Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Siap bertarung


__ADS_3

Naren terus mengikuti Inka dan Geri, sampai berhenti di salah satu kampus yang cukup populer, tetapi Inka dan Geri begitu masuk ia ke dalam area parkir, ia melihat mahasiswa yang sedang berkumpul terlihat sangat aneh.


Mahasiswa itu melihat Inka dan Geri seperti orang yang tidak pernah melihat orang baru masuk, membuat Inka merasa kurang nyaman.


Geri menggandeng tangan Inka untuk masuk ke dalam kampus itu, bertemu dengan pegawai administrasi.


Akhinya mereka bertemu, dan pegawai itu menceritakan detail peraturan kampus itu, membuat Inka tidak menyimaknya, ia melirik anak-anak yang sedang duduk di tangga taman kampus, membuat pegawai itu langsung mengerti apa yang di alami Inka.


"Jangan kaget kakak, mereka memang seperti itu," ucap pegawai kampus.


"Aku merasa kurang nyaman, sepertinya anak-anak itu melirik ruangan ini," ucap Inka.


Inka memberi kode kepada Geri untuk mencari kampus yang lain, tapi ia takut melewati mahasiswa yang sedang duduk itu.


Geri seolah mengerti apa yang di alami Inka, ia langsung pamit sengan alasan, akan mempertimbangkan lagi.


Pegawai itu pun langsung mengiyakan, ia tidak bisa memaksa.


Geri pun langsung mengajak Inka keluar dengan cepat, tanpa memperhatikan mahasiswa yang sedang duduk di taman itu.


Dengan rasa yang was-was dan jantung yang berdetak sangat cepat, Inka dan Geri pum berhasil keluar dari kampus aneh itu.


"Masuk ke dalam kampus itu sangat menyeramkan, aku merasa bau-bau spikopat di sana," ujar Inka.


"Aku pun merasakannya, untuk kita segera keluar, kalo tidak nyawa kita terancam," ucap Geri.


"Hari sudah menjelang magrib, kita pulang saja ya, karena sudah tidak ada kampus yang buka di jam segini. Mungkin hanya ada kampus aneh itu dan kampus gaib," kata Geri.


"Menyeramkan, ya sudah kita pulang saja," ucap Inka.


Akhirnya Geri mengantarkan Inka ke halte, ia memilih untuk naik bus, dari pada di antar oleh Geri, ia tidak mau merepotkan Geri.


"Sampai bertemu senin ya Inka, dadada," pamit Geri.


Inka menganggukan kepalanya, ia langsung melambaikan tangan.


Melihat Geri yang sudah menjauh dari hadapan Inka, datanglah mobil Naren, tepat di depan Inka.


Spion mobil itu terbuka, membuat Naren langsung memberi kode untuknya masuk ke dalam mobil.


Inka dengan bingung langsung mendekat ke aeah mobil Naren.


"Iya ada apa Tuan?" tanya Inka.


Naren melotot ke arahnya.


"Masuk," jawab Naren, membuat Inka langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Apa kencanmu menyenangkan?" tanya Naren.


Inka langsung menoleh ke arah Naren dengan tatapan yang bingung.


"Maksudnya?" jawab Inka.


"Bukankah kau abis jalan-jalan bersam Geri," ucap Naren.


"O ... jadi ada yang cemburu, ya mau bagaimana lagi, Bos ku terlalu cuek dan melupakan ku, jadi aku cari yang lain," goda Inka.


Naren merasa kesal dengan Inka, yang seenaknya mempermainkan perasaanya.


"Jadi kau bermain api di belakangku?" tanya Naren dengan nada yang geram.


Inka menatap Naren yang merasa kesal, ia berusaha menahan tawanya karena melihat Naren yang seperti itu, terlihat sangat menggemaskan.


"Aku tidak main api, mana ada api? Bahkan aku tidak membawa korek," jawab Inka.


Naren semakin geram, ia melontarkan pertanyaan kepadan Inka.


"Lalu, kenapa kamu memegang baju Geri dengen erat?" tanya Naren.


Inka langsung menutup mulutnya, ia sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Naren yang terlihat sangat lucu.


Inka langsung terdiam.


Ketika Naren terus berbicara, tiba-tiba Inka mencium bibirnya, membuat Naren langsung terdiam tanpa ada suara apapun.


Inka menatap Naren, ia kembali mencium Naren, mambuat Naren langsung mengusap wajahnya.


"Sudah jangan berbicara terus," ucap Inka.


"Harusnya kau tanya baik-baik, bukannya menuduhku," sambungnya.


Naren kembali menataonya.


"Apa kau ada hubungan dengan Geri?" tanya Naren.


"Mana mungkin, aku dengannya akan lanjut kuliah, kita menjadi kampus yang bisa di sambi kerja, apa itu salah?" jelas Inka.


"Jadi kau ..." ucap Naren, belom sempat melanjutkan ucapannya. Inka memotong bergitu saja.


"Iya! Jadi jangan berfikir yang macam-macam, aku dengannya itu teman dekat. Tipe kami berbeda jadi mana mungkin aku dan Geri pacaran, dia surah mempunyai kekasih, jadi janga khawatirkan itu," jelas Inka, menatap Naren.


Naren merasa canggung ketika di tatap Inka, ia bingung harus berkata apa, lehernya seperti terkecek sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.

__ADS_1


'Ternyata aku salah menduga, astaga ... aku sangat malu dengannya, menatap matanya saja aku malu, apalagi berbicara, seperti tercekek,' batin Naren.


"Aku lapar, ayo kita makan," ajak Inka.


Naren langsung melajukan mobilnya menuju resto kesukaan Inka. Di tengah perjalanan, Inka menyalakan musik dan dirinya ikut bernyayi, suaranya yang sangat bagus, membuat Naren yang mendengarkannya, langsung tersenyum.


Naren terus melirik Inka dan ia pun ikut bernyayi, membuat Inka pun tersenyum dan bersemangat untuk menyanyikan lagu romantis.


Sampai di resto yang di sukai Inka, mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam resto dengan Inka menggandeng Naren.


Naren langsung menghentika langkahnya, saat melihat Bimo dan Pak Edo beserta Alexa sedang makan malam di resto itu.


Bimo melihat Naren dengan Inka sedang bergandengan, langsung melambaikan tangannya.


Mau tidak mau, Naren pun ikut bergabung bersama Inka.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Bimo.


"Kita akan makan Pak," jawab Inka.


"Sini gabung dengan kita, ada Alexa calonmu," ucap Bimo menatap Naren.


Inka merapa tidak di anggap, tetapi ia hanya terdiam. Ia melirik Naren.


Naren duduk di samping Inka, ia terus menggenggap tangan Inka dan tak ada cela untuk melepaskan genggaman itu, Alexa melihat pemandangan di hadapannya merasa sangat muak dengan Inka.


Alexa berusaha terlihat akrab dengan Naren, ia mencoba untuk memilihkan menu makanan yang menurutnya di sukai Naren.


"Spertinya kau suka makan seefood, kau mau ini?" taya Alexa.


"Dia alergi seefood," jawab Inka.


Alexa kembali melihat menu yang lainnya.


"Bagaimana dengan tumis jamur dengan salmon, ini menu best seller di sini?" tanya Alexa.


"Maaf Nona Alexa, banyak makanan yang tidak boleh sembarangan di makan oleh Tuan Naren," jawab Inka.


Alexa langsung menutup buku menu, dan menatajam Inka, Inka pun merasa tidak takut dengan tatapan Alexa, ia kembali menatapnya.


Perkelahian sengit akan segera di mulai, tatapam mereka menandakan akan ada perang untuk merebut hati Narendra Prawira.


"Siapakah yang akan menang dan siapa yang akan kalah, mari kita saksikan perkelahian antara, saudara Inka pioni dengan saudara Alexa, mereka terlihat sangat gigih mempertarukan cintanya, mari kita mulai!" teriak MC.


Suasana resto berubah seketika menjadi tempat pertandingan gulat khusus wanita, melihat menampilan Inka dengan pakaian yang sangat seksi dan Alexa pun mengenakan pakaian yang sama, membuat mereka terlihat seperti wonder woman yanga akan menumpas kejahatan.


"Apa kalian baik-baik saja?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2