Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Silahturahmi bibir


__ADS_3

Sinar mentari yang selalu menyinari bumi dengan kehangatannya, membuat semua makhluk bumi merasakan pancaran cahaya yang membuat matanya silau, saat matamereka terbuka dengan lebar. Betapa terkejutnya sepasang suami istri saling menatap satu sama lain, ketika melihat jam beker di sampingnya.


"A ...!"


Teriakan itu terdengar sangat keras membuat Jimin hanya bisa menutup matanya.


"Kenapa dengan mereka?" tanya Jimin.


"Sudah tidak usah di pikirkan, mungkin memang mereka sangat kelelahan," jawab Inka.


Inka dan Jimin menyantap sarapan yang simple dan siap saji, selesai sarapan Inka akan bersiap untuk berangkat kerja.


Melihat Rosida sang ibu, berlari terbondong-bondong mendekati Inka.


"Ada apa bu?" tanya Inka.


"Kalian akan kemana?" tanya Rosida dengan wajah yang bingung.


Inka dan Jimin saling menatap heran, Jimin yang menadapat tatapan dari sang kakak, hanya bisa mengangkat tangannya menandakan tidak tahu.


"Aku akan bekerja, dan Jimin akan kesekolahnya. Memangnya ada apa bu," ucap Inka.


Rosida berusaha mengatur napasnya, merasa cukup tenang, Ia pun menganggukan kepalanya.


"Ya sudah hati-hati kalian ya," ucap Rosida.


Mereka langsung keluar dari rumah, berjalan menuju halte. Inka yang telat langsung panik karena bus tak kunjung datang membuatnya naik taxi.


Sampai di depan mansion, Inka langsung berlari masuk ke dalam. Melihat Naren sudah duduk santai di sofa.


"Tuan," panggil Inka dengan nada bicara yang ketakutan.


Tidak ada jawaban dari Naren, Ia masih sibuk memainkan ponselnya. Inka yang merasa di abaikan langsung mendekati Naren.


"Tuan, maafkan saya, saya telat datang kemari karena saya harus masak untuk adik saya, maafkan saya tuan," rengek Inka.


Naren melirik Inka kembali menatap ponselnya, "hukuman mu bertambah," ucap Naren membuat Inka langsung terdiam dan berdiri tegak.

__ADS_1


"Tuan akan menambah hukuman ku? Aku rasa tuan berbohong, tuan kan baik hati rajin menabung dan tidak sombong," ucap Inka.


"Dari mana kau tahu, jika aku rajin menabung?" tanya Naren.


Inka terdiam, mikir keras untuk menjawab pertanyaan Naren, dengan asal-asalan Ia menjawab. "Dari semua yang tuan punya," ucap Inka.


Naren pun menoleh ke arah Inka, membuat Inka merasa risih dan salah tingkah.


"Jangan sok tahu, kau tidak tahu tentang ku. Jadi jangan ngarang," celetuk Naren.


"Aku tahu tentang tuan, makanan kesukaan tuan, pakaian yang tuan pakai, warna kesukaan tuan, kebiasaan tuan. Yang aku tidak tahu, hanya hubungan asmara tuan itu saja," jelas Inka.


Naren pun terdiam, mendengar Inka berbicara sedetail itu.


Naren pun mendekati Inka, sampai menatapnya dengan tatapan yang seolah akan mencium Inka. Inka dengan rasa tegang, memundurkan langkahnya, terlihat sangat gugup ketika wajah Naren menatap Inka.


"Tuan, apa yang akan kau lakukan?" tanya Inka.


Tidak mendapat jawaban dari Naren, Ia pun langsung memutar otaknya untuk menghentikan tatapan Naren.


"Tuan, kita hari ini ada rapat dengan klien. Ayo kita kekantor sebelum terlambat," ucap Inka langsung menarik tangan Naren dan mengajaknya untuk keluar dari mansion.


Inka pun merasa bingung denga perlakuan Naren kepadanya, 'apa tuan kabuh lagi pemyakitnya? Apa aku harus menciumnya? Astaga, bibir ku belom bersilahturahmi dengan siapapun, dan ini akan menjadi pertama kalinya. Tuhan ... apakah ada cara lain selain mencium tuan Naren?" gumam di dalam hati Inka.


Naren terlihat seprti tidak bisa mengendalikan dirinya, seperti penyakitnya kabuh lagi. Entah dia sedang memikirkan apa atau sedang mencium aroma yang membuatnya seperti itu.


Wajahnya terlihat pucat, Inka yang mengingat kejadian saat Naren mencium aroma therapy saat di dalam ruangan itu, sama seperti kejadian sekarang yang di alaminya.


Robi pun mengatakan, " jika kau melihat tuan Naren seperti kehilangan kendali, berkeringat, wajah pucat. Cepet beri dia sentuhan seperti ciuman, karena hanya itu satu-satunya yang bisa menetralkan pikirannya. Itu pesan dari dokter Luis," pesan Robi tiba-tiba teringat di kepala Inka.


Denga tekat yanh bulat, Inka memberanikan mendekatkan bibirnya ke bibir Naren, dan akhirnya bibir itu bersentuhan. Inka yang bingung harus berbuat apa, hanya menempelkan bibirnya ke bibir Naren.


Naren yang mendapat sentuhan itu langsung tersadar dan menerima ciuman Inka. Inka pun terkejut mendapat balasan ciuman dari Naren.


Mereka pun berciuman sampai akhirnya Inka hampir terjatuh ke lantai karena kurangnya keseimbangan.


"BRUK ....!"

__ADS_1


Inka pun terjatuh Ia merasakan sakit di punggungnya, "Ak ..." Inka mengelus penggungnya.


Naren yang melihat Inka terjatuh hanya berdiam diri dan langsung berjalan mendekati lemari pendingin untuk minum.


Naren membayangkan ketika sedang berciuman dengan Inka. Ia berusaha untuk menepis pemikiran itu semua.


'Astaga, bukannya menolong ku, malah pergi begitu saja. Harusnya dia berterima kasih dengan ku, aku sudah menolongnya,' batin Inka.


"Kita ke kantor sekarang," ucap Naren berjalan mendahului Inka.


Inka terlihat sangat kesal dengan prilaku Naren yang sangst acuh terhadapnya.


'Hilanglah harga diriku di hadapannya, dasar bos tidak punya perasaan, aku relakan bibir ku di sentuh oleh mu! Tapi kau malah seperti tidak menganggap ku,' batin Inka.


Dengan berat hati Inka pun bangkit dari duduknya dan berjalan menyusul Naren yang sudah menunggunya di dalam mobil, Inka masuk ke dalam mobil itu.


Mereka berjalan menuju kantor, di dalam mobil terasa sangat canggung. Membuat Inka langsung memeriksa tab nya untuk memantau kegiatan yang akan di lakukan Naren.


"Kita langsung ke ruang rapat tuan, klien kita sudah menunggu," ucap Inka.


Mereka berjalab menuju ruang rapat, saat akan memasuki ruangan, Robi sudah menunggu dan mencegah Inka untuk masuk ke dalam.


Inka pun langsung kembali ke dalam ruangan, dan membereskan ruangan Naren yang cukup berantakan. Bayangan terus menghatui pikirannya, saat bibitrnya mencium Naren.


"Astaga ... kenapa adegan mesum itu selalu menghantui diri ku? Ini buka suka saling suka ini hanya karena aku ingin menyelamatkan nyawa bos ku,' batin Inka.


Inka berusaha menyakinkan dirinya sendiri. Di dalam rapat, Naren pun memiliki pemikiran yang sama dengan Inka, Ia terus membayangkan adugen Naren ketika menerima ciumam dari Inka dan mereka berciuman satu sama lain. Hal ini membuat Naren hampir tidak fokus dalam mengikuti rapat.


Robi yang mulai memahami kondisi bosnya, langsung mengakhiri rapat karena ada kondisi yang mendesak.


Rapat pun berhasil di bubarkan, di dalam rapat hanya tersisa Naren dan Robi.


"Tuan apa penyakit mu kambuh?" tanya Robi.


"Entah lah, aku tidak tahu? Aku hampir melecehkan Inka, keadaan itu sulit ku kendalikan. Aku pun tidak mengerti dengan keadaan ku saat ini," jelas Naren.


"Itu artinya anda harus mempunyai pasangan hidup tuan, karena itu akan merelaksasi pikiran tuan sendiri, ini sangat bagus untuk kesembuhan tuan," ucap Robi.

__ADS_1


"Apa aku harus menikahi Inka?...."


BERSAMBUNG.


__ADS_2