Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Imajinasi Naren


__ADS_3

"Makanan sudah datang, mari kita makan bersama. Kalian jangan terlalu canggung dengan saya, saya tidak sejahat dan sekejam itu. Luapkan emosi kalian, malam ini kita bersenang-senang," ucap Naren.


Dengan penuh semangat, semua karyawan mengangkat segelas bir untuk merayakan produk baru perusahaan Adewe Group.


"Bersulang!"


Suara itu terdengar kompak, membuat semua orang langsung meneguk bir itu, tetapi tidak dengan Inka yang hanya meminta segelas jus. Ia tidak ingin pulang nanti dalam ke adaan mabuk.


Inka memperhatikan Naren yang sedang berbicara dengan salah satu karyawannya yang ada di departemen penelitian.


Perbincangan itu membuat Naren menghabiskan banyak minuman alkohol, Inka terus memperhatikan Naren, karena ia sangat khawatir dengan kesehatan Naren yang belom pulih sepenuhnya.


Mereka semua terlalu banyak minum, sampai akhirnya ada yang mabok dan berjoget-joget sambil memanggil kekasihnya. Ada juga yang di putusi oleh pacarnya, dia menangis sendu, membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.


Yang lebih mengagetkan lagu ialah, Naren yang mulai mabuk berat, ia menunjuk Inka yang sedang duduk sambil makan sushi, saat ia memakan satu suapan, tiba-tiba tangan itu mengarah ke arahnya.


"Hei kau!" tunjuk Naren.


Inka yang sedang mengunyah, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kau! Kau terlihat sangat cantik," ucap Naren yang mulai ngelantur.


"Memang dia sangat cantik Bos, tapi sayang dia oon," sahut salah satu karyawan yang bernama Bagas.


Inka langsung menatap kesal Bagas, yang mengatakan dirinya bodoh.


"Jaga bicaramu, apa kau tidak tahu, dia adalah pacarku! Beraninya kau mengatakan kekasihku adalah bodoh! Dasar kau tikut got!" ucap Naren yang sangat ketus.


Sebagian orang yang tidak mabuk dan yang mulai sempoyongan, langsung terdiam menatap Inka dengan tatapan yang sangat kaget.


Inka yang merasa di pandangi banyak orang, mulai risih.


"Kalian salah paham, Bos kita kan mabuk, jadi maklumi kalo berbicara suka ngelantur," ucap Inka.


Naren mendengar yang di katakan Inka, ia langsung menyangkal.


"Apa! Kau tidak mengakuiku sebagai pacarmu! Kau wanita yang sangat kejam, apa kau tidak tahu, jika aku sangat mencintaimu lebih daru nyawaku," ucap Naren kembali ambruk di atas meja.


Inka merasa canggung dan ia mencoba untuk senyum pepsodent, tetapi para netizen mulai mempercayai jika Naren menjalin hubungan dengan Inka.


"Aku rasa Bos kita berbicara jujur, karena semabuknya orang pasti akan berkata jujur,"


Gumam seli sembari menatap Inka.


Inka sudah tidak bisa menyangkal lagi, tetapi ia enggan mengklarifikasi semuanya. Inka berinisiatif membawa Naren naik ke kamar yang sudah di pesan, jika Naren tidak segera di bawa menjauh dari kumpulan karyawannya, Naren bisa membongkar semua hubungan yang sudah di tutup rapat-rapat.


"Kau mau kemana Inka?" tanya Bella.

__ADS_1


"Membawa Bos ke kamarnya," jawab Inka.


"Lalu kau akan menemaninya tidur, agar posisimu selalu aman, ups," ucap Bella langsung memegang mulutnya.


Inka langsung mendekat ke arah Bella, ia langsung menunjuk Bella.


"Jaga ucapanmu, atau mulutmu yang nanti akan ku robek, ingat kau yang mengatakan aku akan menemani Bosku bermalam, bisa saja, nanti aku bujuk dia untuk memecatmu, dan memblaklis namamu agar tidak bisa bekerja di manapun," tegas Inka.


Bella merasa ketakutan, ia langsung meminta maaf kepada Inka, dan ia langsung pergi meninggalkan Inka.


'Kau pikir aku ini wanita apaan,' batin Inka.


Inka menatap Naren yang sudah tidak sadarkan diri, merasa malas untuk mengangkatnya.


Dengan susah payah, Inka membantu Naren berjalan sampai ke kamar hotelnya.


Saat membuka pintu kamar hotel, Inka dan Naren langsung masuk, ia langsung menghempaskan Naren di atas rancang.


"Berat sekali tubuhnya, aku merasa seprti memganggat besi," gerutu Inka.


Naren yang merasa sangat leluasa dan merasakan empuk seperti diatas ranjang, membuatnya langsung tertidur dan mulai mengingau.


"Awas! Ada capung. Hap ... hap," ucap Naren, membuat Inka kaget.


Tingkah Naren mengundang tawa Inka.


"Aku lah, itu capungnya segede gajah," ucap Naren sambil menunjukan ekspresi yang sangat menakutkan.


"Mana cabungnya? Sana pukul, nanti dia bisa menggigitmu," ucap Inka.


Naren berusaha mengangkat guling dan melemparkan kesembarang arah, ternyata guling itu mengenai Inka, Inka langsung terjatuh kelantai.


"Ye, capungnya jatuh," ucap Naren dengan girang.


"Dia beranggapan aku capung, dasar sialan. Mana pukulannya sangat kuat," gerutu Inka.


"Capungnya sudah mati, sana tidur. Nanti ada wewe gombel," ucap Inka.


"Ok, aku tidur dulu. Sampai bertemu lagi ibu peri, da daa," pamit Naren.


'Aku rasa dia kehilangan masa kecilnya, bisa-bisanya dia menganggapku ibu peri, peri keabadian,' gumam Inka.


Inka masih terus mendengarkan ocehan Naren, sehingga membuatnya tertawa sampai sakit perut, tingkah lucunya membuat Inka tak henti tertawa.


Terlalu lama hanyut dalam imajinasinya, Naren mulai tertidur pulas, membuat Inka meninggalkan Naren sedirian di dalam kamar.


Saat Inka sudah keluar dari kamar Naren, ia melihat Bimo tengah bersama kekasihnya masuk berjalan masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang dekat dengan kamar Naren.

__ADS_1


Inka langsung masuk lagi ke kamar Naren, ia mengintip Bimo berjalan melewatinya.


"Apa itu benar Pimpinan Bimo?" gumam Inka.


Inka terus memperhatikan dengan teliti, ia melihat wanita itu menggandeng tangannya dan mengatakan sayang.


"Apa mungkin itu istrinya? Aku belom pernah melihat istri Pimpinan Bimo, sepertinya aku harus mencari tahu informasi yang akurat, tapi bagaimana ya, hotel ini sangat ketat dengan privasinya? Sangat kulit untuk mencaritahu siapa pria tadi," gumam Inka.


Inka pura-pura mengikuti Bimo, untuk memastikan kamar yang di pesan.


Inka langsung memotret Bimo dan kamar yang di pesan, dengan cepat Inka langsung turun ke resepsionis untuk mencoba mencari tahu informasi tetang Bimo.


Saat ia turun kebawah, Inka langsung menyapa resepsionisnya.


"Permisi mbak," sapa Inka.


Dengan rasa resepsionis itu membalas sapaan Inka.


"Apa ada seorang lelaki yang memesan kamar hotel di sini atas nama Bimo?" tanya Inka.


"Bimo siapa ya mbak?" jawab resepsionis.


Inka mikir sejenak, ia bingung, tidak tahu nama lengkapnya.


"Hem ... Bimo Prawira," ucap Inka asal-asalan.


"Memangnya anda ini siapa ya? Mengapa menanyakan tamu kami?" tanya resepsionis.


Inka langsung menunjukan aksinya, ia seolah-olah menjadi anak dari Bimo.


"Kalo mbak gak mau ngasih tahu di mana ayah saya, akan saya tuntut hotel ini ya, apa mbak gk tahu siapa saya!" seru Inka.


Resepsionis itu merasa takut dan tidak mau ambil resiko, akhirnya ia memberikan nomor kamar yang di pesan oleh Bimo.


'Lu macem-macem dan gak ngerestui gua dengan Naren, gua aduin ke istri elu. Mampus lu ya,' gumam Inka.


Tidak ingin tergesa-gesa, Inka langsung menemui Robi untuk menanyai detail tentang keluarga Naren. Ia mulai penasaran dengan Bimo yang terlihat tidak menyukainya ketika dengan Naren, justru malah memilih nenek lampir si Alexa.


"Apa!"


"Apa itu benar?"


"Aku jadi ikut kesal sama seperti Naren."


"Dasar pria kurang ajar!"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2