Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Persiapan Ke Dubai


__ADS_3

Suara ketukan pintu itu membangunkan Inka yang masih terlelap dalam tidurnya, merasa kesal karena masih ngantuk. Akhirnya Inka membuka pintu kamarnya dan melihat Rosida sudah ada di hadapannya.


"Kau harus liat berita hangat, cepat!" seru Rosida.


Inka yang masih setengah sadar langsung mengikuti arahan ibunya yang sangat agresif dengan berita hangat.


"Lihat itu, kau masuk TV! Wah apa yang ada di samping mu itu bos mu? Lalu siapa wanita yang di sebelahnya lagi?" tanya Rosida.


Inka memperhatikan TV di depannya, dengan mata yang masih sayup-sayup. Ia hanya mengabaikan berita itu.


"Alah, itu hanya acara pesta biasa," ucap Inka kembali memejamkan matanya.


Rosida yang tidak sabar menunggu jawaban yang sebenarnya dari Inka, merasa sangat geregetan. Ia berkali-kali membangunkan Inka yang kembali memejamkan matanya.


"Hei ... buka lah matamu! Katakan pada ibu, apa dia bos mu? Ayo jelaskan!" desak Rosida.


"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya," jawab Inka membasuh wajahnya dengan air mengalir di westafel.


"Aku berharap, bos mu menyukai mu. Bukan wanita itu, kau juga tidak kalah cantik," gerutu Rosida.


"Semalam aku dan tuan Naren menghadiri pesta ulang tahun Putri pemilik perusahaan X, semua berita itu bohong. Memberi bunga untuk Putri hanya inisiatif ku, agar tuan Naren saat datang menghadiri acara itu tidak membawa tangan kosong. Itu cerita yang sebenarnya," jelas Inka.


"O ... jadi begitu ya, bagus lah kalo mereka tidak ada hubungan apapun," ucap Rosida.


"Sudah lah bu, mana mungkin tuan Naren mau dengan ku. Dia pria yang punya selera tinggi, jadi lupakanlah bermimpi menjadi mertua seorang CEO tampan," kata Inka.


Inka berjalan menuju kamar mandi, mengabaikan ocehan sang ibu yang terus-terusan membahas kesempurnaan Narendra Prawira. Membuat Inka hanya menggelengkan kepalanya.


Selesai merapihkan diri, Inka menatap cermin. Melihat wajahnya yang tanpa make up.


"Ternyata kutukan itu ada di riasan ku, apa selamanya aku tidak boleh memakai riasan? Ini tidak adil untuk ku, tapi demi pekerjaan ini aku rela," gumam Inka.


Dengan penuh semangat Inka berjalan menuju Mansion Naren, di sepanjang jalan Ia memainkan ponselnya, sampai akhirnya ada mobil yang melaju dengan cukup kenjang. Melintasi kubangan air, air itu menyiprat di celana Inka membuatnya kaget dan berteriak.


"Kurang ajar! Berhenti kau!" teriak Inka.


Mobil itu berhenti dan pemiliknya langsung keluar dari dalam mobil, ternyata dia seorang wanita remaja yang mengemudi mobil itu. Ia mendekati Inka dan meminta maaf atas ketidak sengajaannya.

__ADS_1


"Maafkan aku kak ..." ucap Mociana menatap Inka dengan tatapan terkejut.


"Aduh, kau ini ya ... tidak bisa hati-hati, bagai mana nanti aku ke kantor jika celana ku kotor?" gerutu Inka menatap remaja itu dan langsung terdiam.


"Kakak cantik! ... akhirnya aku menemukan kakak!" ucap Mociana.


"Jadi kau ... yang membawa mobil itu, ya sudah lah lupakan saja, aku harus ketempat bos ku," kata Inka.


Inka yang akan pergi meninggalkan Mociana, mengurungkan niatnya karena Mociana menyodorkan ponselnya, membuat Inka merasa bingung.


"Ada apa?" tanya Inka.


"Tulis nomor ponsel kakak, selepas kakak pulang kerja aku akan menghubungi kakak, plis ... aku sangat mengagumi kakak, boleh ya ..." rengek mociana.


Dengan terpaksa Inka pun memberikan nomer ponselnya dan langsung berlari menuju mansion Naren yang sangat dengan Inka berdiri.


Mociana terlihat sangat gembira mendapat nomer Inka yang sangat Ia Idolakan. Dengan senyum manis, Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


'Akhirnya aku mendapatkan nomor kakak itu, astaga ... aku bahkan tidak menanyakan namanya, tapi tidak papa nanti aku harus menemui nya dan mengobrol secara empat mata,' batin Mociana.


Sempat memeriksa tab nya, Inka langsung mencari pakaian yang cocok untuk di pakai hari ini. Tanpa di ketahui Naren yang baru saja selesai mandi, membuat Inka masih sibuk menyiapkan dasi, jam tangan dan ikat pinggang.


Saat Naren masuk ke dalam ruang ganti, dan Inka pun menoleh ke arah pintu, mereka saling bertatapan. Inka yang terkejut melihat Naren telanjang dada, begitu juga Naren yang terkejut melihat Inka masih ada di dalam ruang ganti.


"A!...."


Teriakan itu keluar dari mulut mereka berdua, dengan cepat Naren kembali ke kamar mandi, dan Inka langsung keluar ruang ganti dengan napas yang tidak beraturan.


"Astaga penampakan apa barusan? Ini sangat memalukan," gumam Inka di balik pintu.


Inka berusaha mengatur napasnya berulang kali, sampai akhirnya Ia merasa cukup tenang.


Naren terburu-buru memakain pakaiannya, Ia sangat waspada jika Inka masuk ke dalam kamarnya lagi.


Inka mencoba menenangkan dirinya, Ia membuat sarapan nasi goreng untuk Naren, dan menyiapkan teh hangat.


Saat Ia sedang meletakan sepiring nasi goreng di atas meja mini bar, Ia kaget mendengae suara Naren yang terdengae secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Tuan, kau mengagetkan ku saja," ucap Inka.


"Kenapa kau baru datang? Apa kau kesiangan," tanya Naren.


Inka menatap Naren denga tatapan yang lelah, "jangan menatap dengan tatapan yang memelas, kau pikir aku akan kasian dengan mu? Hah!" celetuk Naren membuat Inka langsung terdiam.


"Maafkan saya tuan, saya kesiangan karena bus nya sangat lambat, membuat hanya harus bersabar di dalam mobil dan apa tuan tahu, saat saya berjalan menuju rumah tuan, ada mobil dengan sengaja mengotori mobil saya, jadi saya telat," jelas Inka.


Naren melihat penampilan Inka yang bernatakan, dengan celana yang banyak bercak air yang bercampur tanah, membuatnya merasa jijik.


"Kotor sekali penampilan mu," ucap Naren.


Inka langsung melotot ke arah Naren, " tuan, saya baru saja mendapat musibah, apa saya harus mengganti pakaian saya? Saya akan telat sampai di tempat kerja tuan," bela Inka.


Tidak mau berdebat panjang dengan Inka, Naren pun menyuruh Inka untuk menemani nya sarapan. Inka dengan berat hati akhirnya duduk di dekat Naren, Ia membuka tabnya untuk memberitahu semua kegiatan yang akan di lakukan Naren.


"Tuan, lusa anda harus pergi ke Dubai. Untuk menemui salah satu pengusaha minyak bumi yang bernama Abu Balif," jelas Inka.


"Kau sudah berapa lama bekerja dengan ku?" tanya Naren.


Inka terdiam sambil berfikir, tangannya mengitung berapa lama Ia sudah bekerja dengan bosnya.


"Sudah 8 bulan tuan," jawab Inka.


"Baiklah, kau lusa ikut saya ke Dubai," sahut Naren.


"Bukanya pak Robi yang harus ikut dengan tuan?" tanya Inka.


"Dia harus menghandle pekerjaan ku di sini, jadi tolong persiapkan semua yang saya butuhkan," jawab Naren.


Mereka berdua memasuki mobil bersama, mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Inka yang duduk di depan bersama pak supir, memainkan tabnya untuk mempersiapkan semua yang akan di butuhkan Naren.


Mobil pun berhenti tepat di depan pintu masuk kantor milik Naren, dengan cepat Inka keluar terlebih dahulu, dan membukakan pintu mobil bagian belakang. Saat Naren keluar dari dalam mobil, semua orang menatap nya dengan tatapan kagum.


Berita hangat pun menjadi tranding topik, membuat Naren yang baru saja melihat berita hoex itu langsung memasang raut wajah yang kesal.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2