
Luis yang sedang menjelaskan kondisi Naren pada Robi, membuat Inka yang mendengar langsung menyautinya.
"Apa itu berbahaya? Apa dia bisa sembuh?" tanya Inka.
Luis dan Robi langsung menoleh ke arah sumber suara, mereka langsung terdiam, melihat Inka mendekati Naren yang sedang terbaring lemah.
"Aku menyadari jika dia sangat setres, dia dipaksa menikah dengan Alexa. Jika dia memilih Alexa, aku akan mundur," ucap Inka dengan wajah yang memelas.
"Benarkah? Apa kalian berpacaran?" tanya Luis.
Inka menganggukan kepalanya, Luis seperti patah hati, karena wanita yang dia suka ternyata mencintai sahabatnya sendiri.
"Jadi sekarang Tuan Naren resmi berpacaran denganmu?" tanya Robi.
Seketika Inka tersipu malu, terlihat wajahnya memerah.
Luis dengan ekspresi yang sedih, ia pun langsung menggenggam tanga Robi. Membuat Robi pun bingung dengan tingkahnya.
"Aku sedang patah hati, aku butuh Dokter Cinta. Tolong aku," ucap Luis, membuat Robi semakin bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Robi.
"Bukankah kau tahu, jika aku menyukainya saat pandangan pertama. Tapi sahabatku telah mendahului aku," jawab Luis.
"Oh mama tolong lah aku, perempuan yang seperti apa lagi, yang begini saja sudah menyakitkan hati," sambung Luis.
"Aku rasa kau mulai tidak waras," ucap Robi, membawa Luis keluar dari ruangan.
Hanya tersisa Naren dan Inka, Inka melihat Naren yang masih tertidur dengan lelap. Ia memegang tangannya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tahu kamu banyak sekali yang di pikirkan, aku tahu tekanan di hidupmu sangat banyak. Kini aku mengerti betapa pentingnya saling mengerti satu sama lain, aku tidak memperdulikan orang tuamu, aku akan terus maju! Pantang mundur! Demi cintaku yang suci," ucap Inka.
Tetetoet ... suara dering musik yang seolah mendukung semangat Inka, yang tak pernah henti terus meyakinkan dirinya, bahwa cinta harus di perjuangkan.
Inka memperhatikan tubuhnya yang lecet, ia langsung Naren dengan tatapan sedih.
"Sayang, saat aku akan kemari, aku mengalami kecelakaan kecil. Aku sepertinya akan di culik, eh bukan, di tangkep. Eh bukan juga, di tarik. Eh bukan juga. Aduuh apa ya? Pokoknya aku terguliling di atas tanah, lihatlaj tangan dan kaku dan juga wajahku penuh dengan goresan," oceh Inka.
"Tapi untungnya aku baik-baik saja, tapi badanku rasanya mau patah, walaupun belom patah sungguhan tapi sakit," sambung Inka.
Inka terus bercerita kepada Naren mesti ceritanya tidak di dengar olehnya, saat Inka memeragakan ekspresinya saat bercerita, tiba-tiba tangn Naren bergerak membuat Inka langsunh terdiam.
Inka memperhatikan tangan Naren yang mulai bergerak, membuatnya langsung tersenyum dan memanggil Luis. Luis dan Robi pun datang menghampiri Inka, ia melihat Naren sudah mulai membuka matanya secara perlahan.
Luis langsung memeriksa Naren, tak lama Naren melihat sekitar ruangan itu.
"Aku di mana?" tanya Naren.
"Kau tidak akan didalam penjara, sudah pasti kau di klinikku," jawab Luis.
"Apa aku pingsan lagi?" tanya Naren.
__ADS_1
"Iya Tuan, anda pingsan saat ada di dalam mansion," jawab Robi.
Naren memcoba untuk mengingat semua yang terjadi, seketika tangannya memang Robi dan menatapnya.
"Bagaimana dengan mansionku, apa sudah kau urus?" tanya Naren.
"Sudah Tuan, nanti sore saya akan menemui orang yang akan membeli mansion Tuan," jawab Robi.
"Apa!" seru Luis.
"Mansion! Apa kamu akan menjual rumahmu?" tanya Luis.
Robi menganggukan kepalanya, membuat Luis sempat tidak percaya, akhirnya Robi menjelaskan, alasan Naren menjual mansionnya.
"Alasan Tuan Naren menjual mansionnyaz, karena ia sudah bosan, dan ingin mencari tempat baru untuk menenagkan pikirannya," jawab Robi.
Jawaban Robi membuat Inka dan Luis saling pandang dan mereka berkata.
"Luar biasa."
Suara kompak itu membuat Naren menatap Inka dan Luis.
"Ada apa dengan kalian?" jawab Naren.
"Tidak! Kami hanya kagum Tuan," jawab Inka.
"Apa! Tuan!" seru Naren.
Inka merasa canggung dengan pertanyaan Naren, ia sedikit canggung saat menatap Robi dan Luis. Mereka langsung pura-pura keluar dari untuk mencari udara segar.
"Hawanya panas, aku rasa harus menghirup udara segar di luar," ucap Robi, keluar dari dalam ruang rawat.
Begitu juga Luis, yang mikir keras mencari alasan untuk keluar.
"Oiya, aku juga harus memeriksa pasien lain," ucap Luis berusaha keluar dari ruang rawat.
"Memangnya ada pasien lain, selain aku?" tanya Naren.
"Ada itu, tetangga kita," ucap Luis berbohong agar bisa keluar menyusul Robi.
Luis akhirnya keluar ruangan Naren di rawat, Robi yang melihatnya langsung bertanya.
"Ku pikir kau akan menyaksikan mereka pacaran," ucap Robi.
"Kau pikir aku ini apa? Obat nyamuk?" kesal Luis.
"Kapan Tuan Naren bisa pulang?" tanya Robi.
"Besok dia sudah bisa pulang, kondisinya sudah membaik, tidak ada yang perlu di khawatirkan," jawab Luis.
Di tempat lain.
__ADS_1
Mobil yang tadi sempat membawa Inka ternyata mobil milik Alexa, ia terlihat sangat geram saat melihat Inka sudah tidak ada di belakang. Ia mencari sepanjang jalan tidak menemukan Inka. Membuat Alexa semakin geram, karena aksinya telah gagal.
"Sial! Punya berapa nyawa dia itu?" tanya Alexa.
Alexa sedang duduk menatap kaca mobil depan sambil memukul setir mobilnya.
"Harus dengan cara apa lagi aku menyingkirkannya ya? Aku harus gerak cepat agar tidak terlambat," ucap Alexa.
Alexa langsung mengendarai mobilnya menuju tempatnya bekerja, ia mendapat informasi jika Naren tidak berada di kantornya.
Membuat Alexa langsung menghubungi Naren, tetapi nomornya di luar jangkauan.
"Kemana perginya Naren? Aku harus melaporkan semua ini," ucap Alexa.
Alexa langsung memutar mobilnua menuju rumah orang tua Naren yaitu Pak Bimo. Saat Bimo akan berangkat kerja, Alexa berdiri di dekat mobilnya.
"Nak Alexa!" panggil Bimo.
"Om, apa Naren ada di sini?" tanya Alexa.
"Naren? Bukannya dia ada di kantor, hari ini ada meeting dengan Om, pukul 16.00, memangnya ada apa?" jawab Bimo.
"Asistenku mengatakan, jika Naren tidak masuk kantor, aku takut terjadi sesuatu dengannya. Nomornya susah di hubungi, dan mansionnya sangat ketat, aku bahkan kesulitan untuk masuk ke dalam," ucap Alexa, membuat Bimo merasa bingung.
"Ada apa dengan anak itu?" ucap Bimo.
Putra pun baru pulang entah dari mana, wajahnya yang sangst kusut dan mulutnya bau alkohol membuat Bimo sangat marah dengan kelakuan Putra.
"Dari mana kamu?" tanya Bimo.
Putra tak menjawab, ia berjalan terus, tak menghirauan Biml dan Alexa.
"Putra! Di mana sopan santunmu!" seru Bimo.
Putra menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Bimo dan berkata.
"Apa Ayah perduli denganku?" tanya Putra.
"Apa maksudmu, kau semalaman tidak pulang, dan sekarang kau pulang dalam keadaan yang kacau ini, apa kau mabuk?" jawab Bimo.
Bimo terlihat sangat kesal dengan Putra, ia sudah mengangkat tangannya, teyapi di cegah oleh sang istri, akhinya Putra lolos dsri tamparan Bimo.
Bimo menatap Alexa yang terdiam menyaksikan kemarahannya pada Putra.
"Maafkan saya Nak Alexa, saya tidak bisa menahan emosi ketika melihat anak salah pulang dalam kondisi mabuk," ucap Bimo menundukan kepalanya.
"Saya memakluminya Om, kalo begitu saya pamit dulu," pamit Alexa.
Alexa pergi meninggalkan Bimo.
BERSAMBUNG...
__ADS_1