
Robi yang melihat Naren mulai tidak fokus langsung mengakhiri rapat secara sepihak, rapat pun berhasil di bubarkan. Saat semua karyawan telah meninggalkan ruang rapat, yang hanya tersisa adalah Naren dan Robi.
"Apa yang terjadi tuan, apa anda kurang sehat?" tanya Robi.
"Aku rasa kata Luis itu benar, tapi aku belom bisa mengatakan iya dalam hati ku," ucap Naren.
"Maksud tuan, apa tadi pagi tuan merasa kambuh dan Inka ada di sana?" ucap Robi.
Naren pun menganggukan kepalanya, Robi pun langsung mengintrogasi Naren.
"Tapi anda tidak melakukan hal buruk kan, tentang semua yang sudah terjadi?" tanya Robi.
"Hei, aku masih bisa mengontrol diriku, jaga ucapan mu!" ketus Naren.
Robi pun terdiam, menatap Naren dengan tatapan yang ingin Naren mengatakan yang sebenarnya, Naren yang merasa risih mendapat tatapan itu langsung salah tingkah.
"Ais ... aku berciuman dengan nya, tapi dia yang memulai nya, apa dia mengetahui semuanya?" tanya Naren.
Robi menganggukan kepalanya, membuat Naren terdiam, " itu artinya dia tahu sebenernya diri ku?" tanya nya lagi, membuat Robi heran.
"Memang sebenernya tuan itu siapa? Airon man ?" ucap Robi.
Seketika Naren akan memukul Robi karena kesal dengannya, tetapi seperti ada yang menahannya dan Ia tidak jadi memukul Robi.
"Sudah lah, ntah aku harus bagai mana jika berhadapan dengan Inka? Ais ..." ucap Naren.
"Ya kenapa kalian tidak berpacaran saja, siapa tau tuan bisa sembuh total karena sering mendapat sentuhan hangat dari Inka," celetuk Robi membuat Naren tercengang.
"Apa katamu? Pacaran! Yang benar saja, kau berbicara," sahut Naren.
Naren merasa sangat bingung harus menjalani hubungan ini atau tidak, karena hanya Inka lah yang mampu membuat Ia bisa mengendalikan emosi dengan baik.
Karena terlalu pusing memikirkan semua itu, Naren dan Robi pun kembali keruangannya masing-masing.
Saat Naren akan masuk ke dalam ruangannya, Ia melihat Inka yang sama akan keluar dari ruangan Naren. Mereka pun saling bertatapan dan Naren pun membayangkan bibir indah Inka yang sempat dia cium.
Naren berusaha mengalihkan pandangan itu tetapi pikirannya di kuasai oleh bayangan ciuman dirinya dengan Inka.
'Astaga, kenapa aku malah hampir gila jika berhadapan dengan nya,' batin Naren.
Inka yang bingung melihat tingkah bosnya, langsung mendekatinya. Naren yang merasa Inka akan mendekatinya, membuatnya langsung menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Stop! Jangan mendekat!" seru Naren membuat Inka kaget, dan memilih untuk mundur.
"Maafkan saya tuan, silahkan masuk," ucap Inka.
Naren pun tak kunjung masuk, membuat Inka akhirnya melangkah keluar dan kaki Naren pun ikut melangkah masuk, mereka melangkah bersamaan membuat kaki Naren langsung berhenti saat tubuh mereka hampir bersentuhan.
Naren kembali mundur, membuat Inka pun reflek mundur, Inka yang bingung dengan tingkah bosnya merasa sangat kesal karena tingkahnya membuat pekerjaan Inka menjadi terhambat.
"Tuan, mau masuk duluan atau saya duluan! Saya sedang terburu-buru karena berkas ini harus sampai ke departemen penelitian," kesal Inka.
Naren pun mundur seketika, membuat Inka langsung berjalan keluar dari ruangan Naren dengan cepat.
"Beraninya dia memarahi ku, memangnya dia pikir aku ini siapa? Aku ini bos nya, lancang sekali dia memarahi ku, hampir membentak ku, enak saja," gerutu Naren.
"Siapa yang marah dengan tuan, saya hanya menegaskan. Karena tuan sangat plin plan saat masuk ke dalam ruangan tuan sendiri," sahut Inka membuat Naren kaget bukan main.
"Hei ... beraninya nguping pembicaraan ku!" seru Naren.
"Pena ku tertinggal, jadi aku kembali lagi," ucap Inka berlalu pergi meninggalkan Naren.
Di tempat lain, Alexa yang akan merayakan ulang tahunnya sedang sibuk memesan dekor untuk memeriakan pestanya, tak lupa Ia menghubungi Naren.
Alexa : "Apa kau ada waktu, besok hari ulang tahun ku. Temani aku mengambik baju ku di salah satu desainer terkenal di sini "
Naren : "Apa kau tidak bisa jalan sendiri, aku sedang sibuk."
Alexa : "Ucapan mu sangat kejam kepada wanita, ayo lah temani aku, kumohon."
Rengek Alexa membuat Naren akhirnya mengiyakan kemauannya, sekaligus menghindari Inka karena melihatnya membuatnya hampir gila mengingat kejadian gila itu.
Sambungan telpon pun terputus, dan Inka masuk ke dalam ruangan Naren membawa berkas yang harus di tanda tangani Naren.
"Taun, tolong tanda tangani berkas produk yang suka di teliti oleh departemen penelitian," ucap Inka.
Tanpa menatap Inka, Naren pun menandatangani semua berkas yang di bawa Inka.
Inka pun dengan cepat keluar dari ruangan Naren dan kembali ke mejanya. Naren meliriknya dan kembali melihat leptopnya, tak lama Alexa datang mengunjungi Naren.
"Kau terlihat sangat sibuk," ucap Alexa.
"Kau liat sendiri kan," sahut Naren.
__ADS_1
"Aku sangat lelah mempersiapkan semuanya sendiri, aku jenuh dan hampir frustasi. Bawa aku jalan-jalan," ucap Alexa.
Naren mantapa Alexa yang sedang duduk di sofa dan kembali melirik Inka yang sedang sibuk dengan leptopnya.
Inka pun terlihat sangat sibuk, Ia masuk ke dalam ruangan Robi, lalu kembali ke mejanya dan membawa berkas sangat banyak untuk di bawa ke departemen perkembangan. Pekerjaannya sangat menyita waktu sampai akhirnya Ia tidak masuk ke dalam ruangan Naren. Tidak membuatkan kopi untuknya.
Merasa di abaikan, Naren pun akhirnya keluar dengan Alexa. Inka yang melihat bosnya akan pergi tanpa sepengetahuannya membuatnya langsung bertanya.
"Tuan akan pergi kemana?" tanya Inka.
"Bukan urusan mu, saya dan Naren akan fiting baju. Memangnya kenapa?" ucap Alexa.
"Sekarang menjadi urusan saya Nona Alexa, Apapun yang di lakukan tuan Naren adalah kewajiban saya untuk tahu. Jadi saya harap anda mengerti," ucap Inka membuat Naren tidak berani membantah.
"Tunggu, saya harus ikut dengan kalian," ucap Inka berlari meletakan berkasnya dan membawa barang miliknya dan menyusul Naren.
Dengan rasa kesal Alexa pun terpaksa berjalan dengan Naren dan Inka.
Di dalam mobil, Inka memang duduk di depan bersama pak supir membuat Naren terus meliriknya dan mengusap berulang kali wajahnya.
Alexa yang sibuk dengan ponselnya menunjukan tempat berlibur kepada Naren.
"Kau liat ini, pemandangannya sangat indah, kapan kita bisa ke sana. Aku rasa kau butuh berlibur dan menenangkan diri dari sekretaris mu itu," gerutu Alexa.
Inka tidak memperdulikan semua yang di katakan Alexa, Ia hanya mamperhatikan jalan dan terus memeriksa tabnya.
Sampai di butik, Inka tidak masuk ke dalam Ia menunggu bosnya di luar butik. Melihat sekeliling butik membuatnya merasa bosan dan mengobrol dengan pak supir.
"Bapak siapa namanya?" tanya Inka.
"Nama saya Supri Non," jawab Pak Supri.
Mereka berbincang santai di luar butik, tak sengaja Naren pun melirik Inka sedang tertawa dengan seseorang membuatnya penasaran dan pura-pura melihat dari jendela. Tenyata Inka sedang mengobrol dengan pak supir.
Perasa penasaran Naren pun menyuruh Alexa untuk cepat mengambil baju pesanannya dan segera pulang.
Mereka keluar dari butik dan langsung masuk ke dalam mobil di ikuti Inka.
"Aku lapar ..."
BERSAMBUNG.
__ADS_1