Sekertaris Cantik

Sekertaris Cantik
Di perhatikan banyak orang


__ADS_3

Tindakan Naren membuat tubuh Inka terasa sangat dingin, Naren yang merasakan tangan Inka yang dingin seperti memegang es batu, langsung menoleh ke arah Inka.


"Apa kau sakit?" tanya Naren.


Suasana yang romantis, tiba-tiba berubah menjadi biasa saja, rasa guguppun langsung hilang begitu saja.


"Tidak Tuan, aku hanya ingin ke kemar mandi," jawab asal Inka.


"Baiklah, sana ke kamar mandi, nanti kau ngompol malah aku yang bingung," ucapan Naren membuat Inka langsung menatapnya.


"Tuan! Jaga ucapan Tuan, bagaimana jika orang di sekitar kita tahu, aku akan malu dan Tuan juga," tekan Inka.


Inka langsung menjauh dari hadapan Naren dan pergu ke kamar mandi, ia langsung berkata di depan westafel.


"Jantungku hampir copot, ada apa denganku, apa Tuan Naren merasakan hal yang sama denganku?" gumam Inka di depan kaca kamar mandi.


Inka pun kembali lagi ke mejanya, ia melihat Naren sedang duduk menunggunya.


"Apa Tuan sudah pesan makanan?" tanya Inka.


"Belom, aku menunggumu," jawab Naren.


Inka pun langsung duduk, tak lama pelayan datang membawa buku menu.


"Tuan mau pesan apa?" tanya Inka.


"Apapun yang kau pesan akan aku makan," jawab Naren dengan gaya yang sangat cool.


Inka pun memesan beberapa makanan yang dia sukai, ia merasa sudah mendapat izin dari Naren untuk memesan makanan sesuka hatinya.


Selesai pesan makanan, Inka menatap wajah Naren yang seperti orang gugup.


"Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Inka.


"Jangan panggil aku Tuan jika berada di luar jam kerja," jawab Naren.


"Memangnya kenapa? Lalu aku harus panggil Tuan dengan sebutan apa?" tanya Inka.


Naren mikir keras, ia mencari nama panggilan yang cukup romantis menurutnya.

__ADS_1


'Dia harus memanggilku siapa? Sayang? Baby? Say? Beb? Mas? Kakak? Ais ... itu semua sangat alay,' batin Naren.


Inka melihat sepasang kekasih yang duduk di belakang Naren, membuat Inka sangat iri dengan pasangan yang ada di belakang Naren.


"Dia sangat romantis ya," ucap Inka menatap sepasang kekasih itu.


Naren pun terkejut saat Inka mengatakan hal yang cukup membuat hatinya bingung dan senang.


Saat ia terus memperhatikan Inka, ternyata mata Inka tertuju pada pandangan di belakang Naren, membuat Naren pun penasaran dan langsung menoleh ke belakang.


Naren melihat sepasang kekasih itu sedang melamar pasangannya dengan begitu romantis.


'Apa Inka juga mau di lamar? Tapi aku tidak menyiapkan apapun, hanya seikat bunga mawar yang ku bawa, apa Inka mau?' batin Naren.


Naren kembali menatap Inka.


Pelayan datang membawa makanan yang di pesan Inka, betapa terkejutnya Naren saat melihat makanan yang di hidangkan semuanya berbau cabai, membuatnya langsung menelan salivanya.


'Apa dia ingin membunuhku? Ini makanan semuanya pedas, bau cabainya menyengat,' batin Naren.


Inka sangat senang saat makanan kesukaannya datang, iya tersenyum manis kepada pelayan yang sudah memgantarkan makanannya.


"Ayo Tuan, kita harus makan," ucap Inka.


'Sebenernya apa yang dia pesan? Ini terlihat seperti ayam geprek, apa dia tidak tahu ini restoran elit? Tapi dia tidak merasakan pedas sama sekali, ini membuatku penasaran,' gumam Naren di dalam hati.


Inka memperhatikan Naren yang hanya menatap makanan miliknya, membuat Inka berhenti mengunyanh.


"Apa Tuan tidak menyukai makana ini? Kalo begitu aku pesankan lagi," ucap Inka, segera memanggil pelayan. Tetapi tangannya langsung di pegang oleh Naren.


"Tidak usah, aku bisa memakan makanan ini kok," kata Naren.


Naren akhirnya makan-makanan yang dipesan oleh Inka, dengan berat hati ia membuka mulutnya. Saat makanan itu masuk ke dalam mulut Naren, ia merasakan rasa pedas manis dan asin, membuatnya langsung mengunyah dengan cepat.


Rasa pedas itu muncul begitu saja di dalam mulutnya, Naren menahan rasa pedas itu, sampai keluar keringat di keningnya.


Naren menghabiskan minumannya, untuk menghilangkan rasa pedas yang menempel di lidahnya, tanpa rasa malu, ia langsung memesan minuman lagi.


"Apa makanannya pedas Tuan? Duh maafkan aku jika Tuan tidak suka pedas," tanya Inka.

__ADS_1


"Ini pedes banget, apa kau akan meracuniku, makanan ini hampir membunuhku," jawab Naren dengan nada cepat, kerena menahan pedas.


Inka merasa bersalah, ia langsung memesan minuman rempah untuk melegakan tenggorokan Naren karena kepedasan.


Akhirnya mereka keluar dari restauran itu, terlihat Naren yang sudah acak-acakan, tidak menggunakan jasnya karena ketumpahan air minum. Diner malam ini terlihat sangat kacau, membuat Naren tidak sempat memberikan bunga untuk Inka.


Mereka pun akan memasuki mobil, tetapi Inka meminta Naren untuk menghirup udara malam yang begitu segar di taman dekat restoran elit itu.


Naren pun menuruti kemauan Inka, mereka berjalan seperti orang asing, yang tak kenal.


Inka pun membuka percakapan lebih dulu.


"Tuan, maafkan aku, hari ini sangat kacau. Harusnya aku tidak memesan makanan yang pedas, tapi Tuan kan yang mengizinkanku memesan apa yang aku mau, jadi tidak sepenuhnya salahku kan Tuan?" ucap Inka.


Naren menatap ekspresi Inka yang sangat menggemaskan, rasanya ia ingin mencium bibir Inka yang terlihat sangat menggoda. Niat itu ia tahan karena mereka sedang berada di tempat umum.


"Sudah lah lupakan saja, aku sudah memaafkanmu," ujar Naren.


Dengan girang Inka memegang tangan Naren, melihat Bosnya tidak marah, membuatnya sangat senang.


"Tuan, terima kasih," ucap Inka.


Mereka menghabiskan malam bersama, menikmati indahnya lampu taman membuat Inka terus bercerita sampai tidak menyadari jika Naren menatapnya dengan penuh cinta.


'Dia sangat berbeda dengan wanita yang lain, berada di tempat yang seperti ini saja dia sangat bahagia,' batin Naren.


"Dan Tuan tahu tidak, dulu aku sering sekali menendang temanku karena sangat telmi alias telat mikir, sebenarnya sama seperti diriku, karena aku bergaul dengannya, itu yang membuatku sulit mendapatkan pekerjaan, meski aku mendapatkan pekerjaan yang bagus, tapi nasib buruk selalu menimpaku, aku sedih dengan diriku sendiri," ocehan Inka yang awalnya tertawa, tiba-tiba berubah menjadi haru.


Naren dengan cepat memeluknya, ia melihat kesedihan di mata Inka. Pelukan itu membuat Inka semakin menangis, membuat orang yang melindasi taman itu langsung menoleh ke arah mereka berdua.


Naren merasa kurang nyaman di perhatiakan banyak orang, sampai terdengar di telinganya, ada orang yang mengatakan.


"Kasian sekali perempuan itu, apa dia yang menghamilinya, harusnya lelaki seperti itu mendapat hukuman, biar kapok."


Suara itu terdengar jelas di telinga Naren, dan ada lagi yang mengatakan hal buruk tentang Naren.


"Dasar lelaki buaya, dia hanya berpura-pura baik dengan pacarnya."


Ocehan setiap orang yang lewat, membuat Naren sangat murka dan marah. Ia tidak bisa memahan amarahanya lagi.

__ADS_1


"Cukup!"


BERSAMBUNG....


__ADS_2