang tuamu, Tuan Naren sangat emosi, ia tidak bisa menyakitimu, begitu besar rasa sayangnya kepadamu, jadi ku mohon. Biarkan dia tenang," ucap Robi.
Putra merasa bersalah dengan sifatnya yang sangat keterlaluan, ia akhirnya pergi meninggalkan Naren dan Robi di dalam mansion.
Robi langsung menghampiri Naren, ia melihat Naren sudah tidak sadarkan diri. Dengan cepat Robi langsung membawa Naren ketempat Dokter Luis.
Perjalanan yang memakan waktu cukup lama, Robi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia mengkhawatirkan kondisi Naren yang terlihat sangat pucat.
Akhirnya mereka sampai di depan klinik Dokter Luis, dengan cepat Robi menghentikan mobilnya, langsung di sambut oleh asisten Luis.
Naren di bawa di dalam, Luis sangat terkejut dengan kondisi Naren yang penuh dengan darah.
"Apa yang terjadi?" tanya Luis.
"Aku tidak lihat pastinya, kejadian yang membuat Naren seperti ini," jawab Robi.
__ADS_1
Naren langsung di tangani dengan cepat, dan sudah di lakukan beberapa pemeriksaan penunjang.
Robi duduk di ruang tunggu, Luis yang melihatnya langsung ikut duduk di sampingnya.
"Sepertinya dia menahan emosi yang berlebihan," ucap Dokter Luis.
Robi menoleh ke arah Dokter Luis.
"Aku juga merasa seperti itu, tapi ... dia sempat mengatakan akan menjual mansionnya, aku rasa ada yang tidak beres," kata Robi.
Dokter Luis menganggukan kepalanya, "kau harus meminta wanita itu datang kemari," ucapnya.
"Siapa? Nona Inka?" tanya Robi.
"Kau benar," jawab Dokter Luis.
Robi langsung meraih ponselnya, ia menelpon Inka.
Inka yang masih merasa sedih dengan ucapan orang tua Naren, membuatnya langsung menoleh ke arah ponselnya yang berbunyi.
"Pak Robi," ucap Inka, ia langsung mengangkat telpon itu.
Inka: "Iya Pak, ada apa?"
Inka sangat terkejut, ia terlihat sangat syok dengan ucapan Robi, yang mengatakan Naren tidak baik-baik saja, membuat Inka langsung panik.
Inka: "Sekarang Pak Robi di mana?"
Robi: "Aku berada di klinik dokter Luis, ku harap jangan katakan apapun dan pada siapapun ya, ini rahasia. Kau datang besok kemari, karena saya harus mengurus mansion milik Tuan Naren."
Inka: "Baiklah Pak, besok saya ke sana."
Sambungan telpon pun terputus, Inka terlihat sangat gelisa, ketika mendengar jika belahan jiwanya tidak baik-baik saja. Membuatnya mencoba menghubungi ponsel Naren, tetapi tidak mendapat jawaban apapun.
"Aku rasa dia sungguhan sakit," ucap Inka.
Malam itu terlihat sangat kacau, di mana hati Inka terlihat sangat gelisah, dan disisi lain keluar besar Bimo pun sedang kacau-kaunya, ia melihat putra pertema membangkang untuk di jodohkan, sedangkan putra keduanya tidak mau mengikuti jejak kakak pertamanya.
Hal ini membuat Bimo semakin kesal dengan kedua putranya.
"Sudah berapa hari kau tidak pulang kerumah?" tanya Bimo.
"Ayah, aku sudah besar. Aku bermalam dirumah Kakak, apa aku salah," jawab Putra.
"Kau selalu saja bermalas-malasan, kau harus belajar untuk masuk ke University yang Ayah inginkan untuk melanjutka perusahaan Ayah. Lihatlah Kakakmu sudah mendirikan perusahaannya sendiri," jelas Bimo dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Ayah sangat egois, ayah selalu meminta aku untuk seperti Kakak! Jelas aku berbeda dengannya Yah! Jangan bandingkan aku dengannya, aku memiliki kehidupanku sendiri," kesal Putra.
Putra langsung masuk ke dalam kamarnya, ia sangat kesal dengan Ayahnya yang selalu membandingkan dirinya dengan Naren.
Putra beranggapan Naren selalu beruntung telah mendapatkan apa yang dia mau, sedangkan dirinya selalu gagal dalam segala hal, Putra merasa dirinya tidak pantas hidup di tengah-tengah keluar kaya raya ini.
"Sudah sayang, mereka masih anak-anak, wajar jika pemikiranya seperti anak kecil," ucap Erlin.
"Ini lah akibatnya, kamu memanjakannya, akhrinya dia tidak punya rasa tanggung jawab," kesal Bimo.
"Kalian semua saling emosi, jadi bisanya menyalahkan satu sama lain, cobalah intropeksi diri. Kita orang tua harus banyak mengalah," ucap Erlin.
Bimo menatap Istrinya dan berusaha untuk mengatur napasnya dengan benar, ia masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Erlin seornag diri di ruang tamu.
Erlin hanya bisa menganggukan kepalanya, ia pun mengikuti langkah suaminya yang masuk ke dalam Kamar.
Di rumah Alexa.
"Kau masih kekeh ingin menikahi Naren?" tanya Edo.
Alexa menganggukan kepalanya.
"Aku tidak akan tinggal diam, jika tidak wanita sialan itu, aku dengan mulus bisa menjalin hubungan dengan Naren. Itu artinya aku harus menyingkirkan Inka," ucap Alexa.
"Sadarlah! Tindakanmu akan merugikanmu dan karirmu, berfikir baik-baik sebelum kau bertindak. Ayah tidak akan setuju dengan cara kotormu itu," ucap Edo.
Sekerika mood Alexa berubah menjadi buruk, ia langsung merasa kesal dengan sang ayah yang tidak mendukungnya.
" Kenapa Ayah selalu saja tidak sedikitpun mendukungku, apa aku salah memeprjuangkan cintaku!" marah!" marah Alexa.
"Kau salah mengartikan semuanya Nak, justru Ayah sangat menyayangimu. Ayah tidak ingin kau terjerumus dalam kejahatan, kau anak yang baik, jadi ikhlaskan dia jika dia tidak mencintaimu," jelas Edo.
Alexa masih tidak terima dengan semua yang di katakan sang ayah, ia langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang sangat kacau.
Entah malam ini malam apa? Semua orang dengan merasakan kegundahan di dalam hatinya, dari masalah percintaan, keluarga, dan masa depan.
Mereka sedang memperjuangkan haknya, dan selalu melakukan yang terbaik untuk mencapai kepuasan.
Ada baiknya jika tidak terlalu mementingkan ego, cobalah untuk menarik napas dan lepaskan smuanya, biarkan di bawa angin yang melayang ke udara.
Menahan emosi agar tidak marah itu sangatlah sulit, tetapi merenung dan intropeksi diri itu lebih baik dari pada kita melakukan sesuatu hal dalam keadaan emosi, itu bisa mencelakakan diri kita sendiri.
Buat para readers ku, terimakasih sudah mengikuti "SEKRETASI CANTIK" sampai sejauh ini, dukung aku terus berkarya, jika kalian ada ide atau gagasan yang lain boleh tulis di kolom komentar ya😊😊🥰.
BERSAMBUNG...
__ADS_1