
Merasa kesal dengan Naren, membuat berjalan mendahuluinya.
Langkahnya terhenti, saat keluar dari hotel. Membuat Naren langsung mendekat.
"Ada apa?" tanya Naren.
"Cuacanya sangat panas tuan," ucap Inka.
"Memangnya kenapa dengan cuacanya?" tanya Naren.
Inka menatap kesal tuannya, dan kembali berjalan mendahului Naren.
"Aneh sekali dia? Kenapa tatapannya seperti itu," gumam Naren.
Mereka masuk ke dalam mobil untuk bertemu dengan tuan Amar, di dalam perjalanan, Inka sibuk dengan ponselnya, membuat Naren merasa kesal karena merasa di abaikan.
Inka memeriksa jadwal Naren yang sangst numpuk karena ia sedang berada di luar negri bersamanya.
Sampai lah mereka di perusahaan milik Amar, Inka yang turun terlebih dahulu dan membukakan pintu belakang, Naren pun berjalan di ikuti oleh Inka di belakangnya.
Mereka di sambut hangat oleh Amar, terutama Inka yang terus di pandang dengan senyuman oleh Amar, membuat Naren merasa tidak nyaman.
"Selamat datang pak Naren, di kantor saya. Bagai mana dengan kontrak kerja yang kemaren saya ajukan, apa anda berminat?" sapa Amar.
"Aku tidak berminat," jawab Naren sambil mengepal tangannya, melihat mata Amar menatap genit Inka.
"Apa alasan yang membuat anda menolak pak Naren?" tanya Amar.
"Ku rasa minat di Indonesia sangat kurang, karena mereka sedang mengikuti tren properti," jelas Naren.
Amar terus memperhatikan Inka, sampai membuatnya merasa risih.
"Nona Inka, apa anda sakit?" tanya Amar.
"Dia sedang flu," celetuk Naren.
Inka yang belom sempat menjawab, sudah langsung di jawab oleh Naren dengan cepat kilat.
"Hem, apa kau sudah minum obat?" tanya Amar.
"Sudah, dia sudah makan, minum obat! Makanya dia bisa menemani saya datang kemari," jelas Naren.
Amar pun terkejut mendengar semua yang di katakan Naren. Sama dengan Inka yang hanya bisa tersenyum, melihat Naren yang kesal kepada Amar.
__ADS_1
"Hei, aku bertanya dengan Inka, kenapa kau yang terus menjawab? Apa kau ini pacarnya?" kesal Amar.
Jantung Naren berdetak sangat cepat, mendengar kata dari Amar, membuatnya semakin kesal dengan Amar.
"Dia sekretaris ku, jadi aku berhak untuk menjawab semuanya," sahut Naren.
Melihat Naren dan Amar saling menatap dengan tatapan yang sangat tajam membuat Inka langsung bersuara.
"Sudah, jangan berdebat! Kepalaku sakit, jika pekerjaan ini sudah selesai. Ijinkan aku untuk kembali ke hotel," ucap Inka.
Naren dan Amar menatap Inka dengan tatapan yang bingung, tanpa aba-aba mereka dengan kompak menganggukan kepalanya.
Inka sudah tidak tahan lagi dengan syal dan masker yang ia pakai, Ia pun akhirnya keluar dari kantor Amar dan akan menaiki taksi, tetapi langkahnya terhenti.
"Apa kau tahu, jalan pulang menuju hotel?" tanya Naren.
Suara itu membuat Inka menoleh ke arah belakang, "aku tidak tahu, bukan kah itu mobil yang mengantar kita tadi pagi?" ucap Inka sambil menunjuk mobil sedang diujung gedung.
"Mobil seperti itu sangat banyak, jadi kau harus berhati-hati jika akan menaiki mobil. Karena jika tersesat kau sulit untuk di temukan," jelas Amar yang berjalan mengikuti langkah Naren.
Inka sebenarnya menahan gerah, karena cuaca hari ini sangat panas membuatnya tidak mungkin jika melepaskan syal itu, keringat bercucuran keluar daei punggungnya, membuatnya ingin sekali mengganti pakaiannya dan memakai daster.
Tidak mau berdebat terlalu panjang, karena ia sangat kesal dengan 2 pria yang ada di sampingnya.
Naren yang melihat keringat keluar dari kening Inka, membuatnya langsung pamit dengan Amar dan pergi meninggalkan kantor.
AC pun di full kan, sehingga membuat Inka merasa lebih baik, tetapi ini terlalu over membuatnya langsung merasa lebih baik dan tangannya mulai mengering dan terasa dingin.
'Aku bukan pria yang jahat, aku sangat peka terhadap wanita,' batin Naren.
Terasa mulai dingin, Inka pun langsung menggosokan tangannya. Ia meminta pak supir untuk sedikit mengecilkan AC nya, karena terasa sangat dingin.
"Kenapa di kecilkan, apa kau merasa tidak enak dengan ku?" tanya Naren.
Inka menoleh dengan tatapan yang sangat kesal.
"Tuan, kita semua kedinginan, apalagi pak supir, ia menahan dingin sampai bulu tangannya berdiri, jadi saya meminta pak supir untuk mengecilkan sedikit ACnya, apa anda keberatan tuan," jawab Inka.
"Baiklah, lakukan sesuka hati mu," ucap Naren.
Sampailah di hotel, Inka langsung berjalan dengan terburu-buru tidak memperhatikan jika Naren berjalan di sampingnya.
"Aneh sekali tingkahnya? Apa dia marah saat aku menciumnya? Mau bagai mana lagi, ini hanya kecelakaan kecil," gumam Naren.
__ADS_1
Melihat Inka mulai menjauh darinya, membuat Naren langsung mempercepat langkahnya.
"Nanti sore kita akan ke wisada yang ada di dubai, pakai baju terbaik mu?" pinta Naren.
"Jalan-jalan ya pak, apa anda serius?" tanya Inka mendekati Naren.
"Giliran jalan-jalan saja kau sangat cepat tanggap," gerutu Naren.
"Ye, Tuan Naren. Anda telah melakukan kesalahan tadi pagi, sehingga membuat saya pergi kemanapun sangat tidak nyaman jika syal sialan ini melingkar di leher saya, rasanya sangat panas. Tapi, tidak ada cara lain," jelas Inka.
"Besok akan kucarikan salepnya," ucap Naren.
Membuat Inka tersenyum dan langsung masuk ke dalam hotel.
Dengan girang Inka langsung melepaskan syal dan semua baju yang menempel di tubunya, ia langsung menghidupkan AC dan merebahkan tubuhnya dalam keadaan tidak berbusana.
Terlalu menikmati hembusan anging yang sangat senjuk membuat matanya mulai terpejam, dan tak lama Inka terlelap dalam tidurnya.
Naren memikirkan tatapan Amar terhadap Inka.
'Aku rasa dia mempunyai rencana buruk kepada Inka,' batin Naren.
Naren pun terduduk di sofa dan langsung memeriksa leptopnya, ia melihat semua laporan yang sudah di kirimkan oleh asistennya.
....
Alexa merasa gelisa karena sudah 3 hari ia tidak mendapat kabar dari Naren, asistennya pun sangat sulit untuk di temui karena sibuk.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa Naren harus pergi ke Dubai bersama wanita itu? Apa tidak ada sekretaris lainnya, menyebalkan."
Amarah Alexa tak mempu membuatnya mendapat kabar tentang Naren, justru malah terlintas di pikirannya, jika ia merencanakan untuk menghamcurkan keluarga Inka, dan membuat kesalahan yang mampu membuat Inka di pecat.
Membuat Alexa tersenyum sinis.
Matanya terbuka lebar, tangannya meraih ponsel dan melihat ponselnya. Membuat Inka langsung terbangun.
"Aku akan pergi jalan-jalan bersama pak bos, yes. Aku harus membagikan momen ini di akun pribadi ku," gumam Inka.
Inka membersihkan diri, masuk ke dalam kamar mandi ia merias wajahnya uang sudah sangat cantik, menjadi semakin cantik.
Memakai baju yang ada, membuat Inka langsung keluar dari kamar hotel, melihat pinty hotel Naren masih tertutup membuatnya tak berani mengetuk atau membuka pintu itu.
'Jika aku membuka pintu kamarnya, aku akan mengalami hal seperti itu, nanti aku akan di cium atau bisa lebih dari itu. Aku bisa di perkaos, waah tindakannya sangat menyeramkan,' batin Inka.
__ADS_1
"Astaga di tampan sekali, hei Inka, sadarlah. Kau ini hanya sekretarisnya, tapi sekretaris cantk."
BERSAMBUNG....