
Naren yang melihat tingkah Inka sangat aneh, membuatnya langsung menoleh ke belakang. Ia melihat seoramg pria dengan seorang wanita sedang tertawa bersama. Naren langsung menatap Inka kembali.
"Ada apa?" tanya Naren.
"Aku hanya iri dengan meja di belakangmu, mereka bisa tertawa bersama," jawab Inka dengan asal.
Inka langsung menepuk mulutnya, karen tidakk bisa berhati-hati dalam beebicara.
Naren hanya terdiam, ia pun bingung harus membuat aksi apa untuk membuat Inka tertawa.
Makanan pun sudah datang, dan Inka langsung memakan makanannya dengan lahap, Naren yang melihat aksi Inka yang tidak biasa, hanya bisa menatap dengan heran.
Naren hanya mengira, jika Inka itu hanya kelaparan, membuatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Inka makan dengan lahap, ia tak perduli jika makanan yang di hidangkan itu masih terasa panas, tapi Inka pun tetap menghantam makanan itu.
Akhirnya Inka selesai lebih cepat dari Naren, wajahnya memerah karena menahan panas makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Minumlah," ucap Naren.
Inka pun meminum jus yang di pesan, dengan sekali tegukan, Naren melebarkan matanya. Ia hanya mengira jika Inka kelaparan.
Setelah kenyang menyantap makanan dan meneguk minuman, Inka merasa kenyang. Ia tersenyum menatap Naren.
"Aku kekamar mandi dulu," ucap Inka.
Naren pun menganggukan kepalanya.
Sampai di westafen, Inka merasa mulutnya terbakar karena memakan makanan panas, ia pun langsung menjulurkan lidahnya yang penuh dengan bercak putih dan lecet.
"Sakit sekali," ucap Inka menangis di depan cermin.
"Bagaimana ini sembuhnya, apa aku harus menggunakan masker?" gumam Inka.
Cukup lama Inka di dalam kamar mandi, membuat Naren menunggu dan akhirnya ia memutuskan untuk membayar terlebih dahulu, dan menunggu Inka di dalam mobil.
Inka yanh sedang di dalam kamar mandi, merasa bingung, harus bagaimana ia keluar dengan mulut yang memerah dan mulai bengkak. Tiba-tiba, ia pun teringat jika menggunakan masker wajah jauh lebih baik.
Inka akhirnya, mencari masker di tasnya, dan untung saja ada. Ia langsung memakai masker.
Naren mengirim pesan singkat, jika dirinya sudah berada di dalam mobil, dengan cepat Inka langsung keluar melewati Kenzo dan Mociana yang sedang makan bersama.
Inka masuk ke dalam mobil Naren, dengan masker. Hal ini membuat Naren bertanya dengan serius.
"Kau ini kenapa? Dari awal masuk resto, tingkahmu sangat aneh, apa kau malu makan bersamaku!" seru Naren, membuat Inka sangat terkejut.
__ADS_1
Inka terdiam, ia bingung harus berkata jujur atau tidak, tetapi mulutnya sangat sakit jika untuk berbicara.
Melihat Naren sangat kesal dengannya, ia pun menangis di dalam mobil.
"Kenapa malah menangis, ada apa! Katakan sekarang?" tanya Naren.
Tidak ada pilihan lagi, akhirnya Inka membuka maskernya, ia memperlihatkan kepada Naren mulutnya yang membengkak dan memerah.
"Astagfirullohalazim! Itu kenapa?" tanya Naren.
Inka pun menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa bersuara karena mulutnya yang sakit.
Naren langsung menghembuskan napasnya, ia segera membawa Inka ke dokter.
Setelah di periksa dokter, Inka mengalami stomatitits. Dan segera di beri resep oleh Dokter.
"Apa ini bahaya Dok?" tanya Naren.
"Jika kondisinya semakin memburuk, area mulut bisa memusuk dan bisa mematikan," jawab Dokter.
Inka langsung menatap tajam sang Dokter, ia sangat takut dengan ucapan Dokter barusan.
"Minumlah obat yang saya resepkan, dan oleskan salep di bagian yang bengkak dan lecet," perintah Dokter.
"Baik Dok, terima kasih," ucap Naren.
"Ha ... ha ... ha."
Tawa itu membuat Inka merasa heran dengan Naren, ia langsung mencubit Naren.
"Aduh sakit, aku rasa kau kualat denganku, bisa-bisanya kau makan ramen yang sangat panas dengan lahap, akhirnya kau mengalami peradangan mulutkan, ini diluar nurul," ucap Naren, yang masih tidak menyangka dengan kejadian yang menimpa Inka.
Inka hanya terdiam, tidak bereaksi apapun. Untuk berbicara saja terasa sangat sakit, membuat Inka langsung mengirim pesan dengan Naren.
Inka: "Awas kau ya, kalo nanti aku sudah sembuh akan ku balas kau."
Naren mendapat notifikasi dari ponselnya, membuatnya langsung membuka ponsel ya.
Naren membaca pesan dari Inka, dan langsung melirik ke arahnya.
"Aku takut," goda Naren.
Inka langsung mencubit Naren, sehingga Naren merasa kesakitan.
Mobilpun sampai di depan rumah Inka, merasa kesal dengan Naren, Inka langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Rosida yang melihat Inka masuk begitu saja tanpa memberi salam, membuatnya merasa bingung, dan memastika di luar rumahnya.
"Loh Nak Naren, Inka kenapa?" tanya Rosida.
"Bu, Inka mengalami radang mulut bu, tadi sudah saya bawa ke Dokter," jawab Naren.
"Ya Allah, ada-ada aja itu anak, memangnya kenapa bisa mulutnya mengalami peradangan?" tanya Rosida.
"Tadi dia memakan ramen yang masih panas, jadi mulutnya melepuh semua Bu, biarkan dia istirahat bu. Besok Inka boleh libu sampai sembuh," jawab Naren.
"Ya Allah, anak itu memang suka ceroboh. Kalo begitu, terimakasih ya Nak Naren, sudah mengantar Inka dan mengobatinya," ucap Rosida.
"Iya Bu, saya pamit ya Bu," pamit Naren.
"Hati-hati di jalan," ucap Rosida.
Naren langsung masuk ke dalam mobilnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah Inka.
Naren langsung menuju rumah Robi, seharusnya Naren hari ini pindah ke apartemen barunya, berhubung Inka mengalami kecelakaan kecil tentang mulutnya, ia urungkan untuk pindah dan memberi tahu Inka.
Di dalam kamar.
Inka langsung membuka maskernya, ia mantap cermin, melihat kondisi mulutnya yang memerah akibat melepuh, membuat Inka merasa sedih dan menangis.
'Astaga, mulutku ... kenapa jadi kayak zombie, ini semua gara-gara Kenzo sialanan itu, kalo tidak ada dia, aku bisa makan dengan benar. Ini rasanya sangat sakit, bagaimana aku menelan obat ini?' gumam Inka.
Inka langsung membersihkan tubuhnya, setelah itu langsung masuk ke dalam kamarnya dengan membawa air minum.
Perlahan Inka meminum obat dengan sedotan, setelah minum obat, ia langsung mengoleskan salep di bagian mulut yang menagalami bengkak dan lecet.
Terasa perih tetapi ia tahan, dan akhirnya Inka memutuskan untuk istirahat.
Malam itu Inka langsung memejamkan matanya, sama halnya dengan Naren yang masih numpang di rumah Robi, ia membersihkan diri dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Naren teringat saat Inka sedang makan ramen yang masih panas dengan lahap, wajahnya yang memerah seperti udah rebut, membuatnya langsung tersenyum.
"Dia wanita yang sangat unik, berbeda dari gadi yang lain," ucap Naren.
Naren pun langsung memejamkan matanya, ia terasa lelah dan mengantuk, tidak memperdulikan pesan masuk di dalam ponselnya.
Ternyata pesan itu dari ....
"Kamu di mana? Kita ke clab yok, ajak Inka."
Pesan itu tidah di hiraukan oleh Naren yang sudah tertidur lelap.
__ADS_1
BERSAMBUNG....