Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Panggilan Sayang


__ADS_3

Berulang kali Inka menghubungi Naren, tetapi tidak mendapat jawaban, membuat Inka sangat kesal dan akhirnya ia memesan taksi agar segera sampai ke kantor.


Sampailah Inka di kantor.


Inka masuk ke dalam, ruangan terlihat masih sangat sepi.


"Apa aku terlalu pagi," ucap Inka.


Geri yang melihat Inka langsung berteriak memanggil namanya.


"Jeng Inka!" panggil Geri.


Inka langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Kau Geri? Astaga ... aku hampir tidak mengenalinya," ucap Inka.


"Aku mengubah penampilanku, karena sekarang aku sudah memiliki pasangan. Eh sehari kau tidak masuk kerja, kemana? Apa kau sakit? Rasanya sepertu satu minggu," kata Geri.


"Benarkah? Kau merindukanku ya," ucap Inka.


"Kapan kau jadian? Itu artinya kau harus meneraktirku," sambung Inka.


Mereka jalan bersama, masuk ke dalam ruanganya.


Naren mulai membuka matanya, karena ia ingin buang air kecil, sayup sayup ia melihat cahaya di balik jendela.


Naren langsung masuk kamar mandi karena ia merasa sudah tidak tahan lagi.


Keluar dari kamar mandi, ia langsung membuka hordeng sehingga cahaya dari luar membuat Robi terbangun.


"Sudah siang ya," ucap Naren, seketika Naren langsung menatap jendela dan matanya melotot.


Naren langsung memeriksa ponselnya, ada beberapa panggilan tak terjawab, membuatnya langsung membangunkan Robi.


"Hei, bangun!" panggil Naren.


Naren berkali-kali menggoyangkan badan Robi, tetapi tidak membuat Robi terbangun.


"Ternyata dia lebih susah di bangunkan, jika dalam kondisi mabuk," ucap Naren.


Naren berfikir keras untuk membangunkan Robi, tiba-tiba matanya menatap air dingin yang ada di dalam lemari pendingin, Naren langsung berjalan mendekatinya. Ia membuka lemari pendingin itu dan mengambil sebotol air mineral yang dingin.


Naren langsung mencipratkan ke wajah Robi, sehingga membuat Robi mulai bereaksi untuk bergerak.


Naren perlahan-lahan mencipratkan air ke wajah Robi, tetapi tidak membuat Robi bangun. Hanya membuat Robi mengeliat saja, membuat Naren sangat kesal.


Akhirnya Naren mengguyur air dingin itu, Robi langsung berteriak dan seketika bangun.


"Banjir!" teriak Robi, ia terdiam seperti orang yang bingung, melihat dirinya berada di rumah dan tidak kebanjir, tetapi tubuhnya basah kuyup membuatnya bingung.


Naren pun berusaha menahan tawanya.


"Bangunlah, kita harus ke kantor," ucap Naren.


"Kantor? Memangnya aku siapa?" tanya Robi, malah seperti orang amnesia.


Naren langsung mendekati Robi.


"Apa kau amnesia?" tanya Naren.


Robi menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau lupa? Siapa namamu?" tanya Naren.


Robi hanya menggelengkan kepalanya.


'Duh, aku rasa nyawanya belom kumpul sudah ku siram pakai air, ya begini hasilnya jadi loading,' batin Naren.


Naren memandangi Robi yang mulai mengayunkan tangannya seperti akan terbang.


"Bersiaplah, kita terbang!" ucap Robi dengan lantang.


Naren mulai takut dengan tingkah Robi yang sangat aneh.


"Aku rasa dia masih dalam pengaruh alkohol," ucap Naren.


Naren langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya, cukup lama ia berendam untuk merileks kan pikiranya. Selesai mandi, Naren melihat Robi kembali tertidur.


Naren akhirnya membangunkan kembali, Robi yang tertidur lelap.


"Hei, bangun!" ucap Naren menggoyangkan kakinya.


Kali ini Robi terbangun dan langsung duduk, membuat Naren perlahan mundur dari hadapannya.


"Tuan!" panggil Robi.


Naren mendekati Robi, untuk memastikan kondisinya.


"Siapa namamu?" tanya Naren.


"Robi," jawab Robi dengan wajah yang bingung.


"Syukurlah, sekarang mandilah dan kita berangkat kerja," ucap Naren menepuk bahu Robi.


Mereka pun berangkat ke kantor setelah sarapan.


Sampai di kantor.


Naren langsung keluar dari dalam mobil, ia berjalan menuju ruangannya, melihat Inka sedang sibuk dengan komputernya, membaut Naren langsung mendekati mejanya.


"Ke ruangan saya," perintah Naren.


Inka langsung menatap Naren dengan wajah batal, membuat Inka mengira jika Naren bangun tidur.


Inka masuk ke dalam ruangan Naren.


"Ada apa Tuan?" tanya Inka.


"Apa kamu bilang? Tuan?" tanya ulang Naren.


"Apa di tempat kerja aku harus memanggilmu dengam sebutan Yeobo (sayang)," jawab Inka.


Naren terdiam sejenak.


"Baiklah, saat di luar jam kerja kau harus memanggilku dengan sebutan yang sangat romantis," ucap Naren.


Inka hanya terdiam, menganggukan kepalanya.


"Apa Tuan sakit?" tanya Inka.


"Tidak, memangnya ada apa?" jawab Naren.


"Wajah Tuan terlihat sangat pucat, dan mata Tuan terlihat seperti orang yang baru bangun tidur," jelas Inka, mendekat ke arah Naren.

__ADS_1


Inka menghembus tubuh Naren dengan detail, membuat Naren langsung memegang tangannya.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin menggodaku," tanya Naren dengan wajah nakalnya.


Inka langsung melebarkan bola matanya, seketika ia langsung menghindar, tetapi Naren menahanan tangannya, membuat Inka tidak bisa menjauh.


"Apa yang Tuan lakukan? Ini di tempat kerja," jawab Inka.


"Kamu yang menggodaku, jadi kamu pula harus bertanggung jawab," goda Naren mulai mendekatkan wajahnya.


Inka berusaha menghindari Naren, karena ia sangat takut jika ada yang menglihat dirinya bersama Naren.


Pintu ruangan Naren pun terbuka, membuat Inka langsung menoleh ke arah pintu, ia melihat pimpinan Bimo datang bersama asistennya.


Inka langsung menginjak kaki Naren, membuat Naren kesakitan dan menoleh ke arah belakang.


Naren melihat ayahya sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Apa Ayah mengganggumu?" tanya Bimo.


"Ada apa Ayah datang kemari?" jawab Naren.


"Ayah hanya ingin menjengukmu, apa Ayah salah," ucap Bimo.


Bimo memperhatikan Inka yang masih berdiri ditempat, membuat Inka langsung menundukan kepalanya.


"Apa dia sekretarismu?" tanya Bimo.


"Iya, dia sekretaris pribadiku," jawab Naren.


"Dia terlihat sangat menarik, jadi ini alasanmu tidak mau dijodohkan dengan Alexa," tanya Bimo.


Inka langsung mengangkat wajahnya, menatap Bimo yang sedang berbicara dengan Naren.


'Jadi perjodohan itu benar adanya?' batin Inka.


"Bersenang-senanglah, dengannya. Karena jika kau nanti sudah menikah dengan Alexa kau harus meninggalkan sekretaris itu," perintah Bimo, membuat Inka sangat terkejut.


Naren langsung menatap Inka yang malai menahan untuk tidak marah.


"Ayah salah, dia orang yang aku cintai. Aku tidak akan menikahi Alexa, sampai kapanpun," bela Naren.


Tidak kuasa menahan sesak, Inka pun pamit keluar dari ruangan Naren, ia langsung berlari ke kamar mandi, membuat Naren ingin mengejarnya tetapi di tahan oleh Bimo.


"Biarkan dia pergi, memang seharusnya dia tahu posisinya," ucap Bimo.


"Ayah keterlaluan, cinta tidak bisa di paksa, apalagi di samakan dengan uang, mungkin Ayah seperti itu, tapi ... aku lelaki yang mampu memegang komitmenku," jelas Naren.


"Kau tahu apa tentang cinta?" tanya Bimo.


"Hentikan omong kosong itu, Alexa anak yang baik, dia berpendidikan tinggi, pintar, cantik dan kaya, apa yang kurang darinya," sambung Bimo.


"Sayangnya aku tidak mencintainya," sahut Naren.


"Dasar anak tidak tahu diri! Beraninya kau membangkang Ayahmu sendiri! Ayah akan kasih kesempatan untuk kau berfikir lebih jernih, jika dalam 3hari kau tidak bisa memutuskan, maka pertunangan kalian akan Ayah percepat," paksa Bimo.


"Tidak ada hak Ayah mengatur hidupku, sekarang aku bertanya, Ayah memiliki segalanya, mempunyai uang, harta dan seorang istri yang Ayah mau, tapi kalian sibuk bekerja. Apa kalian bahagia? Apa kalian bisa merasakan kehangatan keluarga kecil yang harmonis, meskipun jauh dari kekayaan? Apa Ayah mendapatkan semua itu? Aku belajar dari Inka yang bukan gadis kaya raya, tetapi keluarganya mengajarkanku arti keharmonisan dalam rumah tangga, yang tidak pernah ku dapatkan setelah ibu pergi untuk selamanya, hati Ayah sudah diselimuti keserakahan," jelas Naren, membuat Bimo sangat marah, dan mulai mengepalkan tangannya.


"Beraninya kau ...."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2