
Inka sedang nyatok rambutnya agar lebih rapih, kali ini ia berangkat kerja berpenampilan menarik, modis dan merias diri. Terlihat bibirnya yang mungil dipoles lipstik berwarna merah, rambut lurus dan menggunakan kemeja.
Inka tersenyum saat menatap wajahnya di atas cermin,
"Ternyata aku cantik juga," ucap Inka sambil memperhatikan tubuhnya dari sisi kiri dan kanan.
Merasa sudah rapih, Ink langsung keluar kamar. Melihat adik dan kedua orang tuanya sudah didik di meja makan, membuat Inka langsung mendekat.
"Hari ini pengumuman kenaikan kelas ya?" tanya Inka, mengacak-acak rambut Jimin.
"Kak! Kebiasaan sekali merusak rambutku yang lucu ini," ucap jimin.
"Apa benar, kata Kakakmu?" tanya Rosida.
Jimin menatap Rosida dengan raut wajah yang takut.
"Iya bu, hari ini pengumunan kenaikan kelas," jawab Jimin.
"Awas kau jika tidak naik kelas, akan Kakak pukul," bisik Inka, membuat Jimin langsung menoleh ke arah Inka.
"Kakak! Jangan menakutiku, aku sudah berusaha semaksimalku, kalo aku tidak naik kelas jangan salahi aku, salahi saja guruku," ucap Jimin.
Rosida dengan entengnya langsung memukul kepala Jimin.
PLETAK...!
"Sakit Bu," ucap Jimin.
"Jaga bicaramu, mana ada guru yang menjerumuskan anak muridnya," kata Rosida.
"Ya maaf," ujar Jimin.
"Belajarlah sungguh-sungguh, apa kau tidak ingin sekolah di Universitas Hanggi?" tanya Rosida.
"Mau," jawab Jimin.
"Makanya belajar, jangan minta uang hanya untuk main game," sahut Inka.
Perdebatan keluar kecil Sholihin, selalu saja dihiasi dengan triakan setiap pagi, perdebatan, hingga bergosip membuat banyak orang terkadang iri dengan keluar Sholihin.
Selesai makan, Inka langsung berangkat kerja, kali ini ia tidak mampir ke rumah Naren, ia langsung ke kantor.
Sampai di depan kantor, Inka berjalan untuk masuk ke dalam ruangannya, ia melihat mobil Naren dari kejauhan, membuatnya langsung cepat-cepat masuk ke dalam dan merapihkan ruangan Naren.
Dengan tergesah-gesah, Inka langsung naik lift dan cepat-cepat Masuk ke ruangan Naren.
Inka segera membersihkan buku dan lainnya, sehingga membuat ruangan Naren terlihat sangat rapih.
"Akhirnya selesai juga," ucap Inka membasuh keringatnya.
"Kenapa kau tidak ikut menyapaku?" tanya Naren.
__ADS_1
Mendengar suara yang tidak asing bagi Inka, membuatnya langsung menoleh ke arah sumber suara.
Saat Inka menoleh, menatap Naren. Betapa terkejutnya Naren melihat perubahan Inka yang beberapa hari tidak masuk kerja karena dalam masa pemulihan pasca ledakan bus waktu itu.
Naren sangat terpukau melihat Inka dengan riasan dan gaya rambut di urai, membuatnya tal berhenti menatap wajahnya.
Inka pun bingung dengan Naren yang terdiam menatapnya tanpa berkedip.
"Hay Tuan, apa ada sesuatu?" tanya Inka.
Inka melambaikan tangannya tepat di hadapan Naren, membuat Naren langsung tersadar.
Seketika Naren memegang tangan Inka, membuatnya langsung terdiam, Inka terlihat sangat trauma jika Naren sudah menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat dingin, seperti biasa, Naren akan menciumnya.
"Tuan, hari ini anda ada rapat dengan CEO dari Dubai, " ucap Inka.
Naren langsung menjauh dari Inka, dan langsung duduk dikursinya.
"Pukul berapa?" tanya Naren.
"Setelah makan siang, pukul 14.00," jawab Inka.
Inka langsung keluar ruangan Naren dan kembali ke mejanya, ia langsung bekerja seperti biasa, melihat ada brosur Universitas membuatnya langsung mengambil brosur itu dan membacanya.
Terlintas di benaknya, jika dia ingin sekali melanjutkan studynya minimal S1, Inka langsung menatap teman sebelahnya.
"Hei, Kak Geri, apa kau yang meletakan brosur ini?" tanya Inka.
"Iya, aku ingin melanjut S2, siapa tau kau berminat," jawab Geri.
"Aku juga berminat untuk kuliah. Tapi ... aku bingung harus masuk jurusan apa?" tanya Inka.
"Sesuai dengan pekerjaanmu lah," jawab Geri.
" Jadi kalo aku bekerja sebagai sekretaris, itu artinya aku harus kuliah dibagian sekretaris? Apa begitu?" tanya Inka.
"Hem ... mungkin seperti itu, atau coba kau lihat semua prodi yang ada di dalam brosur itu," jawab Geri.
Obrolan Inka dengan Geri terlihat sangat akrab, membuat Naren langsung menatap Inka, ia terlihat sangat penasaran dengan topik obrolan yang sedang mereka bicarakan.
'Kenapa Inka terlihat sangat serius berbicara dengan Geri, dan Geri pun sebaliknya. Apa mereka ada hubungan lebih? Ini tidak bisa di biarkan,' gumam Naren dalam hati.
Naren sangat panik, sehingga ia tidak tenang jika harus duduk manis di atas kursi. Kepanikannya tidak menyadari jika Robi sang asisten membuka pintu ruangannya.
"Tuan, ini berkas yang harus di tanda tangani," ucap Robi.
"Letakan saja," sahut Naren.
Robi yang melihat Naren tidak seperti biasa membuatnya langsung bertanya.
"Tuan!" panggil Robi.
Naren langsung menatap Robi, dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Naren.
"Apa anda baik-baik saja," jawab Robi.
"Aku baik-baik saja, memangnya ada apa?" tanya Naren.
"Anda kelihatan sangat panik Tuan," jawab Robi.
Naren langsung terdiam menatap Robi.
"Apa kau pernah merasakan jatuh cinta?" tanya Naren.
Pertanyaan itu membuat Robi sangat terkejut, ia melihat kegelisahan Naren yang terlihat sedang memikirkan seseorang.
"Apa Tuan sedang jatuh cinta?" tanya Robi.
"Kenapa kau malah bertanya kepadaku," jawab Naren.
Robi seolah memahami apa yang dirasakan Naren. Ia tersenyum melihat wajah Naren yang sangat lucu, membuatnya nahan tertawa.
"Tuan, jika kau sedang jatuh cinta, katakan langsung padanya. Biasanya wanita lebih suka jika pria itu mengungkapkan isi hatinya terlebih dahulu, jadi aku rasa anda harus mengatakannya dan membawa setangkai bunga, agar lebih romantis," jelas Robi.
Naren yang menyimak semua yang di jelaskan oleh Robi, membuatnya langsung percaya begitu saja.
"Jadi seperti itu cara mendekati wanita?" tanya Naren.
"Benar sekali Tuan," jawab Robi.
"Kalo bunga satu tangkai itu terlalu sedikit, bagaimana jika seikat bunga mawar, itu sepertinya lebih bagus," ucap Naren.
"Boleh-boleh saja tuan, jangankan Seikat bunga mawar, setokonyapun sah-sah saja Tuan," kata Robi.
"Kau benar juga, sekarang kau belikan aku seikat bunga mawar berwarna merah dan apa lagi ya?" tanya Naren.
"Anda ingin memberikan untuk siapa Tuan," jawab Robi.
Naren tidak sanggup menjawab, ia bingung harus berkata jujur dengan Robi terlebih dahulu atau langsung mengatakan isi hatinya kepada Inka. Perasaannya membuatnya salah tingkah, Naren berjalan bolak-balik membuat Robi ikutan bingung.
'Sebenarnya dia ini menyukai siapa? Apa dia menyukai Inka, aku rasa Inka orang yang dia maksud,' batin Robi.
"Nanti saja, kita persiapan untuk rapat dengan CEO Dubai, dan aku ingin Inka tidak terlibat didalam rapat ini," ucap Naren.
"Memangnya ada apa, Tuan?" tanya Robi.
"CEO Dubai yang bernama Zein dan Abidzar pernah menjebak Inka dengan minuman perangsang, minuman itu terpaksa aku minum, dan saat di hotel aku hampir akan memperkosanya, makanya aku tidak ingin Inka diikut sertakan didalam rapat kita," jelas Naren.
Robi seketika langsung mengiyakan semua yang dilarang Naren.
Ketika Robi keluar dari ruangannya, mata Naren melirik meja Inka yang kosong tidak terlihat ada Inka.
'Di mana dia?"
BERSAMBUNG....
__ADS_1