Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Jenjang Karir


__ADS_3

Terlalu sibuk ngobrol dengan Robi, membuat Naren tidak menyadari, jika waktu sudah menunjukan makan siang.


Inka dan Geri pergi meninggalkan mejanya untuk makan siang di kantin sambil ngobrol tentang dunia perkuliahan.


Ketika Robi keluar dari ruangannya, mata Naren melirik meja Inka, tetapi ia tidak menemukannya. Membuat Naren bertanya-tanya.


'Di mana dia?' batin Naren.


Naren pun melihat meja kerja Geri yang kosong, membuat Naren berfikir Negative tentang mereka berdua .


"Jadi ini alasan Inka menolak ciumanku, sialan! Apa kurangnya aku di matanya, bukankah aku tampan dan kaya, bisa-bisanya dia melirik lelaki lain," gumam Naren.


Merasa penasaran dengan Inka yang pergi entah kenapa, akhirnya Naren pun keluar ruangannya. Ia melihat Robi yang akan keluar untuk makan siang.


"Mau kemana kau?" tanya Naren.


"Mau makan siang Tuan," jawab Robi.


Naren merasa bingung dengan jawaban Robi.


"Memangnya ini sudah siang?" tanya Naren.


Robi langsung melihat jam di ponselnya dan menujukan kepada Naren.


"Astaga, pantas saja dia tidak ada di mejanya," ucap Naren.


"Siapa yang tidak ada di mejanya, Tuan?" tanya Robi, yang melihat Naren menatap meja Inka.


"Dia, tidak ada di mejanya, kemana dia perginya" gumam Naren tanpa menoleh ke arah Robi.


Robi langsung mengerti.


"O ... maksud Tuan, Inka?" ucap Robi, membuat Naren langsung menoleh ke arahnya.


"Apa?" tanya Naren.


"Bukankah Tuan, barusan membicarakan Inka," jawab Robi.


Naren tidak merasa jika dirinya membicarakan Inka, ia hanya bergumam di dalam hati tentang kemana perginya Inka, tetapi gumaman itu di dengar jelas oleh Robi.


Naren langsung mengganti topik pembicaraan.


"Kau ingin kemana?" tanya Naren.


"Makan Tuan, di kantin. Apa tuan mau ikut," jawab Robi.


"Apa dia di kantin juga ya? Baiklah aku akan ke sana," gumam Naren yang tidak memperdulikan Robi, ia terus berjalan ke kantin meninggal Robi yang masih berdiri.


"Aku rasa dia terkena gangguan jiwa, tingkahnya sangat aneh sejak tadi pagi," gerutu Robi, berjalan menyusuli Naren.


Ketika mereka berdua memasuki area kantin, Naren memperhatikan setiap tempat duduk yanh ramai di duduki oleh karyawan yang sedang makan. Dan akhirnya Naren menemukan Inka sedang makan bersama Geri dan teman lainnya.


Robi sedang mengantri makanan, sedangkan Naren sibuk memperhatikan Inka yang sedang makan di meja ujung.


Naren tidak menyadari ketika Robi memanggilnya untuk menawari makanan.

__ADS_1


Akhirnya Robi pun memegang tangam Naren, sehingga Naren langsung menatap Robi.


"Ada apa?" tanya Naren yang tanpa dosa.


"Tuan mau pesan makanan apa?" jawab Robi.


Naren memilih-milih makanan, sampai akhirnya dia menunjuk beberapa makanan yang ia sukai.


Robi dengan sabar mengikuti semua kemauan Naren. Saat Inka sedang minum, ia tidak mengajak melihat Robi sedang bingung duduk di mana, seketika tangan Inka berlambai ke arah Robi.


"Pak Robi! Mari duduk di sini," panggil Inka.


Robi akhrinya berjalan menuju meja Inka, betapa terkejutnya Inka, melihat Naren pun membawa makanannya dan ikut berjalan di belakang Robi.


"Tuan Naren!" panggil Inka.


Geri langsung menoleh ke arah belakang, ia langsung melihat Naren berjalan ke arahnya.


"Astaga, Inka kenapa kau mrngundang Bos kita," tanya Geri dengan nada lirih.


"Mana aku tahu, jika ada Bos Naren, aku pikir hanya Pak Robi," jawab Inka.


Robi pun langsung duduk di meja dekat Inka, di ikuti Naren duduk menghadap Robi. Mereka terlihat sangat canggung karena kehadiran Naren.


Naren dengan santainya makan, tanpa bersuara. Berbeda dengan Inka yang lirik-lirikan dengan Geri, ia terlihat berbicara dengan Geri menggunakan bahasa isyarat.


Naren memperhatikan Inka yang terus menggedipkan matanya kepada Geri.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Naren.


Inka dan Geri langsung terdiam, Inka menatap Naren yang terlihat kesal dengannya.


"Iya," ucap Naren.


"Saya sedari tadi mengobrol dengan Geri, membahas tentang perkuliahan, Tuan," jelas Inka.


"Siapa yang akan kuliah lagi?" tanya Naren.


"Kami Tuan."


Jawaban mereka berdua sangat kompak, membuat Naren langsung menatap tajam ke arah Inka dan Geri.


"Kalian akan kuliah bersama di kampus yang sama?" tanya Naren dengan wajah terkejut.


Geri dan Inka menganggukan kepalanha secara bersamaan, membuat Naren semakin kesal.


Naren merasa cemburu dengan Geri yang akan satu kampus dengan Inka.


"Kapan kalian akan mendaftarkan diri?" tanya Naren.


"Menunggu ajaran baru, Tuan, jawab Geri.


"Benar Tuan," sambung Inka.


Naren semakin kesal dengan Inka, yang terlihat sangat senang akan kuliah bersama Geri.

__ADS_1


Tanpa di sengaja Naren menusuk makanannya dengan garpu, terlalu kuat ia menusuk sampai akhirnya garpu yang terbuat dari melamin itu patah, membuat mereka yang duduk bersama Naren, langsung menatap ke arah makanan milik Naren.


"Wah hebat, bisa patah menjadi dua," celetuk Geri, langsung di cubit oleh Inka.


Naren yang salah tingkah, karena telah mematahkan garpu yang ia pegang.


"Aku rasa ini terbuat dari bahan yang kualitas rendah," ucap Naren.


"Apa perlu kita mengkomplein pabriknya Tuan?" tanya Inka.


"Kenapa bicaramu sangat serius," bisik Robi menatap Inka.


Inka hanya bisa tersenyum sambil melebarkan mulutnya.


Akhirnya mereka meninggalkan kantin. Inka mulai bersiap untuk menyiapkan semua keperluan untuk rapat bersama Klien Naren dari Dubai. Saat Inka sedang sibuk mempersiapkan semuanya, tiba-tiba Robi datang menemuinya.


"Inka!" panggil Robi.


Inka pun menoleh, menatap Robi.


"Iya, ada apa Pak?" tanya Inka.


"Ke ruangan saya," jawab Robi.


Inka langsung berjalan masuk ke ruangan Robi.


"Ada apa ya Pak?" tanya Inka.


"Kamu bantu saya mengerjakan laporan ini ya," jawab Robi memberikan Setumpuk laporan, membuat Inka menatap kaget.


"Banyak banget Pak," ucap Inka.


"Tolong bantu saya, nanti kamu akan dapat uang lembur pribadi dari saya," ujar Robi.


"Tapi, saya mau ada rapat bersama Tuan Naren," ucap Inka.


"Biar saya aja yang gantiin, selebihnya nanti saya yang akan bilang sama Tuan Naren, ok!" ujar Robi.


Inka sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan akhirnya Robi yang menemani Naren menghadiri rapat. Sedangkan Inka mulai mengerjakan laporan milik Robi.


Inka menghabiskan waktunya hanya untuk mengerjakan laporan yang sangat amat banyak, membuatnya terus menguap, akhirnya Inka bangkit dari ruangan Robi dan keluar untuk membuat kopi.


"Mau kemana?" tanya Geri.


"Mau buat kopi," sahut Inka.


"Ikut!" ucap Geri langsung mendekati Inka.


Mereka akhirnya membuat kopi sambil bergosip, karena Geri tipe orang yang suka bergosip dan tingkahnya seperti perempuan rempong yamg sedikit gondek, membuat Inka selalu tertawa jika bersama Geri.


"Jadi aku harus panggil namamu siapa,?" goda Inka.


"Wantit aja kali ya bok," sahut Geri dengan gaya ngondeknya.


Tak kuasa menahan tawanya, Inka akhirnya tertawa lepas.

__ADS_1


"Tuan."


BERSAMBUNG...


__ADS_2